
“Dan kau?" Mata tajamnya memandang perawat wanita yang sedari tadi diajak bercakap.
Kau tidak bisa menyelamatkan anakku hah?” Dihyan mengangkat kerah baju sang perawat itu dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya telah mengepal disisi lain tubuhnya.
“Apa saja yang kalian lakukan Hah?” Terus mendorong wanita itu hingga membentur dinding bercat putih Rumah sakit.
Apa yang ada dipikiran Dihyan?
Memukul wanita lagi?
Apakah Rima belum cukup sebagai korban ke-arogannya hingga membutuhkan korban lain?
Seketika itu perawat yang lain berdatangan dan mencoba menenangkan Dihyan. Lebih tepatnya menyelamatkan teman seperjuangan mereka.
Sebagian mengambil tangannya guna menahan pergerakan pria itu.
Memberontak dengan sangat kerasnya. Hatinya kini dipenuhi dengan amarah.
Entah siapa yang jadi pelampiasan emosinya saat ini.
Rima kah, atau para perawat itu.
Dihyan berhasil lepas dari beberapa perawat yang memeganginya.
BUG.
BUG.
BUG.
Sasaran yang tepat kini adalah tembok ruangan itu. Mungkin jauh lebih aman dari pada harus memekul salah satu
dari mereka. Rasa sakit dan kebas di buku jari, namun tak mampu mengalahkan sakit dadanya saat ini.
"Pak tolong jangan buat keributan di sini!" Ucap salah satu perawat yang kini terlihat panik. Takut jika temannya menjadi korban pemulukan pria urakan itu.
Namun Dihyan tetap tak menanggapi. Tangannya masih mencengkram kerah seragam perawat wanita itu sambil beberapa kali di guncangkan.
"Tolong!" Merasa sia-sia, perawat itu akhirnya berteriak mencari bantuan.
Tak menunggu waktu lama, petugas keamanan RS menghampiri. Meraih tubuh DIhyan dan segera membopong keluar kawasan RS. Meski masih memberontak, namun tak cukup tenaga menghadapi ketiga pria bertubuh kekar itu.
Dan jangan lupa, ia belum makan sejak pagi tadi. Euforia kebebasannya mengalahkan segalanya.
Tubuhnya tersungkur tepat di depan gerbang RS saat dua petugas menelantarkannya di sana.
Dihyan segera bangkit! Tak ada waktu untuk menikmati perik luka gesekan antara kulit dengan paving blok.
Kembali berlari, menunggu sebuah taksi dan menahannya dengan asal.
Ia harus segera menemukan Rima dan membalas wanita itu.
Rima harus melahirkan banyak anak-anaknya.
Itu hukuman untuk Rima yang tak mampu menjaga anak dalam kandungannya.
Siapa suruh tidak memberi tahukan jika dirinya tengah mengandung?
Andaikan saja RIma memberi tahukan tentang kondisinya, mungkin ia akan menjaga Rima dengan sangat baik.
Masih beruntung ada yang sopir taksi yang mau mengambilnya sebagai penumpang dalam keadaan seperti itu.
Memberi tahukan komplek perumahan tempatnya tinggal.
Sang sopir terlihat binggung dengan penampilan Dihyan yang terlihat dengan penampilan dekilnya mengarahkannya ke sebuah rumah besar dan mewah.
Ah, sudahlah. Mungkin pria itu merupakan salah satu asisten rumah tangga, mungkin seperti itu yang ada di benak sang sopir.
Dihyan turun dari taksi, “Pak, pak Eko tolong bayarin taksinya dulu!” Teriaknya pada pria yang membersihkan mobilnya.
Sementara ia sendiri segera masuk ke rumah dengan berlari.
“Rima, Rima,” Suaranya memenuhi seluruh ruangan.
“RIMA,” Kembali memanggil istrinya.
Ia terus berlari menaiki tangga menuju ke kamar istrinya namun tak menemukan sosok yang ia cari.
Melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya berharap istrinya sedang tidur di kamarnya tanpa menutup pintu kamar Rima. Semuanya dilakukan secara terburu-buru.
“Kak, Rima belum pulang,” Kalimat itu mampu menghentikan langkahnya sebelum sampai di tempat yang ia tuju.
