
“Rima mengajukan gugatan cerai.”
"Hah?"
Kalimat sakti yang mampu membuat angannya sempat melambung.
Ingin tersenyum tak bisa.
Otaknya bekerja.
Posisi RIma tak jauh dari mereka, benaknya.
“Itu lebih baik, sebagai wanita harusnya kamu lebih mengerti, bukannya membantu kakakmu semakin menindasnya. Dan sekarang kalian menginginkan Rima kembali? Untuk apa? Masih kurangkah penderitaan yang Rima alami?”
“Coba bayangkan kamu yang diposisi Rima, dipukul, disiksa oleh suami sendiri. Bahkan untuk matipun tak bisa. Kamu masih punya hatikan?”
Penuturan dengan nada ringan dan pembawaan yang tenang namun bagai gelombang tsunami menghantam jiwa.
Kamu masih punya hatikan?
Pertanyaan yang sangat menyakitkan, terlebih itu terlontarkan dari seorang lelaki pujaan hati. Apakah pria ini ingin mengatakan aku sudah tidak punya hati?
“Kak, ...." Rasa ada yang mengganjal dalam tenggorokan.
"A-aku minta maaf! Aku tau, aku yang salah! Kakakku benar, aku yang menghasutnya agar dia benci sama Rima. Aku salah kak!”
“Aku janji kalau Rima kembali aku juga kembali ke rumah papa, aku gak akan mengganggu keluarga mereka. Tolong bantu kakakku mencari Rima kak! Dia seperti orang gila dapat surat cerai. Dia marah, ngamuk.”
Air kembali membasahi pipinya.
Namun bukan waktunya untuk larut dalam penyesalan. Rasa khawatir pada sang kakak.
Dihyan bisa lepas kendali saat ini.
“Sekarang kakakmu dimana?”
“Di rumah, tadi ngamuk lagi waktu aku tinggal.”
“Lah kenapa di tinggal sendiri? Ayo! Kita ke rumahmu!”
Renopun bangkit dari duduknya dan mulai melangkah keluar namun kakinya terhenti demi menunggu gadis itu yang masih betah pada duduknya.
Ia masih punya hati untuk menggunakan kesempatan ini sebagai peluangnya.
Tenangkan Dihyan dulu lah!
“Kenapa diam?” Reno ketika membalikkan tubuhnya menghadap Andra.
“Tunggu dulu, masih capek!” Andra sedikit jutek.
“Hemm, aku tunggu di luar,” Reno kembali melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah. Di mana ada bapak yang duduk di teras menikmati kopinya di temani biskuit.
“Kalian pacaran?” Pertanyaan itu terlontar ketika Reno baru saja duduk di samping bapaknya.
__ADS_1
“Gak pak, dia lagi pusing. Istri Dihyan baru saja keguguran dan menggugat cerai.” Reno.
“Oh!” Bapak singkat.
“Ayo!” Dianra baru saja keluar mendapati Reno dan bapaknya.
“Ayo, pak kita pergi dulu!" Pamit Reno.
Dianra menghampiri bapak Reno dengan mengulurkan tangannya demi mendapatkan restu dari calon mertuanya.
Eh, salah.
Ralat, ralat! Sang pemilik rumah maksudnya.
Tak lupa Andra mencium punggung tangan lelaki itu. Dan segera berjalan mendekati mobil yang terparkir di halaman rumah.
“Biar aku yang bawa!” Reno mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil Andra.
Terlihat ruang tamu yang sangat berantakan tak jelas saat mereka telah sampai di rumah Dihyan. Salah satu ruangan yang menjadi sasaran amukan sang pemilik rumah.
“Kak!” Andra sambil berlari menaiki tangga. Wajah paniknya tak dapat dia sembunyikan lagi. Gadis itu sangat mengkhawatirkan kakaknya yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan kacau.
"Non!" Panggil bi Titi dan Bi Sumi di ujung tangga dengan wajah pias. Takut namun tak bisa melakukan apa-apa.
Renopun turut berlari menyusul Dianra.
Dianra terus mempercepat langkah menuju ke kamar kakaknya, langsung membuka pintu kamar yang juga sudah nampak porak-poranda itu.
Penampilan ruangan itu jauh lebih parah dari pada ruang tamu yang dilaluinya tadi. Banyak barang-barang yang sudah tidak pada tempatnya dan pecahan benda disana- sini.
Karena ketika dia semakin mendekat Dihyan justru menangkap tangannya dan mencengkramnya dengan kuat.
