Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Usaha Dihyan


__ADS_3

Mentari mulai merangkak menuju ke singgasananya, pertanda tugasnya telah berakhir tergantikan oleh rembulan. Menggiring para insan turut pulang ke rumah masing-masing setelah menyelesaikan tugasnya hari ini.


Dihyan berjalan lunglai memasuki rumahnya. Hari ini benar-benar lelah, lelah fisik dan rohaninya.


Sejak tadi ia sudah beberapa kali mencoba menghubungi Rima, namun wanita itu enggan menjawab teleponnya, memilih mengabaikan.


Tugas-tugas kantor yang seolah menumpuk menggunung tak berkesudahan membuat tubuhnya harus menetap duduk di ruang kerjanya. Hendak lari tapi tak bisa.


Belum lagi kedatangan Papa di kantor, bukan untuk membantunya namun justru meletakkan Dihyan pada ujung jurang.


Orang pertama yang ia cari tentu saja sang istri, Rima.


Hendak menjelaskan kejadian sesungguhnya.


Tentang wanita yang datang meminta tanda tangannya sebagai persetujuan kontrak dengan menukar dengan tubuhnya, itu benar.


Ini bukanlah pertama kali untuk pria seperti Dihyan. Bahkan terlalu sering, baik itu secara nyata ataupun sembunyi-sembunyi, bermain dengan nak@l hanya untuk sebuah kerjasama atau demi menjatuhkan lawan.


Mungkin Rima belum mengetahui tentang dunianya.


Hingga tiba di kamar, Ia belum menemukan sosok itu.


"Rima sudah pulang?"


Tanyanya pada Medina, perawat yang pernah magang di RS tempat Rima bekerja, kini menjabat sebagai pengasuh dari putranya.


" Belum pak!"


Gadis itu menunduk hormat, di pangkuannya Azka membuka mata sambil bermain dengan tangannya sendiri.


Dihyan hanya mengangguk lesu, sebelum berbalik meninggalkan kamar dari Sang putra.


Biasanya Rima akan tiba di rumah lebih dulu daripada dirinya, kecuali jika ada hal-hal yang mendesak yang membutuh tenaga kesehatan lebih banyak dari biasanya.


Tapi Ia tahu, Rima kini sedang marah padanya.


Pikirannya mulai Berkelana Di mana tempat yang akan Rima datangi selain di sini. Mungkin wanita itu pergi, sejenak menenangkan diri.


Duduk di tepi tempat tidur dengan menundukkan kepalanya yang sudah terasa berat, Namun nyatanya kata istirahat masih terlalu jauh untuknya.


pukul 09.00 malam, mobil yang dikendarai Pak Eko telah mendarat mulus di pekarangan rumah ayah mertuanya.


Meski sedikit canggung untuk datang sendiri ke sini, tapi itu harus ia lakukan demi rumah tanggannya.

__ADS_1


Pak Eko baru saja memencet bel Rumah setelah meletakkan tas berisi kebutuhan Dihyan dan Azka selama tinggal di sini.


Sementara Dihyan menggendong sang putra yang kembali di bungkus seperti kepompong sebab tak ingin terkena angin malam.


Nekat membawa sang putra membujuk istrinya, berharap dengan saat melihat bayi yang tak berdaya ini Rima menjadi luluh.


Wajahnya terlihat letih dan tak bersemangat.


"Eh, malam pak!" Bibi yang baru saja membukakan pintu terlihat kaget melihat kedatangannya.


"Silahkan masuk pak!" Bergeser setelah membuka pintu lebar-lebar. Ia telah sangat mengenal siapa pria yang berdiri tegap di hadapannya ini. Dan pula tak ada perintah padanya untuk tak membiarkan pria itu masuk


Sejauh ini, pikirannya tentang keluarga kecil ini masih adem-adem saja.


"Makasih bi!" Dihyan mulai melangkah masuk ke rumah di ikuti pak Eko.


"Taruh di situ saja pak. Bapak boleh pulang, ...Emm, terima kasih sudah mau mengantarkan saya malam ini."


Pak Eko hanya mampu mengerutkan dahinya kala mendengar kata terima kasih itu.


"Ini memang tugas saya pak, terima kasih juga dan selamat malam." Pria itu menunduk hormat sebelum meninggalkan sang atasannya.


