Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Teman atau musuh?


__ADS_3

“Aku bosan!” Telepon rumah yang digunakan Rima untuk menghubungi Dihyan.


“Bersiaplah! Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu!”


Rima mengerutkan alis, tumben pria itu mau berbaik hati mengeluarkannya dari sangkar dinding ini.


“Kemana?”


“Ikut saja!”


“Pakaianku?”


“Minta sama bi Lia!”


Heh, kenapa tidak bilang dari dulu, jika pakaianku ada sama bi Lia. Sudahlah, setidaknya kali ini aku bisa keluar!


Bisa menghirup udara bebas, harusnya ia bisa bersukur kali ini.


Setelah meminta pakaian pada Bi Lia yang ternyata pakaian baru dan bukan pakaian yang pernah ia gunakan saat di culik dulu. Bahkan lengkap beserta beberapa perlengkapan make up, meski bukan seleranya.


Dasar aneh setelah melihat pakaian yang diberikan oleh bi Lia yang menurutnya sangat diluar kepala. Saat ia setiap hari menggunakan pakaain pria sementara hanya dengan sekali meminta ia bisa mendapatkan baju yang baru dan indah lagi.


Dan kembali bola matanya terbuka melebar saat mendapati banyak pria berpakaian hitam pekat di luar saat membuka pintu apartemen.


Ia hampir saja berbalik masuk saat seorang dari mereka menyapanya, “Silahkan nyonya!”


Waaah istimewa sekali dirinya saat ini. Atau justru kekangan semakin erat dengan penjagaan ketat seperti ini.


“Siapa kalian?” Tanyanya pada orang yang sama, namun sepertinya ia tak ingin mendengar jawaban hingga cepat


berbalik dan kembali masuk.


“Ada apa bu?” Bi Lia saat mendapatinya tengah menutup pintu.


“Banyak orang di luar bi, aku takut!”


“Oh, itu utusan bapak yang akan mengantar ibu untuk menemui ibu,”


“Sebanyak itu?” Ia kembali bertanya dengan mata melotot.


Membawa seorang wanita sepertinya harus dengan gerombolan pria yang menakutkan? Pentingkah?


“I-iya bu!” Entah bi Lia telah mengetahui jumlah orang itu atau hanya untuk menenangkannya saja.


“Hemmm, baiklah! Setidaknya bisa keluar!”


Kembali meyakinkan diri sendiri. Bosan rasanya melihat tembok terus setiap harinya.


Iapun kembali keluar dan disambut oleh hampir sepuluh pria yang sama saat ia pertama membuka pintu.


Risih mungkin yang kini ia rasakan, tapi kembali ia tak bisa berbuat apa-apa. Kekuasaan yang terlalu mengekangnya.


Tak apa setidaknya bisa cuci mata dengan menatap wajah para pria itu setelah beberapa hari hanya menatap tembok. Meskipun tak ada senyum pada mereka hanya raut serius dan sangat tak bersahabat.


Dan kejutan selanjutnya adalah matanya harus ditutup saat akan meninggalkan pintu apartemen itu. Apa gunanya

__ADS_1


coba?


"Kenapa harus pake tutup mata segala sih?" Ocehnya, meski takut justru menghampiri. Rasanya ia tak bisa mempercayai pria-pria itu.


Bagaimana jika, ....?


Tak ada jawaban, hanya tangan yang terus dituntun hingga memasuki mobil.


Dan hilanglah rasa risih yang tadi menghantuinya saat membayangkan dirinya dikawal oleh sejumlah lelaki. Dan


hilang pula bahan untuk cuci matanya. Heh! Benar-benar kaku.


Matanya baru dibuka setelah berada di lobi sebuah kantor.


Hemm, jelas ini adalah kantor dari pak Dihyan sang diktator, arrrrgggg!


Pandangan pertama langsung menangkap sosok lelaki yang mungkin sempat kurindukan, atau entahlah?


Dihyan?


Yang benar saja?


Ya pasti bukanlah. Buat apa rindu toh selama beberapa hari mereka selalu bertemu, bukan hanya bertemu tapi juga


hemhem.


Dia adalah Reno, meski hanya menatap punggung dalam beberapa meter, Rima yakin seratus persen pria itu adalah Reno.


Entah mengapa semakin ke sini hati seolah semakin memimpikan dirinyalah yang menjadi


Ah ya, dan mungkin saja Reno yang memberi tahu keberadaanku pada Dihyan. Sangat jelas bahwa dia adalah kaki


tangan sang bos. Akh, bodohnya aku bisa terperangkap dalam hatinya. Bukan, tapi dia yang terperangkap dalam hatiku.


