Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Pria Yang Bertanggung Jawab


__ADS_3

Lampu telah di padamkan, berganti temaram lampu tidur dengan warna kekuningan.


Sebagian orang telah jatuh ke dalam alam mimpi, dengan sebahagian lagi masih menikmati sisa malam dengan cara masing-masing.


Pun dengan sepasang suami istri yang tengah bergelut dengan sebuah rasa.


Hembusan nafas terasa hangat dan lebih lebih cepat dari biasanya, pertanda orang itu tengah mendaki hasrat.


Dihyan terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut nan melenakan pada istrinya yang kini tengah menutup mata, meresapi.


Rima pun menerima dengan keterbukaan diri dan pasrah, sesekali membalas dengan sentuhan-sentuhan yang tak kalah memabukkannya.


Hingga pada batasnya,…


" Jangan! Aku sedang datang bulan." Rima telah menangkap tangan yang sedari tadi mengerjai tubuhnya.


Dihyan terpaku sejenak memikirkan kata-kata Rima. Satu tangan langsung melambung turun pada daerah yang ia kehendaki, mengecek.


Benar saja, ada sesuatu empuk yang mengganjal di bawah sana.


Kini sesuatu pun turut mengganjal dalam otak dan pikirannya.


Ini sudah ketiga kalinya Rima menahan Dihyan saat hendak melepaskan hasrat dengan alasan yang sama, datang bulan. Artinya benihnya kembali terbuang.


Dihyan menghempaskan tubuh ke samping, menoleh ke arah Rima yang tadinya telah pasrah kini terlihat tersenyum nakal padanya sambil memperbaiki baju tipis yang telah melorot ke mana-mana. Dalam hati mungkin wanita itu tengah mengejeknya.


Saat seseorang telah terbakar hasrat dan nyatanya tak mampu tersalurkan, rasanya seperti,…?


Sakit kepala, dan seperti mau pecah saja, atau bahkan insomnia.


Rasain, seperti itu arti tatapan Rima pada Dihyan.


Namun pikiran Dihyan justru melayang jauh, tak sesuai dengan apa yang dipikirkan Rima.


Pria itu kembali menelisik masa lalu di antara mereka. Menghitung hari di mana Rima terjatuh dan keguguran, saat wanita itu justru baru diketahui tengah mengandung tiga bulan.


Dihyan yakin, rahim Rima terisi benih yang tumbuh saat pertama kali ia membuahi Itu artinya Ia dan Rima dalam keadaan subur. Tapi kini, tak terhitung berapa kali ia membuahi rahim Rima, entah itu saat-saat subur atau tidak, Ia akan tetap mengisi dengan senang hati.

__ADS_1


Pun dengan RIma. Meski terkurung di sangkar emas milik Dihyan, namun wanita itu tak menampakkan raut stress atau tertekannya hingga bisa dijadikan alasan untuk sulit hamil seperti kata orang.


Namun hingga tiga bulan berjalan, belum ada hasil sama sekali.


Ada apa gerangan? Apakah ini dampak dari keguguran Rima saat dulu?


Jika iya, maka Dihyan akan semakin diliputi rasa bersalah dan sesal yang tak berujung.


Dihyan menarik Rima dalam pelukannya. Benar rasa takut kini menghantui dirinya. Bagaimana masa depan mereka nantinya, tanpa anak?


Dihyan semakin mengeratkan pelukannya, beberapa kali menjatuhkan kecupan di kening istrinya. Mungkin ini hukuman Tuhan untuknya. Hukuman Tuhan atas apa yang pernah ia perbuat pada Rima. Dalam hati berjanji ia takkan pernah melepaskan Rima meskipun keadaan yang ia takutkan benar terjadi.


Ah ia terlalu takut memikirkan kondisi Rima tanpa pernah memikirkan kondisi dirinya sendiri. Apakah ia baik-baik saja setelah semua yang pernah terjadi padanya dulu?


Apakah ia masih subur seperti dulu? Jika benar masalah ada pada dirinya, Apakah ia sanggup melepaskan Rima untuk berbahagia dengan masa depan yang cerah meski tanpa bersamanya?


Dihyan menggelengkan kepala keras, jujur ia tak mampu menerima semua itu.


