Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Menikmati Peran


__ADS_3

Dihyan mengulurkan tangan tepat di hadapan Rima, di tangannya telah ada sebuah kartu yang pasti membuat mata Rima berbinar.


"Ini apa?" tanyanya pura-pura bego, Anggaplah ia gadis lugu.


"Uang jajan." Dihyan dengan senyuman di wajah.


"Buatku?" Dengan kening berkerut, Rima masih menunjukkan wajahnya yang polos. Dalam hati ia bersorak riang, berniat menghabiskan seluruh nominal yang ada dalam kartu.


Dalam rentan hubungan pernikahan mereka, Dihyan tak pernah memberikan nafkah lahir padanya. Sekali memberi kartu unlimited digenggaman.


Dihyan menganggukkan kepala, " Beli semua kebutuhanmu!" Ucapnya masih dengan senyuman di wajah.


Pun dengan Rima, Ia tak lagi bisa menutupi kebahagiaannya. Di otaknya telah tersedia list belanjaan.


Anggap saja ini sebagai konvensasi untuknya karena telah menjadi istri dari seorang Dihyan. Akan ia pergunakan dengan sebaik-baiknya, ah salah. Lebih tepatnya sebanyak-banyaknya.


"Bilang terima kasih dulu!" Dihyan yang sempat menahan pergerakan Rima yang hendak berdiri begitu saja. Terlalu semangat untuk pergi berbelanja.


"Ck, Bukannya memang tugas suami memberikan nafkah pada istrinya." Mendelik ke arah DIhyan.


Dihyan tersenyum, istrinya telah berani protes.


Dan apa tadi.


Suami dan istri katanya.


"Iya tau. Tapi istri harus tetap berterima kasih kalau diberi sesuatu."


"Terima kasih." Ucapnya segera, tak sabar rasanya ingin memilih-milih barang. Barang-barang yang paling mahal diantara yang akan ia lihat di sana nanti.


"Bukan seperti itu kalau istri mengucapkan terima kasih." Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Rima.


"Gimana? Aduuuuh lama banget sih!" Menghentak-hentak pelan dengan wajah cemberut.


Satu hentakan yang dilakukan Dihyan mampu membuat tubuh Rima terduduk seketika mendarat di pangkuannya.


Segera menahan pergerakan tubuh Rima dengan tangan yang melingkar di punggung. Pergerakannya begitu cepat.


Rima hanya mampu membulatkan mata saat pertemuan bibir mereka tanpa ia duga.


Membiarkan Dihyan bergerak sendiri, tanpa membalas.


Masih terdiam meski Dihyan telah melepaskan tautan bibir. Rima mengerjapkan mata berkali-kali, berupaya mengembalikan kesadaran. Barusan mereka berciuman kan?


Dihyan kembali mempertemukan bibir, saat wanita itu masih terdiam memandangnya seolah tak percaya. Memberikan sentuhan lembut yang harusnya menerbangkan.


Rima masih membuka mata saat pria itu justru memejamkan mata.


Wanita itu akhirnya ikut memejamkan mata secara perlahan. Hendak menikmati perilaku yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.


Yakinlah, jika lututnya saat ini tengah bergetar. Beruntung mereka dalam keadaan duduk. Jika tidak, tak tahu sampai kapan tubuh mampu menopang diri.


"Udah!" Dihyan.


Semua terlepas, hanya Rima yang masih terpaku di pangkuannya. Padahal pria itu tak lagi mengekangnya.


Kedua tangannya Dihyan telah berada di samping tubuh.


"Kamu boleh pergi!" Ucapnya lagi, saat Rima terlihat belum siap beranjak dari pangkuannya.

__ADS_1


RIma mengangguk, meski mata seperti masih enggan berkedip. Mungkin masih tak percaya.


Dengan perlahan, wanita itu bangkit namun pandangan masih tertuju pada Dihyan yang sedari tadi tersenyum melihat ekspresinya.


"Duduk dulu! Kamu kayaknya masih shock!" Kembali menarik tangan Rima untuk duduk di sampingnya. Tak usah dipangkuannya, bisa-bisa pria itu justru melakukan hal lebih.


"Kartunya mana? Gak jatuh kan? Kamu mau beli apa?"


Serentatan pertanyaan itu hanya untuk mengalihkan perhatian Rima saja. Mungkin peristiwa barusan masih terngiang di ingatan, dan memang benar begitu adanya.


"Baju." Rima singkat. Pandangan itu telah beralih ke depan. Tepatnya pada meja kaca di hadapan mereka.


"Hemm, beli yang banyak. Sepatu juga, sama tas! Aku gak tau selera kamu yang bagaimana, jadi kamu beli sendiri aja yah." Ucap Dihyan, pandangan turut di luruskan demi memberi ruang untuk RIma menyadarkan diri.


"Banyak boleh?"


Padahal tadi sekali dia memang berniat menghabiskan saldo dalam kartu itu. Peristiwa barusan nyatanya mampu membuatnya jadi bod0h.


"Lengkapi semua kebutuhanmu!"


