Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Menerima


__ADS_3

“Jadi,...untuk ini kamu menyuruhku mencari informasi tentang keluarganya? Aku gak nyangka kamu sekejam ini?” Reno dengan kepala sedikit menggeleng-geleng.


“Apa? Jangan bilang Reno mendekatiku hanya demi mencari infromasi tentang keluargaku.”


Hati Rima berkecamuk.


Sialnya Rima telah berani menumbuhkan bibit cinta pada Reno di hatinya yang selalu saja di sirami oleh perhatian dan kasih sayang.


“Aku kira itu cinta!”


Sakit!


Tak bisa di pungkiri kini hatinya sangat sakit. Seolah banyak duri yang tertancap di sana. Mungkin itu adalah duri dari bunga mawar yang selalu diberikan Reno pada Rima. Jika memang pria itu tak mencintainya mengapa harus


memberinya bunga?


Kotak makan saja sudah cukup untuk membuat nama Reno terpahat di sana. Tapi jika dilengkapi dengan mawar merah semakin memenuhi hatinya bahkan huruf R dari nama Reno itu menempati ruang dalam palung terdalam hatinya.


Dan mendapati kenyataan jika Reno hanya ingin mencari informasi tentang keluarganya, ini bukanlah berita baik untuknya. Karena ini menandakan bahwa Reno telah menghianatinya.


Menghianati?


Bukankah Reno tak pernah menyatakan cinta padanya?


Ah ia lupa tentang kata dan pernyataan cinta yang harus tetap ada berdampingan dengan perhatian dan kasih sayang.


Mungkin ia terlalu cepat mencintai Reno. Bukankah cinta tak bisa di prediksi?


Inginnya ia kembali ke masa lalu, tak ingin menerima mawar merah pemberian Reno. Atau inginnya ia melempakan bunga dengan tangkai berduri itu padanya agar Reno tau sakitnya tertusuk duri seperti yang saat ini ia rasakan.


Ia baru saja membuka hatinya untuk pria. Mempersiapkan dirinya berada dalam kekangan dengan segala peraturan yang akan ia terima lantaran cintanya pada Reno.


Tapi apa yang ia dapat?


Ini bahkan terlalu sakit untuk dibayangkan.


Sangat ingin menangis saat ini. Tapi tidak! Tahan Rima! Tahan!


Air matamu mungkin akan membuat harga dirimu jatuh. Karena Reno tak pernah mencintaimu.


Mengapa kalimat itu terlalu sakit, ia bahkan tak menyebut itu. Tapi benar sakit!


Antara Dihyan dan Tio.


Tanpa Reno, yang menjadi pilihan.

__ADS_1


Tio dengan seribu gadis disekitarnya. Meskipun jadi istri pertama tapi Tio adalah seorang player dan pria itu tak kenal hubungan yang hancur akibat permainannya. Karena pria itu akan tetap bermain.


Tio gak banget.


Dan Pak Dihyan, lelaki ini baik, setia tapi untuk menjadi istri kedua?


Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.


Tapi, bukankah pak Dihyan mengatakan ini hanya sementara, setelah itu ia akan kembali bebas.


Ya setidaknya kali ini ia terbebas dari Tio.


Dan Reno.


Anggaplah ini akan jadi ajang balas dendamnya pada Reno.


Hatinya terlalu hancur untuk mengharap sebuah kata kebahagian.


“Baiklah! Ayo kita menikah!” Kalimat bodoh tanpa pertimbangan telah menjadi keputusan Rima.


“Rima!” Suara Reno setengah teriak mendengar keputusan Rima.


“Kapan kita menikah?” Ia melanjutkannya hanya karena melihat ekspresi wajah Reno yang menandakan pria itu tengah marah.


Apakah pria itu cemburu? Berarti usahanya tidak sia-sia.


“Kenapa justru kamu yang marah?” Kalimat itu dari Dihyan yang menarik tangan Reno untuk duduk. Tapi pria itu masih berdiri dan menepis tangan Dihyan.


