Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Cinta Ini Menyakitkan


__ADS_3

Rima menatap seorang pria yang masih Setia berdiri di samping pintu. Rasa-rasanya pria itu sudah ada sedari tadi berada di sana. Namun entah mengapa setelah pergantian pasien, pria itu belum juga keluar.


Otaknya kembali berpikir, sejak kapan pria itu berdiri di sana?


Masuk ke ruangan ini bersama siapa?


Apakah pria itu menyusup?


Kesal rasanya, jika sang suami tetap pada pendirian dalam menempatkan pengawalan untuknya sedekat ini.


Pergerakannya semakin terbatas saja.


"Emm, Ada yang bisa saya bantu Pak?" Masih berusaha sopan, Siapa tahu pria ini adalah salah satu pasiennya yang ingin konsultasi.


Pria itu berjalan mendekatinya sambil bergerak, membuka masker dan topi yang sedari tadi bertengger di kepala.


Hah, Betapa terkejutnya Rima saat mengetahui jika sosok yang sedari tadi memperhatikannya dalam bekerja adalah Reno.


"Kamu?" Ucapnya langsung berdiri dari kursinya.


Jelas kaget, tak pernah menyangka jika Reno akan senekat ini.


Dalam hati terselip Rasa Bahagia, saat Reno mendatanginya langsung di ruang pemeriksaannya seperti dulu.


Namun kali ini jelas keadaan telah jauh berbeda. Ia yang dulu masih berstatus single jelas lebih leluasa dalam menerima siapapun dalam kehidupannya. Tapi kini, ia sebagai istri dari pria lain.


Saat ini hati dan perasaannya tak menentu.


Ingin mengusir Reno dari ruangan ini, namun rindu belumpun kelar. Belum lagi rasa takut akan ketahuan oleh suaminya, namun ia masih ingin memandang dan berdekatan dengan Reno.


Ah, apa begini rasanya selingkuh?


Ia tak yakin dengan kata itu.


Selingkuh?


Rasanya terlalu kejam untuk disematkan pada mereka berdua. Toh mereka tak melakukan apapun, hanya saling berpandangan saja satu sama lain.


"Hai, apa kabar?" Reno yang memulai percakapan basa-basi baru saja menjatuhkan tubuh di kursi tempat di depan Rima.


Tersenyum memandang sang Pujaan Hati. Ia Rindu, namun tak bisa berbuat apa-apa, lagi.


Hanya bisa menyelinap demi memandang wajah cantik nan elegan milik sang kekasih hati.


"Emmm, baik." Jawab Rima, turut mencoba tersenyum.


Bertemu dengan keadaan seperti ini, membuat suasana canggung, tak seperti dulu.


Meski hati masih meragu. Apakah hubungannya dengan Reno akan kembali berlanjut setelah ini?


Sekarang mereka harus bertanya, Akankah mimpi yang pernah terucapkan dapat terwujud?


Beberapa waktu lamanya suasana menjadi hening, mereka hanya memandang satu sama lain. Pula dengan Mesya, perawat muda yang ditugaskan mendampingi Rima dalam bekerja.


Gadis sedari tadi memandang kagum pada pria yang duduk di kursi yang biasa digunakan pasien.

__ADS_1


Ingatan Gadis itu terbang, pada status Rima yang tersebar di rumah sakit ini, telah menikah.


Terlalu kaku jika dua orang manusia itu dikatakan sebagai sepasang suami istri.


Lalu siapa pria yang menatap Rima dengan penuh kekaguman ini?


"Kenapa?"


Reno mulai mengakhiri segala pikirin yang tadinya sempat melanglang buana. Rima hanya menggelengkan kepala.


Entah lah, ia tak tahu apa setelah ini, namun ia berharap agar waktu sedikit memperlambat laju perputaran.


Ijinkan mereka bersua lebih lama lagi.


"Makan?" Pria itu bergerak, meraih ransel yang menjadi beban di punggungnya. Mengeluarkan sebuah kantong kresek, di dalamnya ada tiga buah kotak styrofoam. Satu langsung ia berikan pada gadis yang berdiri mematung di belakangnya.


"Bagian anda, jangan tersinggung yah!" Berbicara sopan, ia belum mengenal mengenal gadis itu.


"Ah, iya pak, iya. Terima kasih atas makan siangnya. Saya permisi dul!" Tahu jika keberadaannya mungkin akan menambah kecanggungan pada dua insan itu, Mesya memilih keluar. Meski pandangannya harus kehilangan sesuatu yang sangat bening.


Dalam hati masih mengagumi sosok pria itu. Wajar saja Dokter Rima juga sangat cantik, pikirnya.


"Sudah berapa bulan?" Reno sambil mulai membuka satu persatu kotak bekal mereka, menyodorkan satu ke arah RIma.