Alasan-alasan yang menjadi mereka tak mampu meliki keturunan, atau apa yang akan terjadi dikemudian hari saat semuanya terungkap.


Sang surya Sudah terbit dari ufuk timur menandakan hari baru telah dimulai


" Kita mau ke mana?" Kalimat tanya itu telah Ia lontarkan beberapa kali.


Namun jawaban Dihyan hanya satu kata, "Ada."


Entah Rima harus kesal atau bahagia saat ini. Keluar dari rumah merupakan sesuatu yang langka baginya. Itupun harus melalui prosedur-prosedur yang berlaku dari bapak Dihyan selaku pengambil keputusan satu-satunya dalam hidupnya.


Emm, apa yang harus ia minta pada suaminya sebentar?


Tas baru? Sepatu? Baju atau perhiasan? Sekarang semuanya seperti hal biasa baginya.


Mereka kini telah duduk berdua di dalam mobil dengan Pak Eko yang menjadi sopirnya. Memainkan ponsel masing-masing demi mengikis waktu selama perjalanan.


Rima setelah diperbolehkan menggunakan ponsel, masih dengan syarat dan ketentuan berlaku. Semua kegiatan dalam ponselnya tersambung langsung dengan ponsel milik Dihyan. Rima bisa apa?


Laju mobil mulai melambat, membuat kedua penumpang itu mengangkat pandangan dari arah ponsel, memandang ke depan jalan yang baru saja mereka lalui.

__ADS_1


" Kita mau ke mana?" Rima kembali bertanya saat mobil telah memasuki lahan parkir. Padahal sudah jelas ia telah mengetahui jawabannya.


" Kamu sakit?" Tanyanya padaDihyan, pria itu menggelengkan kepala.


" Mau check up?"


Kali ini Dihyan mengangguk,


Berjalan berdua melalui lorong-lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan seperti pasangan-pasangan suami istri pada umumnya.


Rima terkesiat, saat Dihyan justru menghentikan langkah tepat di depan Poli Obgyn. Di antara mereka berdua tak mungkin kan Dihyan yang akan diperiksa?


Wajahnya telah pias, dengan getaran-getaran tubuh yang tak bisa ia kendalikan, rasa takut menyeruak.


Dihyan menarik Rima menuju kursi tunggu," Kamu kenapa?" Saat merasakan tangan yang sedari tadi ia genggam kini berubah menjadi dingin dan sedikit basah. Menoleh ke samping menatap Rima yang kini menunjukkan raut ketakutan.


Rima hanya menggelengkan kepala pelan, tak mampu membuka suara.


Sapuan lembut dirasakan Rima pada rambutnya, "Semua akan baik-baik saja!" Menerima kecupan ringan yang dipersembahkan oleh Dihyan pada keningnya.


Wanita itu hanya menatap kosong ke depan, entah apa setelah ini?


Hanya menunggu dalam setengah jam saja nama Dihyan telah dipanggil oleh Seorang perawat, pertanda waktu pemeriksaan telah tiba.


" Ayo!" Dihyan berdiri terlebih dahulu, masih menggenggam tangan Rima mengajaknya untuk bangkit dan masuk ke dalam. Namun pergerakan wanita itu terlihat lebih kaku dan lamban, bahkan kaki terhenti ketika telah berada tepat di depan pintu.


"Kenapa?" Tanya Dihyan lagi. Rima menggiling kaku, semakin kentara raut wajah ketakutannya.


"Kenapa kita ke sini?" Akhirnya kalimat itu mampu terlontar dari bibirnya.


" Untuk pemeriksaan!" Dihyan tahu ketakutan Rima saat ini. Bahkan ia pun merasakan rasa itu.


" Kenapa?" Lagi Rima.


"Bukan apa-apa. Hanya chek up, kita berdua, sudah biasakan?" DIhyan lagi, mencoba memberikan rasa nyaman dengan sapuan di punggung tangan yang sedari tadi ia gengam.


"Tenang saja, aku akan tetap ada untukmu. Apapun itu." Lirih, dan terdengar penuh perasaan.

__ADS_1


Ia telah mengambil semuanya dari Rima. Masa depan, kebahagiaan, dan bahkan cinta. Waktunya ia akan tanggung jawab dengan semuanya.


Meski mereka berdua memiliki kesempatan untuk tak lagi seperti dulu, subur.


__ADS_2