Diandra mucul dari balik kamarnya saat mendengar suara Dihyan yang menggelegar.
“Di mana dia?” Wajahnya telah menampakkan raut bingung.
__ADS_1
“RS?” Andra.
“Aku baru saja ke sana tapi kata suster dia sudah keluar. Lalu dia kemana?” Bahkan napasnya belum saja normal setelah sejak tadi ia berlari.
Kerongkongan yang telah kering tak terasa.
Andra menggeleng, ia juga bingung. Tak pernah terlintas di benaknya untuk mencari tahu tentang keadaan dan posisi Rima saat ini.
“Beraninya perempuan itu merenggut anakku." Kini wajah itu berubah menjadi menakutkan.
Geram dan amarah seolah mengumpul menjadi satu.
"Anakku tak bisa bertahan Ndra." Kini ia menatap saudarinya seolah tengah mengadu. Merekakan satu server.
"Awas saja kalau ketemu.” Kali ini wajahnya kembali geram.
“Aku akan menghukumnya, AKU AKAN MENGHUKUMNYAAAAA!” Dihyan teriak sambil merenggangkan kedua tangannya ke samping dengan kepala mendongak ke atas.
“Dia harus melahirkan anak-anakku." Dihyan masih berbicara dengan suara yang suara keras.
"Sepuluh, ya sepuluh!” Kini kepalanya mengangguk-angguk, seolah tengah membenarkan sesuatu, mungkin kata-katanya sendiri.
"RIMAAAA," Lagi teriakkannya dengan geramnya.
BUG.
BUG.
Kembali dinding menjadi sasaran amarahnya.
“Bi, tolong ambikan minum!” Andra melihat kondisi kakaknya, sepertinya tidak terkendali.
Segera berlari menuruni tangga. "Tunggu!" Belum sampai, ia membalikkan badan kembali ke kamar masih dengan terburu-buru.
“Non,” Bi Titi yang juga setengah berlari membawa segelas air putih.
“Kak minum dulu biar tenang!”
Dihyanpun menengguk air itu dengan kasar hingga tandas. Namun nasib gelas itu sangat mengenaskan. Ia
melemparkannya hingga membentur dinding dan pecah tercerai berai.
Dihyan berlutut dilantai dengan napas yang tersengal-sengal.
Kepala terasa sedikit pusing. Mungkin karena perutnya masih kosong, sementara tubuhnya sejak tadi ia pakai tanpa ada asupan terlebih dahulu.
Lengkaplah sudah tubuh ringkih itu.
“Ugggg berat banget!" Diandra mencoba mengangkat tubuh kakaknya, namun tenaga tak cukup kuat untuk itu.
"Bi, tolong panggilkan Pak Eko dong, bantuin kakak bawa ke kamar!” Andra hanya berdiri mengamati kakaknya yang tergeletak di lantai tak berdaya.
“Bau banget lagi, memang selama tiga hari ini kemana? Pulang-pulang dekil.”
Tak tahu saja, jika kakak kesayangannya itu baru saja pulang sehabis liburan di dalam jeruji besi.
Pak Ekopun datang dan langsung menggotong Dihyan menuju ke kamarnya.
“Pak tolong sekalian bajunya gantiin dong! Boleh?” Andra.
“Baik non,” Pak Eko.
Menjelang sore, Andra mengintip ke kamar Dihyan, sedikit terkejut mendapati kakaknya dengan baju koko dan
sarung sedang bersimpuh diatas sajadah. Pemandangan aneh bin ajaib untuk seorang Dihyan.
Jika dulu saat bersama Nindy itu masih wajar. Namun selama bersama RIma, ia tak pernah mendapati kakaknya seperti ini.
Ck, Rima memang membawa pengaruh buruk pada kakaknya itu.
Apakah kehilangan bibit anak yang selama ini ia impikan mampu merubahnya menjadi seseorang yang lebih baik.
“Kenapa?” Dihyan ketika menangkap bayangan andra.
“Gak pa-pa, hanya ingin melihat kondisi kakak. Sudah baikan?” Andra.
“Hemmm,” Meskipun masih terasa pusing, namun itu tak menjadi masalah untuknya.
