
Rumah telah di hias dengan tirai berwarna putih merah mengkilap. Tak lupa rangkaian bunga-bunga yang ada di setiap sudut ruang.
Tendapun tersedia di depan rumah sebagai persiapan kalau-kalau rumah tak mampu menampung tamu undangan.
Hanya sedikit, mengingat hari ini baru acara pertunangan, namun kata sedikit bagi keluarga Pratama mungkin tak bisa di anggap remeh.
Keluarga besar mereka benar-benar besar, belum lagi untuk menampung keluarga dari calon besan.
"Ssstttt, ya ampunnnn, gugup banget." Diandra telah berubah menjadi seorang bidadari setelah mendapatkan sentuhan di wajahnya.
Make up sederhana ala-ala korea seperti keinginannya dengan balutan baju kebaya modern hasil pilihannya bersama dengan Rima.
Kini ia merasa jauh lebih baik setelah kembali menjalin hubungan dengan kakak iparnya itu. Ada yang bisa ditemani curhat, belanja Bahkan ia pun beberapa kali mendapatkan ide dan masukan untuk hari Spesialnya ini.
Selembar kertas yang bertuliskan rangkaian kata yang telah dibuat oleh Diva demi membalas kalimat permintaan Reno untuk dirinya pada acara pertunangan sebentar, telah kusut dan sedikit lembab karena beberapa kali ia remas demi menghilangkan kegugupan.
Tangannya bergerak ke samping menaruh lembaran itu, lalu mengulur ke depan di mana Rima juga telah mempersiapkan diri untuk tampil cantik di acara ini meski hati sedikit tak bersahabat.
" Gugup?" Rima saat merasakan tangan Andra yang dingin dan sedikit basah karena keringat.
" Banget Rima, Ya ampun." Diandra membalas, sedikit membuat tubuhnya gemetaran seolah Tengah menggigil. " Mana ini belum hapal lagi." Matanya melirik ke arah kertas tadi.
Sejak semalam ia berusaha untuk menghapal kalimat-kalimat indah itu, namun yang ada, otaknya justru dipenuhi dengan sosok pria yang akan datang memintanya hari ini. Tampan dengan pemampilan yang sangat memikat dengan kemeja batik senada dengan warna baju yang ia kenakan saat ini. Oooh, ya ampun, entah mengapa kini rasanya semakin tak sabar saja.
"Rima." Diandra menatap dengan begitu dalam. Masih ada sedikit yang mengganjal dalam hatinya.
"Hemmm."
"Kamu beneran gak ada apa-apakan sama kak Reno." kembali mempertanyakan.
Untuk sejenak gadis yang ditanyai berdiam diri.
"Seandainya kamu tahu mimpi-mimpiku bersama kak Reno dulu, apakah kamu akan tetap melanjutkan pertunangan ini?"
Namun sayang Rima hanya mampu bertanya dalam hati.
Baginya terlalu berat untuk menyakiti Diandra kembali meski tak sengaja. Terlalu banyak konflik yang menyakiti hati gadis itu hingga membuat begitu membenci dirinya diwaktu dulu. Seandainya ini kembali terjadi, entah apa yang akan Andra rasakan padanya.
" Jika memang pernah ada...?" Diandra kembali berkata saat melihat Rima terdiam. Hanya menebak saja, namun berharap tebakannya itu salah.
"Aku berharap itu akan menjadi masa lalu untuk kita semua. Kak Iyyan sangat menyayangimu, tolong maafkan semua kesalahan kami dulu."
__ADS_1
"Dan aku harap kita sama-sama bahagia dengan pasangan masing-masing."
Bagi Rima mungkin itu hal mudah bagi Diandra. Tapi bagaimana dengan Rima dan Reno yang lagi-lagi harus mengorbankan diri dan perasaan mereka untuk kedua saudara ini?
Inginnya Rima teriak mengeluarkan semua unek-uneknya.
Sakit!
Sakit sekali di dalam sini.
Tapi apa mungkin akan ada orang yang mau mengerti dengan perasaan mereka.
"Rima."
Suaranya sedikit
"Kamu tenang saja, antara aku dan kak Reno tak pernah terjadi apa-apa kok." Ucapnya menenangkan tak lupa senyum manis Iya Sumbangkan pada sahabatnya ini.
" Berbahagialah Andra, aku tak mengapa!"
