Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Aku Punya Istri


__ADS_3

Dihyan muncul dari kamar dengan penampilan yang lebih segar.


Seolah hanya dengan iming-iming bantuan dari Reno menjadi semangat tersendiri buatnya. Setidaknya ia memiliki teman, meski hanya sebagai teman curhat.


“Kamu sudah makan?” Dihyan mengarahkan pandangan pada Reno.


“Sudah, ini sudah jam berapa untuk makan siang?” Reno menanggapi dengan cuek.


“Temani aku makan!” Pinta Dihyan dengan suara ketus.


“Hemmm,” Reno singkat, namun tetap mengikuti keinginan bos untuk menemaninya makan. Mungkin dengan begitu akan menambah semangat lain lagi pada Dihyan.


Reno berdiri dari duduknya tak lupa ia menepuk pelan punggung Andra demi memberikan semangat lain pada gadis itu. Menyusul Dihyan menuju ruang makan meskipun perut masih kenyang.


Setelah mereka makan, Dihyan mengajak Reno ke ruang kerja untuk membahas tentang Rima.


“Siapa orang yang kau curigai sebagai dalang kaburnya Rima?” Reno memulai pembicaraan.


“Mama,” Dihyan dengan yakinnya.


“Kenapa?”


“Mama menginginkan kami bercerai malam itu. Saat itu Rima butuh darah, mama sangat menentangku untuk mendonorkan darah pada Rima."


"Kotor katanya." Menunduk, rasanya ada yang menghambat di rongga pernapasan.


"Tapi aku bersikeras dan menyuruh perawat untuk membawa mama pergi."


"Dan kamu tau apa yang diucapkan mama saat meninggalkan kami di RS. Mama bilang, kau liat saja apa yang bisa mama lakukan. Jadi aku yakin ini semua kerjaan mama.”


“Sekarang mamamu lagi di mana?” Reno.


“Di rumah, tapi kata anak buahku mama sering pergi ke luar kota.”


“Kenapa tidak kamu suruh anak buahmu mengikuti kemana mamamu pergi?” Reno.


“Sudah, tapi mama tau aku mengutus orang buat mengikuti dia, beberapa kali mereka ketahuan sama orangnya


mama, dihalangi biar gak bisa ngikutin lagi.” Bercerita pangjang lebar, berharap Reno memberi solusi lain.


“Kamu terlalu kaku." Lugasnya Reno. "Kita harus ganti formasi lama."


"Pertama-tama ganti orang. Kali ini kita harus pakai orang baru untuk mengikuti mamamu. Ikuti secara pelan-pelan! Jika dalam detik berikutnya kita kehilangan jejak biarkan dulu, cari waktu lain lagi."


"Jangan terlalu dipaksakan. Ketika seseorang kehilangan jejak sasarannya jangan panik, karena itu akan membuat kita semakin terlihat.”


“Tapi sampai kapan Ren? Sampai kami resmi bercerai?”


“Untuk masalah perceraianmu, kita harus mencoba mengulur waktu. Apakah mamamu juga yang mengurus perceraianmu?”

__ADS_1


“Sepertinya papa atas permintaan mama, karena papa juga yang dulu mengurus semua catatan pernikahan kita.”


“Kamu bisa minta papamu menangguhkannya kan? Telpon sekarang!” Perintah Reno membuat Dihyan melirik anak buahnya itu.


Di sini siapa yang atasan dan siapa yang bawahan?


Siapa yang memberi perintah dan siapa yang harus mematuhinya?


Bahkan Dihyan tak diberi kesempatan menjawab satu saja pertanyaan, perintah berikutnya langsung meluncur tanpa segan.


Tapi biarlah demi menemukan Rima. Dari pada Reno pergi, tak ada lagi yang membantunya.


“Tidak, aku harus temui papa dulu,” Baru selesai mengeluarkan kata-kata itu Dihyan langsung berdiri meninggalkan Reno sendiri di ruang kerjanya. Melangkah lebar bahkan sedikit berlari menuju keluar rumah.


“Oi sabar! Dihyan!” Reno turut berlari pelan berusaha mengejar Dihyan, dan mampu meraih tangannya ketika sampai di teras rumah.


“Sabar bro, kamu sedang emosi,” Reno.


"Pak Eko, antar Dihyan ke rumah papa!” Reno melihat ke arah Pak Eko dengan tangannya tetap mencengkram tangan Dihyan.


Amarah pria itu belum terkendali dengan baik, dan sekarang ingin mengendarai mobil?


“Baik pak!” Pak Eko.


