
Rima telah diizinkan untuk pulang setelah dua hari perawatan, sang bayi pun sama. Kedua ibu dan anak dalam kondisi stabil.
Meninggalkan rumah sakit menggunakan mobil yang di sopir Ayah Rima yang memang sengaja datang untuk menjemput sang anak. Sementara di sampingnya ada Mama CInta yang memangku cucu pertama mereka.
Ya, mereka. Putra mereka adalah cucu pertama dari keluarga Dihyan dan Rima.
Membiarkan sang ayah baru terus memberikan perlakuan-perlakuan manja pada sang istri yang masih sedikit kesakitan pasca melahirkan
Mobil melambat memasuki pemukiman Dihyan.
Setelah mobil menepi dengan mulus, Papa baru itu segera mengulurkan tangan demi mengangkat tubuh sang istri.
" Nggak usah aku bisa sendiri kok!" Rima mencoba menepis tangannya, meski secara lembut namun Dihyan tak menginginkan ini.
Tanpa aba-aba, Ia telah memposisikan kedua tangannya di bawah tubuh sang istri, sementara Rima tak lagi mampu menolak.
" Pegangan!"
Jelas saja wanita itu berpegangan takut terjatuh nantinya, kedua tangan bahkan telah mengalung di leher sang suami. Dihyan Menggendong hingga memasuki rumah.
Baru saja sampai di ruang tengah, langkah kakinya mulai melambat, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Kembali melanjutkan langkah, dengan bulu Kuduk yang merinding seolah ada sesuatu yang menanti di depan sana.
" Kenapa?" Rima saat melihat Dihyan menggigit bibir bawahnya.
" Bentar juga kamu tahu sendiri kok!" Ucapnya berbisik membuat rasa penasaran Rima semakin besar saja.
Ternyata kekesalan mama masih berlanjut saat mereka baru saja sampai di kamar RIma
Dihyan baru saja meletakkan tubuh Rima secara perlahan di atas tempat tidur, sementara Mama menggendong cucu pertamanya mengikuti. Diikuti ayah dan Pak Eko yang sengaja membawa semua barang-barang mereka.
" Jadi cucu mama yang belum ada namanya ini mau taruh di mana?" Sindir mama.
Pandangan matanya mengelilingi ruang kamar, tak ada perlengkapan untuk bayi mereka. Ayunan, ranjang kecil atau apapun yang bisa digunakan untuknya meletakkan cucu pertamanya ini.
__ADS_1
Ia kembali menebak, jika kedua orang tua baru ini tidak mempersiapkan tempat khusus untuk anak mereka.
Hem, jadi ini yang Dihyan maksud dengan kata akan tahu sendiri. Rima lebih memilih diam daripada kembali terkena omelan mama.
" Ma, jangan gitu dong mah, panggilnya Dedek aja. Papa bilang lagi nyari nama yang baik untuk dedeknya." Selimut ditariknya demi menutupi tubuh sang istri, setelah itu Dihyan langsung berbalik menatap mama.
Ia merasa tidak terlalu percaya diri untuk memberikan nama pada putranya ini.
" Iya iya iya. Jadi mau ditaruh di mana nih cucu mama?"
" Di sini aja mah dekat mamanya." Pria itu telah duduk di samping sang istri. " Biar gampang Kalau mau nyusu."
Alasan saja, Padahal dia juga bingung anaknya nanti akan tidur di mana? Tidak mengapa baginya untuk tidur bertiga dalam satu ranjang. Namun ranjang Rima bukanlah ranjang dengan size King, hingga mereka mungkin akan saling berdekat-dekatan dan berhimpitan.
Jika Bayi mereka ditaruh di sisi pinggir ranjang, ia takut jika bayi itu akan terjatuh. Namun jika diletakkan di antara dirinya dan Rima, Ia juga takut jika anaknya nanti terhimpit saat mereka tertidur.
Kini Ia berpikir untuk mengganti ranjang yang sedang dia duduki ini. Ruang kamar pun harus dirombak sedikit, agar bisa menaruh barang-barang milik bayi mereka. Belum lagi harus menyiapkan kamar tersendiri untuk putra mereka.
Ah banyak sekali yang harus ia kerjakan.
" Kalian kan sama-sama kerja, Butuh waktu istirahat yang cukup. Saran mama, kalian harus menyiapkan ruang kamar tersendiri untuk anak kalian. Kalian juga butuh baby sister, untuk jaga baik kalian."
