
Saat Reno tengah sibuk menelpon, Rima hanya bertugas berdiam diri, mengamati Reno dari samping. Pria yang beberapa kali membantunya.
Seorang pria yang diutus Tuhan Mungkin memang khusus menjadi pahlawannya. Reno adalah heronya.
Ah, Andaikan saja Tuhan mau menjadikan Reno sebagai suaminya, mungkin ia akan sangat bahagia.
Dan mereka akan dikaruniai anak-anak yang lucu, tampan dan cantik. Perpaduan dirinya dan Reno.
Tapi apakah Reno masih mau menjadi suaminya, saat tahu jika dirinya kini bukan lagi seorang gadis?
Pc, tak mungkin Reno tak tahu tentang hal itu. Dianya saja yang bermimpi terlalu tinggi.
" Baru pulang?" Ah apa yang jadi pikirannya saat ini, memimpikan Reno?
Rima mengangguk, kembali menundukkan pandangan dari sesuatu yang seolah menyilaukan mata.
Dan kini Reno yang menatap dalam Rima, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki membuat wanita
itu salah tingkah.
Pandangannya terpaku pada bibir Rima, ia ingat pernah mencuri sedikit warna merah dari sana hingga membuatnya tersenyum.
" Lembur?" Tanyanya lagi meski mata seolah tak ingin terpejam.
" Tadi ada kecelakaan, banyak korban, jadi kita tinggal." Jawabannya masih dengan menundukkan pandangan.
Jika dulu, Ia dengan sangat percaya diri menegakkan kepala di depan para pria, Tapi kini berbeda saat ia berhadapan dengan Reno, ia tak berani.
Lagi Rima hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu.
"Ya udah, Ayo antar aku antar pulang. Kamu pasti capek."
"Motorku?" Kali ini Rima mengangkat wajah. Sejurus kemudian pandangan mereka bertemu.
Beruntung, Reno sigap mengendalikan raut wajah, tersenyum.
" Kita titip sama abang itu aja?" Reno menunjuk sebuah warung dan beberapa orang yang masih terlihat duduk saling berhadapan, mungkin sedang bermain kartu.
Menitipkan motor Rima, dengan beberapa lembar uang yang Reno keluarkan sebagai ucapan terima kasih kepada bapak-bapak tadi.
Hingga orang yang di sebut sebagai bengkel langganan kantornya datang dan membawa motor Rima.
“Ayo!” Ajak Reno.
“Aku naik taksi saja kak!” Rima benar-benar tak mampu berlama-lama dekat dengan Reno.
“Ayo ah, dah malam,” Tanpa menunggu persetujuan Rima, Reno menarik tangannya dan membawanya ke mobil, tak lupa melindungi kepala Rima saat akan masuk ke dalam mobil.
Canggung pastinya,
Ck, perasaan macam apa ini ?
Beberapa kali Rima menggelengkan kepala, hanya demi menetralisir jantung yang rasanya berdebar kencang saat berdua dengan Reino seperti ini.
Cinta, jangan sampai.
__ADS_1
Statusnya saat ini, mengharamkannya mencintai pria lain.
Mungkin saat ini Reno hanya menganggapnya sebagai istri dari atasannya, hingga harus memperlakukannya dengan baik.
Tak tahu saja tentang perasaan Reno saat ini yang justru mengingat saat mereka berada dalam satu mobil seperti sekarang ini. Reno bahkan tersenyum.
“Kenapa?” Rima saat menyadari Reno sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Kamu ingat, waktu aku jemput kamu di rumahmu kan? Waktu aku suruh kamu pindah ke depan.” Jawab Reno jujur
membuat Rima semakin salah tingkah.
Karena saat itulah Reno mendapatkan warna bibirnya.
“Gak usah disebut juga kali!”
“Dah ingat?” Ucap Reno tersenyum sambil menunduk mencoba melihat raut yang semakin salah tingkah itu.
“Hahahaha,” Reno tertawa, tapi dalam hatinya menangis karena ia tak mampu berbuat banyak saat berada di
samping orang yang ia sayangi.
Andaikan keadaan masih sama, ia pasti akan melakukan pencurian seperti itu lagi. Mencuri warna lipstik Rima. Tapi Rima kini telah menjadi milik orang lain, tepatnya milik bosnya.
