Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bertahan Terluka


__ADS_3

Ibu telah pergi begitu saja meninggalkan Reno yang masih mematung di tempatnya.


Masih sempat tertangkap dalam indra pendengaran pria itu saat ibu membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar mandi sambil menyusut ingus.


Ibu menangis, dan kali ini karenanya.


Karena perasaan cintanya yang tidak diterima.


Salahkah ia?


Salahkah cinta mereka?


Mengapa mereka begitu egois, tak ada yang mau mengerti dengan perasaannya.


Dan mau tak mau ia telah berada di sini, di rumah kediaman keluarga Pak Cakra mendampingi Bapak dan ibunya menunaikan undangan makan malam bersama.


" Wah yang lama ditunggu Akhirnya Datang Juga." Sambutan hangat mereka terima dari Pak Cakra saat baru saja menginjakkan kaki di kediaman itu.


" Mentang-mentang jadi tamu utama, jadi datang terlambat."


Terlihat Bapak dan Ibu hanya membalas dengan senyuman sungkan sambil menundukkan kepala. Bukankah hanya sebuah makan malam? Waktu pun baru menunjukkan pukul setengah delapan.


Pak Cakra menggiring mereka masuk, bahkan pria itu tak segan merangkul pundak bapak seperti teman lama yang baru bertemu. Hingga ke dalam, tepatnya ruang keluarga ternyata seluruh keluarga telah berada di sana.


Pantas saja mereka dikatakan terlambat di sana sudah ada keluarga kecil sang provokator juga, Dihyan yang berdiri sambil menggendong bayinya. Wajah itu terlihat sumringah. Jelas, sebab kebahagiaan pun turut dirasakan pria itu. Semua berjalan lancar, pikirnya.


Dan,…


Rima.


Wanita yang ia rindukan setelah beberapa hari tak bersua.


Cantik sekali.


" Ayo ayo, kita langsung saja, perut juga sudah lapar ini!"Satu  komando dari Pak Cakra mampu hingga seluruh penghuni ruangan segera berdiri.


Membuat mereka yang memang berjalan lebih dulu menjadi barisan paling depan.


" Yang belakang cuci piring!" Pak Cakra masih sempat-sempatnya membuat guyonan. Hingga barisan belakang terdengar riuh oleh suara para gadis yang saling dorong mendorong karena tak ingin berada paling belakang.


Akhirnya perjalanan ke ruang makan itupun menghangat seketika.


" Bukannya Pak Udin punya anak perempuan ya, kok nggak ada?" Di sela makan malam mereka, pak Cakra memulaih percakapan.


" Oh ada Pak, namanya Dira."


" Iya iya saya ingat, namanya Dira kan?" Memastikan lagi ingatannya." Kok nggak ikut Pak?"

__ADS_1


" Katanya lagi banyak tugas untuk besok Pak, maaf!" Pak Udin, senyum sambil kembali menanggukkan kepala.


" Loh kok minta maaf? Saya kan cuma nanya, Ya udah biar sebentar Mama bungkusin makanan dari sini, anggap aja dia juga ikut makan sama kita."


" Nggak usah Pak terima kasih," jawab Bapak lagi.


Sungkan, pastinya. Menatap ke arah dua pria yang duduk berdampingan. Sesekali ia tertunduk menghormati saat mendapatkan pertanyaan dari kedua pria itu.


Pria-pria hebat yang katanya sebentar lagi akan menjadi keluarganya.


Pak Herman, Ia tahu pria ini meskipun tak terlalu dekat.


Pria yang pernah bangkrut karena ditipu oleh sahabat sendiri. Ia begitu pria itu masih orang terpandang, pintar dan berpendidikan tinggi tentunya.


Sementara dirinya hanyalah seorang pria tamatan SMA yang pernah menjabat sebagai Sopir dari Pak Cakra. Dari sana iya bisa menghidupi keluarganya dan memberikan pendidikan yang layak pada anak-anaknya. Entah mengapa di titik ini ia merasa begitu kerdil berada di tengah orang-orang ini.


Hingga acara makan malam telah selesai, didampingi dengan percakapan-percakapan kecil di antara mereka.


Rombongan itu kini telah berpindah ke ruang tengah. Cangkir-cangkir yang berisi teh dan kopi hangat beserta pendamping-pendampingnya terhidang di atas meja.


" Oh iya saya lupa perkenalkan." Kini Pak Cakra kembali mengambil alih.


" Ini besan saya," Tangannya terulur pada Pak Herman, sementara yang ditunjuk menganggukan kepala sambil tersenyum pada keluarga Pak Udin.


" Dia ayahnya Rima, menantu saya, kenalkan?"