“Rima, coba pikirkan baik-baik Baru kamu ambil keputusan!” Reno sedikit memelankan suaranya.


“Setidaknya pikirkan perasaanku! Apakah aku tidak pernah ada di dalam hatimu? Apakah perhatianku selama ini kurang untuk menyatakan perasaanku?”


Dan andai kalimat itu bisa terucap dari mulutnya? Tapi tidak ia hanya bisa mengeluh dalam hati.


“Kapan kita menikah?” Kalimat itu kembali terulang, melihat kemarahan masih bersarang di mata Reno justru menjadi sesuatu yang bahagia di dalam hati Rima tanpa memikirkan bahwa kehidupannyalah yang menjadi korban.


Reno menghempaskan tubuhnya ke belakang di tempat duduknya, mungkin menandakan keputus asaannya.


“Secepatnya. Dan kamu akan mendapat kabar bahagia dari keluargamu,” Dihyan hanya menganggukkan kepalanya, setuju.


“Reno akan mengurus semuanya!” Dihyan.


Kini Reno hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan segala beban yang ada di otaknya.


Merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobil dari sana, seraya kembali bangkit, “Aku harus pulang, ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Kamu antar Rima pulang!”

__ADS_1


Berada terlalu lama di sini bukan sesuatu hal yang baik, terutama untuk hati dan jantung yang semakin terbakar.


Meninggalkan dua orang dengan ke egoisan masing-masing yang terbilang ....


Entahlah!


Reno mengambil langkah seribu keluar dari restoran yang mereka tempati menahan taksi yang melintas di depannya dengan gegabah.


Tak terasa setitik air bening benar-benar tak tahu malu telah keluar dari pelupuk matanya hingga ia harus menyapunya dengan punggung tanggannya.


“Ada apa?” Pertanyaan dari bapak yang melihat Reno memasuki rumah mereka dengan tergesa-gesa dengan wajah tertunduk.


“Gak papa pak!” Jawabannya singkat dan terus berlalu, masuk ke kamarnya.


Tak butuh waktu lama hingga ia kembali membawa tas di punggunnya, dengan langkah panjangnya kembali meninggalkan rumahnya dengan menggunakan sepeda motor milik bapaknya. Dan ia bahkan lupa untuk memintanya terlebih dahulu.


Kini Reno telah berada di salah satu pusat gym terdekat. Memukul dengan keras samsak tinju, seolah membayangkan samsak itu adalah perwujudan dari Dihyan.


Benar, kini ia sangat ingin memukul Dihyan yang notebenenya adalah bosnya sendiri. Membayangkan menghantam rahang dan membuat sudut bibirnya berdarah.


Apakah tidak ada wanita lain yang harus dijadikan istri keduanya? Mengapa harus Rima? Bahkan Dihyan sendiri mengatakan Rima bukan tipenya, ya carilah tipemu sendiri!


Dan Rima?


Heh, kenapa dia mau-mau saja diajak menikah sama Dihyan?


Mungkin ia akan tenang ketika melepas Rima jika bersama dengan pria lain dan hidup dengan bahagia. Tak apa  baginya.


Tapi Dihyan? Pria beristri yang sangat mencintai istrinya itu?


Astaga!


Jangan bilang RIma tergoda dengan harta dan kedudukan Dihyan?


Ah Rima memang bodoh!


Apakah ia tidak tersinggung dengan segala hinaan yang terlontar dari mulut pedas Dihyan. Bodohnya ia justru  menerima ajakan Dihyan untuk menjadi istri keduanya.


Ingin rasanya memasukkan sepuluh biji cabai ke dalam mulut gadis itu, agar tak bisa berbicara dan menjawab permintaan Dihyan tadi.


“Apakah benar tak ada aku di dalam hatimu?”


"Apa belum cukup semua perhatian yang kuberikan?"


"Brengs3k!"

__ADS_1


"Brengs3k!"


"Brengs3k!"


__ADS_2