
Dihyan berjalan masuk ke sebuah restoran. hari telah petang, namun pria itu masih jauh dari kata istirahat. masih banyak yang harus dia selesaikan.
tangannya menggenggam erat tangan sang istri, berjalan beriringan dengan ekspresi yang sama datarnya.
setelah bertanya sebentar pada seorang pelayan, kini kaki kembali melangkah mengikuti pelayan tersebut. memasuki sebuah ruangan yang telah dibukakan untuk mereka. Memasuki sebuah ruangan yang telah dibukakan untuk mereka berdua.
Seluruh mata memperhatikan dengan seksama perilaku mereka saat ini.
Mulai dari saat Dihyan memundurkan sebuah kursi untuk Rima, beralih ke kursi sebelahnya untuk ia tempati. Tak lupa sebuah kecupan singkat mendarat di pucuk kepala sang istri lengkap dengan elusan di pundak.
Kembali meraih jemari Rima untuk digenggamnya dengan begitu erat. Sementara Rima hanya menunjukkan wajah datar tanpa ekspresinya. Masih belum mengidahkan pandangan orang-orang sekitarnya.
“Rima, ini pak Jaya ingin bertemu langsung dengan kamu.”
Mendengar suara ayah mertuanya, Rima mengangkat kepala berusaha tersenyum meskipun kaku. Ia sangat menghargai pria yang menjadi ayah dari orang-orang yang pernah menyakitinya. Pria itu juga yang telah beberapa kali membantunya saat berada dalam berbagai macam masalah.
Terlihat pria yang disebut sebagai pak Jaya itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
“Beliau sengaja meluangkan waktunya untukmu. Beliau ingin meminta maaf secara langsung tentang kesalah
pahaman yang terjadi antara karyawannya dengan suamimu.” Lanjut ayah, saat Rima menyambut uluran tangan pak Jaya untuk bersalaman. Hanya ingin tetap menjaga sopan santun.
Rima masih belum menampakkan ekspresi apapun di wajahnya.
“Dan dia Fely,....” Papa beralih memperkenalkan seorang wanita cantik yang duduk di samping pa Jaya. “Masih ingat?” Lanjut papa.
“Dia ingin meminta maaf atas kesalah pahaman yang sempat terjadi dengan suamimu secara langsung.”
Cih, memandang Gadis itu justru membuat Rima tersenyum sinis. Tatapan tajam Rima seolah hendak menusuk tepat ke jantung gadis itu.
Gadis yang telah merayu suaminya, namun gagal membuat mereka bercerai. Cantik, sepsi. Dengan kulit putih lembut yang terawat. Jelas saja wanita itu langganan salon.
Ahhh, ada sesal di hati Rima saat ini, mungkin ia datang terlalu cepat saat itu. Harusnya ia masuk saat permainan
__ADS_1
inti dua tersangka utama itu sedang berjalan. Dengan begitu tak ada alasan lain untuk suaminya menandatangani surat peceraian mereka.
Ck, bukan seperti ini.
Rima tak butuh acara klarifikasi dan maaf-maafan seperti sekarang ini. Yang ia butuhkan hanya tanda tangan suaminya yang dibubuhkan di kertas berkop Pengadilan Agama.
“Saya ingin meminta maaf kepada bu Rima. " Dengan menundukkan kepala gadis itupun berucap.
" Belum lebaran!" Ssingkat, Namun mampu membawa rasa kesal pada siapa saja yang mendengarnya. mungkin berasal dari intonasi suaranya.
"Yang terjadi beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah kesalah pahaman saja.” Gadis itu melanjutkan kata. Di sini karier dan reputasinya dipertahankan. Harus bisa mendapatkan maaf dari semuanya, namun tanda tanganpun tak boleh diidahkan begitu saja.
“Yang seperti itu kamu bilang salah paham?” Sinis dengan lirikan mata yang sangat tajam.
