
" Sayang, jangan seperti ini!" ucap Mama cinta sambil menahan tangan Dihyan yang terus memukul tubuhnya sendiri.
Tapi tidak, kekuatan anak lelakinya itu lebih kuat darinya. Beberapa kali ia justru terkena senggolan tangan keras milik Dihyan.
" Aku yang salah! Aku yang salah!" Dihyan masih terus meronta memberi hukuman pada dirinya sendiri.
Karena Dihyan tak menghentikan aksi, membuat mama memeluk berusaha menghentikan pergerakan pria itu.
"Tidak sayang, Mama juga salah. Mama juga ikut bersalah, Maafkan mama!"
Dihyan masih saja berontak, tak peduli saat tangannya justru menghantam tubuh mamanya.
"Euuugh." Mama mengeluh saat kepalan tangan Dihyan mendarat di punggungnya dengan keras.
" Ma, sudah ma!" Papa ikut maju berusaha melepaskan pelukan Mama pada Dihyan.
Putranya itu mungkin tak sadar telah menyakiti ibu kandungnya sendiri.
"Ma." Papa yang sibuk menarik Mama menjauh dari putranya.
Wajah wanita itu telah berair, karena tak sempat menyapu pipinya yang basah.
Dihyan masih saja terus memberontak, " Aku yang salah. aku yang jahat. Aku yang membuat istriku keguguran." Tak peduli saat wanita yang pernah mengandungnya itu kesakitan akibat kepala tangannya.
Ucapan yang terus saja terlontar, tangan yang terus bergerak memukul.
Setelah terpisah dari Dihyan, tubuh Mama seketika Luruh ke bawah.
Terduduk di lantai dengan tangan yang menutup wajah.
Wanita itu masih menangis, tak kuat rasanya melihat anaknya seperti ini.
Papa dengan langkah panjangnya meninggalkan kamar itu, hanya sebentar. Kemudian kembali dengan sebuah jarum suntik di tangan.
" Diva, bantu papa." Ucapnya yang menyerahkan pada anak gadisnya, "Papa yang pegang, kamu yang suntik!" ucapnya lagi saat melihat tatapan anaknya yang kebingungan.
Mengambil tempat tepat di belakang Dihyan, mulai meraih tangan yang sangat kuat memberontak. ditahannya di belakang tubuh Sang putra.
" Cepetan dek!" Ucapnya menghentak. Jelas saja kekuatannya kalah dengan kekuatan Sang putra yang memang masih segar bugar.
"Nggak bisa Pa, aku takut." Diva.
"Ck, kasi kakakmu!" Papa masih berusaha menahan pergerakan Dihyan.
"Nih," Diva dengan tangan yang sedikit menghentak ke arah kakaknya meski pandangan ke arah lain. Masih kesal dia dengan kakak perempuannya itu.
Dengan satu kali gerakan, Diandra berhasil menyuntikkan obat penenang di lengan kakaknya.
Benar-benar definisi perempuan berhati keras, pikir Diva.
Kini mereka berempat berdiri di sekitar ranjang. Di sana telah tergeletak Dihyan yang terlihat tertidur tenang di bawah selimut.
"Bisakah Kau melupakan balas dendammu demi keluarga kita?" Mama mulai berbicara dengan nada pelan.
"Keluarga ini sudah hancur, hancur bagaimana lagi agar kau mau menyampingkan egomu?" Mata Sendu dan sembab masih menyiratkan kepedihan.
"Sukurin!" Diva sambil melirik Diandra kesal.
__ADS_1
Mereka tahu pembicaraan ini pada siapa, meski tak memandang pun tak menyebutkan nama.
Papa bergeser sedikit, meraih pundak sang anak bontot. Tangan satu bertugas merangkul, tangan yang lain berada di depan wajah dengan telunjuk di bibir.
Diam dulu, Mama sedang sedih!
Mungkin Itu Ungkapan yang terselip.
"Pergilah! Sampai Kakak mu membaik!"
Mama masih berbicara, tatapan mata masih terdiam di Sosok Dihyan.
"Pah, Tolong carikan tempat tinggal untuk Diandra!"
"Mahhh."
"Mama?"
Suara papa dan Diandra memekik secara tertahan.
Perkiraan mereka, kata pergi tadi hanya untuk meninggalkan kamar, bukan rumah ini.
Sementara Diva diam tertunduk.
Ia memang kesal pada kakaknya, tapi membiarkan Diandra pergi dari rumah ini, tak pernah terbayangkan olehnya.
Artinya ia akan kehilangan dua orang kakaknya.
Dihyan yang tenggelam dalam Dunia Khayalan sendiri.
Dan Diandra yang diusir oleh mama?
Oh ya ampun.
