Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Di Hukum


__ADS_3

Rima menyembunyikan diri di bawah selimut. Di luar sana hari telah pagi, bahkan mentari tak segan-segan lagi membagikan cahaya hangatnya pada makhluk bumi.


Selamat pagi.


Gadis itu menggeliat, ber-hoaam-ria sebelum bangkit dari tidurnya yang sangat nyaman. Mata mengerjap beberapa kali demi mengenali dunianya. Menoleh ke samping, kosong suaminya sudah tak ada di tempat, mungkin sudah keluar menikmati udara pantai.


Ia mulai beranjak dan menuju kamar mandi demi memenuhi hajatnya.


Melangkah menuju ke kamar mandi, otaknya juga berpikir sepertinya ia pernah mengalami hal ini? Tapi di mana dan kapan?


Anggaplah ini seperti mimpi nyata.


Masuk ke kamar mandi, pikiran kembali melayang mengingat-ingat di mana ia pernah melihat tatanan ruangan seperti ini?


Gadis itu mulai keluar kamar mencari apa saja yang bisa ia temui, termasuk suaminya.


"Eh Bibi? Ke Bali juga?"


Saat mendapati orang yang sempat ia kenal dulu.


" Bali non? Enggak, Bibi nggak ke mana-mana kok. Masih ada keluarga yang harus diurus." Wanita paruh baya itui tersenyum dengan Rima. Baguslah setidaknya wanita itu mulai bisa berinteraksi dengan Rima.


" Terus kenapa Bibi bisa di sini?" Rima mulai mengerutkan keningnya.


" Ya saya kan datang buat bersihin rumahnya Pak Dihyan. Sarapan dulu non, saya sudah masak."


"Loh kok, loh kok."Rima Memutar tubuh, pandangan ikut berputar menelusuri semua ruangan. Dan ia kenal ruangan ini, kenal tempat ini, dan mungkin dia mulai sadar tentang semua yang terjadi.


" Ini bukan di Bali?"


" Ya bukan Non, pasti mimpi ya Non? Hehehe." Bibi terkekeh, lebih tepatnya menertawakan Rima yang menurutnya belum sadar dari tidur.


" Kok bisa?" Ucap Rima lagi hendak protes tapi entah pada siapa." Suamiku mana?"


" Bapak sudah berangkat kerja, katanya ada yang penting."


Kalimat itu ia dengarkan sambil berjalan menuju ke kamar, mata dan tangan bekerja menggeledah ruangan mencari ponselnya.


"Kamu di mana?" panggilan pertama langsung terjawab.


"Di kantor, kenapa?"


"Katanya mau honeymoon, tiga hari di Bali, kok udah pulang? Baru setengah hari juga." Memberondong Dihyan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya.


"Ditelepon papa, marah-marah karena aku nggak masuk kerja. Honeymoon nya lain kali aja ya. Suami mau cari duit dulu."


"Ck, kamu gimana sih?" Dengan lesu menutup panggilan telepon. Ia memang tak pernah menuntut pada suaminya untuk dibawa jalan-jalan, tapi Dihyan sendiri yang melakukan itu dan itu atas inisiatifnya sendiri.


Kemarin Rima sangat bahagia, rasanya sudah lama ia tak merasakan pergi berlibur. Dijanjikan berlibur selama 3 hari, membuat Ia seperti menemukan semangat baru.


Namun janji tinggal janji, yang ditepati Dihyan hanya setengah hari satu malam. Namun saat mendengarkan alasan suaminya tadi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ck, itu sih bukan honneymoon, tapi sekedar liburan biasa. Pasalnya, mereka tak melakukan apa-apa yang biasa tertulis dalam list honneymoon itu sendiri. Bahkan dirinya saja masih palang merah. Eh apa yang dipikirkannya saat ini?


Pandangan kembali berputar mengelilingi lapangan. Jika memang mereka harus kembali, kenapa ke tempat ini? Bukan ke rumah Dihyan seperti sebelumnya.


Kembali mengotak-atik gawainya, wajah masih cemberut kesal.


" Kenapa pulang di apartemen?" Tanyanya pada Dihyan saat panggilan terhubung kembali.


"Rima, aku kerja dulu ya. sebelum papa ngamuk lagi, bisa habis suamimu ini. Kamu sabar dulu yah, dari pada kita jatuh miskin?"


Rima meringis saat mendengarkan untaian kata dari Dihyan. Membayangkan Sebesar apa kemarahan Papa mertuanya hanya karena mereka pergi berlibur hingga Dihyan menutup panggilannya sebelum menjawab pertanyaannya.


Mungkin bukan salah berliburnya, tapi waktu yang tidak tepat karena mereka pergi di saat hari kerja. Wajar!


Menggunakan baju sesukanya. Tak ada siapapun di sini kecuali bibi yang baru saja membuatkannya black forest cake. Lumayanlah sambil menunggu suami pulang kerja.


