
Hari ini langit sangatlah cerah, meski telah bergeser sedikit dari pertengahan hari namun terik masih terasa membakar kulit.
Pak Khaerudin baru saja menyandarkan motornya di halaman rumahnya.
Sepanjang perjalanan bapak dari dua orang anak itu terlihat sumringah. Senyum cerah ceria terpancar jelas di wajahnya yang menandakan ia Tengah bahagia.
"Diandra dan Reno saling mencintai."
Sepenggal kalimat yang ia dengar tadi saat makan siang bersama dengan orang yang pernah menjadi atasannya, menjadi alasan kebahagiaannya saat ini.
Terlebih lagi, pria itu mengajaknya untuk lebih mendekatkan hubungan antara mereka. Melalui Reno dan Diandra.
Bukan dia loh yang pertama kali menawarkan diri.
Justru orang yang Iya hormati itu. dia harus menjawab apa?
Menolak? Tak mungkin.
Meski dua anak yang menjadi pembahasan mereka itu tak saling mencintai, mungkin ia akan memaksakan diri untuk tetap mengangguk, menerima penawaran dari Pak Cakra.
Terlebih kata itu, saling mencintai.
JAngan tanyakan sebab musabab kalimat simpang siur itu bisa tercetuskan.
Jelas kalianpun bisa menebak ini pekerjaan siapa.
Ya Dihyan.
Pria itu telah berhasil menghasut sang ayah. Tujuannya, sangat jelas, yaitu menjauhkan atau bahkan memisahkan Reno dan Rima.
Tentunya agar rumah tangganya kembali tenang seperti waktu itu.
Anggapnya ia, Reno takkan berhenti mendekati istrinya sebelum pria itu benar telah memiliki pendamping hidupnya sendiri.
Mengapa harus sang adik yang ia korbankan?
Karena ia tahu betul, jika Diandra telah lama menyimpan perasaan pada pria itu.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Ia bisa menjauhkan Reno dengan sang istri, sekaligus memberi kebahagiaan pada sang adik.
Kembali pada pria paruh baya itu, Pak Khaeruddin.
Meski ada rasa segan dan sungkan untuk menjalin hubungan keluarga dengan cara seperti ini, mengingat dirinya dulu hanyalah seorang bawahan.
Namun pancaran bahagia yang ditunjukkan oleh Pak Cakra yang sesekali tertawa turut menular pada dirinya.
"Buuuu,… Oh Bu,…"
__ADS_1
Teriaknya saat baru saja memasuki rumah.
Mendapatkan ibu yang masih asik duduk di depan TV, bisa dipastikan wanita itu sedari tadi menantinya pulang.
" Kok baru pulang Pak? Sudah makan? Makan di mana?"
Tuh kan benar, baru melihat sosoknya saja, Wanita itu telah mencecarnya dengan pertanyaan.
Pak Udin justru menjawab dengan sumringah, meletakkan sebuah paper bag di pangkuannya.
" Iya, Bapak sudah makan tadi."
" Kok nggak ngabarin sih, ibu kan lapar dari tadi nungguin Bapak pulang. Bapaknya malah makan enak di luar." Wanita itu menunjukkan diri jika tengah merajuk di tinggal makan oleh sang suami.
" Lah itu sudah dibawain. Ayo makan bapak temani, sekalian ada yang ingin bapak bicarakan sama ibu."
" Bapak makan di mana ini?" Tanya Ibu. Pasalnya nama yang tertera di paper bag itu sangat asing menurutnya, Bahkan bukan bahasanya.
" Hahaha, Bapak makan di restoran Jepang Bu." Ucap bapak dengan bangga.
Bukan tak pernah, Tapi kini sudah jarang mengingat kesibukannya ini hanya menjaga toko, bukan lagi menjadi Sopir dari orang-orang kaya.
" Sini Bu!" Pak Udin mulai menggandeng tangan sang istri, berjalan menuju ke meja makan di mana di atasnya telah siap santapan untuk makan siang mereka.
Mendudukkan sang istri di kursi, sementara ia sendiri yang menyiapkan makanan yang ia bawa tadi. Beberapa mangkuk pun telah tersaji di depan mata.
" Tadi, Pak Cakra singgah ke ruko terus ngajak makan siang. Makan siangnya ya ini juga."
Maksudnya, tumben sekali mantan atasan suaminya itu mendatangi, mengingat orang itu adalah orang yang sibuk. pasti ada hal yang penting, pikirnya.
Bapak justru tertawa.
" Bahagia banget sih Pak? Dapat amplop ya?" Ibu saat menatap suaminya yang kembali tertawa, lalu tersenyum, dan kembali tertawa lagi, betapa aura kebahagiaannya jelas terpancar pada pasangan hidupnya itu.
