Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Diantara Cinta Dan Status


__ADS_3

Mereka bertiga masih duduk di ruang keluarga, menatap ke depan, layar TV tengah menyala. Di atas meja tersaji 3 pasang cangkir dengan keripik bawang sebagai pelengkap.


Rima berada di tengah-tengah dua pria dewasa itu, tubuhnya masih menempel erat dengan tangan yang memeluk lengan sang ayah.


Sementara Dihyan terdiam dengan ponsel yang di tangan. Bel berbunyi menandakan mereka sedang kedatangan tamu.


" Biar aku saja!" Dihyan berdiri dari duduknya berjalan ke arah pintu. Tamu itu untuknya, Armada tengah berdiri di depan pintu.


" Ayo masuk!"


Dihyan hanya menyambut seperlunya, kemudian mulai melangkah kembali masuk ke rumah diikuti pria muda kepercayaannya.


Hingga mereka tiba ke ruang keluarga, duduk saling berhadapan di sofa lain. Armada segera mengulurkan berkas ke hadapan Dihyan. Bukan sedikit, beberapa hari libur, Dihyan memiliki tugas yang menumpuk, mungkin malam ini akan lembur.


"Yan, bawa ke ruang kerja aja Yan!" Suara ayah mampu mengalihkan perhatiannya dari berkas yang  berada di pangkuannya.


" Boleh yah?" Tanyanya memastikan. Ia memang butuh ruang tersendiri untuk berkonsentrasi.


" Ya boleh, kamu pasti nggak akan bisa kerja di sini." Ayah berusaha melepaskan lingkaran tangan Rima di lengannya.


" Pindah dulu, Ayah mau antar suamimu ke ruang kerja!" Hanya seperti itu saja, mampu membuat bibir Rima kembali mengerucut.


" Pegel juga lama-lama!" Ucap Ayah lagi sambil menggerak-gerakkan tangan yang terasa kebas.


" Tuh kan ada bibi!" Ucap Rima sambil menunjukkan Bibi datang dari dalam dengan membawa minuman untuk sang tamu. Rima bisa kembali bergelayut manja lengannya, dengan kepala yang bersandar di bahunya.


" Ya udah, Bi bawa ke ruang kerja saja sekalian!"


" Aku pinjam ruangannya ya Yah!" Dihyan kembali meminta izin. Rasa sungkan masih terlalu kental ia rasakan. Salahnya juga terlalu mengambil jarak pada keluarga istrinya ini.


" Iya pakai saja!"


Kedua pria itu mulai kembali mengemas berkas-berkas mereka, siap untuk berpindah tempat.


"Mungkin aku lama, kalau kamu ngantuk tidur saja duluan!" Tidak lupa Dihyan memberikan kecupan singkat dari belakang pada sang istri. Meski tubuh itu masih menempel erat pada mertuanya, mengabaikan lirikan ayah padanya.


" Sepertinya suamimu sangat menyayangimu!" Ayah setelah di ruangan hanya ada mereka berdua.


Rima enggan menjawab, Ia pun sebenarnya tak tahu sesayang apa Dihyan padanya. Setelah kembali bersama, pria itu memang senantiasa menunjukkan perhatiannya pada Rima. Namun, Rima tak mampu mengartikan semuanya dengan perasaan sayang atau cinta Untuknya.


Baginya, Dihyan hanya membutuhkan keturunan untuk pria itu, itu saja tak lebih.

__ADS_1


Rima bahkan tak pernah mendengar kata sayang atau cinta yang keluar dari mulut pria itu sendiri. Jadi ia pun tak terlalu berharap dengan kata-kata itu.


Hingga beberapa lamanya anak dan ayah menikmati siaran televisi sambil melepaskan Rindu.


" Naiklah, suamimu bisa marah kalau kamu tidak istirahat dengan cukup!" Perintah ayah padanya sesaat setelah pria muda yang menjadi tamu mereka pamit undur diri. Sementara Dihyan masih berada di dalam ruang kerja ayah.


" Tapi aku masih kangen yah," Ucapnya manja, kembali beringsut mengeratkan pelukan di lengan ayah.


" Kan masih nginap, kita masih bertemu besok!"


" Aku boleh tidur dengan ayah?" Pintanya.


" Suamimu pasti tambah marah." Terpaksa Ayah melepaskan lilitan tangan Rima di lengannya.


" Ayah juga ngantuk mau tidur. Ayah nggak mau tidur Ayah nanti diganggu karena suamimu menjemputmu di kamar ayah!" Berdiri sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya yang sedikit pegal.


Terlalu lama duduk, terlalu lama disandari oleh sang anak membuat ototnya tegang.