Kembali menatap jam yang tertempel di dinding yang seperti sangat lambat memutar jarum-jarumnya. Baru lima menit ia kembali menatap ke arah benda itu, mengerutkan kening demi mempertajam penglihatannya, meyakinkan pandangannya jika benar jarum-jarum itu tetap berputar menandakan mesin tak ada kerusakan.


Pufffft, lama sekali!?


Belumlah sehari ia berada dalam kotak segi empat ini, Rima merasa telah berdiam diri selama setahun.

__ADS_1


"Kenapa mesti pulang ke sini sih?" Lagi-lagi menggerutu pada Dihyan meski orannya tak ada di sini.


Bibi yang ini jelas berbeda dengan Bi Sumi dan Bi Titi. Ia pun tak terlalu tahu pembahasan yang bisa menjadi bahan pembicaraan yang baik untuk mereka.


Dan lagi, tak ada yang bisa ia kerjakan di sini selain nonton dan main Hape. Tubuh hanya digunakan duduk, berbaring, jalan, duduk lagi, baring lagi. Lama-lama pegal juga.


Kunci terdengar, akhirnya orang yang sedari tadi ia nantikan muncul dari balik pintu meski dengan raut wajah lelahnya.


Rima mulai menyambut, membantu membawakan tas kerja suaminya. Tak lupa mengambilkan air putih, menaruh di depan meja ruang tamu tempat Dihyan duduk saat ini.


"Terima kasih." Ucap DIhyan sambil mengumbar senyum.


"Kok pulang ke apartemen?" Rima to the point. Ia cukup baik untuk tak langsung menanyakan itu pada sosok DIhyan saat baru saja muncul dari kantor.


"Kenapa?" Dihyan mulai beranjak, tangan di depan dada melepas satu persatu kancing kemejanya.


"Aku pusing kalo tinggal di sini. Gak tau mau ngapain?" Menunjukkan wajah kesal-kesal manjanya. Bibir mengerucut, langkah kaki terus mengikuti ke mana Dihyan melangkah.


Menyaksikan Dihyan yang kini telah melepas baju tepat dihadapannya, Ck menggungah iman banget!


"Oooh itu." Sambil melempar bajunya ke arah keranjang, lalu berbalik badan pada Rima.


Rima mengerjapkan mata, memandang tubuh yang telah polos bagian atasnya. Dihyan telah berdiri tepat di hadapannya, kedua tangan bertopang di pinggang seolah tengah memamerkan diri.


Wangi parfum masih tercium meski telah seharian dipakai bekerja.


Tak tahukan pria itu, jika saat ini Rima mencoba menahan napas hanya untuk tetap berdiri tegap di hadapannya.


Tak ingin dianggap lemah, Rima menaikkan dagu seolah menantang penampakkan Dihyan saat ini. Mata tetap menatap ke arah wajah, itu lebih aman dari pada harus memandang ke depan, tepat dada polos yang seolah memancing untuk dibelai.


Padahal jantungnya tengah berdetak kencang tak karuan, ia bahkan meneguhkan diri untuk tak maju memeluk tubuh itu.


"Kamu sedang dihukum!" Dengan telunjuk yang beberapa kali mendorong hidung Rima.


Dihyan langsung berbalik begitu saja meninggalkan Rima menuju ke kamar mandi, keren memang namun mampu membuat RIma membulatkan mata.


"Iiiiiihhhh." Dengan kedua tangan mengepal keras dan gigi menggertak, menggeram kesal.


Puuuuffft.


Tapi? Eh tunggu dulu!


Apa tadi?


Dia dihukum? Atas dosa apa?


Apa yang telah ia lakukan kali ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Doain yah teman-teman, moga bisa lancar upnya lagi.


Masih batuk sih sebenarnya, tapi masih bisa on kok.


Eh tapi bukan on yang itu yah! Jangan mikir ke sana mulu, sekali-kali pikirannya lurus-lurus aja yah!


Oh iya, aku mau promo novel baru nih!


Judulnya, "Tak Seindah Mimpi Nur Laela."


Udah dua puluhan babnya. Udah dikontrak malah.


Aku tunggu di sana yah!



" Ya udah nggak apa-apa," Ibu. " Pak RT, saya mohon izin, biar tamu saya ini nginap semalam di rumah saya." Spekulasi negatif pada gadis ini telah tergambar di otak sang ibu. Tak ingin terjadi apa-apa, gadis ini terlihat tak ingin pulang ke rumahnya. Nampak dengan tak inginnya Iya membahas tentang rumah.


"Nggak bisa gitu Bu!" Pria yang bernama Nizam.


"Aku sama dia bukan mahram, nggak bisa seatap." Lanjutnya.


Cih, sok suci.

__ADS_1


Seatap belum tentu sekamar. Memangnya mau ngapain?


Laela memberenggut, melirik Nizam dengan pandangan kesalnya.


"Lalu mau bagaimana? Ini udah malam, dia juga nggak mau pulang. Mungkin ingin menenangkan diri dulu. Nggak pa-pa yah cuma semalam ini saja." Pinta sang Ibu lembut, merasa tak enak dengan tamunya.


"Ayo ayo istirahat dulu," Tangannya langsung meraih tangan Laela guna dibawa masuk ke rumah.