Saat ia telah ikhlas melepas wanita yang dulu ia proklamirkan sebagai calon istri pada ibunya, dan kini menjadi milik orang.
Sialnya, mereka justru dipertemukan dalam satu lingkaran kehidupan yang membuat mereka bertemu tiap harinya.
Ditambah lagi, ia tahu bagaimana keadaan pernikahan wanita impiannya itu.
Mereka kembali terdiam sepangjang perjalanan, hingga mobil memasuki pintu gerbang rumah Dihyan dan berhenti tepat di depan rumah.
“Sudah sampai,” Reno mencoba mengingatkan Rima.
“Terima kasih kak!” Rima saat mulai turun dari mobil.
Rima melangkah masuk ke rumah dengan segera. Rasa gerah dan lelahnya kini sedang berperang. Ia masih
memikirkan antara mandi dulu, atau tidur sebentar.
Tapi semua seolah sirna saat melihat sosok dihadapannya sedang berkacak pinggang dengan tatapan yang sangat
tajam. Ada gurat kemarahan pada wajahnya.
Dihyan kini telah berada di ruang tamu. Tapi apa yang menyebabkannya marah? Apa karena dirinya yang pulang
terlambat? Tapi bukankah itu sudah jadi hal yang biasa?
Diluar perkiraan Dihyan justru bertepuk tangan, tanpa ada suatu pemandangan yang menarik?
Apa ada sesuatu yang menarik di belakangnya?
“Wah,wah! Hebat!” Dihyan masih menatapnya tajam. “Ibu suri kita baru saja pulang?”
Ia masih mencari letak kesalahannya. Apakah pulang bersama Reno menjadi sebuah kesalahan?
__ADS_1
“Pantas saja kamu tidak pernah mau menggunakan mobil yang ada, kenapa?"
"Biar ada alasan pulang dengan pria lain kan?"
Rima memutar matanya malas.
Boro-boro menggungakan mobil yang memang tak pernah dipersilahkan oleh sang tuan untuk menggunakannya.
Dihyan menanyakan keadaannya saja tak pernah.
Tak pernah mau tahu dengan jadwal Rima.
Dan sekarang pria ini marah hanya karena ia pulang bersama Reno.
Jangan bilan pria di depannya itu sedang cemburu?
Tidak kan?
Pria itu hanya mencari alasan agar dirinya kembali mendapatkan amarah.
Ck, alasan saja!
Dan Dihyan semakin emosi saat RIma tak menanggapi amarahnya.
"Kamu tahu status kamu apa?" Dengan suara yang lantang tepat di hadapan RIma.
"Kamu itu seorang istri."
"Istri yang harusnya tahu menjaga kehormatan suaminya, meski di luar rumah!"
Rima kembali memutar matanya, seolah ia saat ini tengah menjadi seorang siswi di hadapan Pak guru Killer.
Yang harus ia lakukan saat ini, hanyalah diam mendengar seluruh ocehan pak guru. Sebentar juga diam sendiri, kalau capek!
"Benar-benar cewek gak sopan!"
"Sini kamu, aku kasi tau job description kamu yang sebenarnya!" Dihyan mendekat dengan segera meraih tangan Rima.
Kini amarah telah bercamput kesal.
Menarik tangan istrinya bahkan setengah menyeret, karena Rima seolah mempertahankan dirinya untuk tidak mengikuti suaminya. Sudah bisa ditebak hukuman apa yang akan ia terima dari sang suami.
Penyatuan yang seharusnya menjadi surga dunia bagi setiap pasangan suami istri namun tidak untuknya. Ia selalu
merasakan sakit, bila suaminya mencoba menyatu dengannya. Kasar dan memaksa!
"Iya, iya. AKu minta maaf! Aku gak bakalan pulang sama cowok lain lagi!" Ucapnya setengah teriak.
Dengan sekuat tenaga Rima menahan dirinya agar tubuhnya tak ikut dengan Dihyan.
Namun Dihyan lagi-lagi abai. Tetap menarik Rima dengan penuh tenaga.
Pun dengan RIma yang masih mencoba bertahan untuk tak ikut dengan suaminya.
Tak peduli dengan pergelangan tangannya yang sakit karena gengaman keras dari sang. Ia bahkan memegang
__ADS_1
sembarang benda demi menahan tubuhnya. Namun hentakan demi hentakan dari Dihyan mampu melepaskan pertahannya.