"Bi, ayah sama Rima mana?"


Tanyanya, ia bahkan belum mendudukkan diri.


"Bapak mau makan malam dulu, atau mau minum sesuatu biar saya buatkan."


Makan malam telah usai, namun wanita paruh baya itu masih mencoba menawarkan pada Dihyan. Mata sayu, bahu yang terlihat turun menandakan pria ini telah lelah menghadapi hari ini.


"Gak usah bi, kalau mau, saya akan ambil sendiri nanti." Masih berusaha memberikan senyumannya.


"MAri pak, saya bawakan tasnya!"


"Gak usah bi, biar nanti saya yang ambil sendiri. Terima kasih bi, bibi juga boleh istirahat, maaf sudah menggangu malam-malam begini!"


"Ngak pa-pa pak, bapakkan sedang gendong bayi, pasti capek juga seharian bekerja." Bibi masih menawarkan meski di tolak.


"Ngak usah bi, bibi juga pasti capek kan. Silahkan ke kamar bibi, saya juga sudah mau naik!" Kakinya mulai melangkah pelan menaiki tangga.


Beruntung ia pernah beberapa hari tinggal di sini, jadi tak terlalu buta dengan keadaan rumah ini.


Berdiri di depan kamar Rima, ia masih sempat mengecup wajah sang putra sembari meminta dukungan,

__ADS_1


" Doakan papa agar bisa membujuk ibumu, biar kita bisa tetap bersama!" Satu kecupan kembali mendarat di pipi mont0k nan menggemaskan.


Tangan mulai terangkat demi mengetuk pintu kamar, menciptakan suara yang mengusik sang penghuni.


Tok.


Tok.


Tok.


"Siapa?"


Hanya mendengar suara itu mampu membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Segala doa ia ucapkan, masih mencoba mengendalikan diri dari segala rasa yang hadir dalam diri.


Namun dirinya justru terdiam di depan pintu, tak berniat menjawab. Sengaja memang, tak ingin kehadirannya di ketahui sebelum Rima membuka pintu. Takut jika ia kembali diabaikan.


Tak ada jawaban dari luar membuat Rima tetap melangkahkan kaki menuju ke pintu. Pikirannya masih positif. Ayah atau bibi yang mengetuk pintu kamarnya.


Namun nyatanya tebakannya salah. Mata membola seketika saat ini DIhyan berdiri tepat di hadapan kamarnya, namun segera memicingkan mata sinis.


Dihadapkan dengan bayi mungil tak berdaya jelas membuat Rima tak berdaya. Biar bagaimanapun itu adalah darah dagingnya yang pernah menumpang hidup dalam rahimnya.


"Kenapa ke sini?" Tanyanya, namun enggan bergeser dari sana demi memberi akses untuk Dihyan lewati.


"Sssttt, jangan keras-keras dia baru saja tidur, dari tadi rewel cari ibunya." Pria itu masih berusaha tenang, seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Dia mau nyusv Rim, tadi botolnya cuma habis setengah." Otaknya berpikir keras mencari alasan yang tepat agar Rima luluh.


"Sini!" Rima mengulurkan kedua tangan hendak meraih sang bayi menuju ke pelukannya. Tak bisa di pungkiri rindu sangat menggebu pada buah hatinya ini.


Namun Dihyan justru menoleh membawa dekapannya menjauh dari Rima seolah tak ingin memberikan.


"Tapi dia baru bobo, takutnya bangun justru ngamuk!" Kata-kata harus di dramatisir demi menciptakan kesan yang lebih mendalam.


"Ngak bakalan ngamuk kalo sama aku!"


Toh Rima adalah ibu dari sang bayi, wanita itu jelas punya senjata ampuh mendiamkan sang putra.


"Maaf pak." Bibi


Wanita itu terlihat menunduk, rasa sungkan saat dirinya datang di antara sepasang suami istri yang masih terdiam di depan pintu.


"Di panggil sama bapak di ruang kerja!"

__ADS_1


Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh RIma, segera mengambil sang putra dari gendongan Dihyan yang tak berkutik saat dipanggil oleh ayahnya.


Wanita itu segera berbalik, menutup pintu tak lupa menguncinya agar DIhyan tak bisa masuk setelah ini.


__ADS_2