
Rima masih saja merajuk, enggan menyentuh makanan yang telah dibuka dan ditataDihyan di atas meja.
" Makan dulu!" Ucap Dihyan masih mencoba merayu. "Aku punya kejutan untukmu!"
Rima berbalik, menatap ke arah pria itu. Penasaran memang dengan kejutan apa lagi yang dijanjikan pria itu.
"Kamu makan ya, aku suapin!" Pinta Dihyan yang masih sabar menghadapi Rima.
" Nggak usah! Aku bukan orang sakit yang harus disuapi." Rimapu masih bertahan dengan raut kesalnya.
" Tak perlu tunggu kamu sakit agar aku menyuapi dan memanjakanmu. Aku suamimu, bisa jadi segalanya untukmu.
"Makan dulu baru kita pulang!"
Kalimat terakhir kembali mengalihkan perhatian Rima yang menoleh ke arah Dihyan. "Sekarang? Mau ke mana?"
"Bentar, tapi habis makan."
Rma yang semakin dibuat penasaran, segera menjemput makanan yang disodorkan Dihyan untuknya.
Makan siang berakhir, Dihyan mengeluarkan tangan tepat di hadapan Rima. Menggandeng istrinya keluar dari ruangan.
"Ghea, bersihkan ruanganku! Hari ini saya pulang cepat ada urusan dengan ibu."
Setelah berkata seperti itu, kembali menarik pelan tangan Rima yang masih berada dalam gandengannya.
" Baik Pak!"
" Eh tunggu dulu!" Langkah kaki kedua orang itu terhenti. " Kotak bekalnya?"
"Nanti dibereskan sama Ghea." Mungkin Rma merasa tak enak saat meninggalkan ruang kerja itu dalam keadaan berantakan.
" Iya tahu, tapi kotak bekalnya ditinggal? Kan sayang, nanti bingung lagi kalau kamu minta dibekalin?"
Dihyan melongok mendengarkan ocehan istrinya, memang kotak bekal yang mereka miliki hanya satu?
"I-iya." Jawabnya terbata, takut salah bicara nantinya. Iya baru saja berhasil membujuk wanita ini, tak mau mengambil pusing lagi merangkai kata-kata manis atau memikirkan hadiah apa lagi yang mampu membuat luluh.
"Ghea,...." Menatap sebentar pada sekretarisnya itu, kembali menatap Rima. Jujur masih meneliti Apa keinginan istrinya.
" Kotak bekalnya kamu simpan, jangan sampai tercecer!" Dihyan.
" Baik Pak!" Gadis itu menundukkan kepala, sembari tersenyum. Merasa suatu hal yang biasa jika emak-emak selalu memikirkan kotak bekal atau botol minuman. Dua barang itu sangat berarti.
"Kita mau ke mana?"
Berada di dalam mobil, duduk berdampingan dengan Armada yang menjadi sopir.
"Ada. Kejutan." DIhyan.
"Ke mana sih?" Mendesak untuk diberitahu.
"Kalau taunya sekarang kan bukan kejutan namanya. Kamu yang sabar sedikit dong!"
Rima memajukan bibir, kembali menampakkan wajah memberenggut manjanya. Namun semakin lama wajah kesal itu semakin luntur, berangsur menjadi senyuman samar.
"Kita mau ke mana?" Tanyanya lagi memastikan. Dihyan hanya menggeleng, masih enggan menjawab.
__ADS_1
Memasuki area kompleks, wajah Rima terlihat cerah.
Mobil terus melaju, melalui sebuah gerbang, senyuman itu semakin merekah saja.
Belumpun roda mobil berhenti secara sempurna, Rima sudah membuka pintu di sisinya.
"Rima!" Teriakan Dihyan terabaikan.
Berlari kencang, meninggalkan Dihyan yang masih terpaku bengong di dalam mobil. "Sebahagia itu?"
Kini ia telah mampu menjawab tentang teman bicara yang RIma sebut kemarin.
"BIBIIIIIIIII." Teriakan Rima menggema. Tubuh semampai itu terus melaju masuk ke dalam rumah. "BIBI." Heels sudah tak lagi terpasang pada kaki.
Hingga tiba di pembatas ruangan antara ruang makan dan ruang tengah, barulah Rima berhenti berlari.
Kembali berteriak histeris saat mendapati BI Sumi di sana. "BIBI."
"Ya ampun nona!" Terkejut, wanita paruh baya itu menjatuhkan kain pel dari tangannya.
"Nona cantik." Berlari pelan, turut menghampiri RIma. Membuka tangan demi memeluk RIma.
"Ya ampun non Rima."
