Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Hanya Sebuah Alasan


__ADS_3

" Aku ingin belanja." Rima memaparkan keinginannya yang kedua.


Tak ada alasan untuk Dihyan tak mengabulkan permintaan sederhananya ini. Setidaknya ia bisa melepas rasa kesalnya.


Menghabiskan uang pria itu, menjadi mimpinya saat ini. Setidaknya tak ada uang untuk gaji para pengawal yang ditugaskan menjaganya.


" Kita ke mall." Ucapan Dihyan Teruntuk Rima dan Pak Eko. Mengelus perutnya sendiri, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.


"Nggak mau!" Rima dengan Ketus, " Aku mau beli mobil." Ucapnya asal.


Ke mall, dan pulang dengan paper bag yang memenuhi tangan tak sebanding dengan harga satu buah mobil baru.


" Pak, ke showroom mobil." Kali ini ini ucapannya ditujukan pada Pak Eko.


Hanya memberi sebuah mobil baru takkan membuatnya miskin tiba-tiba kan? Kekayaan tak sebanding dengan yang ia inginkan kini. Uang masih bisa dicari tapi Rima, Ia harus melakukan segala macam bujuk rayu untuk tetap mempertahankan wanita ini.


Beruntung wanita ini hanya meminta sebuah mobil baru bukan Pulau pribadi. Jika benar iya, mungkin ia akan mengajukan pinjaman pada seluruh keluarganya. Papa, Mama, tante dan Omnya. Dan semua itu hanya demi mewujudkan keinginan Rima.


Turun dengan segera saat mobil telah parkir secara sempurna di area showroom. Tak perlu menunggu Dihyan, lamban sekali pikirnya.


"Aku mau mobil yang paling mahal." Ucapnya pada salah satu wanita cantik yang datangi dan menyapanya.


Diantara kalimat panjang sang SPG, Rima hanya memperhatikan saat wanita itu menanyakan tipe mobil yang diinginkannya.


" Kami ada beberapa rekomendasi untuk anda, silahkan!" Tangan sang SPG terulur menunjukkan jalan pada Rima.


Melihat penampilan Rima yang jelas mengisyaratkan bahwa wanita itu adalah seorang wanita karir, sang SPG membawanya untuk melihat mobil yang biasa dipilih oleh wanita-wanita seperti Rima.


Cantik, berkelas berkarir dan tentunya berduit.


Rima menggeleng saat mereka telah berada di dekat sebuah mobil, Laxis judul mobilnya.


Meski dalam hati ia memuji mobil ini bahkan ingin memilikinya.


" Mobil ini mengaplikasi sistem gerak full listrik alias better elektrik vehicle. cocok untuk wanita yang update dan perkembangan teknologi."


Suara sang SPG bagai angin lalu baginya.


Tujuan Rima ke sini sesungguhnya hanya ingin memberi pelajaran pada Dihyan dan melampiaskan kekesalan pada suaminya, bukan membeli mobil betulan.


Ia ingin menghabiskan uang suaminya, itu adalah prioritasnya saat ini.


Jika benar ia langsung mengiyakan dan mengambil mobil ini tanpa ada drama tersendiri, Ck kurang seru rasanya.


Ini terlalu mudah untuk pria itu.


" Ferrari." Ucapnya masih asal.


Apalagi saat melihat salah satu dari SPG mendatangi suaminya. berbincang dengan lembut disertai dengan senyum ramah.


Padahal bukan Dihyan yang mau beli mobil.

__ADS_1


Lagi-lagi ia harus mendengarkan celoteh panjang dari sang SPG, dan yang ia tangkap hanya," Untuk jenis mobil tertentu, Anda harus memesannya terlebih dahulu!"


Ah, suaminya itu memang pelit. Sengaja membawanya ke showroom mobil yang kecil, tak semua jenis mobil yang tersedia di sini.


Heh, kesalnya menoleh kembali ke arah suaminya, ternyata SPG tadi telah meninggalkan Dihyan.


Berganti dengan SPG wanita lainnya, tersenyum ramah pada suaminya itu. Sementara dirinya sendiri yang jelas-jelas orang yang memilih mobil hanya berhadapan dengan satu SPG sedari awal hingga sekarang.


Memicingkan mata menatap suaminya yang masih betah berbincang dengan wanita yang baru saja datang.


