Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Maafkan aku!


__ADS_3

"Sepertinya kita harus nambah kamar baru di rumah ayah?" Dihyan menatap serius pada Rima yang duduk di sampingnya.


Pengumuman rencana pernikahan Romi dan Lely disambut dengan hangat oleh seluruh keluarga itu. Ayah hanya tersenyum menanggapi saat mendengar keluarga besannya berencana menginap di rumahnya nanti. Pasti akan ramai lagi.


"Gimana caranya?" Rima, ingin tapi kok bingung.


"Caranya apa? Tambah kamar, ya renov rumahlah Rima." Pria itu punya kesempatan lebih menepuk jidat istrinya saat tangannya kosong. Sang putra sedang berada dalam gendongan pamannya di seberang sana.


Rima hanya cemberut saja.


Acara pernikahan Romi haruskah dengan renovasi rumah juga? "Gak usah, kamu tidurnya pake tenda bulan aja di halaman rumah."


"Kalo aku tidurnya di tenda bulan, berarti kamu juga harus ikut, hahahaha." Senang sekali rasanya bisa menjahili istri sendiri.


Di sofa seberang sana, Romi masih melepas rindu dengan keponakan pertama dan satu-satunya itu. Pipi gembul itu seolah hampir habis ia cium, menggemaskan.


"Lucu kan bro, pasti mau juga kan?" Dihyan sambil memandang pria itu.


"Pasti udah gak sabaran kan pengen punya yang kayak gituan." Godanya lagi.


"Waaah, bisa bahaya ini mah. Udah ketemu calon ibunya. Eh kalian masih tinggal satu rumah kan?" Dihyan bahkan menegakkan tubuhnya kala melontarkan tanya itu, benar-benar kepo.


"Oh ya?" Suara mama yang cukup terkejut mendengar tanya itu. Wanita itu tahu jika Romi dan Lely berada dalam satu atap, tapi ia tak pernah menyangka jika keduanya memiliki perasaan hingga menjalin hubungan spesial hingga memutuskan menikah.


"Loh, mama gak tau?"

__ADS_1


"Tau sih, tapi, ..." Wanita itu terlihat bingung.


"Ya udah Lely, kamu kembali ke sini dulu untuk sementara waktu. Nanti kalau sudah menikah baru bisa balik ke sana lagi!" Perintah telah turun secara langsung. Membayangkan apa yang akan terjadi saat dua orang yang saling mencintai berada dalam satu atap, banyak hal yang bisa terjadi dan ia tak mau itu.


"Loh kok, tante kok gitu?" Benar saja protes langsung dilayangkan oleh pria itu.


"Hahahaha, kasihan kakak iparku. LDR-annya lama banget yah?" Tawa riang justru ditunjukkan oleh DIhyan.


"Mama takut kamu buat yang lucu-lucu seperti keponakan kamu itu." Kompor saja pria satu ini.


Meski tatapan maut telah Romi lemparkan, namun tak menyurutkan nyali pria itu untuk tetap menguji kesabarannya di hadapan seluruh keluarga.


Suasana keluarga yang begitu hangat jelas berbanding terbalik dengan perasaan pria yang duduk di sisi sana, Reno.


Wajah datar meski semuanya tengah tersenyum atau bahkan tertawa. Yang ada hanya perasaan tak terima.


Bahkan saat tamu telah pergi meninggalkan kediaman itu, perasaannya belumlah tenang.


Tak jauh berbeda dengan wanita yang duduk di sisinya, sama dengan perasaan gundah dengan keadaan yang terombang ambing seperti ini. Meski begitu, Diandra masih bisa mengontrol raut wajahnya.


Turut tertawa, mengikuti arus, berupaya untuk tetap menampakkan keadaan rumah tangganya yang baik-baik saja, setidaknya di hadapan tamu mereka.


Namun sekarang sepertinya ia ingin melakukan sesuatu, setidaknya ia masih memiliki usaha untuk membawa rumah tangganya ke arah harmonis.


Diandra telah bergerak meninggalkan tempat duduknya, mendaratkan kedua lutut di lantai dengan tubuh yang menghadap ke arah Dihyan dan Rima.

__ADS_1


Pemandangan itu mampu membuat semua tercengang. Ada apa gerangan?


"Rima." Ucapnya lirih dnegan kepala yang tertunduk menatap lantai. Jujur ia harus membuang jauh-jauh harga diri yang sejak dulu ia junjung dengan sangat tingginya. Terlebih lagi di hadapan Rima. Namun semua ini ia lakukan demi keutuhan rumah tangganya.


Sedari tadi ia bahkan telah mengamati keadaan sekitar selama keluarga ini berkumpul, dan yang ia temukan adalah sesuatu yang jelas mengiris  hati.


Kala melihat suaminya yang memandang wanita lain dengan begitu hangat dan dalamnya. Jelas menggambarkan sebuah perasaan yang luar biasa besarnya.


Apakah ia baik-baik saja? Jelas saja tidak. Namun masih harus tersenyum meski rasanya ingin mengamuk saja.


Bagaimana saat ia tahu jika suaminya mencintai wanita lain selain dirinya?


Bagaimana hati yang tak terbalas oleh suami sendiri?


Namun hendak melampiaskan pada siapa?


Wanita itu?


Wanita yang sejak tadi menahan kepala agar tak menoleh ke arah mereka.


Wanita yang menahan pandangan agar tak bertemu pandang dengan suaminya.


Diandra tahu, Rima mungkin telah melepas Reno.


Wanita itu telah nampak bahagia dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Maafkan aku!"


__ADS_2