Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Ke Mana Rima?


__ADS_3

Ia bisa apa dalam kondisi seperti ini?


Sekarang ia bahkan tak tahu nasibnya setelah ini.


Apakah ia terlalu bodoh, mengikuti perintah para penjahat itu? Belum tentu juga mereka melepaskan Lely setelah mendapatkan dirinya.


Masih dengan tuntunan kedua orang itu, ia memasuki sebuah mobil. Bagaimana ini?


Indera pendengaran menangkap suara pintu mobil yang ditutup setelah tubuhnya mendarat baik di jok mobil.


Bahkan ia merasa saat ini sebuah tangan telah berjalan di kulit wajahnya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?


Ia masih memaksa otak untuk berpikir, namun rasa pening seolah menghampirinya secara tiba-tiba.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"DI MANA ADIKKU S!@L@N!"


Reno terhentak, menjauhkan ponsel dari jangkauan pendengaran. Suara itu menggema seolah hendak memecahkan gendang telinga.


Seseorang dari seberang sana yang ia tak tahu entah itu siapa, berteriak padanya. Tak ingin menggubris, mungkin salah sambung. Namun teriakan itu mampu menghentikan ibu jarinya menekan tombol merah.


"Di mana kau sembunyikan Rima bedebah?" Suara kembali berkumandang di telinga.


Rima.


Nama yang mampu mengalihkan perhatiannya.


Bukang hanya sekedar perhatian, dunianyapun bisa beralih hanya karena menyebut nama itu.


"Rom-Romi? Ke-kenapa?" Tanyanya gugup.


Semoga indra pendengarannya salah menangkap. Semoga kiranya salah menyangka.


"NGGAK USAH PURA-PURA BEG0! AKU TAHU KAMU YANG SUDAH MENCULIK RIMA."


Suara itu kembali menggema, menyambar seluruh otot dan mampu melemahkan kerja saraf-saraf.


"Rima kenapa?" Tanyanya dengan penekanan. Tubuh yang tadinya duduk di depan komputer kini telah tegak berdiri. Panik pastinya.


"NGGAK USAH SOK LUGU BANGSAT. CUKUP KATAKAN RIMA DI MANA!"


Suara itu masih saja besar, dan penuh tekanan.


Reno tak tahu saja kondisi di sana sekarang ini seperti apa. Romi frustasi namun tak bisa berbuat banyak.


Merasa sendiri, ia butuh bantuan namun tak mendapat. Hingga segala jenis umpatan tak mampu mengikis emosi.


Amarah, benci, panik kini bercampur menjadi satu. Sedih pun turut menyertai perasaan yang semakin kacau balau.

__ADS_1


"Maksud kamu apa Rom? Aku nggak ngerti. Tolong bicara yang jelas, jangan pakai emosi!" Masih berupaya meredam rasa kalut yang tiba-tiba menyelimuti.


"Arrrggghhh!" Suara geram kesal menjadi penutup percakapan mereka. Romi tak lagi memberikannya penjelasan lebih lanjut.


Sementara di sini Reno hanya mampu menatap nanar ponsel yang telah menggelap.


Penasaran sudah pasti. Namun ketakutan jauh lebih besar dibanding segalanya.


Berjalan keluar dengan tergesa, ia harus segera menyandangi Romi, meski laut membentang.


Membuka pintu ruangan atasan pun dengan tergesa. Raut kecewa tak mampu menutupi paniknya saat tak mendapatkan orang yang ia cari.


"Bos di mana?" Tanyanya pada sepasang manusia yang duduk bersebelahan di sana.


"Nggak masuk pak. Katanya bilang sama Pak Reno untuk menggantikan beliau bertemu bu siska." Jawaban Ghea ternyata justru semakin melambungkan emosi.


Bukan jawaban itu yang ia inginkan.


Ck, berdecak kesal sambil menutup pintu ruangan dihyan dengan keras. Lagi dan lagi Bosnya itu selalu saja libur sesuka hati.


Mentang-mentang bos, tapi nggak gini juga kali.


Tapi bukan itu yang membuatnya semakin kesal. Niatnya untuk meminta izin dan terbang ke makassar tak bisa ditunaikan.


Kembali meng-otak-atik layar ponsel, nomor panggilan terakhir menjadi sasarannya.


Arrrrggghhh.


Geramnya, melayangkan pukulan menghantam udara kosong.


Tingkah itu tak luput dari pandangan Ghea dan Armada, menimbulkan tanya meski tak menanti jawab.


Beribu kali hendak menghubungi Romi, namun pria itu masih saja mengabaikan panggilannya.


