Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kabar Bahagia Yang Tak Terduga


__ADS_3

"Iya, iya. AKu minta maaf! Aku gak bakalan pulang sama cowok lain lagi!" Ucapnya setengah teriak.


Dengan sekuat tenaga Rima menahan dirinya agar tubuhnya tak ikut dengan Dihyan.


Namun Dihyan lagi-lagi abai. Tetap menarik Rima dengan penuh tenaga.


Pun dengan RIma yang masih mencoba bertahan untuk tak ikut dengan suaminya.


Tak peduli dengan pergelangan tangannya yang sakit karena gengaman keras dari sang.


Ia bahkan memegang sembarang benda demi menahan tubuhnya agar tak ikut dengan Dihyan. Namun hentakan demi hentakan dari Dihyan mampu melepaskan pertahannya.


Dalam rentan ingatannya, belum pernah Dihyan menyentuhnya dengan lembut dan pelan. hanya kasar dan sakit.


apalagi sekarang ini, saat amarah tuan rumah itu sedang berada di Puncak.


" Tolong jangan seperti ini, kita bicarakan baik-baik!" perintahnya pada insan yang kini tak mengenal Apa itu baik-baik lagi.


Sementara Andra hanya menatap sebentar lalu kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia menulikan pendengarannya, seolah tak mendengar teriakan demi teriakan dari Rima.


“Hentikan! Tolong!” Teriaknya.


Namun tak ada satupun yang berani menolongnya.


Hingga mereka telah berada di puncak tangga, Rima kembali meraih pegangan tangga demi menahan tubuhnya Dan lagi-lagi Dihyan menghentakan tangannya. Dengan mengumpulkan keberaniannya Rima


meninju perut Dihyan, seketika itu pula pegangan tangannya terlepas.


Namun tragisnya Rima tak mampu menyeimbangkan tubuhnya hingga terguling menuruni tangga.


Tak ambil pusing dengan istrinya, Dihyan hanya menatap santai dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya seolah sedang menyaksikan tontonan yang menarik.


Siapa suruh tidak mau menurut?


Begitu juga dengan Andra. Gadis itu hanya melirik sepintas demi melihat tubuh Rima hingga sampai pada lantai bawah dan kembali menatap pada ponselnya.


Entah hatinya tidak peka atau kebencian yang telah mengakar dalam hatinya hingga tak ada persaan sedikitpun


untuk menolong mantan sahabatnya itu.


Bi Titi yang melihat kejadian itu berlari menghampiri tubuh Rima yang kini tak berdaya, " Ya ampun non!"


“Bi sakit.” lirihnya sambil menyentuh perut.


“Non sabar ya non! Saya cari orang dulu." Sambil berlari ke luar rumah memanggil pak Eko kemudian kembali masuk.


"Tolong!” Teriaknya.


Rima meraba bagian tubuh bawahnya karena merasakah sesuatu yang basah.


“Bi, darah,” Rima memperlihatkan tangannya yang basah dengan cairah berwarna merah.


Tangannya bergetar, dengan pelupuk mata yang telah tergenang.


Rasa sakit terasa di bagian perutnya, semakin lama semakin sakit, seperti ada yang mendobrak hendak keluar.


Sakittt sekaliiiii!


Rima bahkan tak tahu sampai kapan ia akan menahan rasa sakit ini.


Mungkin memang malaikat mautnya kembali mencoba menghampiri.


“Pak tolong cepat bawa ke RS!” Bi titi tak kalah panik.


Terlebih saat RIma menutup matanya rapat. sakit tapi saya tahan lagi, kesadaran telah menghilang.


Di ikuti Pak Eko yang siap menggotong tubuhnya dengan sedikit berlari meninggalkan seberkas darah pada tempat Rima mendarat.

__ADS_1


“Pak darah, cepetan pak! Darahnya dari bawah, takutnya Non Rima hamil!”


Bi titi yang mendapatkan tanganya basah dengan cairan warna merah itu menempel di sana. Kalimat itu terdengar sayup-sayup di telinga Dihyan.


Hamil?


Rima hamil?


Anakku?


Sebuah kata yang sejak dulu ia tunggu.


Semenjak pernikahannya dengan Nindi, ia sangat menginginkan malaikat kecil untuk menyempurnakan kebahagian mereka. Namun penyakit yang bersarang di tubuh istrinya hingga ia harus bersabar hingga penyakit itu merenggut nyawa istrinya.


Kata terakhir mampu menghipnotisnya dari diamnya.


Dihyan dan Andra saling menatap mencari kebenaran dari apa yang telah mereka dengar.


Segera pria itu berlari menuruni tangga, melompati sesuatu yang basah berwarna merah.


Segera melesat keluar  keluar, namun sudah tak mendapatkan mereka.


Dihyan menoleh ke sana kemari. Tak lagi ada kebisingan yang sempat ia dengarkan tadi.


Mobil putihpun tak terparkir di sana.


Wajahnya telah pucat pasi.


Bagaimana jika tebakannya itu benar?


