Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Mendamba Cinta


__ADS_3

Tepat di hadapan, mentari bersiap meluncur turun, menampilkan warna jingga dan sangat indah nan menyilaukan mata.


Di atas sana, sepesang camar terbang melayang-layang di udara dengan kepakan sayap bebasnya.


Gambaran kisah yang sempurna pada mereka yang tengah di mabuk asmara.


Sementara di sana, di pinggir pantai ramai pengunjung, turut duduk bertiga Leli, Rima dan juga Reno tentunya.


Pria itu siap pergi ke manapun Rima melangkah.


Sekeras apapun suara Leli menghardik dan mengusirnya tak berpengaruh pada pria itu.


Ditambah dengan Rima yang tak ingin terlalu mempermasalahkan letak tubuh pria itu di mana, selama tak mengganggu orang banyak.


Menoleh ke kiri dan kanan. Di beberapa tempat nampak beberapa pasang muda mudi yang duduk berdua menghadap ke arah yang sama seperti mereka, menikmati indahnya sunset hari ini.


Di mana, di sana juga ada segerombolan insan muda yang bernyanyi  dengan kawannya yang lain turut mengiringi dengan petikan  gitar yang menambah seru suasana.


Entah sengaja atau tidak, Reno dan Rima sama tersentak saat ujung jemari yang berada di samping tubuh saling bersenggolan.


Reno tak bergeming, menatap lurus ke depan seolah menikmati. Senyum tertahan di wajahnya. Berusaha menyembunyikan rasa yang meriak dalam dada. Ia bahagia, meski hanya seperti ini.


Perlahan tangan terus bergeser hingga benar-benar menyentuh jemari lentik, putih nan mulus milik wanita yang tengah memenuhi hati.


Hanya meraih ibu jari, lalu memasukkan dalam genggamannya.


Dalam dada mulai bergemuruh tak menentu


Dalam hati kini telah berani membenarkan, jika ia mencintai Rima.


Seorang wanita yang bahkan kini statusnya saat ini tidak jelas.


Menikah atau bercerai.


Benar, ia mencintai RIma dengan segala status yang melekat pada wanita itu.


Perlahan tangannya mulai berani merayap hingga bertumpuk di atas tangan Rima.


Anggaplah ini sebagai penawar rindu pada kasih pujaan hati yang terpendam.


Tatapan tetap lurus ke depan, menampilkan raut wajah datar seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka.


Rima hanya mampu melirik pada tangan yang kini berada dalam genggaman Reno. Kembali mengerjapkan mata setelah melirik sedikit, hanya sedikit. Tak ingin ketahuan jika ia tengah menatap genggaman tangan itu.


Tak ingin menepis, Rima membiarkan saja, mungkin menikmati gengaman tangan pria yang pernah memberi beribu asa.


"Rima, aku mau pipis." Leli berdiri dari duduk, membuyarkan lamunan kedua insan itu.


Pun dengan RIma yang sempat berhenti bernapas, mungkin takut ketahuan.


Tubuhnya sontak bergerak maju, seolah tengah melindungi tangan yang tengah bertumbuk dari pandangan Leli.


"Toilet di mana  sih?" Tanyanya lagi. Leli dengan kepala menoleh ke kiri ke kanan.


"Di masjid pasti ada."

__ADS_1


Reno menunjuk ke arah sana, Masjid Terapung di sana dengan jarak sedikit lebih jauh untuk ukuran berjalan kaki hanya untuk mencari toilet, lumayan buat ia dan rima menghabiskan waktu Sebentar saja tanpa sosok Leli.


lirik kembali mendelik kesal ke arahnya," nggak ada yang lebih jauh apa?


Rena turut berdiri membuat genggaman terlerai.


Rima menunduk dengan membuang nafas berat, ada rasa kehilangan yang tiba-tiba hadir di Sanubari.


meraih tangan, menggenggamnya sendiri dengan tangan yang lain sebagai ganti tangan Reno


" Temani aku!" Lely


"Eh jangan! Aku nggak ada yang temani."


"Terus apa hubungannya dengan kita coba?" Lely.


Reno selalu saja mengekor ke mana mereka pergi.


" Aku nggak tahu daerah sini sumpah!" Reno.


"Bukan urusanku." Leli masih betah dengan suaranya yang menghentak setiap berbicara dengan pria itu.


" Please dong jangan kejam-kejam. Aku cuma minta ditemani, bukan yang lain. Rima saja nggak nolak, kok kamu yang sering judes?" Reno.


"Udah ah, berantem mulu. Nggak bisa apa kita ketemuan terus damai-damai gitu." lagi-lagi Rima menjadi penengah antara keduanya.


"Tau nih. lagian kan kunci mobil ada sama kamu. Aku nggak mungkin lari dari sini." Kekesalan Reno pada Leli nyatanya belum mereda, meski telah mendapat dukungan dari rima.