“Pak Reno.” Kali ini Rima menyapanya dengan sangat formal beserta panggilan bapaknya.


Reno berbalik mendengar sebuah suara yang tak asing namun seolah tak ingin tebakannya benar.


Suara Rima sangat tidak, tidak dia harapkan di sini. Namun harapannya benar-benar sirna karena yang berdiri sedikit berjarak darinya menampakkan wujud Rima berikut tatapan tajamnya.


Dengan wajah sedikit terkejut dan seperti ling-lung ia berjalan mendekati wujud Rima, seolah berharap


wujud itu bisa hilang saat dirinya semakin mendekat. Yang artinya ia hanya sedang berhayal.


“Rima?”


Tapi, entah kenapa wujud itu tetap tak hilang-hilang meskipun jarak mereka semakin dekat. Ia bahkan melihat dengan jelas saat dua orang dari pria dibelakang Rima datang menghampirinya dan memegang kedua tangannya.


“Ada apa ini?”


“Rima. Benar kamu Rima kan?”


“Kenapa bisa di sini?”


Serentetan pertanyaan yang keluar dari mulutnya jelas-jelas memperlihatkan kebingungannya dengan keberadaan Rima saat ini. Dan seolah menjawab pertanyaan Rima bahwa Reno bukanlah dipihak Dihyan.

__ADS_1


Tak pernah terpikirkan olehnya akan bertemu Rima di sini dan dalam keadaan seperti ini pula.


Ia menyuruh Rima menunggunya di sana. Berjanji setelah mengurus perceraian RIma dengan Dihyan ia pun akan turut ke sana.


Mencari kerja dan membangun bahtera rumah tangga bersama.


Tak apa hidup sederhana, toh di sana juga Rima tetap bahagia.


Bukan menyuruh RIma menyusulnya ke sini, namun justru kembali pada Dihyan.


Bukan! Bukan seperti ini yang terbayang dalam skenarionya.


Sejenak dunianya terhenti hanya dengan ini. Menutup mata sembari mengatur detak jantung yang tak beraturan.


Marah pastinya. Kecewapun ada. Sedih, lengkaplah sudah.


Ia kalah.


Reno kalah  begitu saja. Bahkan sebelum memulai.


Dua pria itu memegang dan merentangkan tangannya agar tak bisa mencapai wujud Rima. Ini sangat jelas bahwa Dihyan tak menginginkan Reno berdekatan dengan Rima.


Ya, karena tanpa sadar Dihyan telah menjadikan dirinya sebagai salah satu manusia yang harus dijauhkan dari sang istri.


Reno berusaha berontak, dan hanya dengan sekali hentakan ke dua tangan pria itu dapat berhasil ia lepaskan. Hemm, jago-jago!


Jangan senang dulu ferguso.


Karena setelah kedua tangannya terlepas, ia langsung dihadiahi sebuah bogem mentah dari salah satu pria itu.


Semakin bertambah jelas jika sosok Reno menjadi ancaman sangat berat bagi Dihyan.


“Akkhh!” Pekiknya sambil memegang pipinya yang sedikit lebam.


Hah baru sekali pukul langsung lebam? Tidak jago! Tidak jago!


“Kak Reno!”


Tersentak saat menyaksikan perkelahian itu. Setelah melihat semuanya panggilan Rima untuk Reno langsung berubah menjadi kakak.


Bingung dengan semua yang terjadi.


Di sini, ia sempat memikirkan tentang posisi Reno di hadapan Dihyan. Temankah atau musuh.


Benar Reno mencintainya dengan tulus, atau pria itu sebagai utusan Dihyan? Entahlah.


“Apa yang kalian lakukan?” Rima segera berlari meraih tubuh Reno yang telah tersungkur dilantai.


Kini beralih kedua tangannya juga telah di pegang oleh dua orang perempuan dari mereka.


Hemm, ternyata diantara mereka ada yang perempuan juga.


“Lepas ih!” Masih sambil meronta, “Kalian ini kenapa sih?”


“Mari nyonya, tuan sedang menunggu!” Ucap salah satu wanita dari mereka sembari mengendurkan pegangaannya.

__ADS_1


“Iya tahu, tapi ini lepas dulu! Aku Cuma mau ngomong sama kak Reno.”


__ADS_2