Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bagai Berada Di Dua Dunia


__ADS_3

"Kakak," Teriakan tertahan saat mengingat ia masih berada di rumah sakit tempatnya bekerja.


Memandang lurus pada dua sosok yang berbincang santai. Mendapati sang kakak yang kini sedang menunggunya saat pulang kerja.


Mendengar suara adiknya, Romi berbalik tersenyum. Membalas tatapan sang adik yang penuh rindu.


Tersenyum sekilas pada lawan bicaranya, kemudian kembali menatap Rima.


Dengan high heels dan dan Jas putih kebanggaan dan yang masih terpasang di badan, Rima semakin mempercepat langkahnya, sedikit berlari.


Sementara Romi, membuka kedua tangannya lebar-lebar. mempersiapkan kaki dan tubuh karena sebentar lagi Rima akan menubruknya.


Ugggghhhh, keluhnya diiringi dengan senyuman.


Benar saja, tanpa memperhitungkan bobot tubuh Rima menubruk kakaknya dengan sangat keras. Kedua tangan langsung saja melingkar di tubuh Romi.


"Kangen," Ucapnya saat berada dalam pelukan sang kakak. Mungkin ini waktu yang tepat untuknya mengadu pada keluarga tentang pernikahannya saat ini. Berharap kakak dan ayahnya bisa menerimanya kembali di rumah.


" Waaaah, uang bisa merubah segalanya. Kamu terlihat lebih cantik, nyonya Dihyan." Saat rengkuhan sedikit melonggar, dan Romi tengah memandang wajah Rima yang terlihat lebih glowing.


Padahal semua itu hasil dari kerja keras Rima sendiri, tanpa ada campur tangan Dihyan. Boro-boro, bisa makan di rumah mewah itu saja, saudah membuatnya harus banyak-banyak bersyukur.


" Dihyan pasti memberikan kamu kehidupan yang mewah. terhadap kami saja Dihyan loyal, apalagi pada istrinya tercinta?"


Pelukan terlepas, kening Rima berkerut mendengar peraturan sang kakak.


Dihyan Royal pada keluarganya?


Apakah pria itu sering bertemu dengan keluarganya?


"Kita pulang, kami ada kejutan buat kamu." Mereka mulai berbalik melangkah, dengan Romi yang merangkul pundak adiknya, jalan beriringan.


"Kamu tahu enggak? Aku diangkat menjadi kepala bagian. Dan ayah,...?"


Semakin berkerut saja kening Rima, penasaran. Kakaknya tengah bercerita dengan wajah berbinar dan senyum di wajah.


" Ayah diangkat jadi Manager." Romi dengan penuh semangat.


Rima tersenyum, seolah membayangkan kebahagiaan yang telah diterima oleh Kakak dan ayahnya.


"Kamu tahu kenapa?" Romi melanjutkan ceritanya dengan bahagia.


"Ya jelas itu karena suami kamu, hahaha."


Tertawa dengan lantang. pembicaraan itu membawa mereka hinggap ke parkiran.


"The power of connection." Dengan sisa tawa. Kembali merangkul pundak rima yang sempat terlepas euforia kebahagiaan dan kebanggaan.


Kebahagiaan yang terpancar di wajah kakaknya membuat Rima mengurungkan niat untuk membahas tentang rumah tangganya saat ini. Biarlah dulu keluarganya bahagia.


" Kita ke mana?" Saat mobil telah melaju.


"Makan, buat rayain pengangkatan ayah, sama aku juga." Senyuman itu tak pernah lepas dari wajah Romi.

__ADS_1


Membuat Rima turut tersenyum. Melupakan nasibnya sendiri.


Tak apalah, setidaknya keluarganya bahagia. Kedua orang tersayangnya itu dulu selalu menuruti semua keinginnannya, membungkus kehidupannya dengan kehangatan dan cinta meskipun tanpa sang ibu di sampingnya.


Mobil Berhenti sejenak, mengedarkan pandangan mencari tempat parkir. Pandangan mereka tertuju pada sosok pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam restoran.


Ayah.


Salah satu sosok yang sangat Rima rindukan saat ini. Berdiam diri menikmati pemandangan itu dari jauh. Ingin sekali ia mengejar menubruk dan memeluk sang ayah. namun mereka berada sedikit jauh.


"Kak cepetan!" Baginya, Romi sangat lamban dalam memarkirkan mobil.


"Ck, Iya tunggu bentar juga ketemu." Saat memandang Rima yang tengah menatap sang ayah.


Mobil terparkir dengan sempurna. Tak sabaran Rima meninggalkan kakaknya, berlalu terlebih dahulu seorang diri. Masuk ke restoran mencari posisi ayah.


Bosan mencari tapi tak ketemu. Memilih bertanya pada petugas restoran, bersamaan dengan munculnya Romi dari luar.


