
Di sebelah sana Diandra tersenyum sinis, mungkin merasa usaha membuat Dihyan membenci Rima berhasil. Mungkin itu pula yang membuat gadis itu betah dan bertahan tinggal di rumah itu.
Senang sekali rasanya melihat Rima yang telah merusak hubungannya dulu dengan Tio kini menderita, dan itupun terlihat jelas di depan matanya. inginnya ia bersorak gembira sambil
melompat-lompat.
"Dasar sok cantik." Begitu hatinya selalu berkata saat melihat Rima.
Rimapun meninggalkan ruang makan menuju ke belakang tempat para art di sana untuk makan. Tak apalah, setidaknya ia tak kelaparan malam ini.
Rima memilih mengamankan dirinya dengan tak pernah lagi duduk di meja makan itu bersama Dihyan dan juga Diandra yang entah mengapa menjadi sangat betah untuk tinggal di rumah kakaknya itu.
Sekalipun akhir pekan.
Jika gadis itu tak keluar rumah ia lebih memilih menghabiskan waktunya di sana daripada pulang ke rumah orang tuanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rima tengah menyantap makan malamnya seorang diri.
Dia harus menempatkan diri sebaik mungkin. Dihyan tak ingin melihatnya.
“Apa masih ada hak kamu menikmati
makanan di sini?” Suara itu dari wanita di belakangnya.
Bahkan saat menempatkan dirinya di belakang tempat yang digunakan para artis untuk beristirahat. Berharap bisa menikmati makanannya.
Ternyata tidak.
Diandra masih saja terus mengusiknya.
“Ada apa?” Tanya Rima saat membalikkan kepala melihat ke arah Andra.
“Apa kamu masih berhak menikmati makanan di sini?” Tanya Andra dengan sinis.
Kalimat itu cukup membuat Rima mengerti, jika ia bahkan sudah dilarang makan di sini.
Baiklah!
Demi keamanan bangsa dan negara, ia lebih memilih mendorong piring yang masih terisi dengan makanan karena baru beberapa sendok yang masuk ke dalam mulutnya.
“Tapi non baru makan sedikit,” Bi Titi yang melihat perhelelatan dingin itu.
“Nanti aku makan di luar bi,” Rima sambil bangkit dari duduknya bahkan sebelum minum, “Dari pada yang masuk jadi haram.”
Meskipun ia masih sangat lapar, tapi bersama Andra yang masih membencinya sungguh sangat tidak baik.
Ia lebih memilih memesan makanan secara online beserta air mineral 1500 ml.
Ia begitu menikmatinya seorang diri di dalam kamarnya.
__ADS_1
Mungkin lebih aman, dari pada harus bertemu dengan Andra dan akan melarangnya ini itu seperti seorang ibu tiri.
Rasa lapar masih menemaninya.
Pikirannya kini seolah buntu.
Kemarin-kemarin disuruh makan bersama art, tapi sekarang malah dilarang makan sama sekali.
Jika memang ia tak berhak makan di rumah ini, kenapa tak pulang ke rumah ayah saja? Baiklah mungkin ini harus segera di akhiri. dengan meninggalnya Nindy tugasnya pun telah berakhir.
Istri?
Tak ingin terlalu berharap dengan singkatan dan status itu.
Tinggal tunggu waktu yang tepat berbicara dengan Dihyan.
Begitulah selama beberapa hari Rima lewatkan tanpa sedikitpun menyentuh makanan dan minuman dari rumah itu.
Dihyan pulang bersamaan dengan Rima yang telah membawa bekal makan malam di tangannya, dilengkapi dengan air mineral botol 1500 ml.
“Ini apa?” Tanya Dihyan sambil mengangkat kantong kresek dari tangan Rima.
“Kamu mau bilang suamimu tidak memberi kamu makan minum?” Dihyan tersenyum dengan sinis kantong kresek masih berada di tangannya.
Tak ada jawaban dari Rima. Ia harus bilang apa? Bilang kalau Andra melarangnya makan dan minum?
Yang ada Andra akan kembali mengatainya sebagai pengadu.
