Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Lerainya Beban Di Pundak


__ADS_3

Hah? Ada apa?


Baru saja mereka larut dalam duka, tapi suara itu sangat lantang membuat semua yang tadinya hanyut dalam tangis, berhenti sesaat hanya untuk mengangkat kepala mencari tau


asal dan sebab suara lantang itu?


Dengan mata sorot tajam, Diandra berdiri di hadapan mereka.


“Kamu kan yang bertugas jagain mbak Nindy? Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Kamu tidur?” Masih dengan suanya yang lantang dengan telunjuk mengarah pada Rima.


Yakinlah sekarang dia sedang dalam mode emosi dan marah.


Bukankah Diandra juga mengetahui kondisi Nindy?


Atau setidaknya dia bisa menunggu hingga suasana duka berlalu. Bukan justru marah di saat seperti ini. Apalagi semua orang sudah tau kondisi Nindy.


“Ndra?” Mama yang menatapnya dengan binggung.


“Ini sudah takdir Nindy, gak usah cari siapa yang salah!” Mama masih memeluk kepala Dihyan, menjaga emosi pria itu.


“Maafkan Rima mah!” Ucap Rima lirih.


Iya memang rasa bersalah, tapi apa yang bisa ia lakukan. Iapun tak mampu untuk mengubah takdir.


Sebentar Dihyan menjauhkan kepala, menelisik apa sebenarnya yang tengah terjadi. Tak bisa dipungkiri, ada raut sesal dan sedih di wajah pria itu.


dirinya tak ada menemani istrinya di saat-saat terakhir. Andaikan Iya tahu, hal ini akan terjadi, mungkin ia tak akan masuk kantor hari ini.


Tapi mama kembali menarik kepalanya, menenggelamkan wajahnya di perut mama.


Tak ada lagi suara lantang meskipun begitu suara berat masih beberapakali terdengar, seolah ia mencoba meredam emosinya.


“Tidak apa. Tidak ada yang salah. Semua yang bernyawa pasti akan mati, dan ini adalah waktu untuk Nindy.”


Tak lupa mama juga mengelus lengan Rima yang duduk bersisian dengan Dihyan dengan pelan.


Seminggu kepergian Nindy, merupakan waktu yang terberat bagi Dihyan.


Kehilangan pendamping hidup, sungguh sangat menyakitkan.


Apakah tulang rusuk kirinya telah patah?


Lalu bagaimana ia menjalani hari-hari selanjutnya?

__ADS_1


Ia tau masa ini akan datang.


Bahkan saat mendengar Dr. Elina berkata, “Hal


paling buruk bisa saja terjadi,” iapun siap, tapi masih belum terima.


Sesak, dengan butiran air sedikit asin acapkali membasahi pipinya.


Ia lelaki tapi juga punya hati, dan isi hatinya telah pergi.


Kehampaan kembali datang setiap kali ia melihat ranjang besar yang biasa mereka gunakan berdua.


Dirinya dan Nindy.


Di sinilah ia sering menceritakan tentang peristiwa-peristiwa yang ia alami setiap harinya. Terlebih lagi tentang pekerjaan. Tak jarang ia menceritakan tentang keluh kesahnya di kantor pada istrinya.


Nindy ada seorang pendengar dan pemberi saran yang baik. Sekaligus tempat bersandar yang paling nyaman. Dan sandarannya kini telah pergi, lalu kemana ia akan menumpahkan perasaannya?


Kali ini ranjang itu terasa lebih lapang, tanpa ada Nindy di sampingnya.H pun sekarang terasa.


Ia tak masuk bekerja selama seminggu setelah kepergian Nindy. Tak apalah, mungkin ia butuh waktu untuk menyendiri lalu membiasakan diri dan menerima kenyataan ini.


Bahkan saat seminggu telah terlewati, ia kembali bekerja namun diam menjadi lebih melekat pada dirinya saat ini.


Bahkan saat di rumahpun, ia sangat betah diam dalam duduknya. Bersandar di sebuah sofa menghadap keluar jendela. Memandangi pohon mangga yang sedang berbunga.


