
Benar Rima telah melambung ke dunia mimpi.
Tidur membelakangi pintu, hanya nampak pundak putih mulus yang berbalut tali satu.
Dihyan menatap ke arah nakas, terlihat baju tidurnya telah tersedia di sana.
Ia tersenyum miring, tak biasanya Rima mau memperhatikan kebutuhannya hingga menyiapkan baju tidurnya.
Mungkin benar, pasangan yang tengah melakukan kesalahan akan menutupi kesalahannya dengan berbuat baik pada pasangannya.
Masih dengan gerakan perlahan, Dihyan mulai membuka kancing kemejanya.
"Egggh." Rima melenguh, tubuh itu berbalik ke arahnya.
"Kamu sudah pulang?" Dengan suara serak Rima menyapanya.
"Hemmm," Tangan yang tadinya bekerja berhenti seketika, membiarkan dua kancing baju yang terbuka.
Dihyan memilih membalikkan badan, memunggungi Rima, Dihyan tak ingin amarahnya terpancing saat bertatapan dengan Rima.
"Sudah makan?" Rima mulai bergerak membangunkan diri dari pembaringan, duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menatap ke arah Dihyan.
Lagi ia tersenyum miris saat mendapat perhatian dari Rima seperti ini. Jelas saja wanita itu tak ikhlas, wanita itu hanya sekedar mencari kelakuan baik.
"Hemmm," Dihyan masih menjawab dengan gumaman. Mulai melangkahkan kaki ke arah kamar mandi.
"Dari mana?"
Kini ia tertawa saat mendengar pertanyaan itu, menghentikan langkah.
"Kenapa?" Dihyan dengan nada Ketus dan sinis.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kamu dari mana?"
"Aku?" Rima menunjuk pada dirinya sendiri.
"Aku dari tadi pulang kok."
Rima menjawab dengan sangat tenangnya meskipun rasa penasaran ada. Kenapa dihiana mempertanyakan hal itu padanya.
Sedikitpun ia tak merasa curiga dengan sikapDihyan saat ini.
" Siang tadi kamu ke mana? Sama siapa?"
Kini kakinya melangkah ke arah sisi ranjang yang di tempati RIma.
Bersamaan dengan degup jantung yang mulai tak beraturan.
Sebisa mungkin ia menahan amarah, namun tak bisa.
Rima yang tak henti menanyainya sepulan kerja nyatanya justru mampu membangkitkan amarah yang sedari tadi coba ia redam.
"Kamu kenapa?" Rima mulai menciut saat melihat wajah Dihyan yang mengeras, lengkap dengan tatapan tajam menghunus ke arah jantung.
__ADS_1
"Kenapa?" Kata itu terdengar menakutkan pada wanita hamil itu.
Rima memeluk perutnya sebagai perlingdungan. Biar bagaimanapun ketakutannya pada DIhyan belumlah hilang begitu saja.
Rasa sakit saat janin yang dulu menetap dalam rahimnya harus direnggut paksa kembali terbayang. Rasa sakit yang sangat menyiksa, bahkan dapat membunuh sebagian kaum hawa.
Rima menutup mata, saat tangan Dihyan telah berada di pundaknya, rasa tertarik membuatnya berdiri dari duduknya.
Kini mereka berdiri saling berhadapan, dengan tatapan DIhyan yang semakin menyala dan menghujam.
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu Rima?" Dihyan dengan penekanan agar suaranya tak menggelegar.
"Aku kenapa?" Rima memaksakan mata terbuka menatap ke arah Dihyan meski nyali menciut.
Rasanya ia tak memiliki satu kesalahan. Rencana bersama Reno masih sebatas wacana semata.
Pertanyaan b0d0h itu justru semakin menyulut amarah DIhyan. Apakah selingkuh tidak menjadi sebuah kesalahan?
"Kamu berdua dengan Reno di belakangku. Apa yang telah kalian lakukan hah?" Akhiranya amarah yang sedari tadi coba ia kendalikan nyatata tak mampu lagi ia bendung. Meluap dengan suara yang menggelegar.
Dengan kedua tangannya berada di pundak Rima, sembari mengguncang-guncang kecil.
Mungkin kecil bagi seorang Dihyan, tapi bagi Rima itu adalah guncangan yang luar biasa Untuk tubuhnya.
"Aku tidak memberikan kamu kebebasan untuk menyakitiku."
" Kenapa Rima? Kenapa kau lakukan ini?" Ucapnya penuh penekanan.