Dihyan hanya mengambil botol air mineralnya, membuka segelnya dan menyiramkannya ke kepala Rima, membuatnya memekik kaget dan langsung memukul dada pria itu.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Rima untuk mengambil bolot mineral yang masih berada di tangan pria itu. Dan memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam mulutnya, dan.
Puuuffftttt.
Semburan dari mulutnya, seperti mbah dukun yang sedang mengobati pasiennya.
Rasa kesalnya bertambah seiring ketidakcocokan Kedua saudara itu.
Ia seperti ini karena perintah dari adik kesayangan sang majikan.
Iya majikan, mungkin status itu lebih tepat untuk Dihyan daripada suami.
Basah.
Rima dan Dihyan sama-sama basah.
“Kamu,” Dihyan dengan wajah yang
terlihat marah. Mata melotot tajam ke arah Rima.
Tapi kemudian kembali tersenyum dan kembali meraih botol dari tangan Rima guna menyiramkan sisa air yang masih ada ke tubuh sang gadis hingga tandas.
__ADS_1
Tak lupa melemparkan botol kosong ke tubuh Rima dengan keras.
Entah apa yang ada di pikiran kedua kakak beradik itu. Inginnya Rima teriak, “Apa yang harus aku lakukan?”
Tanpa melakukan apapun ia akan tetap mendapatkan siksaan dari kedua bersaudara itu. Bahkan hanya untuk makan dan minum saja di tengah orang yang hidup berkecukupan bahkan lebih sangat berlebihanpun sulit baginya.
Air minum itu ia beli dari hasil keringatnya sendiri, masalahnya di mana lagi?
Apa memang dia harus bunuh diri agar tak menjadi beban?
“Biiii, Bi Titin, tolong buatkan dia minuman yang paling enak! Jus bi, sebelum dia ngadu ke semua orang kalau suaminya tak memberinya makan dan minum.” Dihyan sambil meninggalkan Rima yang terpatung dengan tatapan lurus ke depan.
“Jangan lupa kasi obat perangsang bi! Biar dia datang ke kamarku!” Ucapnya enteng sambil mengankat satu tangannya. Kaki telah menjajaki anak tangga pertama.
Dengan senyum yang terpajang di wajahnya, melambangkan kemenangannya sekali lagi.
Perangsang? Perangsang apa?
Perangsang nafsu makankah?
“Tapi non Andra gak ada pak, Bibi gak tau obat yang mana?” Bi Titin yang mengingat jika dirinya di suruh memberi obat perangsan di minuman Rima, membuat Dihyan yang telah berada di lantai dua tertawa kencang.
“Maaf ya bi, lantainya basah,” Rima sambil
mendekati Bibi setelah mengambil makanan yang tadi dia beli. Mulai beranjak ke kamarnya
Rima masih belum bermaksud untuk menikmati makanan dari rumah itu. Terlebih lagi dirinya tak mungkin membuang makanan itu. Mubazir.
Tok.
Tok.
Tok.
Rima membuka pintu kamarnya menampilkan Bi Titin dengan nampan yang berisikan air perasan jeruk yang manis dan sangat menggungah selera. Emm, terlihat sangat segar.
“Non minumnya, non!” Bi Titin yang menyodorkan nampan berisi perasan jeruk itu.
Namun Rima hanya diam menatap gelas yang begitu menggiurkan itu. Dalam hatinya seolah berperang akan ingin menikmatinya atau hanya memandanginya saja.
Apakah perangsang yang dimaksud Dihyan adalah perangsang berhubungan?
Jika minuman itu ada obat perangsangnya, maka ia pasti akan mendatangi kamar
Dihyan dan merayunya.
Oh tidak! Tidak!
Ia lebih memilih untuk tidak meminumnya. Tapi bagaimana caranya menolak bi Titin? pasti wanita itu akan merasa tersinggung.
“Non gak ada apa-apanya kok. Obat-obat atau apa gitu!” Bi Titin seolah tau apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
“Beneran Non, gak ada apa-apanya kok. Bibi jamin deh!” Bi Titin meyakinkan.
Baiklah mari menikmati!