Dihyah terlihat menahan senyum dihadapan SPG cantik itu. Dengan gaya dibuat se-cool mungkin sedang mencari perhatian.


Pandangan Rima semakin sinis ke arah suaminya.


Saat beberapa wanita siap menggod@ dan merayu pria itu untuk bisa berada disisi Dihyan, ia justru tak sudi berada di sana.


Sok ganteng!


Sok laku!


Pikiran wanita itu, seolah semua yang buruk-buruk tentang suaminya.


Tak ada kelebihan yang lain selain harta.


Dihyan yang mengarahkan pandangan pada Rima yang menatapnya dengan sinis.


Melihat tatapan istrinya yang masih diselimuti dengan amarah, tak ingin menambah masalah lagi.


"Karena kalian bisa jadi pelampiasan nya. dia kuat bisa mematahkan punggung mu dengan sekali hentakan."


Sambil sesekali mengarahkan tangan ke arah Rima.


Sementara dalam pandangan Rima, suaminya itu tengah melontarkan gombalan-gombalan basi untuk para SPG yang lebih memilih mendekati Dihyan dari pada dirinya.


Amarah yang tertahan saat bertemu dengan Feli. Kekesalan saat mendengarkan Dihyan menambah pengawal untuknya. Hingga cemburu saat melihat Dihyan dikelilingi dengan gadis-gadis cantik. Semua seolah bercampur menjadi satu di dalam hati.


Egghhhh, menggeram penuh emosi.


Dadanya bergemuruh tak lagi tertahankan. Amarah mampu membuat suhu tubuh meningkat hingga ke ubun-ubun, meski suhu ruangan sangatlah sejuk.


Jari-jari tangan di gengam sekuat mungkin, berusaha menyalurkan segala rasa yang membuat diri terbakar.


Bagai gunung berapi yang siap mengeluarkan lahar panasnya.


Tak tahan.


Rima menendang kuat ban mobil soft yang berada tepat di depannya.


Belum cukup melampiaskan semuanya, Rima memilih melepas sepatu high heels dan memukul penuh tenaga di badan mobil.


BUK.

__ADS_1


BUK.


CIIIIITTTTT.


CIIIIITTTTT.


Menggores hak sepatu membuat goresan panjang pada body mobil. Tak peduli jika suaminya nanti akan membayar ganti rugi dengan sangat mahal.


"RIMAAAAA."


Teriakan Dihyan menggema saat melihat istrinya


Dengan berlari menghampiri Rima dan kedua tangan yang terbuka lebar segera merengkuh tubuh yang memberontak tak menentu.


Pikiran Dihyan seketika kacau. Jangan sampai Rina stres dan depresi di karenanya.


" Aku benci kamu!"


"Aku benci kamu!"


"Kamu Egois!"


"Kamu Egois!"


Teriakan Rima menggema, membuat semua orang menoleh dan memandang aneh ke arah mereka.


" Iya iya aku salah, Maafkan Aku!" Dan lagi-lagi ia mengemis sebuah maaf pada Rima. Bukan hanya itu, Dihyan bahkan harus menahan sakit di dadanya saat mendapat serangan bertubi-tubi dari istrinya.


Bug.


Bug.


Bug.


Kepalan tangan Rima beberapa kali mendarat di dada Dihyan.


"Egggh," Keluhnya.


Rima memang wanita, namun kekuatannya tak bisa di anggap enteng.


" Rima tolong Tenanglah, jangan seperti ini!" Meraih kedua tangan Rima, mencoba untuk menghentikan pukulan di dadanya. Berhasil, namun wanita itu masih mengoyang-goyangkan tubuh agar bisa terlepas dari dekapan sang suami. Rima yang masih tetap saja mengamuk.


Sementara sang SPG tadi sudah sedari tadi menjauh, berusaha meminta bantuan dari pihak keamanan.


"Bos!"


Dihyan menoleh menatap seorang pria yang menjadi anggotanya. Di tangan pria itu ada sebuah sapu tangan berwarna putih yang telah diulurkannya pada sang bos.


Dihyan mampu merasakan gelengan kepala Rima saat ia memaksa sang istri memcium wangi sapu tangan itu.


Pria itu masih sempat menitikan air mata, saat sang istri yang berada di dekapannya perlahan mulai melemah dengan mata yang turut terpejam.

__ADS_1


__ADS_2