
"KELUAAAAR!" Bahkan dalam kesakitan pun, Rima masih memaksakan diri untuk berucap demi mengusir suaminya dari ruangan itu.
Wanita itu masih mengingat dengan sangat jelas ketika Dihyan mengguncang tubuhnya sambil mempertanyakan janin yang berada di rahimnya. B0d0h! Umpatnya dalam hati.
Dan semua itu, mempengaruhi keadaan janinnya hingga mengharuskannya istirahat dalam beberapa waktu ke depan.
Jika pria itu tak mau mengakui bahwa janin itu berasal darinya, tak mengapa bagi Rima. Ia masih bisa membesarkan janin ini sendiri.
" Iya benar, ini bukan anakmu!" Tantang Rima, menahan segala sakit yang menyerang tubuh.
"Rima." Suara teriakan Dihyan menggema, memantul pada dinding-dinding kamar rawat.
Amarah begitu saja mampu menyambar dan menyebar ke seluruh tubuh. Otak, hati dan jantungnya menggebu demi mendengar pengakuan Rima.
Tak terima jika bayi dalam rahim Rima bukanlah miliknya, meski kata-kata itu terucap dari bibirnya sendiri semalam.
Ia bisa memastikan jika janin itu miliknya, sebab Rima tak pernah keluar rumah sebelum usia kandungannya berjalan tiga bulan.
"Iyyan!"
"Iyyan!"
Teguran datang dari kedua orang tua Dihyan yang telah berada sejak awal. Entah siapa lagi yang memberikan mereka informasi tentang keadaan keberadaan Rima saat ini.
" Mah, Pah Rima ngawur mah!" Dihyan mencoba membela diri sendiri.
" Kamu sendiri yang bilang kalau ini buk-, stttt,…"
"Rima."
"Rima."
"Rima."
Semua kembali tegang dan menghampiri saat Rima meringis sambil memegang perutnya. Pun dengan Dihyan.
" Kamu nggak papa sayang?" Mertua perempuannya ini dan selalu saja menyubayangkan perhatian dan kasih sayang yang lebih.
" Mah, aku mau dia keluar Ma!" Wanita itu kembali bersuara meski harus menahan sakit. Semua tahu siapa yang dimaksud Rima, meski wanita itu enggan menatap ke arah sana, di mana pembicaraan tertuju.
Tak bisa berbuat apa-apa, Dihyan memilih keluar dengan bantuan dorongan dari papa. Sementara di dalam, Mama bertugas menenangkan sang menantu yang kembali terluka karena putranya.
"Perempuan itu makhluk yang tidak bisa terbaca. Menjadi salah satu hiasan dunia yang paling menggoda, tapi yang paling tidak bisa ditebak." Papa mulai membuka suara.
__ADS_1
Kedua pria itu telah duduk berdampingan di kursi tunggu tak jauh dari ruang perawatan Rima.
Hari telah pagi, Papa bahkan telah rapi dengan pakaian kerjanya, sementara Dihyan masih menggunakan pakaian yang sejak kemarin pagi ia pakai.
Papa masih di sini demi melihat kondisi fisik dan keadaan anak dan menantunya, tetap bersiap jika harus dibutuhkan di kantor nantinya.
" Papa tak bisa melakukan banyak untuk terus mendukungmu bersama Rima. Mungkin kamu melihat dia sebagai manusia yang kuat dan tangguh, tapi Biar bagaimanapun ingat, Dia adalah seorang perempuan."
"Perempuan itu, meskipun terlihat kuat tapi sebenarnya sangat rapuh. Emmm, bukan rapuh sih sebenarnya, Emmm, …" Sejenak Papa berhenti berbicara demi memikirkan sebuah kata yang cocok disematkan pada perempuan.
" Lembut, yah lembut." Mengangguk sendiri membenarkan perkataannya.
" Mamamu juga kuat, Bayangkan saja Dia pernah keluar dari kamar lantai dua melalui jendelanya. Kuatkan?" Kembali menoleh demi melihat ekspresi Sang putra. Masih tenang tanpa ekspresi.
" Tetapi sama, dia juga lembut. Perempuan lebih cepat tersakiti batin daripada fisiknya. Satu kali kamu menyinggungnya dan menyakitinya, mungkin dia akan mengingat perlakuanmu itu selamanya."
" Papa cuma bisa berpesan, coba kendalikan emosimu. Jika tidak, maka selamanya Rima takkan pernah benar-benar berada dalam genggamanmu."
" Mungkin memang saat ini Rima berstatus sebagai istrimu, tapi ingatlah berapa banyak kali kamu menyakitinya dan berapa kali juga dia meninggalkanmu!"
Dihyan hanya menunduk mendengar setiap kata demi kata yang diucapkan papa dengan sangat tenang.
Rima kembali kesakitan, mempertahankan janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya. Dan itu karena ulahnya lagi, lagi.
Dengan kedua tangan menyugar rambut hingga sampai ke pucuk kepala. menggenggam rambut sekeras-kerasnya. Dian meringis, entah karena merasakan sakit akibat tarikan di kepala atau pusing memikirkan Rima.