Memaksa diri untuk tetap fokus pada apa yang ada di hadapan saat ini.


Memberikan senyum meski kaku pada rekanan kerja yang harusnya ditemui oleh Dihyan saat ini.


Kembali duduk di balik layar, sambil sesekali mengacak-ngacak rambut sendiri.


Sesekali meremas rambut demi meringankan beban yang terasa menimpa kepala.


Inginnya ia segera berlari ke sana, namun apa daya tanggung jawab dan pekerjaan kini melilit erat di leher.


Rima.


Rima.


Keluar kantor dengan penampilan seperti orang yang baru saja selesai tawuran.

__ADS_1


Simpulan dasi yang harusnya berada di leher kini telah turun di dada dengan rambut yang acak-acakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rima terlonjak kaget ketika mendapati pemandangan dihadapannya. Dada rata nan putih berhias sedikit anak rambut berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Seperti tak asing, dia memberanikan diri mengangkat kepalanya demi menatap sang pemilik dada.


Semakin terkejut mendapati pemilik dada tersebut adalah orang yang paling ia benci. “Hah!”


Sang pemilik dadapun tersadar akibat gerakan kasar yang ia timbulkan.


“Sudah bangun?” Lelaki itu menyumbangkan senyuman manisnya. Bangkit begitu saja lalu meninggalkannya menuju ke sebuah ruangan lain yang diyakininya sebagai kamar mandi.


“Jangan bilang kami telah....?” Tak ingin berharap prasangka buruknya benar-benar terjadi. Batin Rima seolah ingin mengutuk dirinya sendiri. Ingin sekali menghajar lelaki itu.


Dipandanginya bahu mulusnya, benar-benar mulus. Bahkan tali penahan gunung kembarnya tak ada di sana.


“Heh,” Menghela napasnya sambil memejakan matanya sangat erat. Berharap semua ini hanya hayalannya. Ian memberanikan diri mengintip di balik selimut yang kini menutupi dirinya.


Sekali lagi pemandangan itu membuatnya memejamkan matanya sangat erat. Tubuhnya polos, bahkan sangat polos hingga ke ujung kaki.


Keadaan itu seolah semakin memperkuat prasangka buruknya tentang apa yang telah terjadi pada mereka. Rasa perih di area bawah semakin menguatkan dugaan yang masih ingin ia sangkal.


Ia terdiam untuk beberapa waktu lamanya, pandangan lurus menembus batas, mengingat semua yang terjadi padanya sebelum kesadarannya hilang.


“Bangun, mandi! Trus shalat! Aku tunggu!” Meskipun kalimat itu sangat lembut, namun tidak bagi Rima. Kalimat mampu menusuk dada demi mengingat apa yang telah diperbuat oleh lelaki itu.


“Apa yang kamu lakukan padaku?” Rima dengan nada dingin dilengkapi dengan lirikan mata yang sangat tajam.


"Setelah memperk0s@ kamu mau menghadap Tuhan?"


Hehehe, tersenyum sinis dan kata-kata kesakitan yang Terendap dalam hati.


Dihyan tersenyum sambil tetap melanjutkan kegiatanya. Memakai baju koko dilengkapi sarung dan peci di kepalanya.


Pemandangan yang sangat langka bagi Rima.


“Maaf aku tak bisa menahan diriku! Kalau begitu aku shalat sendiri saja!” Meskipun mendapat penyerangan batin, namun lelaki itu tetap nampak tenang.


“Kamu sadar apa yang kamu lakukan itu dosanya lebih besar karena merugikan orang lain?”


“Dosa? Sebelah mananya yang dosa? Menyentuh istri sendiri mana ada dosanya?” Dihyan masih dengan santainya, bahkan ia tersenyum kearah Rima dan menggelar sajadahnya sedikit lebih jauh dari tempat tidur.


Jengkel, marah, kecewa itulah yang kini Rima rasakan. Membalikkan tubuhnya, tengkurap. Memukul-mukul kasur empuk itu disertai dengan kaki yang menendang-nendang seolah itu ingin menyalurkan seluruh perasaannya. Ingin rasanya menangis namun mungkin tak cocok untuk saat ini.


Entah Berapa lama wanita itu terdiam larut dalam lamunannya sendiri. membiarkan pria di sana melakukan ibadahnya seorang diri.


Hingga tanpa disadarinya Dihyan telah duduk di sampingnya mengulurkan tangan, mengelus lembut rambut Rima, “Maafkan aku, tak bisa mengendalikan diri!” Lelaki itu masih bersikap lembut meskipun beberapa kali tangannya di tepis.


“Apa yang kau inginkan?” Rima.

__ADS_1


__ADS_2