Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Tak Ada Baiknya


__ADS_3

“Aku cape’,” Rima lirih.


Dengan menundukkan kepalanya, hingga suaranya hanya terdengar oleh sang suami yang berada tepat di sampingnya.


Ia sudah jengah berada dalam forum tak berguna ini menurutnya.


Meskipun DIhyan tak menjawab, namun ia telah tahu apa yang Rima inginkan.


"Baiklah. Saya ucapkan terima kasih atas itikad baik bapak yang telah mau menemui istri saya secara langsung guna meminta maaf."


Ia tak ingin menyinggung wanita itu meski hanya ingin melirik sepintas saja, ia masih berusaha menjaga perasaan Rima yang dianggapnya tengah cemburu.


“Emm Pak Dihyan, kami harap kita masih bisa melanjutkan kerjasama ini.” Pak Jaya penuh pengharapan. Beliau sudah bisa menebak jika pasangan suami istri itu akan pamit sebentar lagi.


“Untuk masalah itu, anda bisa berbicara langsung  dengan pemimpin tertinggi kami.” Kepala sedikit tertunduk.


Sopan masih ditunjukkan meskipun sebenarnya tak ingin melanjutkan hubungan dalam bentuk apapun dengan kedua orang itu.


Meyakini jika gadis itu bergerak karena permintaan dari atasannya, itu pasti.


“Beliau masih ada di sini. Dan anda bisa langsung membicarakan hal itu pada beliau.” Kembali menundukkan kepala setelah menatap sang ayah.


Dihyan segera berdiri, tangan masih menggenggam tangan Rima yang telah beberapa kali memutar pergelangan


tangannya guna melepas tautan.


“Kami pamit dulu pak! Ayo!” Ucapnya sambil menarik pelan tangan istri.


Tangan Dihyan berpindah ke pinggang sang istri, merangkul. Hingga menutup pintu ruang.


Mereka masih berjalan beriringan masuk ke dalam mobil.


“Aggghhhh,” Dihyan hanya mampu mengeluh dan memeluk perutnya sendiri setelah sikut Rima menghantamnya dengan lumayan kuat.


Rima merasa jengah dengan Dihyan yang seolah tak melepasnya. Membuat setiap pergerakannya serasa tertahan.


Memiliki suami yang posesif tapi tak setia? Sama aja bo’ong!


“Rima.” Panggilan suaminya bagai angin lalu.


Berusaha mengambil duduk menjauh dari suaminya. Yang ada justru ia harus terhimpit di dekat pintu karena Dihyan yang terus mendekat dan mengikis jarak antara mereka.


Bibir melengkuk ke bawah, dengan bibir bawah yang lebih maju membuat dagu berkerut.

__ADS_1


Sorot mata begitu sendu, tangannya bergerak membelai lembut kepala Rima yang masih setia dengan diamnya.


Wanita ini benar-benar telah mengubah hidupnya menjadi sosok lemah, tak bisa berbuat apa-apa.


"Maafkan aku!" Ucapnya untuk kesekian kalinya. Bukan baru kali ini ia mengucapkan kalimat itu. Tapi telah beberapa kesempatan dan kesalahan yang ia perbuat lalu setelah memohon ampun pada wanita cantik ini.


Sadar diri jika ia telah beberapa kali membuat wanita ini kecewa.


"Kamu boleh minta apapun,"Ucapnya mampu membuat istrinya memalingkan wajah guna menatapnya.


Tersenyum saat tatapan mata mereka bertemu.


"Apapun?" Ucap Rima.


Meskipun tanpa ekspresi, setidaknya Rima mau berbicara.


"Apapun. Asalkan kau mau memaafkanku." Dihyan dengan tersenyum. Alasan kini berpindah ke wajah istrinya.


" Apapun itu?" Rima kembali penuh penegasan.


Dihyan terdiam. Takut, bisa saja ia tak bisa memenuhi permintaan Rima.


