Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bukan Sang Pemilik


__ADS_3

Dihyan terdiam saat mendengarkan suara papa.


Bukan si pemilik suara yang membuatnya ia tak berkutik, namun perintah dari sang ayah yang baginya terasa berat untuk ia tunaikan.


Rima yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran pada sang suami yang terdiam dengan ponsel di tangan. Pria itu telah bersandar di kepala ranjang, tangannya perlahan bergerak menjauhkan ponsel dari telingannya.


" Kenapa?" Penasaran juga akhirnya Rima melayangkan tanya, siap menanti Jawaban sambil melangkah ke ruang ganti.


Dihyan memilih diam, males juga rasanya harus berbicara


"Papa nyuruh kita kembali ke rumah, ngumpul keluarga. Saudara jauh masih ada di sana."


"Katanya semalam kita di cariin semuanya."


Ucapnya lirih saat mendapatkan bayangan Rima yang telah keluar dari ruang ganti.


Dan alasan anak mereka yang ingin istirahat lebih dulu diterima dengan baik oleh para keluarga.


Tapi hari ini, mereka akan menggunakan alasan apa lagi untuk tak ke sana?


Berat jika harus ke rumah papa saat seperti ini?


Bukan tak ingin, tapi enggan untuk bertemu dengan satu orang itu. Orang yang baru kemarin masuk dalam keluarganya.


Sepasang suami istri itu sama terdiam.


Mereka baru saja berbaikan, tapi harus bertemu kembali dengan pria itu.


Jika boleh, Dihyan ingin berdiam diri saja bersama keluarga kecilnya untuk beberapa hari ke depan.


Tak ingin bertemu dengan siapapun yang akan kembali menjadi duri dalam rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja!"


Kalimat yang ia mampu mengangkat kepalanya demi memandang  sang istri yang menatapnya sambil tersenyum.


"Ayo, kita bersiap!"


"Pasti papa ngajak sarapan bareng kan?"


Dihyan masih terpaku.


Hatinya bimbang, apakah istrinya benar ingin memenuhi panggilan papa berkumpul bersama keluarga, atau justru ingin bertemu pria itu?


" Ayahku juga ikut?" Lagi Rima melayangkan tanya meski pertanyaan sebelumnya belumpun terjawab.


Akhir-akhir ini, ayahnya rajin ikut berkumpul dengan keluarga suaminya. Mungkin karena bisa bertemu dengan papa yang ternyata satu server, atau hanya sekedar menghilangkan sepi semata.


Dihyan menggeleng meski lemah.


"Ayo ah! Kamu mandi, aku juga mau nyiapin Azka juga!"


Tangan wanita itupun menggapai tangan sang suami, menarik bangkit hingga meninggalkan tempat tidur. Tak lupa mendorong punggun itu menuju ke arah kamar mandi.


"Berat banget sihhhh!" Keluhnya.


"Udah pagi gini, kamu masih aja malas-malasan."


"Udah cepat mandi! Awas aja kalo Adeknya siap lebih dulu, aku tinggalin tau rasa!"


Mendengar omelan sang istri membuat Dihyan tersenyum, dan lagi, istrinya itu telah berani mengancamnya.


Hingga Rima berhasil memasukkan tubuh tinggi itu ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu.

__ADS_1


Sepeninggalan Dihyan, Rima masih berdiri di depan pintu.


Matanya terpejam rapat, ada gundah yang sama tercipta di sana.


Apakah mampu ia melihat Reno berada di genggaman wanita lain?


Rasanya cintanya pada Reno masih terlalu dalam. Iapun tak siap jika harus bertemu saat ini, luka hatinya pun belum kering.


Namun saat memikirkan semuanya, ia harus menekan ego sekuat mungkin. Tak ingin menyakiti mereka terlalu jauh, terutama,...


Ayah dan Diandra.


Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas demi melonggarkan ruang dalam dada.


Andra turun dari kamarnya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah karena sejak tadi tak menjumpai Reno.


Nampak suasana ramai riuh  karena sebagian keluarga jauh masih terlihat di rumah ini.


“Eh, pengantin barunya udah turun, cowoknya mana?” Seorang wanita berjilbab syar’i.


“Gak tau mbak. Ini juga lagi nyari!” Pikirannya mulai kalut, bagaimana jika ternyata Reno meninggalkannya semalam, malam pertama pernikahan mereka yang harusnya begitu indah namun terlewati begitu saja.


Entah mengapa otaknya mengatakan jika Reno sedikit terpaksa menikahinya. Kejadian semalam rasanya cukup membaca perasaan Reno padanya. Perasaan yang bukan tertuju padanya.


Tapi kenapa harus nama Rima lagi yang berada di antara mereka?


“Ya udah, aku ke dapur mau bantu-bantu yah!”


"Hah, I-iya kak!"


Terkejut, saat lamunannya di ganggu.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Eh, enggak kok. Ini mau, ... ke sana dulu!" Telunjuknya naik, entah mengarah ke mana sesungguhnya.


__ADS_2