
" Pagi!" Rima setelah membuka pintu ruangan milik suaminya.
Dihyan melongok tak bergerak memandang penampilan Rima yang masih berdiri memegang handle pintu.
"Eh salah ya? Sudah siang, hihihihi. Selamat siang!" Sejujurnya Rima sedikit risih saat mata suaminya itu tak berkedip saat memandangnya. Ada yang salahkah dalam dirinya yang tak ia ketahui?
Ia turut memperhatikan penampilannya sendiri, memandang dari bawah naik ke atas rok yang hanya berada di pertengahan paha. " Ada yang salah?"
" Kamu ngapain?" Dihyan mulai sadar, beranjak dari tempat duduknya. Kini pria itu telah berdiri dapat di hadapan Rima.
"Ya bawain kamu makan siang lah." Rima dengan entengnya berjalan menuju sofa. " Taruh di sana!" Ucapnya pada dua orang yang tengah membawa barang-barangnya.
" Kalian boleh keluar!" Setelah mengucapkan itu Dihyan turut menempatkan diri di sisi sang istri.
" Kenapa mesti seperti ini?" Dihyan menunjukkan polesan merah yang keluar garis dari bibir rima. Bibir Mini yang menjadi ciri khas kecantikan Rima dipoles dengan gincu berwarna merah terang. Dan yang buat dia bertanya adalah warna merah itu keluar dari tempat yang sesungguhnya. Membuat bibir itu terlihat sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
" Oh ini?" Melirik suaminya, ternyata ini yang membuat suaminya tadi bengong.
"Biar lebih seksihhhh." Ucapnya. Udara yang keluar dari mulutnya menyambar wajah Dihyan membuat pria itu Menutup Mata, mungkin kaget atau tengah menikmati hembusan nafas khas Rima.
" Nggak usah seperti ini, kamu lebih cantik Jika seperti biasanya." Mulai mulai menggosok ibu jarinya pada bibir Rima berusaha menghilangkan warna merah menyala itu.
"Ck, kamu ngapain sih?" RIma melayangkan protes.
Bukan hal mudah melakukan ini. Ia harus berada di depan cermin beberapa waktu lamanya hanya untuk menyulap wajah menjadi cantik. Namun suaminya ini justru tak menghargai usahanya.
Namun usaha Dihyan sepertinya sia-sia, tak hilang karena yang dipakai Rima adalah lipstik waterproof yang tahan dengan gesekan.
Tak hilang akal, Dihyan menyambar bibir Rima dengan bibirnya. Rima hanya terdiam meski sempat terkejut karena aksi Dihyan. Berapa kali merasakan saat kulit bibirnya tertarik.
Ck, berdecak kesal saat Dihyan menghentikan aksinya. Ia yakin warna bibirnya sudah tak sempurna lagi, lumer mungkin.
Meraih tas yang tergeletak di meja, mengutak-atik mencari senjatanya.
" Nggak usah, mau makan juga!" Tangan Dihyan turut terulur menghentikan aksi Rima.
__ADS_1
Huh, Rima mendengus kesal, memandang wajah Dihyan yang tersenyum namun terlihat menjengkelkan. Pria itu justru memberikan sekotak tissu Rima. Pandangannya kembali tertuju pada tas baru sang istri.
Kembali mengulurkan tangan meraih bendak cantik nan malah itu, menempatkan di pangkuannya.
"Mau ngapain lagi sih?" Kesal Rima kembali bertambah, saat Dihyan membuka tas miliknya.
"Sssstttt." Kode dari pria itu agar tak mengganggu aktifitasnya.
Mengeluarkan tangan dari dalam tas, dengan lipstik dalam genggaman, tersenyum kembali memasukkan tangannya. Kembali keluar dengan bedak padat yang ia temukan membuat senyum itu semakin mengembang melirik Rima, setengah mengejek. Tas itu dipenuhi dengan perlengkapan kecantikan.
Nah ini yang sejak semalam ia cari.
" Eh kamu ngapain?" Sempat terkejut saat Dihyan menemukan benda itu. Dengan segera mengulurkan tangan mengambil barang miliknya," Itu punyaku!"
" Iya aku tahu!" Dihyan sama lincahnya menjauhkan tangan dari jangkauan Rima.