"Makanya tungguin!" Romi sambil meraih tangan sang adik yang kini menampakan wajah cemberutnya.


Masuk ke dalam salah satu ruangan. Ternyata ayahnya memilih mengambil private room.


"Ayah." Ucapnya manja sambil memeluk erat sang ayah.


memilih duduk di samping sang ayah, hanya karena ingin bebas memeluk lengan ayahnya.


"Bagaimana kabarmu?" Ayah membiarkan tangannya dikuasai oleh Rima. Tangan yang satu terulur membelai lembut kepala putrinya.


Dan jika ayahnya percaya, apakah semua yang ayah miliki saat ini akan kembali dirampas oleh pria itu?


Rima hanya diam tak menjawab, memilih lebih mengeratkan pelukan di lengan ayahnya.


"Ngapain duduk di situ?" Romi telah berdiri tepat samping Rima itu tempatku kamu di situ.


"Nggak, aku kangen sama Ayah." Alasan ringan namun sangat berarti terasa di kepalanya.


"Sudah! Mau makan gak sih?" Ayah, kembali mengelus kepala putrinya.


Rima tersenyum manja, mulai menjauh namun tak melepas kan tangan sang ayah.


Pintu kembali dibuka menampakan Dihyan luar.


Kenapa pria itu juga ikut?


Rima pikir ini hanya makan malam keluarganya. Tak pernah berharap Dihyan tampil di hadapannya sekarang. Dan mengubah perasaan bahagianya, menjadi kecanggungan.


Terlebih lagi pria itu mempersembahkan senyum yang sangat manis.


"Waaaah, manajer baru kita. selamat buat ayah." Dihyan dan ayah saling berjabat tangan, keduanya pun berpelukan jangan saling menepuk pundak.


"Selamat juga buat Romi." Beralih ke Romi, melakukan seperti yang tadi pada Ayah.


Rima kembali membulatkan mata, saat tangan yang beberapa kali menyerangnya itu mengacak-ngacak lembut rambutnya. Semakin terkejut saja saat wajah Dihyan semakin mendekat dan menempelkan bibir dikeningnya.

__ADS_1


Tidak salah? Dihyan mencium keningnya?


Kesambet apa orang ini? Atau salah minum obat mungkin.


"Maaf mengagetkanmu sayang!"


"Sayang?"'


Apakah Rima tidak salah dengar? Dihyan mengatakan sayang?


Lalu sayang itu untuk siapa untuk Romi atau untuk ayah?


Terlalu banyak pikiran yang menyerangnya secara tiba-tiba hingga tak sadar Romi telah berdiri di dekatnya dan menyenggol nyenggol lengannya.


Tersadar dari lamunan, ternyata Dihyan telah duduk manis tepat di hadapannya.


"Pindah! itu tempat kakak."


Dengan menjadikan bibir, Rima mulai bangkit dari tempat duduknya. Mengitari meja dan duduk di samping suaminya. Hah, suami rasanya ingin muntah saja hatinya mengatakan jika Dihyan suaminya.


"Bagaimana pekerjaan Romi?"Dihyan memulai pembicaraan tentang pekerjaan.


"Emmm, Baik. Aku suka. Terima kasih." Wajah Romi terlihat sangat bersinar, menandakan kebahagiaan tengah menguasai diri.


"Nanti kita cari posisi yang baik lagi, tapi enggak bisa janji yah!"


Kak Romi mengangguk, masih dengan senyum merekah.


"Trus ayah gimana? kantor Ayah yang sekarang yang agak jauh dari rumah nggak papa kan?"


Ayah mengangguk, hampir sama dengan Romi yang memamerkan wajah dengan senyuman. kebahagiaan benar-benar terpancar di kedua wajah pria yang Rima cintai.


Jelas saja, tak mungkin Rima mengecewakan mereka dengan membiarkan keadaan pernikahannya yang sebenarnya.


"Sekarang ayah, rajin banget kak." Romi terdengar semakin akrab. Meskipun Dihyan menikah dengan adiknya yang menjadikan pria itu menjadi adik iparnya. Tapi pria yang berusia 32 tahun itu memang pantas dipanggil kakak oleh Romi yang baru berusia 27 tahun.


"Abis shalat subuh di masjid, kembali masuk ke ruang kerja. Ckckckck, semangat baru ayah!"


Semenjak perusahaan ayah guling tikar, beliau jadi rajin ke masjid.


Apa memang harus ditimpa musibah dulu baru kembali dekat dengan Sang Pencipta?


Rima kembali harus memutar otaknya, demi mengerti kejadian yang sebenarnya.


Kenapa Dihyan harus membantu keluarganya, disaat pria itu beberapa kali menyakitinya.


Tak.


Tak.


Tak.


Makanan telah dihidangkan, sebelum Rima memilih dan memesan menu keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2