Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Mencari Bantuan Lain


__ADS_3

Sebulan menjalani hari kembali seperti biasa, nyatanya sanganlah sulit bagi DIhyan.


Pikiran kadang tak fokus, bahkan ia masih harus di dampingi oleh sang ayah.


RIma, masih menjadi topik pemikirannya saat ini.


Seberapa besar ia membujuk hati tuk melupakan semua, nyatanya Rima selalu menjelma saat ia hendak menutup mata.


Beberapa kali berbica dengan papa, namun tak mendapat jawaban yang tepat.


Papa hanya bilang, "tanya mamamu!"


Dan jika ia mendekati mama, maka, "Biarkan Rima dengan hidupnya sendiri!"


Jawaban yang membuat kepala pening saja.


Meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya.


“Biar saya sendiri pak, untuk beberapa hari saya akan ke luar kota jadi tak usah tunggu saya pulang!” Sambil menengadahkan tangan pada Pak Eko meminta kunci mobil.


Seluruh formasi kembali ke tempat semula. Para art kembali ke tempat masing-masing.


Tak terlalu masalah bagi Dihyan.


Toh semuanya memang menjauhi dirinya.


Jangankan orang yang ia bayar, kedua orang tuanya pun tak berpihak padanya.


Tak mengapa baginya, semua salahnya.


"Tapi pak,...?"


Ragu, Pak Eko mendapat tanggung jawab penuh selama Dihyan berada di luar rumah.


Tanpa Dihyan turut pulang bersamanya, sudah jelas pasti ia akan mendapat marah dari bos besar.


"Aku mau pergi ke suatu tempat pak." Dihyan menyela.


"Nanti aku telpon papa. Bapak juga, biar gak di marah."


Setelah mendapat apa yang ia minta, segera masuk ke dalam mobil meninggalkan pak Eko sendiri.


Pak Eko segera meraih ponsel, menghubungi Pak Cakra.


Dihyan mulai melajukan mobil seperti yang tadi dibilang, dia akan keluar kota.


Baru beberapa menit perjalanan, ponsel dalam saku bergetar, mengharuskannya mengurangi kecepatan.


Tahu jika semua orang akan cemas.


"Aku baik-baik saja mah."

__ADS_1


Ucapnya setelah mendengarkan serentetan pertanyaan dari sang mama.


"Tolong bilang ke papa yah! Mungkin bakal pergi lama."


"Kamu mau ke mana Iyyaaaaaan?" Mama setengah berteriak.


"Aku mau ke rumah nenek maaaaahhh,... " Sedikit penekanan saat mendapati mama yang menunjukkan kecemasan yang luar biasa.


Ia merasa telah sembuh total, tapi mengapa ia masih saja diperlakukan seperti orang yang sakit jiwanya.


Tapi keinginannya untuk mendapati RIma kembali belum juga di kabulkan. Apasih maunya mereka?


"Kenapa gak diantar sama pak Eko saja sih?" Mama.


"Iya." Jawaban singkat, agar tellpon segera berakhir. Pembicaraan ini serasa menghambat perjalannya.


"Ya udah kamu hati-hati, jangan lupa hubungi mama kalau sudah sampai!" Mama tak bisa berbuat apa-apa selain mengijinkan.Toh meski tanpa izinnya, Dihyan tetap pergi jua.


Setelah melewati sebuah perjalan panjang dihiasi dengan sebuah kata kemacetan dan disinilah dia berada sekarang.


Tempat yang terlihat asri dan damai, dengan pohon-pohon besar berjejer di sepanjang jalan.


Udara mulai dingin, semakin dingin karena waktu telah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Tadi sempat berhenti sekali hanya untuk menjalankan shalat magrib.


“Ya ampun Dihyan? Sama siapa?”


Sambutan dengan nada terkejut, berarti mama belum menelpon ke sini.


“Sendiri yah,” Sambil melakukan takzim pada seorang pria yang terlihat hampir seumuran dengan papanya.


“Makasih yah.”


“Siapa yah?” Suara wanita dari dalam.


“Kamu? Sama siapa?” Saat melihat sosok Dihyan yang telah duduk di ruang tamu.


“Kamu sudah makan?” Pertanyaan yang sangat tepat, karena sedari tadi ia memang tak memperdulikan perutnya mulai keroncongan. Ia hanya terus melaju dan melaju lalu ikut mengantri bersama kendaraan lainnya.


“Belum yah,” Jawabnya jujur.


