
Rima mulai mengerjapkan mata saat kesadaran telah Ia raih. Perut masih sedikit lebih berat, ternyata ada sesuatu yang ikut menumpang di sana.
Matanya mulai mengikuti asal mula beban yang berada di atas perutnya, tubuh Dihyan menempel di sampingnya. Namun yang membuat ia bingung pria ini juga mengenakan kostum sama seperti dirinya, pakaian seragam pasien.
Samar-samar ingatannya bergulir kembali ke belakang, saat di pertengahan antara sadar dengan tidak suara Divany mengalun bagai lagu pengantar tidur untuknya.
Ucapan lirih yang bercampur dengan isak tangis terdengar sangat memilukan. Permintaan seorang adik untuk kebahagiaan sang kakak yang menyakitinya.
" Kak Rima, Tolong maafkan kakakku. Kak Dihyan nangis-nangis di luar, terus pakai benturin kepala di dinding segala lagi."
" Kalau terus begini, kakakku mungkin bisa kembali depresi."
Membenturkan kepala menjadi kata kunci bagi Rima untuk mengecek keadaan kepala Dihyan saat ini, namun engganpun sebab tak ingin mengganggu tidur pria itu.
Kata depresi menjadi kata kedua yang membuatnya penasaran, meski pernah mendengar cerita dari para bibi yang ada di rumah. APakah benar akan kembali karena keadaan ini?
Menghembuskan nafas Sedikit keras saat ia kembali pada dunia nyatanya, menoleh ke samping menatap objek yang menjadi permohonan adik iparnya. Wajah pria yang berstatus sebagai suaminya.
Tampan, meski tak setampan Reno. namun pria ini memiliki banyak kelebihan lain daripada Reno.
Kekayaan dan jabatan, hanya segelintir Namun mampu membawa 100 wanita di sekelilingnya.
Dalam hati sempat merutuki diri, tentang betapa egoisnya Ia saat ini.
Rasa cintanya pada Reno yang sungguh sangat luar biasa, dan rasa ibanya pada pria ini seolah tak ingin melepaskan salah satunya.
Untuk mengikhlaskan Reno demi Dihyan, rasanya Rima belum mampu.
Jemari lentiknya menggenggam tangan dan mulai mengangkat tangan itu dari atas perutnya, namun yang ia dapatkan pelukan erat dari sang pemilik tangan.
" Sesak," Ucapnya sambil menepuk pelan lengan Dihyan.
Dihyan sempat mengintip dari kelopak matanya sebelum memindahkan tangannya ke atas, hanya demi memberi sedikit kelegaan pada sang istri.
Rima kembali mengangkat tangannya, hendak beranjak dari sana.
" Mau ke mana?" Dihyan dengan suara seraknya, matapun mulai mengerjap.
" Pipis!" Ucapnya meski tubuh masih tertahan karena lengan itu.
" Tunggu aku antar!" Dihyan segera turun dari ranjang Brangkar, melangkahkan kaki sedikit lebih cepat berputar mengelilingi ranjang.
" Ayo!" Ucapnya dengan tangan terulur di hadapan Rima.
Tak segera meraih,Rima justru terdiam menatap bergantian pada mata lalu pada tangan yang terulur.
" Aku bisa sendiri!" Ucapnya dengan kepala yang menunduk.
" Aku cuma mau bantuin Rima!" Belum apa-apa nada pria itu sudah memelas saja.
__ADS_1
Rima mulai menyambut, perlahan menurunkan kaki.
Dengan bantuan Dihyan yang merangkul bahunya dan satu tangannya menyeret tiang infus, menyeimbangkan langkah di antara keduanya.
" Bisa buka celananya? Sini!" Belum sempat menjawab pria itu kembali mendekat berdiri tepat di hadapan Rima.
"Nggak usah ih, aku bisa sendiri kok!" Segera menepis tangan yang telah berada di kedua panggulnya. Pikirannya tentang Dihyan justru telah melanglang buana.
Dihyan terdiam di tempat, namun pandangan matanya masih tetap ke arah sang istri, menanti.
" Udah bapak keluar aku mau pipis?"
" Iya tahu, Aku cuma mau temani!" Dihyan, meski bingung dengan panggilan Rima padanya tadi namun rasanya ia belum mau bertanya lebih jauh. Hanya tak ingin menimbulkan perkara lain setelah ini.
" Nggak bisa keluar kalau diliatin!" Rima mulai memelas, rasanya telah berada di ujung tanduk.