Kalimat yang sangat mengerikan untuk gadis kecil sepertinya.
Pikirannya mulai terbang, Bagaimana kakaknya itu bisa hidup di luar sana?
Di mana pula Nanti Papanya menempatkan Diandra.
Rangkulan dari sang ayah terlepas, berpindah ke pundak mama, kali ini mencoba menenangkan sang istri.
"Pikirkan masa depan Dihyan?"
"Mau sampai kapan dia seperti ini?"
"Diandra yang membuat kakaknya seperti ini." Mama
Kembali butiran bening meluncur ke pipi.
"Andra bisa tinggal di rumah om atau tantenya." Mama.
"Mah, tenangkan diri mama, Jangan bertindak gegabah dengan mengambil keputusan yang salah." Papa sambil mengguncang pelan tangannya hingga tubuh mama turut terguncang.
"Kita bicarakan ini lain waktu." Papa. Tak ingin keluarga semakin tercerai berai. Semua bisa diatasi dengan kepala dingin.
"Sudah malam, semua kembali ke kamar!" Perintahnya sambil berbalik turut membawa tubuh mama yang masih dalam rangkulan.
__ADS_1
"Capekkan?" Memandang Diva yang hanya mengangguk menjawabnya.
"Ayo!" Kini berdiri tepat dihadapan Diandar yang masih tertunduk.
Tetap ingin merangkul Sang Putri, jangan sampai merasa tersudutkan dan membuat amarah dan dendam justru semakin menggelora.
"Mama sudah tidur?"
Sekarang mereka telah berada di atas ranjang berbaring di bawah cahaya lampu remang-remang, bersiap untuk tidur.
Tak Ada Jawaban dari sang istri meski tahu istrinya itu belum tidur.
Hampir seminggu ini ia hanya disuguhkan punggung oleh istrinya. Meski ada kata, itupun hanya perdebatan.
Tangan terulur mendarat di lengan Atas mama Cinta. Memberikan pijatan-pijatan lembut, ia ingin segera mengakhiri perang dingin ini.
"Bukannya papa mendukung perbuatan mereka." Memulai berbicara meski belum tentu ada tanggapan dari pihak sana.
"Papa juga marah, kesal dan kecewa sama mereka. Mereka ada adalah anak-anak kita!"
"Kita boleh menghukum mereka, tapi jangan menyudutkan, meninggalkan atau mengusir mereka."
"Lagi yang perlu selalu kita ingat, mereka anak-anak kita. Kamu pernah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan mereka."
"Apa kamu tega, berpisah dengan Andra dalam keadaan seperti ini?"
"Putrimu meninggalkanmu dalam keadaan marah, dan kamu juga sedang kecewa. Tidak menutup kemungkinan, Diandra akan membencimu setelah ini. Dan besar kemungkinan dia tidak mau kembali ke rumah ini. Papa nggak mau itu terjadi."
"Kamu mau, Putri kandungmu sendiri memilih melupakan ibunya? Tidak kan?"
"Sama, Papa juga nggak mau."
"Ini bukan pertengkaran pertama kita selama berumah tangga, tapi ini adalah pertengkaran terlama kita."
Biasanya mereka berdebat dan saling mendiamkan hanya dalam kurun waktu 3 hari.
Berbagai masalah telah mereka hadapi, meski memang karena masalah anak-anak lah yang paling sering menjadi perdebatan mereka. Sementara sekarang hampir seminggu lebih, dan lagi-lagi karena anak-anak.
"Hadap sini dong Cin!" Setelah ia berbicara panjang lebar tanpa saling memandang, rasanya kurang afdol.
Istri tercintanya masih keras kepala, justru menepis tangannya yang masih memberikan pijatan lembut di pundak hingga lengannya.
"Eh dosa loh istri menolak suami."Ucap papa lagi, Ia ingin konflik ini segera berakhir.
"Mama pusing." Cinta membalikkan tubuh yang telah ditarik oleh sang suami. Menurut saja saat sang suami membawa tubuhnya guna saling mendekat.
Di dalam dekapan sang suami yang meletakkan tangannya di kening mama
" Papa ngapain?"
"Ya pijitin kamu lah, Katanya pusing?"
"Bukan Pusing kayak gitu tapi, ... Ah sudahlah!" Kini Mama membiarkan tangan kekar itu menekan kepalanya, menarik pelan rambutnya yang gini terasa nyaman.
"Bertengkarnya udah ya!" Minta papa memberikan ciuman lembut di kening sang istri.
" Papa ngapain?" Mama memekik saat Papa justru menempatkan diri di atasnya, berikut dengan sentuhan lembut memabukkan.
__ADS_1
"Mau bawa mama healing-healling biar nggak terlalu stress."