Di sini, di tempat ini, Iya sering memeluk Nindy dari belakang. Sambil menikmati pemandangan di luar dari kamarnya. Sesekali menggeledah tubuh Nindy, membuat istrinya itu tertawa dalam dekapannya.


Sekarang berbeda, ia hanya mampu menikmatinya seorang diri.


Terdengar keributan dari luar kamarnya, dan itu mampu mengusik fantasinya.


Iapun berjalan ke luar ke arah kamarnya.


“Kamu ngaku aja, kalau kamu sengaja membunuh mbak Nindy buat dapatkan kak Dihyan kan?” Diandra sembari mendorong keras tubuh Rima hingga membentur tembok.


“Kamu ngomong apasih Ndra? Aku gak sepicik itu?” Meskipun punggungnya terasa sakit, Rima harus tetap meluruskan ini.


Dua buah buku kecil berwarna merah dan hijau dilemparkan oleh Andra ke hadapan Rima.


“Bilang aja kamu mau jadi istri Kak Dihyan karena uangnya. Aku tau kalau ayah kamu sudah bangkrut, sudah gak punya apa-apa lagi.”


“Aku tau apa yang ada diotak kamu. Kamu iri sama mbak Nindy, kamu cemburu kakakku lebih mencintai mbak Nindy dari pada kamu. Kamu bunuh mbak Nindy karena mau jadi satu-satunya istri kakakku dan mengusai hartanya. Iya kan?”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Suara itu tak kalah lantang dari belakang. Berikut dengan tatapan tajam menghunus.


Mendengar nama sang mendiang istrinya disebut-sebut, membuat darah kembali mendidih.


Tak lama, sosok itu telah berada diantara mereka, bahkan dengan tangan dan lengannya yang kuat telah menghimpit tubuh Rima di dinding.


“Kamu apakan istriku?” Masih dengan suara yang lantang.


“Aku gak ngapa-ngapain.” Rima hanya mampu meringis menahan sakit.


“Bohong!” Ucapnya semakin lantang.


“Tega kamu membunuh istriku, hah?”


Rupanya tanpa mencari tahu kebenaran dari setiap kalimat yang terlontar dari adiknya, langsung ia percayai sepenuhnya.


Entah ini adalah wujud cintanya pada sang istri atau kepercayaan tingkat dewa pada sang adik, atau hatinya yang masih sedih?


Atau bahkan akumulasi dari keseluruhan alasan yang ada.


Diandra menunduk demi mengambil dua buku kecil yang baru saja ia lemparkan pada Rima. Buku nikah Dihyan dan Rima.


Papa ternyata mendaftarkan dan melegalkan


pernikahan mereka setelah sebulan kepergian Nindy. Dan menitipkannya buku pernikahan itu pada Diandra untuk diberikan pada Dihyan dan Rima.


Geramnya Andra yang harus mengakui Rima sebagai kakak iparnya. Merasa kedudukan Rima lebih tinggi darinya, apalagi mengetahui kebaikan papa yang memberikan jabatan pada ayah Rima.


Tak sampai disitu, mama bahkan sangat menyayangi Rima, alasannya ia telah mengorbankan masa mudanya dengan menikahi Dihyan demi memenuhi permintaan


Nindy.


Alasan macam apa itu?


Sunggu tak bisa ia terima.


Atau mungkin saja, dendam dulu masih ada dan bahkan tengah berkembang biak dalam hatinya.


Dan misinya kali ini adalah membuat Dihyan tak menerima Rima sebagai istrinya, jika perlu Dihyan harus membenci istri keduanya itu.


Tinggal Dihyan yang bisa ia ambil hatinya, mengingat papa dan mama telah mendaratkan kasih sayang mereka dan menerima dengan tangan terbuka Rima sebagai anggota keluarga baru.


Bodohnya Dihyan bahkan dengan sangat mudah terpancing dengan omongan yang tak terbukti darinya.

__ADS_1


Sukses!


__ADS_2