"Rima! Rima!" Panggilnya bingung, masih menoleh ke sana-ke mari, bingung.


“Kak!” Andra mendapati kakaknya yang dengan bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.


Kembali masuk ke rumah dengan berlari  untuk mengambil kunci mobil, seolah ia tau apa yang diinginkan kakaknya itu.


“Bagaimana jika Rima benar-benar hamil Dra?” Dihyan ketika telah berada di dalam mobil.


“Sabar dulu kak! Kita ke mana?”


Andra mulai menghidupkan mobilnya namun ia juga bingun membawanya ke mana.


“RS terdekat!” Dihyan.


“RS mana? Kiri atau kanan?” Saat mereka telah sampai di persimpangan Andra bingung mengambil jalan yang mana.


“Cepetan Dra!” Dihyan hanya menjawab dengan berteriak. “Terserah kiri atau kanan.”


Oke, ke kiri! Mobilpun dengan sangat cepatnya membanting stir secara sempurna.


Melaju di atas rata-rata, ingin segera sampai.


Jujur, Dianra pun sama paniknya. Namun ia masih bisa mengendalikan diri, tak seperti kakaknya yang jelas terlihat ling-lung saat ini.


Mereka telah sampai di Sebuah RS langsung berlari menuju resepsionis dan menanyakan nama Rima Damayanti.


Namun sayang pasien yang mereka cari.


Rima di mana?


Jika benar wanita itu hamil, tolong selamatkan!


Mereka kembali berlari menuju ke parkiran mobilnya dan keluar dari lingkungan RS itu.


" sabar Kak, sabar!"


" Aku harus bersabar bagaimana? itu Anakku Andra! Anakku!"

__ADS_1


“Kak telpon Pak Eko, Cepat!” Andra.


“Astaga, aku gak bawa Hp Dra?” Dihyan sambil memriksa saku celana pendeknya.


“Nih!” Sambil melemparkan Hpnya di pangkuan kakaknya karena ingin konsentrasi mengemudi.


“Pak, pak Eko Di mana?” Dihyan ketika sambungan telponnya telah mendapat respon.


Suaranya terdengar gemetar. Takut jika saja Pak Eko langsung memberikannya kabar buruk.


Terdengar suara dari seberang sana menyebutkan nama salah satu RS di kota itu.


" Cepetan Ndraaaa!!!!"


Sayangnya jalan yang mereka ambil berlawanan dengan alamat yang mereka tuju, harusnya di persimpangan tadi mereka belok ke arah kanan.


Dan perlajanan mereka kembali terhambat oleh kemacetan karena adanya kecelakaan.


Benar-benar perburuan yang sangat sempurna.


“Arrrrkkkkk,” Dihyan menghentakkan punggung menyalurkan kegelisahannya.


Andra menggelengkan kepala.


Entah apa yang di pikirkan Andra melihat kelakuan kakaknya. Bukannya sebelumnya ia tidak pernah menghiraukan apapun tentang Rima. Bahkan ia hanya berdiri dengan diam saat Rima terjatuh dari tangga.


Anak?


Mungkin karena mendengar kata itu.


Setelah menempuh perjalan dengan perasaan yang sangat dramatis kini mereka telah sampai di RS yang mereka tuju.


Setelah singgah di resepsionis untuk mencari informasi mereka kembali berlari pada tempat yang di tunjukkan.


Kembali berlari seolah memburu sesuatu.


Di ujung jalan langkah mereka sama-sama melamban demi melihat sosok yang sangat familiar.


Langkah kakipun seolah berhenti seketika.


Mereka kembali berjalan mendekat, mendapati mama Cinta yang duduk sambil menelpon, tak lupa rintihannya juga


terdengar menghiasi ruangan itu.


“Pah, anak-anakmu? Mereka sangat kejam. Hiks, hiks.” Suara mama Cinta semakin jelas terdengar. Sudah pasti beliau sedang berbica dengan papa Cakra.


“Mereka ingin membunuh cucu kita pah!” Menunduk, tetesan demi tetesan tak lagi terbendung oleh kelopak mata.


Dan suarapun terdengar bergetar.


"Cucu pertamamu pah."


"Cucu pertama kita." Semakin lirih dan justru semakin terdengar pilu.


DEG.


Jadi bernar Rima hamil? Anakku? Ya pasti itu anakku.


Kejam?


Apa kami memang sangat kejam?


Apa yang aku lakukan?


“Mah, aku tak tau kalau Rima hamil,” Dihyan lirih, menghampiri mama dengan berjongkok tepat di hadapan.


“Lalu mengapa kalau dia tidak hamil hah? Kau akan tetap akan ingin menyiksanya? Kau ingin membunuhnya? Kenapa tidak kau ceraikan saja dia? Jangan kau mengotori tanganmu dengan menghilangkan nyawa seseorang!” Mama Cinta meluapkan perasaannya.

__ADS_1


Berteriak dengan pandangan yang tadinya sayu kini berubah tajam dengan mata yang membulat penuh amarah.


__ADS_2