Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Demi Bapak juga!


__ADS_3

Kedua mata Rima mendelik saat memandang sesosok pria yang kini telah duduk tepat di depan pintu ruang perawatan, jelas sekali jika pria ini sedang menunggunya.


Yang ia sesali kenapa Dihyan tak langsung masuk ke dalam saja agar bisa mendengarkan percakapannya dengan Reno. Ia tak ingin keberadaannya dan Reno yang berada dalam satu ruangan yang sama membawa sebuah kesalahpahaman.


Ia tak bisa menjelaskan apapun lagi, malas rasanya. Kini ya pasrah jika Dihyan pun turut melepaskan dirinya.


Dan ia tak menyangka jika Dihyan kini mengeluarkan tangan padanya setelah kedapatan bertemu dengan Reno.


Dengan perlahan  Rima kembali melanjutkan langkah mendekat pada sang suami. Dihyan menarik tangannya agar semakin mendekat, hingga wanita itu lebih memilih menaikkan tubuhnya di atas pangkuan sang suami.


Dia ingin bermanja, dia juga ingin memiliki sandaran saat tubuhnya terasa berat menopang segala masalah yang ada. Beberapa kali terdengar hembusan nafas dari hidung Rima yang menempel tepat di ceruk leher Dihyan. Wanita itu kini tak segan-segan memperlihatkan kelemahannya. Ia butuh dukungan, Ia butuh teman yang bisa menghiburnya.


Dengan kedua tangan Dihyan berusaha menahan bobot tubuh Rima.


Dan semua itu terlihat jelas di mata Reno.


Melalui kaca jendela yang berada di pintu kamar perawatan, kedua pandangan pria itu saling beradu.


Kini akhirnya Reno mengakui kekalahannya, Rima benar-benar lebih memilih pria itu dibandingkan dengan dirinya. Pria itu masih berdiri di tempatnya meski Rima sudah sedari tadi ke luar dari ruangan itu. Ia hanya bisa menikmati pemandang seseorang yang ia cintai kini berada dalam pelukan pria lain.


Dan untuk Dihyan, Pantaskah jika dirinya merasa bangga dengan kemenangannya saat ini. Kemenangan karena telah berhasil mendapatkan keseluruhan  hidup Rima dari tangan Reno.


Tidak.


Rasanya Dihyan tak pantas merasakan bangga. Karena dirinya kedua insan yang saling mencintai ini akhirnya berpisah. Ia merasa bersalah, tapi apa dinanya semua telah terjadi. Ia tak mungkin melepaskan Rima, itu akan membuat  semua berantakan.


Satu hentakan Dihyan sebelum benar-benar berajak dari sana dengan sang istri yang berada dalam gendongannya.


Meninggalkan Reno yang mulai berjalan mundur kembali ke tempat duduknya. Tubuh pria itu menunduk, segala mempersempit rongga dadanya yang terasa semakin sesak saja.


Ia hanya bisa meletakkan kepalanya di atas pembaringan sang ayah. Di sana ia bisa menangis seorang diri meski harus menahan suaranya. Bahunya bahkan terguncang, bahkan tak sadar hingga suaranya terdengar segugukan.


Reno terhentak kala merasakan sebuah sentuhan lembut menyapu di atas kepalanya.

__ADS_1


"Rima benar, kembalilah pada istrimu!" Suara lirih itu berasal dari pria yang tengah terbaring di ranjang pasien itu.


Bapak telah terbangun, bahkan mungkin sedari tadi hingga mampu mendengar percakapan mereka.


" Rima dan Reno saling mencintai."


" Anakmu dan menantuku, hehehe." Diikuti dengan sebuah tawa tertahan, tahan yang hanya tercipta demi mencairkan suasana antara mereka.


Ternyata prasangka itu telah menjadi rahasia umum dalam keluarga mereka.


Tahu, tapi pura-pura tak tahu demi semuanya yang tetap berjalan dengan normal.


" Ah, aku lupa ternyata mereka berdua sama-sama menantuku, hehehe." Kembali tertawa.


" Aku tak bisa memikirkan nasib anak-anakku ke depannya bagaimana?" 


Lalu apa yang harus ia katakan kala mendengar ucapan yang berasal dari orang yang sedari dulu ia hormati?


Pak Herman tak pernah menyangka jika putra yang selama ini ia banggakan kini mampu menjadi perusak rumah tangga keluarga yang memberi mereka makan selama ini.


Malu, jelas saja. Meski ia akui sulit sekali memaksa hati yang hendak berlabuh pada siapa. Tapi kenapa antara Rima dan Reno tak pernah ada yang mau mengatakan sejujurnya sejak dulu?


Ah, mereka bahkan tak tahu sejak kapan jika kedua insan itu saling menyimpan rasa.


"Kami saling mencitai pak. Mereka yang terlalu kejam memisahkan kami. Mereka egois!" Reno telah berani memulai kata, tak lagi menutupi. Toh, bapak juga telah tau.


" Berikan istrimu nafkah batin seperti yang Rima katakan, semoga setelah itu cinta bisa datang diantara kalian."


" Jodoh tak harus pada orang yang kita cintai, tapi kita bisa berusaha mencintai jodoh kita."


Suara itu masih terdengar lemah, namun ia tetap memaksakan diri demi mengingatkan sang anak. Takut jika semuanya terlambat.


" Lupakan Rima, bapak hanya bisa berdoa semoga kalian bisa berbahagia dengan pasangan masing-masing."

__ADS_1


" Demi Rima dan demi bapak juga!"


\======


"Malu." Suara itu pelan, bibirnya tergesek di kulit leher suaminya.


Dihyan membawa Rima yang masih berada dalam gendongannya keluar dari Rumah sakit.


" Sembunyi saja!" Dihyan.


Dengan terpaksa Rima semakin mengencangkan linggaran kedua tangannya yang berada di leher pria itu. Bahkan hingga mereka memasuki mobil yang telah Pak Eko bukakan. Sang Sopir berpiki jika istri tuannya sedang tertidur.


"Turun!"


Pinta Rima, telah mengambil sikap melepaskan.


" Gak usah, gini aja dulu!" Dihyan menahan tubuh Rima yang hendak bergerak turut dari pangkuaanya.


Ia merasa bahagia saat ini.


Saat Rima memilih untuk tetap bersamanya.


Saar Rima menyandarkan tubuhnya saat sedang kacau.


Dia merasa seperti pria sesungguhnya. Pria yang dibutuhkan.


" Ke mall pak!"


" Ngapain? Mau beli apa?" Rima.


Baru beberapa hari mereka ke sana untuk membeli pakaian yang katanya layak pakai untuk RIma.


"Cari dasi!"

__ADS_1


Hanya alasan Dihyan saja. Pria itu hanya ingin mengembalikan kebahagiaan sang istri dengan membawanya jalan-jalan.


" Kamu bantu pilihkan yah!" Pintanya lagi, hingga nanti di sana,  ia yakin Rima akan lupa tujuan mereka ke sana. Dipikirannya, pasti Rima kembali gila dengan belanja apa saja nanti. Biarlah, ini adalah salah satu usahanya membahagiakan sang istri.


__ADS_2