“Baiklah, ayo kita makan! ayah temani makan,” Melangkah masuk ke ruang makan. Perut memang telah bertalu.


Di dampingi ayah dan ibu, ia makan dengan cukup lahap mengisi perut.


Hemm, Sambal terasi dengan ikan kering dan tempe sebagai lauk, dan sayur asam yang sangat menyegarkan tenggorokan.


Kembali meraih bakul nasi untuk memindahkan isi ke piringnya, mungkin suasana sejuk semakin membuat perutnya seolah menjerit minta tambah. Sampai membuatnya lupa tentang tujuan utamanya ke sini.


Ayah yang tadinya bilang mau menemaninya makan, hanya duduk di sampingnya sambil tersenyum menatapnya. Sementar ibu melayani kebutuhannya yang lain seperti menyiapkan air minum dan kain lap tangan.


“Kamu bebersih dulu, lalu istirahat.” Ucap ayah ketika ia mulai membersihkan tangannya, “bawa baju ganti?”

__ADS_1


“Ada yah,” hemm, mungkin ia telah mempersiapkan kebutuhannya atau memang telah merancanakan sebelum pergi.


“Ya sudah, ibu siapkan kamar dulu buat kamu.”


“Makasih bu."


"Yah, bisa bicara sama abang?” Lanjutnya lagi ketika telah berada di depan pintu kamar mandi sambil menerima handuk yang diberikan oleh ayah.


“Abangmu sepertinya pulang jam 11 malam, kenapa?” Ayah.


“Besok saja bicaranya, sekalian bisa ketemu sama abangmu,” Lanjut ayah ketika melihatnya diam tak menjawab pertanyaan kenapa dari ayah.


Setelah selesai membersihkan diri, ia ikut bergabung dengan ayah yang ada di ruang keluarga.


Ruang sederhana yang ada hanya sebuah tikar dan tv beserta beberapa bantal kecil tergeletak disana, mungkin mereka menonton tv di sini sambil berbaring.


Ibu menyiapkan 2 cangkir kopi di tambah dengan setoples kerupuk di letakkan di antara ayah dan dirinya yang sedang duduk bersila di depan tv sambil menonton tayangan talk show yang terlihat menghadirkan seorang petinggi negara sebagai bintang tamunya.


Ia memang menyukai kopi, tapi untuk saat ini mungkin ia lebih butuh bantal dan kasur.


Meskipun ia tak bisa menjamin dirinya bisa terlelap karena harus memikirkan di mana Rima sekarang.


Hanya ingin menghormati ayah, dan jika beruntung ia bisa langsung ketemu dengan abang yang katanya akan pulang jam 11 malam nanti.


Tapi mungkin ia belum beruntung, karena ayah menangkap rasa lelah di matanya hingga menyuruhnya masuk ke kamar tanpa menunggu abang pulang.


Bersukur karena malam ini ia tidur dengan lelapnya, mungkin karena memang letih atau karena mengharapkan sesuatu yang besar di sini.


Bahkan serasa kurang, karena seolah baru saja terlelap pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang,


“Yan, bangun! Sholat subuh dulu!”


Suara sayup-sayup dari kejauhan yang memperdengarkan suara orang yang sedang membaca Al Qur’an.


Biasanya jam segini ia masih dalam buaian mimpi tanpa ada satupun yang mengganggunya.


“Waaah, ada mas Dihyan?” Saat dirinya baru saja membuka pintu kamarnya sambil mengucek kedua matanya.


Gadis yang seusia dengan adik bungsunya.


“Ayo, kamu wudhu dulu atau di masjid saja?” Ayah yang berdiri di depan kamar sendiri.


Baru jam segini, rumah telah riuh dengan segala aktifitas.


“Wudhu di sini yah, sekalian mau pipis,” Ucapnya sambil meninggalkan gadis itu.


Setelah memasang kain sarung di pinggangnya, ia dan ayahpun keluar dari rumah bersamaan dengan orang yang ia tunggu sedari tadi malam.


“Eh ada orang kota nih!” Ejek seorang lelaki tersenyum sambil mengeluarkan motornya dari rumah bertingkat yang bersebelahan dengan rumah ayah.


Ia hanya tersenyum sambil menunggu ayah yang juga sedang mengeluarkan motornya dari pintu samping.

__ADS_1


Sepulang dari masjid yang terbilang sedikit lama, karena ayah memilih untuk mendengarkan ceramah singkat.


Pun dengan Dihyan, entah ini hanya sekedar menghargai yang lebih tua atau niatnya ingin menyejukkan hati.


__ADS_2