Keluar dengan hati yang bahagia. Bahkan sempat melambaikan tangan pada kedua sekretaris Dihyan yang tengah duduk di kursi kerja di sisi sana. Sejenak melupakan segala kesedihan yang pernah menemani hari-harinya.


Jalan-jalan, memasuki setiap toko yang seperti melambaikan tangan padanya.


Tak mengapa, ia punya modal untuk tak sekedar melihat-lihat.


Pengawalnya dijadikan manusia pembawa barang belanjaannya yang segunung.


Tak lupa masuk ke salon demi mendapatkan perawatan dan memanjakan seluruh tubuh.


Paket komplti dipilihnya.


Senyuman tak lepas dari wajah cantik yang semakin terlihat cantik saja.


Dihyan kembali ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja. tak mendapati istrinya di sana. meyakinkan diri jika wanitanya sedang berada di dalam kamar mandi.


Pintu tertutup dengan suara gemercik air dari dalam. Duduk menyandarkan punggung di kepala ranjang, sambil memainkan ponsel di tangan.


Handle pintu berbunyi, berlanjut dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Menampilkan istri seksinya yang semakin sekzi saja. Mata Dihyan membulat penuh.


Menatap Rima yang mengenakan pakaian tipis tembus pandang di tubuh.


Rima berjalan menuju meja rias, duduk terlihat menepuk-nepuk wajah. Mengabaikan tatapan suaminya yang tengah menatapnya lekat hampir tak berkedip.


wanita ini ternyata tak menyianyiakan hadiah dari Dihyan.


Rima melengkapi skins care dan segala keperluan wanita lainnya.


Setelah kegiatan di depan meja rias, Rima berjalan dengan penuh percaya diri ke arah ranjang. Tak ada kata risih terpancar dari raut wajahnya.


Meskipun tatapan pria itu belumpun teralihkan.


Semakin mendekati ranjang, semakin nyata pula penampakan dari balik kain tipis itu.


Dihyan semakin yakin pula, bahwa Rima tak mengenakan bawahan bagian atas.


Rima berangkat menaiki tempat tidur dengan santainya.


"Kau menggodaku?" Kata yang terucap dari Dihyan.

__ADS_1


mengulurkan tangan pada Rima, meskipun ditepis tapi pria itu masih tetap tersenyum. Dan tatapannya seolah berhenti di bibir mungil istrinya, cantik.


"Halaaaaahhhh, tanpa ku godapun kau akan tetap menidvriku." Ucap Rima berbaring dan mulai membungkus diri dengan selimut.


Dihyang tersenyum, istrinya memang benar, tanpa digoda pun ya pasti akan bergerak.


"Iya, tapi kali ini beda."


"Kamu pasti suka,"


"dan kalau mau, kamu bisa minta tambah." Dihyan dengan senyum menyerigai dan tatapannya yang penuh domba.


Perlahan mulai bangkit menempatkan sebagian tubuh di atas wanitanya.


Wanita yang sangat cantik memang.


" Kamu tenang aja aku selalu baca doa setiap akan menyentuhmu." Tangan itu telah berada di atas para Rima mengusap pelan, " apa sudah ada tanda-tanda?"


"Heh, mimpi." Rima dengan ketusnya.


Dihyan masih tersenyum menanggapi.


Mulai merapatkan bibir dengan bibir sang istri, diikuti usapan lembut di pipi, Dihyan mencoba membawa istrinya turut menikmati surga dunia kali ini.


Tak bisa dipungkiri, selama ini ia hanya terfokus pada dirinya sendiri. Tanpa pernah memperdulikan Rima, Apakah wanita itu suka atau tidak?


Ciuman itu mulai berpindah-pindah. Masih berusaha menyuguhkan sesuatu yg pelan nan lembut.


Dan terus merosot bagai air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.


Rima berusaha agar tetap terdiam, menahan diri agar tak terlalu ribut. Menggigit bibir bawah agar tak mengeluarkan suara-suara yang menj!j!kkan.


Meski kadang ingin teriak setiap kali Dihyan berpindah tempat dan mendapatkan sentuhan yang sekaligus dan bersamaan di tempat yang berbeda.


Ahhh, ini rasanya terbang ke awan?


Beginikah rasanya melayang?


Ini bukan melayang, tapi menggila.


"Bagaimana?" Tanya Dihyan.


"Sudah?" Rima balik bertanya, saat pandangan mereka kembali bertemu setelah beberapa waktu lalu RIma tak mampu menatap wajah Dihyan yang sibuk membelainya.


"Belum lah!" Dengan senyuman aneh, kembali memasang sikap bertumpuk.


"Kalau mau teriak, teriak saja!"


"Kamu gak usah nahan diri! Itu justru akan menyiksa kamu sendiri." Ucapnya kembali.


Dihyan tahu, Rima malu namun sangat menikmati.


Setelah itu, ia mendapati wanita itu yang beberapa kali meringis nikmat karena belaiannya.


"Enakkan?"


Dihyan setelah pertemuan syahdu mereka.


Rima menunjukkan wajah kesalnya, memilih berbalik memunggungi suaminya, "Tak perlu bertanya seperti itu!" ocehnya dalam hati, malu.

__ADS_1


__ADS_2