Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Memaksa Maaf


__ADS_3

"Maafkan aku!"


Masih dengan nada lirih, namun mampu membungkam semua orang.


Seandainya kalian tahu apa yang dirasakan wanita yang tengah berlutut ini?


Malu. Sangat malu.


Kini ia harus menebalkan wajah demi mengucapkan satu kata itu.


"Maafkan aku, karena pernah berbuat jahat padamu!" Kepala semakin menunduk, bahkan pundakpun ikut jatuh. Tapi itu belumlah cukup.


"Diandra?"


Kedua orang tuanya menyapa dengan seluruh tanya yang menggantung di benak mereka.


"Maafkan aku yang pernah mencelakaimu."


Kini air matanya yang begitu mahal ikut luruh. Bukan demi menyempurnakan actingnya atau apapun.


Tapi rasa sesal benar-benar hinggap di hati kala harus mengingat dirinya yang pernah melakukan kesalahan demi kesalahan fatal pada Rima.


"Aku, ..." Suaranya tercekat di tenggorokan hingga sulit sekali untuk dikeluarkan.


"Aku pernah menuduhmu mencelakai Kak Nindy." Ia harus memaksakan diri hanya untuk mengeluarkan kata itu. Ia bahkan harus menutup mata dengan sangat erat demi menguatkan diri.


"Aku, ..." Lagi suaranya tercekat dengan isak tangis.


Di ujung sana, mama Cinta menggelengkan kepalanya. Tak pernah menyangka jika permohonan maaf putrinya harus di sertai dengan cara berlutut seperti ini. Tak bisakah dilakukan dengan normal-normal saja?


"Aku pernah melarangmu makan di rumah kak Iyyan, padahal itu bukan rumahku!"


Hah, bernapas lega kala telah selesai berucap.


"Aku,..."

__ADS_1


Ck, sulit sekali hanya untuk mengungkapkan kesalahan-kesalahannya dulu.


"AKu hanya memandangmu saat terjatuh dari tangga, hiks."


Sakit sekali kala mengingat itu. Ia mungkin lupa jika dirinya seorang wanita. Tapi masih banyak hal yang harus ia ungkapkan demi bisa mendapat maaf dari RIma.


"Aku bahkan pernah menginjak tanganmu dengan ujung hellsku, RIMA."


"Rima, maafkan aku."


Di sana, mama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar setiap penuturan putrinya. Terdengar begitu kejam, dan itu adalah kelakuan anak kandungnya.


Seperti inilah hasil didikannya selama ini? Salahnya di mana?


Air mata telah berhamburan keluar. Berlomba-lomba membasahi pipi mulusnya.


Entah apa yang tengah ia tangisi saat ini?


Kesalahan putrinyakah, atau keadaan menantunya saat itu. Semuanya sama menyakitkan baginya.


Diandra telah beringsut maju, masih menggunakan kedua lututnya yang bergesekan langsung dengan lantai keramik rumah.


"Rima."


Gadis itu telah berani mengangkat kepalanya. Nampak wajahnya telah basah dengan air matanya.


Kini ia seolah tak peduli apa-apa lagi. Ia telah memulainya, bagaimanapun  nanti akhirnya ia tak bisa menebak.


Yang jelas sekarang, tak usah bertanya tentang harga diri lagi padanya.


Di sana, suaminya hanya memandang datar saja pada tingkah laku sang istri. Memang seharusnya Diandra meminta maaf pada Rima.


Masih dengan kedua lututnya terus bergerak maju hingga tubuhnya telah berada di dekat sofa yang diduduki oleh Rima dan Dihyan.


" Tolong maafkan aku!"

__ADS_1


"Kalau kamu mau, kamu beloh menginjak tanganku ini dengan sepatumu!" Tangannya terulur di atas lantai tepat di dekat kaki Rima. Berharap setelah membalasnya, ia akan benar mendapatkan maaf dari wanita ini.


"Andra?"


Suara keras sang ibu tak menyurutkan lakunya, yang jelas kata maaf dari RIma sangat ia butuhkan saat ini.


Papa hanya mampu menundukkan kepala, memejamkan mata sambil menggeleng-geleng. Kenapa semua terlalu dramatis seperti ini?


Sementara Rima pun turut beringsut agar menjauh dari jangkauan Diandra. Gadis g!la.


Bukankah mereka telah saling memaafkan kala itu? Rima bahkan telah naik di atas pangkuan sang suami demi menghindari Diandra.


Dihyan hanya bisa memeluk Rima, seolah tengah melindungi sang istri.


"Rima, injak tanganku Rima." Tangan satu masih menempel di lantai sementara tangan yang lain bergerak demi bisa meraih kaki Rima yang akan ia arahkan pada tangannya.


"Ndra sudah, Andra!" Sambil menatap Diandra dengan menggelengkan kepalanya. Di pelukannya Rima berusaha terus menenggelamkan dirinya.


" Ngak bisa kak! AKu harus dapat permohonan maaf Rima kak."


" Aku ingin rumah tanggaku berjalan dengan normal. Tolong aku sekali ini lagi Rima!"


" Suami marah."


" Suamiku bahkan enggan menyentuhku. Suamiku tak ingin memiliki istri yang jahat dan kejam sepertiku."


" Maafkan aku Rima, maafkan aku!"


" Tolong balas aku! Biar kita impas!"


Namun bukan permohonan maaf yang ia terima, namun suara di sofa sama seketika mengalihkan perhatian mereka.


BUG.


Tubuh mama Cinta telah tergeletak di lantai. Tak kuasa menahan beban pikiran yang merasuki dada hingga tubuhnya ambruk kala hendak melangkah mendekati sang putri demi menghentikan aksi bod0h itu.

__ADS_1


__ADS_2