Hah- hah-hah.
"Apa mungkin anak itu bukan anakku, hah?"
Sedikit hempasan membuat tangannya terlepas dari kedua pundak Rima.
Dihyan tercengang saat Rima terduduk dengan kasar di tempat tidur karena ulahnya barusan.
Kembali tenang saat melihat mata Rima Tengah memandangnya dengan sinis. Setidaknya Rima dan kandungannya baik-baik saja, pikir Dihyan.
Berjalan ke pintu meninggalkan Rima. Dengan bantingan pintu yang kembali membuat Rima tersentak karena suara nyaring.
Rima hanya mampu terdiam dalam duduknya. Menahan suara tangis yang mungkin akan terdengar oleh orang lain. Ia tak ingin mengganggu para penghuni rumah yang kini tengah beristirahat.
Iapun tak ingin jika masalahnya dengan Dihyan sampai diketahui oleh pada Art rumah ini.
Dengan air mata yang membanjiri pipi, Rima menggelengkan kepala perlahan namun cukup lama.
Bagaimana bisa Dihyan menghinanya serendah itu.
Tak bisa dipungkiri, jika ia mencintai pria lain selain suaminya, Reno.
Namun ia masih punya harga diri.
Terlalu sayang jika harus mengorbankan kehormatan demi cinta yang belum tentu bertemu pada ujungnya.
__ADS_1
Cintanya pada Dihyan yang hanya setipis kertas, begitu mudah disobek dan dihempaskan oleh Reno. Namun bukan berarti ia menyerahkan tubuhnya begitu saja, pada orang yang tak berhak.
Dihyan memilih ke kamarnya. Lebih tepatnya kamarnya bersama Nindy.
Harusnya ia mendatangi kamar ini sedari tadi. Mereka harus berpisah terlebih dahulu demi menyurut emosi.
Jika sudah seperti ini? Ia pun tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Mungkin ia harus siap menghadapi kemarahan Rima. Didiamkan, diabaikan atau lebih parahnya lagi dihajar.
Meraih sebuah bingkai yang bergambar yang terduduk di atas nakas samping tempat tidurnya foto Nindy tengah tersenyum dengan topi lebar yang digunakan di kepala.
Berjalan ke depan hingga tepatnya di depan bingkai yang lebih besar melekat di dinding. Foto pernikahannya dengan Nindy.
Senyum sepasang pengantin baru itu terlihat sangat berbinar.
Sangat cantik dan tampan. Jelas saja karena hari itu hari yang sangat membahagiakan bagi mereka.
Mungkin rindu tengah bertamu.
"Nin, lihat nin!"
"Sekarang aku sendiri. Tak ada lagi yang mau bersama aku dengan tulus." Satu tangan terulur mengusap pelan foto besar. Nindy yang sedang menggunakan gaun pengantin dengan ekor yang menjuntai panjang hingga menyapu lantai.
Senyum wanita itu terlihat sangat manis ke arah kamera. Tangan kanan Nindy yang memeluk lengannya seolah menandakan wanita itu enggan melepas dirinya.
Dan saat itu ia merasa sangat dibutuhkan, berjanji dalam hati agar tetap memberi kebahagiaan pada sang wanita yang paling ia cintai itu. Berjanji akan melindungi wanitanya dengan segenap jiwa dan raganya.
"Kau lihat!" Dihyan menolehkan kepala ke arah pintu, seolah menunjukkan sesuatu di sana.
"Wanita pilihanmu tengah menghianatiku."
"Dia menjalin hubungan dengan Reno di belakangku."
" Nindy, kembali Nindy!"
"Aku sendiri."
Bingkai foto yang tadi diambilnya, kini tengah berada dalam dekapan eratnya. Seolah foto itu mampu menghapus atau setidaknya mengurangi rasa rindu.
"Apa aku harus menyusulmu secepatnya?"
"Bawa aku bersamamu sayang! Kita akan bahagia di sana."
"Aku lelah Nin."
"Tak ada yang mau mengerti aku selain kamu."
"Tak ada yang mendampingiku dengan tulus saat ini. Semua meninggalkan aku Nin."
Sampai di titik ini, mungkin ia merasa putus asa.
Seandainya kedua orang tuanya mau memaafkan dan menerima pengampunannya, mungkin ia tak kan serapuh ini.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, tubuh itu luruh di tempat. Tepat di depan foto pernikahannya dengan Nindy.
"Nin, pulang Nin!" Pintanya entah pada siapa.