"Kamu apakan Rima lagi hah?" Mama yang telah berdiri tegap di hadapannya seolah hendak menjadi Hakim atas kesalahan yang ia buat.
"Ma enggak ma. Ma tolong Iyan mah. Iyan nggak sengaja."
"Beneran mah."
"Iyan marah, waktu tahu Rima dan Reno punya hubungan."
Ucapnya memohon dengan wajah memelas. Tidur semalam hanya beberapa jam saja, dan ia harus mendapatkan serangan bertubi-tubi dari mama dan istrinya. Kini ia telah berdiri, sambil memeluk tubuh sang ibu.
Sementara sepasang suami istri itu hanya saling berpandangan, menganggap Jika semua itu hanya tuduhan tak berdasar. Mereka memang memerintahkan Reno untuk menjaga dan memantau keadaan Rima, tak pernah terpikirkan olehnya jika pria itu akan menggunakan hati dalam masalah ini.
Dihyan terlalu cemburu, cemburu buta menurut mereka.
"Nggak sengaja kenapa?" Tanya Mamanya lagi. Bukan bermaksud mengintrogasi, tapi betul hanya ingin mengetahui kronologi nya.
Kejadian itu hanya diketahui oleh sepasang suami istri itu, tanpa ada saksi lainnya yang bisa menceritakan kepada Mama. Apalagi tadi sempat mendengar Rima yang mengatakan jika yang berada dalam kandungan itu bukanlah anak dari putranya. Apa lagi ini?
__ADS_1
Saat Rima terus menyalahkan Dihyan atas keadaannya, jelas ini bukan sesuatu yang baik untuk kelanjutan rumah tangga mereka.
" Mah, pelan-pelan mah!" Papa bertindak menjadi penengah antara istri dan anaknya.
" Mah, Iyan khilaf Mah tolong maafin Iyan!" Pintanya lagi, meski rasa kantuk telah pergi sejak beberapa jam yang lalu namun pucat wajahnya masih terlihat jelas.
Lelaki yang merengek itu kini luruh sedikit demi sedikit. Punggung menempel di dinding, bokong pun telah mendarat sempurna pada lantai rumah sakit.
Kedua tangan mencengkram rambutnya sekeras mungkin berusaha mengalihkan rasa sakit yang tercipta.
Rima sakit karenanya. Bayi mereka yang masih berada dalam kandungan Rima turut terancam karenanya. Lagi, lagi dan lagi.
Mungkin memang ia akan selalu menyakiti Rima, namun Yakinlah Bahwa saat ini ia masih berusaha memberikan yang terbaik.
Memandang putranya seperti tengah menahan kesakitan mental, Mama cinta terenyuh. Ada ketakutan menyambar diri, putranya itu kembali sakit seperti dulu, oh tidak!
Melangkah perlahan dan meluruhkan tubuh berusaha mengimbangi, tangan terulur ke depan demi menggapai, meraih.
"Iyyan, kamu Kenapa Nak?" Tanyanya pelan.
Dihyan menggelengkan kepala secara keras, entah ini sebuah penolakan atau sebagai Jawaban dari pertanyaan itu.
"Mah jangan mah! Kumohon Ian pasti akan berubah!" Mendengar suara dan merasai pergerakan telapak tangan lembut di bahunya.
Mama cinta bahkan mengerutkan kening, sedikit bingung saat melihat keadaan putranya, tak hendak menebak karena mungkin saja tebakan itu akan membuatnya terluka pula.
" Mama mau lapor aku ke polisi kan? terus mama bisa bawa Rima lagi?"
Pria itu terus Merantau dengan menjambak rambutnya sendiri.
Dan pertanyaan itu mampu membungkam Mama Cinta, bukan bukan seperti itu yang ia mau.
" Yan kamu Kenapa Nak?" Ucapnya mulai khawatir pada keadaan Sang putra.
Terlebih saat Dihyan menampakan wajah kusut, pucat dan seolah linglung, membuat wanita paruh baya itu merentangkan tangan membawa tubuh Dihyan yang telah bergetar masuk ke dalam pelukannya. Memberikan tepukan pelan menenangkan pada punggung kokoh dan rapuh itu.
Sungguh ia merasa sulit dalam posisi ini. di satu sisi ia ingin menyelamatkan Rima dan memberi kebahagiaan pada wanita itu. di sisi lain Iya tak mungkin membiarkan keadaan Dihyan yang kini seolah jatuh kembali ke jurang penyesalan.
Namun semarah apapun ia pada Dihyan, pria itu tetaplah anak kandungnya. Dia pernah bertaruh nyawa hanya untuk melahirkan lelaki ini.
\=====
Yang kemarin minta up, ini udah aku kasih. Yang katanya upnya lama, baru juga dua hari.
__ADS_1
Sekarang gilirang aku yang minta kopi buat bikin bab selanjutnya. Semoga bisa double up malam ini.