Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Jangan Selalu Mengingat Dulu!


__ADS_3

" Kamu ke mana aja?" Beruntung Dihyan masih mampu menahan amarahnya saat menemukan Rima tengah duduk di ruangan paling dalam sudut rumahnya. Ruangan yang jarang ia jangkau, ruangan yang dikhususkan untuk para art di rumah ini.


Wanita itu terlihat sangat bahagia. Duduk sambil menyendokkan sesuatu ke dalam mulutnya, ditemani di sumi Dan Bi Titi, sambil bercerita entah itu apa.


" Katanya capek, tapi kenapa di sini?" Dihyan usaha meredam emosi dalam diri.


Jika menuruti kehendak hati, inginnya pria itu membentak dan mengeluarkan semuanya dalam bentuk teriakan.


Terlebih saat mendapati wanita itu duduk dengan santainya dengan pakaian yang mungkin bisa dikatakan hanya pakaian dalam.


Bagaimana jika pak Dodo Atau Pak Eko masuk untuk makan atau minum? Pasti penampakan Rima itu terlihat dengan sangat jelasnya.


Namun masih takut jika saja itu melukai Rima dan membuat wanita itu takut dan kembali pergi dari kehidupannya. Rasanya Ia belum siap untuk kembali kehilangan lagi.


" Bibi buatin ini," Mengangkat tangan dengan garpu kecil. " Mau coba? Enak loh!"


Tak berguna menjawab, nyatanya Rima telah menyodorkan puding itu ke hadapan Dihyan. Di sambut dengan wajah datar, menahan gemuruh.


Kedua art itu kini tak terlihat lagi di sekitar sana. Terlalu banyak yang mereka bocorkan tentang keadaan Dihyan dulu pada Rima, nyatanya nyali menciut saat orang yang mereka bicarakan telah berada diantara mereka.


Tak berniat merendahkan, hanya saja mencoba memberikan gambaran tentang kejatuhan Dihyan dengan segala sesal yang dirasakan pria itu setelah semua yang terjadi. Berharap Rima mau kembali menerima Dihyan dengan tulus.


"Kamu lapar?" Tanya Rima lagi. Beberapa sendok puding es doger telah masuk ke mulut Dihyan.


"Aku sudah makan tadi. Sory gak nunggu kamu bangun, laper banget masalahnya." Padahal hari Belumlah malam efek serangan Dihyan yang memberi buta tadi siang.


Dihyan telah duduk di sampingnya. "Kamu masih mau?" Rasa bersalah saat hampir menghabiskan isi piring yang harusnya milik Rima atau mungkin tersinggung dengan pertanyaan itu.


"Gampang kok, tinggal minta sama bibi." Rima.


Dihyan menatap lekat, wanita itu terlihat bahagia dengan senyuman manis yang disuguhkan. Apa benar bahagia di tempat ini? Masih ragu sebenarnya.


"Iya, aku mau. Tapi kita pindah!" Dihyan menjawab sambil menarik tangan Rima beranjak dari sana. Sementara

__ADS_1


tangan satu bertugas membawa piring yang masih tersisa sedikit puding.


"Mau ke mana?" Rima bingung.


Mungkin baginya, tempat ini salah satu tempat ternyaman sejak dulu. Jauh dari jangkauan Dihyan dan Diandra yang selalu saja mencari masalah dengannya. Sambil bercerita dengan kedua wanita paruh baya yang katanya berstatus teman itu.


"Ngemilnya di kamar aja. Aku gak suka baju kamu kayak gitu."


Menunjukkan tubuh Rima yang hanya berbalut singlet dan hotpants yang meng-ekspos terlalu banyak kulit tubuh.


"Gak ada yang liat kok, cuma bibi." Rima sambil menahan langkah.


"Bukan gak ada, tapi belum RIma. Bagaimana tadi saat kamu duduk di sana pak Dodo atau pak Eko masuk terus liatin kamu kayak gini?" Mereka terhenti di ruang makan.


"Atau kalau kamu mau, kamu bisa makan di sini saja, lebih aman." Meletakkan piring di meja makan keluarga.