"Udaaaaahhhh," Rima dengan penekanan, kesal juga lama-lama.


"Kamu ke sana aja, biar kita di sini nungguin." Ucapnya pada Leli sambil menunjukkan masjid yang tadi Reno tunjuk.


Reno Masih Berdiri di hadapan Rima dengan bertolak pinggang, memandangi punggung Leli yang kian mengecil dan tenggelam bersama arus pengunjung lainnya.


"Rima, ayo!" Satu komando dari Reno, saat pria itu menarik pelan tangan Rima berdiri kemudian berlari.


Reno tak tahu ke mana arah pastinya kaki melangkah, yang jelas saat ini ia merasa bahagia meski hanya berlari dengan menggandeng tangan Rima.


Masih dengan berlari, pria itu sesekali menengok ke arah belakang dan lalu tersenyum.


Rima yang tak tahu apa-apa hanya turut tersenyum membalas kelakuan pria itu.


Heels yang terpasang di kaki Rima menjadi satu alasan Reno untuk memperlambat pelarian mereka.


Hingga tiba di Penghujung jalan, tempat di mana pengunjung telah sangat berkurang.


Reno menghentikan langkah diikuti dengan Rima.


Huuufff haaaahhhh...


Mengatur nafas yang masih ngos-ngosan setelah berlari.


Memandang satu sama lain dengan senyuman hingga akhirnya tawa pun pecah tanpa sebab.


Hahahahaha, ketawa keduanyapun menggelegar.

__ADS_1


" Kenapa lari?" Tanya Rima di saat nafas sedikit teratur.


"Nggak tahu pengen aja jauh dari cewek itu. Memang dia siapa sih?" Reno.


Rima terdiam, tak mungkin baginya mengatakan jika Lely adalah teman yang dikirimkan oleh Mama cinta untuk menjaganya.


Mungkin ini salah satu bentuk tanggung jawab mertuanya atas segala tindakan yang dilakukan ke dua saudara itu pada dirinya.


Hening sesaat dengan tangan yang masih bergenggaman.


Kedua memandang jauh ke sana, dengan pikiran yang sama melayang tak menentu.


"Rima." Sapa Reno dengan lembut.


Rima menoleh, menatap Pupil mata yang di dalam sana ada bayangannya.


"Rima." Reno lagi, kemudian menunduk menatap tangan yang masih bergenggaman.


Rima masih diam menanti apa yang akan diucapkan Reno. Entah mengapa hanya dengan menanti kata membuat jantung serasa berdebar kencang.


" Aku mencintaimu." Ucap Reno, masih menunduk menatap tangan yang ia genggam. memberikan sapuan lembut di sana.


Sementara Rima mencoba mengatur nafas yang kembali berat saat mendengar kalimat itu.


Kembali memandang ke arah depan.


Ah tidak mungkin pikirnya. Mungkin hanya halusinasi atau salah dengar.


"Aku mencintaimu Rima." Mengulang dengan mantapnya sambil menatap ke dalam mata wanita yang telah memenuhi hatinya ini.


Saat Rima tak menepis gengaman tangannya, setidaknya ia tahu jika wanita itu menyimpan perasaan padanya. Mungkin sama dengan yang ia rasakan, meski tak tahu berapa besar porsi mencinta itu.


"Kamu pasti tahu itu kan?" Reno.


"Aku mencintaimu sejak dulu. Bahkan sebelum kamu menikah dengan bosku."


"Ibu juga tahu, jika wanita yang kucintai adalah kamu. Kamu boleh tanyakan itu Pada Ibuku."


"Sewaktu kamu ke rumah, aku mengenalkan kamu sebagai calon istriku pada ibu."


Reno terus berbicara dengan tenang tanpa penekanan dan terburu.


Ingin membuat Rima mengerti tentang perasaan yang selama ini mengganggu pikirannya.


Tentang sesuatu yang selalu saja memberatkan nafasnya, terlebih lagi saat mengingat bahwa Rima telah termiliki.


"Jika tidak percaya, tanyakan langsung pada Ibuku."


"Dan aku yakin, kamu juga mencintaiku." Dengan keyakinan yang besar, masih dengan sorot mata yang lembut.


"Kamu juga mencintaiku kan rima? Aku tahu kamu selalu memandangiku lama." Mungkin kali ini Reno berkata penuh pengharapan.


"Rima please, Jawab yang jujur. Kamu juga mencintaiku kan?" Semakin ke sini intonasi semakin ditekan, dengan pengharapan yang penuh.


"Rima, Please jawab Rima!" Tangan yang tergenggam ia goyang-goyangkan, seolah tak sabar menanti jawaban.

__ADS_1


"A-akuuu,...."


...****************...


__ADS_2