Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Enggan Membahas


__ADS_3

" Mama belum ada kabar dek?"


Gadis yang berada di sofa itu hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh ke arah sang pembicara, fokusnya masih berada pada layar ponselnya.


" Dek tolong bilangin sama mama jangan lupa bawa hp-ku sama hp-nya Rima! Ada di kamar itu." Dihyan, kepanikan semalam membuatnya tak sempat memikirkan apa-apa lagi. Semua tertinggal begitu saja.


"Hemmmm,!" Gadis itu belum pun menoleh.


Kini pria yang duduk di ranjang itu terdiam hanya memandang datar pada adiknya itu, kesal juga lama-lama dicuekin kayak gini.


" Dek, sebenarnya tugas kamu apa sih di sini?"


" Jagain orang sakit." Gadis itu berucap dengan enteng, belum mau menoleh menatap lawan bicaranya. Mengistirahatkan kaki dengan berselojor di atas sofa sambil menggoyang-goyangkan berirama.


" Halah, bilang aja males ke sekolah." Dihyan tak lagi bisa menyembunyikan nada kesalnya.


" Tadi sebenarnya mau ke sekolah. tapi pagi-pagi sekali rumah sudah heboh katanya ada orang yang masuk rumah sakit. Jadilah aku di sini sebagai penunggu pasien." Gadis itu bahkan masih mengenakan seragam abu-abunya. Pagi tadi, kepanikan penduduk rumahnya membawa kakinya turut berlari dan ikut masuk ke mobil yang menuju ke RUmah sakit ini.


Dan pria yang di sana hanya bisa mendengus kesal saat mendengar sindiran dari adik bungsunya.


Beberapa lama mereka terdiam, saling tenggelam pada dunia masing-masing, hingga suara perutDihyan memecah keheningan dalam ruangan itu.


" Dek, lapar Dek!" Ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan pada gadis yang sempat membuatnya kesal tadi. Nyatanya memang tak ada orang lain yang bisa ia mintai pertolongan selain gadis itu.


" Sama, Aku juga lapar, tadi pagi nggak sempat sarapan. Tungguin Mama aja Kak, bentar juga sampai kok." Gadis itu masih terlihat dengan posisi yang sama, tanpa terusik sedikitpun.


" Usaha dikit kenapa Dek? Kakak iparmu juga lapar, kamu tega bikin keponakan kamu kelaparan di dalam sana?." Kali ini suara Dihyan dibuat seolah memelas. Waktu telah menunjukkan tengah hari, tapi tidak ada apa-apa yang lain yang bisa mengganjal perut mereka.


Pintu diketuk dari luar, membuat ketiga orang itu saling berpandangan. Asa bermunculan berharap sang Bunda dengan membawa tentengan yang mampu mereka santap segera mungkin.


Namun jika benar itu Mama, Apa perlu mengetuk pintu?


" Masuk!" Dihyan.

__ADS_1


" Bos!" pria muda bernama Armada muncul dari balik pintu.


" Kok kamu tahu aku di sini?" Dihyan mengurutkan keningnya, Ia bahkan tak memegang alat komunikasinya.


" Tadi saya ke rumah Bos, tapi Pak Eko bilang Bos lagi di sini sama istri, jadi saya langsung ke sini." Armada masih berdiri di di dekat pintu.


" Kebetulan kamu datang." Terlihat antusias Dihyan berdiri dari ranjangnya. Pertolongan datang tepat waktu. Mendekati sang adik yang kembali tenggelam pada dunianya setelah melihat Siapa yang datang.


" Dek kamu keluar deh sama Armada, beli makanan buat kita, laper Ini Dek."


" Tapi nanti mama datang bawa makanan kak, kalau kita kenyang Siapa yang makan nanti?" Terusik saat punggungnya ditepuk oleh Dihyan secara tiba-tiba.


"Beli apa kek, roti atau buah, yang penting bisa mengganjal perut dulu!" Pria itu bahkan telah menarik tangan adiknya untuk berdiri dari leha-lehanya.


" Apaan sih Kak, panas tahu di luar!" Tak bisa berbuat apa-apa, sebab tenaganya kalah oleh pria itu.