Rima balas dengan tersenyum dan mengangguk, meskipun setelah itu ia lebih memilih menundukkan pandangannya. Jika tidak, matanya akan bersua dengan pria tampan yang sejak tadi juga menatapnya.


" Nah Pak Herman, ini Pak Udin. Dia tangan kanan saya loh waktu dulu, tapi memilih mengundurkan diri, mau buka usaha katanya."


Perkenalan yang terlambat itu kini telah selesai.


" Nah kita ada di sini untuk nambah besan lagi, kita tambah personil, hahaha." Sejenak papa melirik ke arah Pak Herman yang turut tersenyum lebar.


Lihatlah betapa bahagianya Papa malam ini.


Di sana Dihyan turut tersenyum, berdiri goyang-goyangkan tubuhnya, memberi kenyamanan kepada sang buah hati yang berada dalam dekapannya.


" Nanti kita bisa mancing bareng," Selanjutnya lagi, mengeluarkan segala khayalan-khayalannya.


" Oh iya, dia punya kebun di samping rumahnya loh, kebun apa yah?"


" Hanya kebun sayur-sayuran Pak, yang biasa dimasak sehari-hari, ada tomat cabe terong, kemangi yah cukuplah halaman rumah saja."


Cerita bersambut membuat suasana ruangan semakin hangat dengan kebersamaan keluarga ini.


Masih adakah niat mereka meruntuhkan mimpi-mimpi ketiga pria ini?

__ADS_1


" Wah bagus kalau begitu, jadi kita nggak usah repot-repot lagi beli di pasar. Habis mancing ikan, bisa petik sayuran segar di rumahnya Pak Udin." Pak Herman


Pak Udin kembali menganggukkan kepalanya sambil, percakapan ini serasa pujian baginya.


" Kita bisa adakan acara tahun baruan lagi, artinya lebih meriah dari tahun lalu, personil di bagian pembakaran jadi bertambah, hahaha ." Pak Cakra.


" Jadi nggak sabar yah? Tapi gimana ceritanya kalau mereka seperti Rima kemarin?" Pak Herman.


" Iya ya, Iyan ngambil kesempatan jagain anaknya, padahal nggak mau disuruh bakar-bakar," Mata Papa memicing ke arah putranya yang hanya tersenyum saat namanya disebut.


" Sudah ah, bahas tahun barunya nanti aja, Lagian masih lama juga masih ada lebih dari 300 hari lagi." Mama cinta menengahi pembicaraan serius ketiga pria itu.


Malam semakin beranjak sementara inti dari pertemuan mereka belum memasuki pembahasan.


"Iya, biasanya para emak-emak yang heboh kalau ketemuan, ini mah kebalik, justru bapak-bapak yang heboh, kita dilupain." Dihyan.


Mama Cinta mengangguk sementara Ibu menunduk, perasaannya kini hampir sama dengan bapak.


Merasa kerdil di antara kumpulan orang-orang kelas atas, namun betapa hatinya menghangat saat mereka di sambut dengan tangan yang terbuka lebar.


Namun takutpun ada, Bagaimana jika ternyata Reno akan menolah perjodohan ini?


"Sssttt," Suara Dihyan yang berdiri sambil menenangkan Sang putra sontak menjadi pusat perhatian.


" Kenapa Yan? Kok enggak dibawa ke kamar sih?" Mama cinta.


" Dia Udah merem melek mah. Tadi udah merem dengar suara kakek-kakeknya dia Melek lagi. hehehe lucu," Setelah itu ia kembali mencium Sang putra dengan gemas.


" Dibawa ke kamar aja Rima."


Dihyan pun berjongkok tepat di hadapan rima yang telah siap mengambil alih anak mereka.Dihyan memberikan kecupan hangat pada Sang putra lalu berpindah pada istrinya.


Tak peduli berpasang-pasang Mata melihat kemesraan mereka.


" Gitu Tuh kalau jadi Bapak baru!"


Ia hanya terkekeh, saat mendengarkan suara sang ayah.


"Va, temani Kakak iparmu dulu yah. Siapa tahu ia Butuh sesuatu." Dihyan Saat ini tak ingin mengambil resiko meninggalkan Rima seorang diri meski hanya di kamar.


Di rumah ini sedang ada pria yang akan memakai segala macam cara agar bisa bersama dengan istrinya. Dan ini harus di antisipasi sebelumnya.


Gadis SMA itu mengangguk seraya turut beranjak dari sana mengikuti kakak iparnya, memang ini yang ia tunggu dari tadi.


" Jadi bagaimana?" Itu suara papa ketika kedua wanita itu telah pergi meninggalkan ruangan.


Suasana ruang yang tadinya hangat kini berganti dengan keheningan.

__ADS_1


__ADS_2