Ucapnya dalam hati.
Entahlah, rasanya tak tega untuk kembali menyakiti hati sahabatnya ini.
Apa mungkin suaminya sengaja memilih Diandra agar Rima tak bisa berkutik?
Jawabannya tentu tidak. Dihyan tak terlalu mengetahui masa lalu kedua gadis ini. Di mana persahabatan mereka berakhir hanya karena seorang pria aneh. Dihyan hanya ingin membuat adiknya bahagia dengan menikah dengan pria pujaan hati Diandra sendiri.
"Katanya calon kakak iparku sudah datang!" Diva muncul dengan ponsel di tangan. Kabar yang ia terima dari Armada membuat gadis itu berlari-lari kecil menghampiri keduanya.
"Addduuu, bagaimana ini?" Diandra.
"Apanya yang bagaimana kak?"
"Aduh kamu gak tahu rasanya di posisi ini, nanti deh kalau kamu tunangan pasti deg-degan juga."
"Tenang ah, siap-siap kita tunggu panggilan dari luar!" Rima mulai menepuk-nepuk gaunnya sendiri.
Namun setelah menunggu beberapa lama, panggilan dari luar tak kunjung datang menghampiri mereka, Ada apa gerangan?
Sementara di luar sedikit menegangkan.
__ADS_1
Di sudut sana ketiga pria duduk membentuk sebuah lingkaran agar bisa saling berhadapan. Ada Pak Cakra, Pak Udin dan DIhyan, sementara di belakang Armada siap sedia, ia akan bergerak ketika di perintahkan oleh bosnya.
Raut wajah kedua calon besanan itu terlihat serius dengan kepala yang sesekali manggut-manggut mendengarkan Dihyan yang terlihat berceloteh panjang kali lebar.
"JIka pernikahan tidak kita laksanakan hari ini, mungkin butuh waktu enam bulan lagi untuk itu."
"Banyak proyek yang harus kita kerjakan setelah ini."
"Ya seperti kata papa dulu, ini masalah kita yang berada dalam satu naungan perusahaan. Harus libur dalam waktu yang bersamaan merupaka hal yang langka."
"Memangnya kenapa kalo pernikahan kita adakan enam bulan ke depan?" Papa penasaran kenapa putranya ingin mengubah hari pertunangan ini menjadi hari pernikahan. Terlalu mendadak.
"Kita tidak tahu apa lagi yang akan terjadi enam bulan ke depannya. Gak mungkin kan kita nolak kerja sama hanya untuk pernikahan ini?" Dihyan.
Sementara Pak Udin hanya manggut-manggut, ia tak masalah hari ini pertunangan atau pernikahan. Ia pun sedikit paham kesibukan orang-orang ini, dan rasa bangganya ia putranya juga termasuk dalam orang-orang penting perusahaan.
"Tapi kalau pernikahan hari ini, teman-teman papa bisa demo kalau gak di undang!" Pak Cakra.
"Kan baru pernihakan pah, nanti kita adakan resepsinya.
"Di luar ada Pak H. Adi makmur, kita bisa meminta tolong untuk dinikahkan hari ini, biar saya yang bicara." Dihyan seolah membuat semuanya mudah atau justru kepepet.
"Kamu jangan dulu ambil keputusan sendiri, itu tanya pak Udin juga!"
"Bagaimana pak, apa bapak bersedia?" Dihyan.
Kini pandangan mereka terpokus pada satu orang itu, orang yang sedari tadi memasang indera pendengarannya dengan begitu tajam.
"Saya ikut saja pak. Kalau saya gak masalah kapanpun itu, toh saya bisa tutup toko kapanpun saya mau."
Pak Udin, dengan anggukan kepalanya yang mantap menerima keputusan ini.
"Alhamdulillah!" Seru Dihyan dengan sangat lantang dengan hati yang sedikit plong juga.
Kini kemenangan semakin dekat dengannya. Hanya tinggal menunggu jam berikutnya.
"Sekarang tinggal beritahu Reno saja, biar bagaimanapun dia harus menghapal kabul dulu!" Dihyan.
"Untuk yang satu ini saya limpahkan pada pak Udin saja selaku bapak dari calon mempelai pria!"
Dan ia yakin jika Reno tak bisa berkutik saat harus berhadapan dengan bapaknya sendiri.
__ADS_1