"Masuk empat." Rima. "Terima kasih." Saat menerima kotak di hadapannya.


Dalam otaknya mengingat bekal yang telah disediakan oleh Bi Sumi, pasti akan basi. Padahal BI Sumi harus bangun pagi hanya untuk menyiapkan itu untuknya.


Ck, bagaimana ini?


Ia tak ingin merasa tak berterima kasih dengan segala yang Bi Sum lakukan untuknya.


"Sudah tau jenis kelaminnya?" Reno.


"Belum. Jenis kelamin biasanya terlihat saat enam bulanan."


Berdua menikmati makan siang. Berusaha meminimalisir rasa sungkan yang tercipta. Sesekali saling melempar senyum, bersapa basa basi, hingga akhirnya canggung itu benar melebur seiring berjalannya waktu.


Kini mereka mulai berbincang santai sambil tertawa.


\======


Rima berjalan menuju ke wastafel mencuci tangan. tadi sempat tadi sempat memegang ayam goreng dengan tiga jarinya.


Pun dengan Reino, namun niat pria itu berbeda. Pria itu berdiri tepat di belakang Rima.


Rima tersentak saat Reno menyusupkan tangan kanannya di samping tubuhnya, sementara tangan melingkar di dada atasnya, perlahan menempelkan diri, memeluk dari belakang.


Rima hanya melihat semua yang dilakukan Reno melalui pantulan cermin yang berada di hadapannya.


Ia bergeming, pun tak menolak meskipun hanya dengan menepis secara lembut.


Matanya membulat, kepala otomatis menengadah saat Reno menempelkan wajah di ceruk lehernya.


" Aku mencintaimu." ucap Reno lirih. Namun Sedekat Itu sangat jelas terdengar jelas oleh Rima.

__ADS_1


"Sangat, sangat mencintaimu."


Perlahan mata Rima mulai tertutup, demi mendengarkan ungkapan cinta Reno.


"Rasanya seperti, .... ingin mati."


Rima kembali membuka mata, menatap Reno yang masih memeluknya dari belakang, masih menempelkan wajah di lehernya. Wajah pria itu tak terlihat olehnya.


"Kamu tahu rasanya mencintai tapi tak bisa memiliki?"


"Rasanya sakit Rima, sakit sekali." Semakin lirih bahkan ada yang terasa pilu saat mendengarkan kalimat itu.


Kembali Rima menutup mata, mencoba meraba sakit yang diutarakan Reno.


" Aku selalu merindukanmu, hampir di setiap malam-malamku, rasanya seperti, .... Ada yang ingin meledak."


"Kamu tahu? Aku marah saat tahu dia menyentuhmu, rasanya seperti, .... ada yang terbakar."


"Please jangan bermesraan di depanku!"


Pelukan Reno terasa semakin mengencang, sesak dalam dadapun semakin terasa. Seperti terhimpit bongkahan batu besar.


"Aku cemburu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dia suamimu, dia berhak sepenuhnya atas dirimu."


"Dan aku, ... bukan siapa-siapamu."


Yakinlah hati semakin sakit saja. Rima masih terdiam, membiarkan Reno menumpahkan segala rasa hatinya.


"Demi cinta ini, aku rela menunggumu sampai kapanpun."


Pelukan langsung terlepas begitu saja, Reno segera berbalik meninggalkan Rima yang masih bergeming di tempatnya.


Masih dalam pantulan cermin, Rima bisa melihat pria itu dari belakang baru saja mengusap pipi kiri dan kanan secara bergantian sebelum menghilang di balik pintu.


Benar, Reno menangis saat mengucapkan serentetan kalimat panjang itu.


Sementara Rima?


Lutut terasa lemas, bahkan rasanya sulit untuk tetap berdiri, ia harus menahan dengan tangannya yang sejak awal mencengkram wastafel.


Menyeret langkah menuju ke meja pemeriksaan. Duduk di kursi pasien, tempat yang tadi Reno duduki.


Menundukkan kepala dengan berbantal kedua lengan yang terlipat di atas meja.


"Sedalam itu kah?" Ucapnya pun dengan lirih.


Mengapa saat mendengarkan isi hati Reno Ia justru merasa sedih.


Rasanya ingin berteriak, Jika ia juga mencintai Reno.


Rima menunduk, dengan tangan kanan memeras baju di bagian dadanya. Berupaya menekan rasa sakit yang semakin menjadi. Tangisnya belumlah surut, bahkan wanita itu seperti ingin menikmati rasa sesak itu semakin dalam.


Membiarkan butiran-butiran air mata berlomba, meluncur turun dari ke dua matanya, membsahi pipi hingga ke dagu lepas begitu saja tanpa hendak ia uraikan.


Mengapa cinta mereka se-sakit ini?

__ADS_1


Tak Bisa saling Memiliki?


__ADS_2