" Iya." Rima mulai berdiri dibantu sang ayah dan mulai beranjak dari sana dengan membawa perut besarnya.


Masuk ke kamarnya, kamar yang ia tempati sebelum menikah dulu, kamar yang menjadi sarang terindah dan ternyamannya.


Rasa haus yang ia rasakan kembali membuat langkah kakinya keluar dari kamar, perlahan menuruni anak tangga sambil memegang perutnya. Harusnya ia meminta tolong pada bibi untuk diantarkan air ke kamarnya.


" Sepertinya suamimu sangat menyayangimu!"


Pernyataan Ayah terlintas dalam ingatannya,


Sejenak ya berpikir untuk melayani suaminya sedikit saja, membuatkan kopi sebagai teman kerja sang suami.


Mulai memasak air dan menyiapkan cangkir, serbuk kopi dan gula.


Kopi hitam telah jadi, dengan nampan kecil lengkap dengan stoples kerupuk bawang siap untuk diantarkan ke ruang kerja.


Senyumnya terbit kala itu, dalam hati memuji diri sendiri, "Bisa juga melayani suami!"


Tak lupa menghirup aroma kopi yang menyatu dengan uap, hemm, wangi.


Tangannya mulai bergerak, perlahan menekan handle pintu agar suaranya tak terlalu mengganggu.


Baru saja pintu didorong perlahan, namun kekuatannya terhenti seketika saat mendengarkan suara dari dalam ruangan.

__ADS_1


Sayup-sayup ia mendengar suara percakapan dari celah pintu yang terbuka sedikit. Kiranya suaminya tengah sendiri, nyatanya tidak. Itu suara sang ayah.


" Jika memang kamu tidak bisa membahagiakan anak ayah, kembalikan dia pada Ayah. Maka Ayah juga akan mengembalikan semuanya padamu!"


Rima tertegun mendengarkan semua itu. Benar firasatnya, jika ayahnya memang mengetahui tentang keadaan rumah tangganya meski hanya secuil. Namun kebahagiaan yang diberikan oleh pria itu mampu membuat sang ayah membungkam.


" Aku hanya berusaha untuk mempertahankan Rumah tanggaku. Apa jadinya jika cucu ayah lahir dengan keluarga yang tercerai-berai?" DIhyan.


" Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk anakku kelak. Keluarga yang lengkap dan harmonis, serta kebahagiaan yang tak ada habisnya. Apakah aku salah jika mempertahankan istriku untuk tetap berada di sisiku?"


" Dan seandainya Ayah tahu apa yang dilakukan Rima, mungkin pasti akan kecewa pada Putri Ayah itu!"


Panjang lebar ucapan Dihyan, Namun kalimat terakhir mampu menyambar nyalinya.


Dihyan mencium hubungannya dengan Reno. Apakah mungkin pria itu akan memberi tahukan perihal itu pada ayahnya?


Ia kembali dengan oleh-oleh di tangannya yang masih utuh. Duduk di depan meja makan, meletakkan kembali semuanya di atas meja.


Ia memilih kembali ke kamarnya sebelum keberadaannya diketahui oleh kedua pria itu.


Menapaki satu demi satu anak tangga dengan perlahan, berusaha menahan langkah agar tak terdengar.


Dengan pandangan yang menunduk sementara pikiran yang melalang buana.


Bagaimana jika benar ayah mengetahui tentang perselingkuhannya? Apakah ayah akan kecewa padanya?


Ayah yang seorang pria setia pada pasangannya. Sekian tahun lamanya kepergian ibu, hati ayah tak pernah sekalipun tersambar oleh pesona wanita lain.


Dan kakaknya, Romi. Pria itu tak pernah terendus masalah wanita. Bukan tak pernah berpacaran, namun kakaknya itu mungkin bisa mendapat julukan salah satu pria ter-setia di muka bumi.


Bagaimana dengan dirinya sendiri?


Ia bahkan memiliki dua nama pria dalam hidupnya saat ini.


Ia seorang istri, namun cintanya yang kuat pada Reno tak bisa terbantahkan begitu saja.


Di antara perasaan dan status yang ia miliki saat ini, Benarkah perasaan dan cintanya yang salah?


Seandainya saja, perasaannya pada Reno tak terbalaskan mungkin takkan terlalu sulit baginya. Nyatanya, pria itu juga menjanjikan sebuah kebahagiaan dengan kekuatan cinta yang mereka miliki.


Masih dengan perasaan yang tak menentu, tubuh Rima Akhirnya sampai di sisi tempat tidur. Perlahan membaringkan diri, berusaha mengusir segala sesuatu yang mengusiknya saat ini.

__ADS_1


Nakas masih kosong, ia lupa tujuannya tadi meninggalkan kamarnya ini.


__ADS_2