Sementara tangan yang satu merogoh saku celana, mengeluarkan benda yang sama dari dalam. Sebuah panggilan berlangsung, "Ke ruanganku!" Ucapnya tepat di samping ponsel.
Rima hanya menatap suaminya itu. Apapun usahanya pasti akan kalah jua. Terlebih benda itu ada karena duit yang pria itu berikan padanya kemarin.
Entah apa lagi yang pria itu lakukan pada barang pribadinya itu.
" Permisi Pak!" Anak muda itu telah berdiri di depan mereka.
Dihyan mengeluarkan tangan menyerahkan dua ponsel sekaligus pada Armada. " Sambungkan ke hp-ku!"
"Kamu ngapain sih?" Rima tahu maksud Dihyan, hendak menyadap ponselnya dengan nyata. " Itu privasiku tahu!" Ucapnya dengan kesal.
Dikiranya hari ini akan menyenangkan karena bisa keluar dari sangkar. Namun semua perlakuan Dihyan ini serasa memanaskan hati dan otaknya.
" Iya aku tahu. Privasi kamu privasi aku juga." Dihyan terlihat tenang saat Rima justru uring-uringan.
Dalam benak Wanita itu telah ada beberapa ide yang mungkin bisa mampu menolongnya keluar dan menjauh dari Dihyan. Namun, belum pun ia sempat mau otak-atik ponselnya sendiri, sudah disadap saja.
"Suami boleh mengetahui semuanya tentang istrinya, iya kan Mada?"
__ADS_1
Eh, kenapa ia harus dibawa-bawa dalam masalah rumah tangga ini?
Rima menyentakkan tubuh, menjauh lalu berbalik memunggungi Dihyan. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengeksperisakan perasaannya.
"Mada," Dihyan, "Istriku marah!"
Ooooh, dalam hati pria muda itu. Ia baru tahu dan baru bertemu dengan sosok nyonya pemimpinnya ini.
"Kamu boleh keluar, kerjain di tempat kamu saja." Kembali Dihyan bersuara, matanya memandang punggung Rima.
"Baik pak!"
Sang obat nyamuk akhirnya meninggalkan mereka.
Dihyan bergeser, mendekat mencoba meraih tangan sang istri hendak merayu.
Ck, Rima berdecak sambil terus menepis tangan Dihyan yang baginya mengganggu kini. Namun pria itu tersenyum sembari terus melirik-lirik.
Baginya, ini terlihat sedikit lucu. Wanita memang seperti itu.
Kadang marah, kesal dan tak ingin disentuh. Seperti istrinya kini. Dan ia harus sabar merayu dan membujuk wanita itu agar kembali luluh.
Sekarang mereka seperti pasangan suami istri betulan yang sedang marahan ceritanya.
Pria itu menjatuhkan kepala di pundak sang istri, tak peduli jika Rima terus menyentak bahu seolah tak terima dengan sandaran Dihyan.
"Jangan peluk-peluk!" Masih dengan nada kesalnya.
"Aku gak peluk kok." Sementara si pria juga masih dengan senyuman menjengkelkannya. Tangan pria itu masih berada di pangkuan sendiri, bagaimana bisa Rima mengatakan ia memeluk?
"Peluk itu yang seperti ini." Tangan itu kini berpindah melingkar di samping tubuh Rima.
Benar, kali ini memeluk. Bahkan sangat erat, membuat pergerakan Rima semakin terbatas. Terlebih lagi saat pria itu menjatuhkan dagu di bahu milik istrinya. Tubuhnya benar-benar mengepung tubuh Rima.
Menutup mata demi merasakan wangi tubuh milik istri cantik yang kini berubah menjadi sangat cantik dengan bantuan dari dana yang ia berikan kemarin. Mengecup pipi lembut yang semakin lembut saja. Lagi-lagi itu karena dana darinya.
__ADS_1
Tak perlu bertanya berapa saldo yang Rima habiskan kemarin. Itu mampu membuat Dihyan membelalakkan mata meski hanya sesaat. Sebelum ia ingat tentang istilah, Cantik juga butuh dana.
Tak mengapa, toh yang menikmati dirinya juga.