" Aku minta cerai." Ucap Rima setelah beberapa saat suasana dalam mobil menjadi hening . Tak perlu menunggu


" Kecuali itu." Jawaban Dihyan dengan tegas. Matanya yang tadi sendu kini menatap tajam. Amarah begitu mudah terpancing dengan kata itu.


Menjauh sedikit lalu menarik Rima hingga jatuh berbaring berbantalkan pahanya.


Menahan pergerakan Rima yang sedikit memberontak ingin lepas.


"Aku bisa melakukan hal gila untuk menahanmu." Bisiknya ditelinga Rima. Terdengar sedikit menakutkan dengan satu ancaman saja. Sugguh ia telah menemui jalan buntu menahan untuk tetap berada di sisinya.


Ia butuh Rima.


Terlebih lagi anaknya, Azka butuh Rima.


Rima melemah, buang-buang tenaga saja untuk meladeni suaminya ini. Terlebih ruang gerak di Mobil ini sangat terbatas. Membiarkan suaminya membelai lembut rambutnya.


Di dalam kepalanya mulai memikirkan cara dan teman yang bisa membantunya melayangkan gugatan ke  Pengadilan Agama.


Tak perlu meminta bantuan lagi pada mertuanya. Untuk saat ini ia jadi tidak bisa mempercayai keluarga suaminya lagi.


Dihyan merogoh saku celana, mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Tambahkan pengawal untuk istriku."


Mendengar kalimat itu Rima langsung bangkit, menatap tajam kearah suaminya yang sedang menelepon.


"Mulai sekarang! Lacak keberadaan ku dan ikuti kami!" Dihyan tegas masih dengan ponsel yang berada di dekat telinga.


" Apa yang kamu lakukan?" Ucap Rima dengan nada mulai naik. Begitupun dengan amarahnya.


Tambahan pengawal?


Itu artinya pergerakannya semakin terbatas.


Dihyan kembali mengulurkan tangan ke wajah istrinya, "Semakin kamu minta perpisahan, semakin aku menahanmu." Tangannya Terhempas secara kasar oleh Rima.


"Aku sudah memberimu kebebasan RIma. Tapi apa yang kau lakukan? Kamu justru terus saja ingin pergi dariku. Apa kamu harus hamil lagi untuk tetap di sampingku?"


"Aku tak ingin kedua orang tua Azka berpisah, itu akan berpengaruh pada mentalnya. kamu tahu itu kan?"


"Harus bagaimana lagi aku membuktikan jika aku tak pernah menduakanmu?"


"Aku tak pernah menghianatimu Rima. Meski dulu aku begitu menyiksamu."


Dalam hati, RIma justru mencibir. Hah, tak pernah katanya?


Bahkan sejak ke datangannya dalam kehidupan pria ini, dirinya bahkan telah menjadi yang kedua.


Dan lagi, bukan hanya menyiksanya di waktu dulu, tapi hingga sekarang pria itu masih menyiksanya, mengkekang,  dan mengatur hidupnya. Pokoknya segala jenis ketidak bahagiaan.


Yang jelas, Dihyan tak ada baik-baiknya di mata Rima.


Dihyan dengan tangan yang kembali terulur menyentuh pipi Rima.


Kali ini tak ada penolakan, hingga membuat Dihyan kembali mendekat pada istrinya.


Sayangnya, saat ia telah berada tepat disamping Rima, wanita itu justru menghadiah-kan siku lancip dengan keras tepat di perutnya.


"Aauggghh, ..."


Dihyan hanya mampu mengaduh sambil memeluk tubuhnya sendiri. Lebih tepatnya memegang perut yang terasa sakit. wanita itu memiliki kekuatan yang tidak biasa.


" Aku ingin belanja." Rima memaparkan keinginannya yang kedua.


Tak ada alasan untuk Dihyan tak mengabulkan permintaan sederhananya ini. setidaknya ia bisa melepas rasa kesalnya.

__ADS_1


Menghabiskan uang pria itu, menjadi mimpinya saat ini. Setidaknya tak ada uang untuk gaji para pengawal yang ditugaskan menjaganya.


__ADS_2