" Semuanya kan udah dilihatin, udah tahu nggak usah malu juga!"
" Aduh please, udah kebelet ini!" Rima bahkan menekan perut bagian bawahnya, wajah wanita itu telah cemberut saja.
" iya iya aku keluar, kalau sudah panggilin nanti aku masuk lagi." Dengan berat Dihyan mulai melangkah keluar Padahal niatnya hanya ingin menjaga agar istrinya baik-baik saja.
Telah berapa lama Dihyan berada di luar, ia pun tak lagi mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Berinisiatif membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, rasa was-was bahkan telah menyerang.
Piuwit.
Suara itu justru menyambutnya saat baru saja membuka pintu. Cukup besar untuk terdengar dalam satu ruang kamar perawatan itu.
Meski tak beraroma, Dihyan yakin kasih itu berasal dari tubuh sang istri.
Kendak bilang apa ia sekarang? Bingung jika harus berkata takut akan membuat Rima tersinggung.
"A-a-aku ta-ta tadi nggak denger suara air."
"A-a-ku ta-takut kamu kenapa-napa."
"Ja-jadinya aku langsung masuk saja!"
Ucapnya dengan terbata, mata beberapa kali mengerjap demi mengatur perasaan. Sekuat tenaga ia menahan agar tak tertawa meski sangat ingin.
Rima hanya diam, masih memandangnya melalui pantulan cermin. Hendak berkatapun ia tak tahu mau bilang apa.
"A-a-aku keluar!"
Selanjutnya meninggalakan Rima yang masih terdiam dengan perasaan yang entah.
Sementara di luar, Dihyan bahkan membungkukkan badan demi menahan tawanya. Mulut terbuka lebar, meski tak bersuara. Tubuhnya bahkan itu bergetar hebat.
Cantik-cantik ternyata bisa k3ntvt juga!
__ADS_1
Tak terasa air mata tercipta melalui tawa yang ia tahan ini.
Oh ya ampun. Bagaimana bisa begini?
Lima tahun hidup bersama dengan Nindy dulu, Ia bahkan tak pernah mendapati Nindy buang angin sebesar ini.
Dihyan telah bergantian dengan Rima menggunakan kamar mandi setelah memastikan terlebih dahulu wanita itu telah nyaman di atas ranjang.
Kembali naik menempati ranjang berdua.
"Kamu lapar?" Dihyan bertanya setelah menatap jam dinding kini menunjukkan pukul sebelas siang. Mereka berdua bahkan tak ada yang sarapan.
Rima menganggukan kepala, benar Ia sangat lapar saat ini bahkan perut rasanya telah melilit. menu sarapan yang disediakan rumah sakit telah dingin meski tak tersentuh. Sementara belum ada makanan lain di sana.
Pintu berderit-, dan terbuka menampilkan Divany yang datang seorang diri dari luar.
"Loh Kamu nggak sekolah Dek?"Dihyan.
Padahal sedari tadi Iya menatap penampilan anak SMA itu yang Tengah menggunakan seragam putih abu-abunya.
" mau jagain Kakak sama kakak iparku yang lagi sakit."
Gadis itu melangkah masuk, terus mengambil tempat di sofa, duduk dengan memainkan ponselnya.
" Mama sama papa mana Dek?" Dihyan.
" Mama ke rumah kakak, buat ambil kebutuhan lain. Papa ke kantor." Kemudian kembali fokus dengan ponselnya. Posisi sangat nyaman dengan punggung yang merebah dan kaki yang ikut naik ke atas sofa.
" Dek, Boleh request nggak?"
Dihyan segera menahan tubuh Rima yang hendak bangun dari pembaringan.
"Pelan-pelan!" Dihyan.
"Mau request apa kakak ipar?"
Rima meringis kala mendengar panggilan dari adik iparnya itu. Mereka tak terlalu akrab sebenarnya. Bertemupun jarang.
Ia hanya terkurung dalam sangkar emas Dihyan, dan pria itu sebelumnya tak pernah berusaha mengakrabkannya dengan keluarganya.
"Kok diam kak?" Divany menoleh menatap ke arahnya.
"Kamu mau pesan apa?" Dihyan.
"Aku cuma mau nitip Skin Care- ku yang ada di kamar." Sambil tersenyum menatap ke arah kakak beradik itu bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yeeee, berhasil up dua bab.
__ADS_1
Mana, mana?
Siap diajak ke warung sebelah buat beli kopi.