" Biar panas asal yang temanin itu cowok cakep nggak papa Dek!" Matanya melirik ke arah Armada, seolah memperlihatkan pada adiknya tentang paras pria muda tampan itu.


Ck, Diva berdecak kesal, Meskipun begitu Ia tetap melangkah keluar. Apalagi yang bisa ia lakukan selain mengikuti permintaan sang kakak.


" Nanti dibayarin sama cowok cakep itu." Kembali mendorong pundak adiknya agar segera keluar.


"Kere! Pelit!" Anggap saja ini demi melampiaskan kekesalannya terhadap sang kakak yang mengganngu ketenangan dunianya.


Sementara Rima hanya tersenyum saat melihat perdebatan antara kakak beradik itu.


Sudut hati Rima menghangat kala merasakan kehangatan antara kedua saudara itu.


Ingatannya kembali melayang mengingat sang kakak yang berada di seberang lautan sana. Ah rindu juga bertengkar dengan saudara satu-satunya yang ia miliki.


Romi yang sangat menyayanginya, selalu memberikan apa yang ia inginkan selagi pria itu mampu.


Namun pria itupun kerap membuat darahnya beranjak naik ke ubun-ubun. Beberapa kali tubuhnya terbanting di atas tempat tidur atau sofa karena ulah saudara laki-lakinya itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Kak Iyan gila!" Diandra yang kini tengah duduk di kursi tunggu.


Mendengar cerita dari sang ibu, jika Dihyan kini tengah cemburu pada Rima yang terlalu dekat dengan Reno.


Akal pikirannya tak sampai ke sana, memikirkan ada kisah antara Rima dan Reno.


Kondisi di dalam kamar perawatan telah kondusif. Sepasang suami istri yang berpakaian seragam pasien rumah sakit kembali tertidur setelah mengisi Kampung Tengah hasil dari tentengan mama.


Gadis SMA yang sedari tadi membuat Dihyan kesal, turut tenggelam dalam lautan mimpi di sofa masih dengan seragam kebanggaannya.


"Emang gak ada cewek lain apa?" Tanyanya lagi dengan nada emosi.


Reno, seorang pria lajang dan sangat tampan dengan karir yang cukup Gemilang. Bisa dipastikan, banyak gadis yang mencoba mendekatinya. Dan tak bisa dipungkiri, Ia pun sudah sejak lama mengagumi dan hendak meraih hati dari pria itu.


Sementara Rima, Wanita itu memang cantik, Ia saja yang sebagai wanita mengakui kecantikan yang dimiliki oleh kakak iparnya itu, apalagi para pria.


Namun Rima adalah wanita yang bersuami. Apalagi wanita itu kini sedang mengandung. Seandainya Dulu pun Rima terlepas dari Dihyan, toh wanita itu bukan lagi seorang per@w@n.


" Kamu cukup tahu saja tentang masalah yang mereka hadapi. Tak perlu ikut campur, atau sampai masuk ke dalam urusan rumah tangga mereka!"


" Cukup yang dulu saja, kamu masuk dan menyakiti Rima, kali ini jangan lagi!"


Diandra mencerminkan bibir kalah mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir sang ibu. belum apa-apa mamanya telah memberikan peringatan seperti ini.


" Aku mau pulang ke rumah Ayah!" Rima mulai berkata saat tubuh telah kembali duduk di ranjang pesakit.


" Ia nanti kalau kamu sudah bisa keluar. kita pulang ke rumah Ayah."


Rima terdiam meski dalam hati hendak melayangkan protes. ia ndak pulang ke rumah ayah sendiri tanpa harus membawa sang suami ikut besertanya. Namun untuk mengatakan itu, ada rasa Iba yang kembali menyentuh.


Sepanjang pembicaraan mereka saling menahan rasa canggung. Pertengkaran semalam masih sangat membekaskan luka pada masing-masing diri.

__ADS_1


Namun, sama-sama tak ingin membahas perkara semalam, biarlah semuanya terkubur bersama waktu.


Berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala seiring berjalannya waku.


__ADS_2