Mengidahkan pangangn para pria yang sebenarnya masih ingin bermusyawarah. Ibu mengambil keputusan sendiri.


Menempatkan Laela di sebuah kamar milik Salsabilla, sang anak bontot yang yang kini menjalani pendidikan di pondok pesantren, mengikuti jejak sang kakak, Nizam.


Memastikan Laela beristirahat dengan tenang. Kemudian kembali ke ruang tamu ingin berbicara dengan yang lain tanpa melibatkan sang tamu.


"Ibu takut dia mencoba bunuh diri lagi! Masalah gadis itu kita bahas besok saja." Alasan yang Ibu ucapkan pada mereka yang ikut sidang tanpa Laela.


Yang lain setuju, termasuk Bapak dan Pak RT kecuali Nizam tentunya. Mendapatkan keputusan akhir yang seperti itu, mau bagaimana lagi. Forum malam itupun berakhir begitu saja.


Nizam berjalan menuju kamar milik adik bungsunya. Ia telah diberi tahu jika di dalam sana ada gadis asing itu, Laela.


"Makan!" Ucapnya singkat setelah mengetuk pintu kamar. Tak ada sahutan dari dalam.


Laela tengah tenggelam dalam pikirannya, besok akan ke mana lagi? Malam ini ia beruntung, bertemu dengan keluarga yang baik hati menolongnya tanpa pamrih.


"Ditungguin Ibu, makan malam." Suara teriak dibalik pintu, lengkap dengan ketukan yang hampir mirip dengan gedoran pintu.


Berjalan lunglai membuka pintu, di hadapannya telah berdiri seorang pria yang masih berpakaian sama Koko dan sarung. Masih ganteng, parfumnya pun masih tercium. Eemmm, wangi.


Mengikuti arah langkah Nizam menuju ke ruang makan.


Di sana hanya ada mereka berempat, ibu dengan seorang pria pendiam yang ditaksirnya adalah suami ibu. Nizam dan dirinya.


Pertanyaannya saat ini, ke mana pria yang tadi sore menolongnya. Apakah pria itu sama dengan pria yang berada sekarang? Suaranya memang sama, namun penampilan jelas beda.


Laela membantu ibu membereskan bekas makan mereka,


"Udah biar Ibu aja, Kamu pasti capek!" Ibu menghentikan tangan Laela yang hendak mencuci piring.


"Nggak papa Bu, cuma sedikit bantu-bantu." Dengan senyum sungkan. Ia telah ditampung di rumah ini, setidaknya membantu mencuci piring sebagai ucapan terima kasih.


"Udah nggak apa-apa, ke kamar aja. Ibu bisa marah juga loh!" Ancaman yang terdengar lucu hadir dari wajah teduh itu.


"Nggak papa Bu?" Laela kembali bertanya memastikan.


" Iya nggak papa, Cepetan ah!" Ibu.


"Aku ke kamar ya Bu!" Mesti masih sungkan,Laela akhirnya pergi dari sana.


"Bu, Gadis itu hanya bisa tinggal malam ini saja ya." Entah Nizam sedang bernegosiasi atau sedang mengambil keputusan. Terdengar lembut namun tegas, Ibu hanya mengangguk menyetujui.


Nizam kembali melangkah ke kamar setelah menyiapkan air putih sebelum masuk ke kamar.


Entah siapa yang salah, Nizam yang selalu jalan tergesa-gesa atau Laela yang berjalan sambil menunduk.


Tubuh keduanaya saling bertubrukan tepat di depan kamar sang adik yang kini ditempati Laela.


Membuat keseimbangan tubuh hilang hingga terjatuh.


Bug.


Mendarat nan indah dengan Nizam yang menimpa tubuh Laela.


Gelas masih berada dalam pegangan Nizam, meski isinya telah tumpah terlebih dahulu membasahi sarungnya.


Bibirnya sempat mendarat di pelipis Laela, halus dan lembut kulit Gadis itu ia rasakan.


Mata sama-sama membola saat pandangan mereka bertemu. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Terkejut pasti.


"Kak berat." Laela masih mampu berbicara meski dengan nafas yang setengah terpotong. Tubuh Nizam yang tinggi dan tegap lumayan berat menimpa tubuhnya.


Dengan menggerutu pelan, Nizam bangkit meninggalkan tubuh Laela.


Membuka lilitan sarung, kemudian menggemas-ngibas berharap bisa sedikit mengeringkan sarung yang basah karena tumpahan air minumnya.

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa perempuan dan laki-laki yang bukan mahram tidak diperbolehkan berada dalam satu ruang?" Pertanyaan tegas dan sedikit keras dari Nizam sedikit menyentil bagi Laela. Gadis itu hanya tertunduk, merasa Terusir dari rumah ini.


"Agar tidak menimbulkan fitnah, dan juga tidak terjadi hal yang seperti tadi." Nizam masih dengan suara tegasnya, kembali berjalan ke dapur meninggalkan Laela dan bibir yang mengerucut.


__ADS_2