" Nah gitu dong Mah. Kalau ada apa-apa diomongin dengan baik bukan diomelin." Dihyan Masih sempat mengulurkan tangannya demi mencubit pipi sang ibu.
" Nggak usah ngegombal, kamu pasti cuma mau mengalihkan pembicaraan." Tangannya bergerak menyingkirkan tangan sang putra.
"Bukan maksud menggombal mah. Tapi aku sama Rima benar-benar butuh pendamping untuk saat ini. Kami sama-sama belum tahu rawat bayi. Kalau ada apa-apa yang gak beres mama pasti ngomel lagi!"
Dihyan menginginkan mamanya untuk tinggal sementara waktu. Menjaga dan mendampingi Rima, setidaknya hingga mereka bisa sedikit terbiasa.
"Iya, mama sama papa akan tinggal di sini untuk beberapa hari." Sambil mengangukkan kepalanya mantap.
"Tapi pasti adek kamu ingin ikut juga!" Masih berusaha meminta ijin pada sang pemilik rumah untuk menambah anggota.
Sejenak DIhyan dan Rima saling bertatapan. Adik Dihyan ada dua, Andra dan Diva. Lalu mana yang dimaksud mama? Jika itu Diva mungkin tak mengapa, tapi, ...?
__ADS_1
Dihyan masih berat hanya untuk mempertemukan Rima dengan Andra. Bukan tanpa alasan enggan mempertemukan keduanya. Dihyan masih belum percaya sepenuhnya pada Diandra, terlebih mereka baru saja mendapatkan anak yang mungkin mampu memperkokoh rumah tangga mereka.
Tak ini kebahagiaan ini berlalu terlalu cepat.
"Gak pa-pa mah!" Jawaban Rima dengan mengangukkan kepala ke arah Dihyan, meyakinkan diri jika dirinya akan baik-baik saja.
"Kalau pak besan?" Kali ini pertanyaan mama ditujukan pada Pak Herman yang terdiam sambil mengamati mereka.
"Boleh mah?" Pertanyaan itu dari Rima. Terlihat binar pengharapan di mata wanita itu. Ia rindu pada sang ayah. Rasanya masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi.
"Lah kok tanya mama, kan kalian yang punya rumah bukan mama. Mama cuma ngajak, biar rumah kalian tambah rame. Beras kalian gak akan habis kalau cuma untuk dimakan beberapa hari kan?"
"Maaf, mungkin belum bisa bu." Ayah yang menjawab, menimbulkan raut kecewa di wajah sang putri.
"Yah!" Wajahnya telah memelas dengan tatapan penuh permohonan.
" Ayah sibuk Sayang." Ucap sang ayah berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Dihyan memilih beranjak, memberikan waktu pada anak bapak ini berbincang lebih jauh.
" Dua tiga hari ini aja yah. Please." Mencoba membujuk sang ayah.
Ia masih memiliki waktu 3 bulan berada di rumah karena Cuti melahirkan. Kapan lagi punya waktu lebih menghabiskan waktu bersama ayahnya yang juga sibuk.
Ia masih bisa menebak kesibukan ayahnya. Dihyan memberikan kedudukan tinggi pada ayahnya, hingga membuat pria itu sedikit kewalahan di hari tuanya.
Hendak protes pada sang suami, namun saat melihat sang ayah justru menikmati kesibukannya di hari tua itu tak lagi mampu membuatnya berkata apa-apa.
" Iya nanti, Ayah nggak bawa baju ganti untuk nginep."
Namun itu hanya terdengar seperti alasan untuk tidak tinggal di rumah ini.
" Kalau baju ganti ada kok, nanti aku minta pinjam sama suamiku. Yaaah," Rima masih berkata dengan penuh pengharapan dan manja.
" Pasti cuma alasan ayah saja, mau pulang ambil baju tapi nggak balik-balik ke sini lagi kan?" Wanita itu kini menampilkan wajahnya yang sendu seolah bersedih, agar ayahnya bisa lebih bersimpati padanya.
"Yah!" Kini Dihyan turut maju membujuk sang mertua untuk tetap tinggal di sini. Tak Tega saat Harus melihat istrinya mengemis seperti ini.
__ADS_1
Dan setelah itu, Ayah hanya bisa menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap ke arah anak dan menantunya.