Sangat kuat hingga membuat gadis cantik itu meringis.
“Kak, sakit!” Hanya kata itu yang berhasil lolos dari mulutnya.
“Sakit? Heh. " Pria itu tersenyum sinis.
"Seperti ini sakit yang Rima rasakan, bahkan lebih. Mau merasakan sakit yang lebih itu?” Dihyan seolah dirasuki setan hingga lupa jika yang dihadapannya itu adalah adik kandungnya sendiri. Mata menyala menandakan amarah bersemayam.
Tangannya bergerak menggapai leher sang adik.
Lupakah ia jika wanita ini adalah adik kandungnya, satu darah, satu kandungan.
“Wow sabar bro!” Reno mendekati Dihyan, menepuk pelan tangan yang tengah mencengkram leher sang gadis.
“Apa lo hah?” Dihyan hanya meneriakinya, setelah itu menghempaskan tangan dengan sangat kuat hingga membuat Diandra tersungkur di lantai.
“Ohok, ohok.”
Terbatuk dengan menepuk-nepuk pelan dadanya sendiri.
Titik demi titik air mata telah membasahi pipi gadis itu. Mendapat perlakuan kasar dari orang yang di sayangi ternyata sakit.
__ADS_1
Sangat sakit.
Bukan hanya menyisakan rasa sakit namun juga rasa kecewa yang mendalam. Dan seperti inilah perasaan Rima sewaktu itu.
Dihyan kembali mengamuk tak jelas.
Berteriak. Memukul. Menendang kesegala arah.
Menggapai apapun yang berada di dekatnya lalu membanting dengan sekuat tenaga, menyalurkan amarah yang merasuk.
Reno mendekatinya dan langsung memeluk tubuh Dihyan dari belakang demi menahannya melakukan hal yang lebih jauh lagi.
“Woi sabar! Sabar!” Reno mengencangkan suaranya.” Kita cari Rima sama-sama! Aku bantu. Aku bantu.”
Dirinya bukan orang yang tak berperasaan hingga membiarkan kekacauan semakin meraja lela.
Dihyan menghentikan kegiatannya, dan melirik pria yang masih memeluknya dari belakang.
“Kita cari Rima sama-sama!" Ulang Reno saat pandangan mereka beradu.
"Aku butuh bantuanmu untuk dapat tau posisi Rima.”
“Kita cari Rima sama-sama!” Reno kembali mengulang kalimatnya membuat Dihyan percaya.
“Kita bicara baik-baik! Kamu perlu tenang dulu. Please tenangkan dirimu!” Reno mulai mengendorkan tangannya yang melilit tubuh Dihyan di saat tubuh itu dirasa sedikit lebih tenang.
Dihyan membuang tubuhnya ke arah tempat tidur. Tengkurap dengan memeluk bantal.
Hampir saja ia menangis, namun tepukkan di pundak membuatnya lebih memilih menahan air mata.
“Kalau kamu mau Rima cepat ditemukan, kendalikan dirimu!” Reno melembutkan suaranya.
“Mandilah dulu baru makan! Aku tunggu di bawah!”
Reno memegang kedua pundak Andra yang masih terduduk guna membantunya berdiri.
Gadis itu meringsut masuk ke dalam pelukannya, terisak sambil berjalan keluar dari kamar Dihyan.
“Mandi, trus makan! Kita butuh tenaga yang cukup untuk menyelidiki satu persatu orang terdekat Rima,” Reno sedikit berteriak di depan pintu memberikan semangat pada Dihyan.
Dihya sempat meliriknya kemudian kembali membenamkan wajahnya pada bantal.
“Kamu gak papa?” Reno mendudukan Andra di sofa ruang tengah. Gadis itu hanya mengangguk kecil, kemudian kembali membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya.
Sementara Reno sendiri berjalan ke arah dapur mencari para art yang sangat dibutuhkan saat ini untuk segera membereskan segala kekacauan yang telah dibuat oleh tuan mereka. Membiarkan gadis itu menata diri.
Tak lupa meminta untuk menyiapkan makanan untuk Dihyan.
Diandra kembali memeluknya saat ia duduk disamping gadis itu.
Sedikit canggung, tapi biarlah. Kedua bersaudara ini butuh dirinya saat ini.
Hembusan kecil terdengar.
__ADS_1
Reno tak menyangka semua seberat ini bagi Dihyan dan Diandra.