Dihyan masuk ke ruang ganti. Menggunakan kaos lengan pendenk dengan celana jeans.
“Mau kemana?” Andra, heran saja melihat kakaknya seperti tak punya waktu hanya untuk beristirahat sejenak.
“Cari Rima?”
“Di mana?”
__ADS_1
“Ke rumahnya dulu,” Dihyan.
“Kenapa? Kakak mencintainya?”
“Tidak, hanya ingin menuntut anakku kembali,” Dihyan.
“Kakak bisa menikah lagi dan mendapatkan anak,” Andra mencoba memancingnya.
“Apa maksudmu?” Dihyan menghentikan segala aktifitasnya. Menatap Andra dengan tajam. Memangnya menikah segampang itu?
Andra melihat amarah dari mata Dihyan. “Berarti bukan karena anak, tapi karena ibunya, kakak mencintai Rima
kan?”
“Heh,”
Dihyan terus berlalu, sampai di bawah dengan segera menyambar kunci mobil miliknya. Pergi.
Flash on
“Romi, kamu ke RS, Rima sakit,”
“Rima kenapa tante?”
“Udah cepetan ke sini, kita gak banyak waktu!” mama Cinta.
“Ok, Di mana?”
Pembicaraan melalui udara itu berlangsung hanya selang beberapa menit saat polisi menjemput mesra Dihyan.
Romi terlihat sedikit berlari menghampiri mama Cinta yang duduk di luar ruangan perawatan Rima yang memang
telah menunggunya.
“Tante, Rima mana?” Tanyanya panik.
Ya paniklah, mendapatkan kabar tentang adiknya yang berada di rumah sakit.
“Di dalam, ayo masuk!” Cinta.
“Rima kenapa tante?” Romi dan mama Cinta menghampiri Rima yang tertidur dengan selang infus terpasang di
tangannya.
“Rima keguguran, dia terjatuh dari tangga,” Mama Cinta tak menyebutkan kenap Rima bisa terjatuh dari tanggan.
Bisa lebih panjang masalahnya.
“Tante mau minta tolong sama kamu. kamu mau kan? Demi Rima,” Memandang pria yang berdiri di sebelahnya.
Pria itu telah meraih tangan Rima dengan penuh kehangatan, beserta elusan lembut di kepala.
Terpukul memang. Dirinya saja merasakan ada yang sesak di dalam dadanya, lalu bagaimana dengan RIma yang mengalaminya secara langsung.
“Minta tolong apa tante?” Bertanya tanpa menoleh, pandangannya terkunci pada wajah yang masih menutup mata dengan tenangnya.
“Kamu bawa Rima pergi dari sini?”
“Kenapa harus pergi? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Kali ini ia menoleh, memandang wajah mertua sang adik dengan bingungnya.
“Dihyan sangat marah Rima keguguran, tante mau jauhin Rima dengan Dihyan. Kamu maukan bawa Rima pergi?
Rima juga harus melakukan perawatan sampai kandungannya benar-benar sembuh.”
Mungkin memang marah. Rima tak menjaga kandungannya.
Sepengatuannya, Dihyan sangat menyayangi istrinya ini, tak mungkin berbuat kasar kan? Tapi jika seperti ini, ia tak bisa lagi menebak semarah apa pria itu hingga Rima harus disembunyikan.
“Tapi ayah?” Kembali memandang adiknya.
Pikirannya kini kalut, menyembunyikan Rima, sementara ayahnya harus bersama siapa?
“Tante akan menjaga ayahmu, yang penting sekarang adalah keselamatan Rima?”
“Maksud tante apa? Memang siapa yang mau mencelakai Rima?”
“Dihyan marah sama Rima, Romi." Menekan sedikit.
"Sudah, sekarang kamu bawa Rima pergi dari sini, tante akan mengurus segalanya, termasuk ayah kamu. kamu harus konsen sama kesehatan Rima!”
“Heh, baiklah tante. Romi percaya tante untuk terakhir kalinya!”
“Kamu harus percaya tante!"
"Harus!” Mertua Rima dengan ketegasan.
__ADS_1
To Be Continued!
Sebenarnya mau up double tapi satu bab ini saja puanjang bangeeeetttt!