Melerai pelukan demi memandang wajah cantik yang sedang tersenyum dengan mata yang sama berkaca-kaca.
"Non Rima baik-baik saja."
Rima mengangguk kencang, masih tersenyum meski setetes air mata telah membasahi pipi.
"Ya ampun non. Maafin bibi gak bisa menyelamatkan anaknya non."
"Udah, gak usah dibahas lagi! Udah takdir." Mencoba ikhlas dan bijak Rima tak ingin semua merasa bersalah meski sakit masih ada.
"Non, maafin Pak Dihyan juga ya non."
Mereka masih berbicara dengan tangan yang berada di punggung satu sama lain. Lagi Rima mengangguk.
Tak dimaafkanpun, ia tak bisa berbuat banyak.
"Pak Dihyan, sakit waktu non tinggal."
Rima memasang pendengarannya baik-baik. Keadaan ini belum ia ketahui.
"Rima."
Suara itu mampu melepaskan kaitan tangan masing-masing, lalu saling menjauh selangkah.
"Ayo!" Dihyan mengulurkan tangan, hendak membawa Rima dari sana.
Berjalan meniti anak tangga menuju ke lantai dua. "Mau tidur di mana?"
Mau tidur di mana emannya?
Bukankah RIma dulu pernah memiliki kamar sendiri.
KIni gadis itu mencoba memimpin jalan meski tangan masih terpaut.
__ADS_1
Tentu saja langkah mengarah ke kamarnya yang dulu. Penasaran dengan kondisi ruangan itu.
"Waaaah," Seperti orang yang melihat sesuatu yang mengagumkan, padahal ruangan itu tak berubah sedikitpun.
Dihyan tak sempat memikirkan itu saat tengah sibuk mencarinya.
Memasuki kamar dengan langkah pelan dan tatapan yang menyapu ke seluruh ruang.
"Aaaaah," menghempaskan tubuh di atas ranjang yang rasanya masih sama. Kaki dan tangan bergerak-gerak demi merasa kelembutan dan kenyamanan seprei.
Menatap awang-awang, Sedikit bangkit dan kembali melayangkan pandangan ke semua arah.
Ruangan ini, dulunya tempat ia mencurarahkan segala perasaan.
Perasaan sedih hingga kehancuran yang pernah ia alami.
Mata memaku ke sisi sana. Bangkit berjalan mendekati meja rias dengan segala macam alat tempur miliknya yang dulu.
Menyapukan tangan diatas permukaan meja sebelum duduk di kursi.
"Masih aman gak yah?" Menelisik salah satu perona bibir miliknya.
Ragu, sebab telah di tinggal beberapa lama.
"Hihihi, paling juga dower!" Ucapnya sambil cekikikan sebelum menyapukan ke bibir.
Emuah. Emuah. Emuah, membuat ciuman melayang sendirinya.
Berdiri lalu berjalan ke arah almari, tempat penyimpanan pakaiannya.
Dihyan duduk di tepi ranjang, terus memperhatikan tingkah laku sang istri yang terlihat sangat bahagia memasuki neraka yang pernah ia buat.
Kembali memandang raut yang eksaited saat membuka pintu lemari.
"Waaaah," Lagi Rima menunjukkan kekagumannya pada hal yang biasa. "Kamu gak buang baju-bajuku?"
"Kenapa mesti di buang?"
Kening DIhyan bahkan berkerut saat mendengar pertanyaan itu.
"Kukira kamu membenciku. Pasti membenci semua yang berkaitan denganku." Tangan wanita itu terlurur mengambil sebuah gaun dari dalam lemari.
Dihyan menghembuskan napas dengan mata yang tertutup perlahan menunduk. Sulit menjelaskan bagian ini.
"Kamu istriku." Hanya bisa mengucapkan kata itu saja, entah Rima mengartikan apa nanti.
Kembali mengangkat kepala, menatap RIma yang berputar-putar di depan cermin sambil menempelkan sebuah gaun yang masih tersangkut pada hanger. Wajah cantik itu tersenyum, seperti bahagia dan tak terpengaruh dengan kata-katanya barusan.
Inginnya ia bertanya, tentang perasaan Rima selama bersamanya.
Atau setidaknya, Rima menganggap dirinya sebagai apa?
Wanita itu terus menari dengan riang. Menghadap ke kiri lalu ke kanan, mata terus menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan diri.
Menggantungkan hanger pada gagang pintu lemari dengan perlahan.
Kedua tangan berada di depan dada, tengah bekerja membuka kancing demi kancing kemejanya sendiri.
__ADS_1
Lagi, Dihyan hanya mampu menatap dan menanti. Apakah Rima seberani itu?