"Tempatku bukan di sini. Tempatku di belakang bersama mereka." Rima mulai menundukkan kepala.


Bukan maksud menyinggung atau berdebat sebenarnya, namun rasa nyaman telah sejak dulu ia rasakan saat bersama para ART dibanding harus bersama suaminya sendiri.


Salahkan Dihyan yang telah menarik garis lurus membentang di antara mereka sejak dulu. Dan kini Dihyan ingin menghapus garis itu begitu saja, sayangnya Rima tidak.


"Rima. Aku minta maaf atas semuanya. Tolong, jangan ungkit kesalahan dulu lagi."


Hening untuk sesaat. Keduanya sama berpikir apa lagi setelah ini.


"Atau, kita kembali ke aparteman saja."


 Seketika itu pula mata Rima membulat sempurna.


"Eh, eh." Merangkul lengan Dihyan, mungkin berniat membujuk.


"Kamu selalu ingat kejadian dulu kalau kita di sini. Aku gak suka." Menatap lekat mata sang istri tanpa berniat menepis pelukan di lengannya. Rima menggeleng kencang, bayangan dinding-dinding putih sempit dengan dirinya berada di dalam seketika itu menari di atas kepala.

__ADS_1


Tidak tidak tidak. Ia tak ingin kembali ke sana. " Jangan! Aku nggak mau." ucapnya dengan memelas. "Aku suka di sini. Kita di sini saja yah!" Pintanya.


" Naik!" Satu kata diucapkan dengan pelan, namun mampu menambah porsi kekesalan.


Dengan tatapan tajam seolah menghunus ke dalam tepat di ulu hati, membuat Rima tak berani membantah.


Rima menghentak melepaskan tangan Dihyan dengan wajah cemberut, langkah kaki pun turut menghentak menandakan Ia benar-benar kesal.


Dihyan mengikuti dari belakang, menjejak kaki satu persatu pada anak tangga. Pandangannya terfokus pada lekuk tubuh Rima yang berada tepat di hadapan.


Sebagian kulit masih terbungkus dengan kain, begitu saja namun mampu membuat otaknya sempoyongan. Bayangan kehangatan yang tadi siang ia lakukan pada Rima rasanya kurang. Terlebih saat melihat tubuh sintal gemoy, padat berisi kini melekuk-lekuk tepat di hadapannya.


Rasanya ia ingin menggenggam lebih keras lagi, biarkan saja Rima menjerit-jerit, mungkin itu akan membuat wanita itu terlihat semakin ****!.


Ahhhh, apa yang ia pikirkan saat ini?


Rima telah membuka pintu kamar masih dengan gerakan menghentak hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras. Membanting tubuh di atas sofa, sengaja mempertontonkan kekesalannya.


" Kamu tahu bagaimana pikiran para pria saat memandang tubuh wanita?" Dihyan tempat berdiri di hadapan Rima. Wanita itu enggan menjawab, masih memasang bibir kerucut. " Aku saja yang tiap hari lihat, langsung tegang."


"Ehhhh," Pandangan Rima langsung beralih ke pokok pembahasan yang diutarakan Dihyan. Benar saja, terlalu kentara bahkan.


"Itu sebabnya, perempuan disuruh tutup aurat, biar nggak mancing-mancing." Dihyan pun sepertinya enggan menutupi atau hanya sekedar menyamarkan. Bahkan sepertinya sengaja memamerkan, berdiri di hadapan Rima dengan bertolak pinggang.


Rima semakin memberenggut kesal. Apa maunya coba? Masa iya iya lagi? Kan pegel.


Pipi Rima bersemu merah, malu pasti. Apalagi saat membayangkan dia begitu menikmati bahkan sampai menjerit tak tertahankan saat Dihyan menyentuhnya dengan begitu lembut dan hampir bersamaan pada titik-titik saraf yang mampu melumpuhkan.


" Aku mandi dulu!" Dihyan meninggalkan Rima yang kini menahan malu.


Pipi wanita itu sudah bersemu merah, dengan jantung yang tak beraturan.


Pandangan barusan di depannya, membuat otak justru seperti tembus pandang pada selembar kain penutup tubuh.

__ADS_1


Nger3s!


__ADS_2