“Lalu yang bagaimana kamu bilang bukan salah paham? Saat kalian benar-benar melakukan hal seperti pasangan suami istri?” Lanjutnya masih dengan sinis, kepala telah dimiringkan.
“Lalu aku bersorai GOOOOOLLLLL. Begitu?” Bahkan kedua tangan berangkat ke atas, seperti seorang suporter bola yang melihat tim kesayangannya tengah menendang bola hingga berhasil melewati pertahanan terakhir dan masuk ke dalam gawang.
“Rima.” Dihyan mengeratkan genggaman tangan istrinya. Berharap Rima mau menghentikan aksi protesnya.
"Apa? Mau membela selingkuhanmu itu?"
“Rima.” Teguran dari papa mertuanya mampu membungkam dan menghentikan aksinya. Duduk dengan rapih, anggun namun tatapan tajam masih terarah ke gadis itu.
Rima terlihat tengah mengatur napas yang ngos-ngosan. Hatinya panas, namun entah mengapa tak bisa mengeluarkan semua yang menghimpit dadanya.
Ia butuh tempat, Ingin teriak sekuat-kuatnya.
“Maafkan saya.” Ucapan lirih Fely.
“Dia datang untuk meminta maaf padamu!” Papa Cakra lagi.
Gadis itu terlihat berdiri dari tempatnya. Mengulurkan tangan ke arah Rima yang masih diam membisu hingga
__ADS_1
beberapa saat.
Harusnya wanita itu yang memohonan maaf padanya karena telah membanting dan mendaratkan punggunnya ke lantai. Harusnya ia bisa menuntut wanita itu dengan alasan kekerasan. Bukan seperti ini. Tak ada yang
mau bersaksi untuknya. Bahkan pria yang di sampingnya selaku atasan pun tak membelanya.
“Rima.” Teguran dari sang mertua kembali tak bisa ia acuhkan. Mengangkat kepala dan tangan siap menyambut uluran tangan sang gadis yang mungkin sedikit pegal karena menahan.
“Terima kasih.” Fely saat mereka bersalaman. Rima hanya mencibir, memutar bola mata malas, kesalnya masih ada.
Keduanya kembali duduk di tempat masing-masing.
Dihyan yang kembali meraih tangan sang istri untuk kembali digenggam. Pandangannya tak luput dari wajah cemberut Rima.
Tatapannya nanar dan dalam. Mencoba mengerti perasaan sang istri yang sedang kesal pada dirinya dan juga pada gadis di seberang meja.
Saat Rima memberikan perhatian padanya dengan meluangkan waktu dan membawakan bekal, ia justru kedapatan
bersama wanita lain.
Pasti perasaan istrinya itu hancur, wajar saja jika kemarahan masih terlihat jelas di wajah cantik itu.
Fely yang memperhatikan kelakuan dua mahluk di hadapannya itu hanya mampu diam terpaku. Tak bisa dipungkiri jika istri dari pria yang beberapa hari lalu coba ia rayu itu sangat cantik.
Cantik. Memang cantik.
Bahkan matanyapun sempat melihat Pak Jaya yang memandang Rima dengan dalam, mungkin tengah menikmati ciptaan Tuhan atau sedang menghormati wanita itu. Entahlah!
Wajar juga, jika pria di sana sedikit mengacuhkannya demi istri yang cantik jelita. Pria itu hanya terdiam menerima setiap perlakuan istrinya. Terus mencoba menggenggam meski beberapa kali dihempaskan.
Pria itu terlihat seperti bertekuk lutut dan pasrah di hadapan sang istri yang tengah merajuk. Mungkin rasa sayang dan cintanya terlalu dalam untuk sang istri.
Sementara Rima memilih mengarahkan pandangannya ke samping ke arah tembok. Tak memperdulikan semua pandangan yang mengarah padanya.
__ADS_1
Masa bodo dengan semua ini.