“Hemmm, tidak usah ngebut pak. Tidak usah dengarkan Dihyan, tetap jaga jarak demi keselamatan!”


“Baik pak!”


“Aku bisa sendiri,” Dihyan menghentakkan tangan agar bisa segera lepas dari Reno.


Ia merasa Reno memperlakukannya seperti anak gadis saja, hanya masuk mobil harus dituntun pula.


“Kamu lagi labil. Biarkan pak Eko yang bawa, atau aku mundur!” Sebuah ancaman yang dulunya tak berharga bagi


seorang Dihyan, namun berbeda dengan sekarang.


Dia butuh dukungan, ia butuh pendamping. Setidaknya dari sahabat mampu memberikan semangat lain pada dirinya.


Mau tak mau iapun mematuhi ucapan Reno, meskipun saat mobil telah menjauhi kediamannya dia tak berhenti mengusik ketenangan pak Eko agar bisa menambah kecepatan. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan papanya.


Setidaknya menunda perceraian saja dulu. Nanti ia akan kembali mencari Rima.


“Pak cepat pak! Lambat banget sih? Pak Eko belum gajian yah? Jadi lesu gitu, gak semangat bawa mobilnya!” Itulah sederet kata-kata yang menghiasi pengdengaraan Pria setengah baya itu.


Hingga mobil tersebut terparkir dengan mulus di depan rumah mewah tempat papa dan mama Cinta menjalani hari


mereka. Dihyan langsung masuk mencari sosok pria yang selalu menjadi idolanya.


“Pa, mama mana?” Ketika dia hanya mendapati papanya.

__ADS_1


“Mamamu sedang keluar kota,” Papa enteng.


“Lagi?” Terlihat raut wajah penuh tanya Dihyan, mendapati kenyataan mamanya semakin sering bepergian tanpa


papanya. Aneh pikirnya.


“Apa mama punya kegiatan lain, atau bisnis baru di luar?”


“Kamu kenapa? Kurang kerjaan? Berapa lama kau tinggalkan perusahaanmu hah?” Bukannya menjawab, papa justru memberikan pertanyaan lain pada putranya itu. Lengkap dengan pandang sinis pada putra sulungnya.


“Pa? Aku mencari istriku pa,” Dihyan merasa terindimidasi.


“Kau masih punya istri?” Papa Cakra.


“Apa maksud papa? Aku punya Rima. Istriku.”


“Bukankah sebentar lagi kalian akan bercerai?” Papa Cakra.


Heh, bahkan belum disebut apa penyebab kedatangannya papa mengungkapkannya sendiri. Berarti benar papa terlibat dengan proses perceraian kami.


“Dari mana papa tau kalau Rima melayangkan gugatan cerai? Papakan yang membantu Rima?”


Tak mendapat tanggapan dari papanya seolah membenarkan keyakinan pada keterlibatan keluarganya tentang


kaburnya Rima.


“Pa, tolong kembalikan Rima!” Dihyan mulai memohon pada papanya, “Pa, tolong pa. Papa mau liat aku  menduda?”


“Kamu terlalu lama menyakitinya, bahkan hampir saja membunuhnya. Papa tidak mau anak papa jadi pembunuh.”


Papa enggan menatap Dihyan.


“Pa, aku gak sampai kayak gitu pah. Aku gak mungkin membunuhnya!”


"Yakin?" Masih dengan tatapan sinis, tak percaya dengan yang baru saja putranya ucap.


“Dia pernah mencoba bunuh diri karena tak sanggup menghadapi kalian, kamu dan adikmu, anak-anak papa dan  mama." Papa berbicara sambil menunduk.


"Mamamu sangat terpukul mengetahui kelakuaan anak-anaknya. Apakah kami salah mendidik kalian? Atau kami punya kesalahan di masa lalu hingga kami harus dihukum seperti ini?” Suara semakin lirih, malu mengakui semua perbuatan itu.


Setitik air menetes dari pelupuk matanya. Tak terbayangkan betapa berat RIma menanggung semua perlakuan anak-anaknya.


“Pa, maafin aku pa, aku janji gak bakalan sakitin Rima lagi. Tolong kembalikan istriku pa!" Dihyan telah berada di depan sang ayah, menggunakan lutut sebagai penopang tubuh.


"Jangan biarkan kami bercerai. Aku janji pa, gak akan mengulanginya lagi. Aku akan buat istriku bahagia, aku janji pa. Tolong kembalikan Rima padaku pa!” Pria itu memohon dengan sangat diiringi dengan derai air mata.


Papa menatap anak lelakinya dengan penuh keheranan. “Apakah kamu mencintainya?”


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2