" Duit mulu!" Sentaknya pada ibu, namun bukannya marah mereka berdua justru kembali tertawa setelahnya.
" Makanya makan dulu bu, nggak usah banyak-banyak! Ntar juga pasti bapak cerita."
Sashimi dan Shusi, dua masakan Jepang itu telah siap di atas meja berhimpit dengan masakan buatan ibu. Banyak, memang untuk satu keluarga mereka.
" Pakai ini! Tahu kan?" Bapak menyodorkan Sumpit yang telah Ia buka dari dalam bungkus pada ibu.
"Ck, Ya tahulah." Kesal juga saat keahliannya dianggap enteng oleh sang suami.
"Heleh, Pak Cakra aja yang jelas-jelas orang kaya makan ginian pakai tangan, paling nggak pakai sendok. Kecuali ya kalau ada klien, hahaha." Tuh kan lagi-lagi Bapak ketawa, melampiaskan seluruh perasaan senangnya.
" Bapak mau ngomong apa?"
Ibu sudah masuk dalam mode serius. Perutnya telah kenyang, kini ia memandang wajah Bapak dengan penuh penasaran.
__ADS_1
" Reno dan Diandra saling mencintai." Ucap Bapak menyamakan dengan ucapan Pak Cakra tadi siang.
Sejenak wanita itu terperangah, matanya hampir tak berkedippun.
Ibu pun tak bisa menyangkal, pasalnya Diandra pernah memeluk Reno tepat di rumahnya ini.
Meskipun saat itu, Diandra hanya membutuhkan sebuah pundak untuknya bersandar dikala Sang Kakak terus memojokkannya.
Dan itu justru diartikan berbeda oleh mereka.
" Jadi, besok malam pas Cakra ngajak keluarga kita makan malam di rumahnya, sekalian membahas tentang kelanjutan hubungan mereka."
" Maksudnya pak?" Ibu bahkan sampai mengerutkan keningnya, sedikit bimbang dan apa yang ia dengarkan barusan.
" Bu, nggak baik untuk mereka pacaran terlalu lama, dosanya banyak Bu. Ibu mau nanggung dosa mereka? Kalau bapak ya nggak mau, orang dosa bapak aja udah segunung. Jadinya lebih baik disegerakan lah."
" Tapi Pak,…?" Entahlah masih banyak yang mengganjal di dalam hatinya perihal hubungan dua keluarga ini. Meskipun semua yang diucapkan oleh Bapak tak bisa ia sanggah.
Bapak masih memandang lekat sang istri, mencoba menyelami kegundahan yang mungkin sama seperti yang ia rasakan tadi siang.
" Apa Bapak nggak malu. Gimana kalau orang menceritakan kita pak?"
Perkara hati bukanlah masalah, namun perkara kasta dan keluarga selalu saja menjadi buah bibir.
Suatu saat nanti, mungkin mereka akan di cap aji mumpung. Atau sengaja mencari keluarga kaya agar bisa menikmati harta itu juga. Dan masih banyak lagi yang akan menjadi bibit pembicaraan.
" Orang-orang akan selalu mencari bahan cerita. Kita ingin segera menikahkan mereka agar mereka bisa mencegah perbuatan dosa bu. Mereka sudah dewasa. Anak muda seperti mereka semakin dilarang biasanya semakin penasaran untuk mencoba."
"Sampingkan dulu penilaian orang lain. Yang kita hadapi ini adalah hidup kita sendiri."
"Makanya bu, gak usah keseringan ikut nimbrung di penjual sayur deh bu!"
Ibu justru cemberut, mau masak apa kalau tidak ke penjual sayur.
Meski setelahnya Ibu hanya bisa menggangguk, membenarkan.
Tentang kedekatan Reno dan Diandra, Ia pun turut membenarkan.
Reno memang baru sekali membawa seorang wanita asing masuk ke dalam rumahnya ini, Rima.
Namun saat mengingat pertemuannya dengan wanita itu, mengisyaratkan bahwa kini wanita itu telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Dan tentang Diandra, mereka memang sudah lama dekat dan akrab. Rasanya tak ada alasan untuk menolak.
" Kapan pak?" Kembali bertanya untuk memastikan.
" Besok malam. Jadi ibu punya waktu nanti malam untuk berbicara dengan Reno."
"Makannya udah kan, bapak mau tidur siang dulu! Mau mimpi indah." Tanpa menunggu jawab, pria itu telah beranjak dari sana.
__ADS_1
"Mimpi apaan pak?"
"Ya mimpiin anak-anak kita lah!"