
“Maafkan aku, tak bisa mengendalikan diri!” Lelaki itu masih bersikap lembut meskipun beberapa kali tangannya di tepis.
“Apa yang kau inginkan?” Rima.
“Mandi dulu, baru shalat! Sebentar lagi subuh lewat,” Dihyan berdiri mengambil kimono mandi dan memberikannya pada Rima.
“Jangan lupa mandi wajib!” Di iringi senyum.
Di dalam kamar mandi, Rima berdiri di depan wastafel memandang wajah dari pantulan cermin. Memukul-mukul dada, menepis rasa sesak yang menghinggapi. Tangan kini beralih menutup wajahnya.
Ingin sekali menangis, namun ini sangat tidak tepat.
Napasnya tersengal-sengal.
Marah, mungkin perasaan ini paling tepat mengartikan keadaannya saat ini.
Takdir macam apa ini?
Mengeluh dalam hati.
Sebentar lamunannya hingga pada wajah orang-orang terdekat.
Kak Romi tolong!
Leli tolong!
Bagaimana keadaan Leli sekarang? Pasti Gadis itu tak kalah sakitnya dengan dengan dirinya kini.
Reno?
Di mana pria itu sekarang?
Apakah semua tentang Reno juga menjadi bagian dari skenario ini?
Memutuskan untuk mandi, ia mengikuti perintah Dihyan untuk mandi wajib. Semua kejadian ini menghantuinya bagai ilusi nan tak berwujud.
“Pakaianku?” Ucap Rima menunduk seolah tak ingin menatap Dihyan.
“Maaf, aku laundry. Pakai punyaku dulu!” Dihyanpun menyerahkan satu set piyama miliknya dan mukena.
Lucu bukan, Dihyan tak menyiapkan pakaian ganti untuk Rima tapi menyiapkan mukena unutk sholat.
Apakah dia tidak berpikir untuk menitipkan pada orang-orangnya membeli
perlengkapan untuk Rima? Atau dia sengaja, agar....?
Diam.
Dihyan tetap melanjutkan kegiatannya sendiri yang entah itu apa. Mungkin hanya untuk menyibukkan dirinya sendiri agar terlepas dari pembahasannya dengan Rima.
Melepaskan mukena, Rima melayangkan pandangannya menembus kaca jendela yang kini menghalanginya dengan alam bebas.
Pandangannya tertuju ke bawah di mana kolam renang yang mulai di datangi beberapa orang, melakukan kegiatan berenang di pagi hari. Bisa di pastikan mereka saat ini berada di hotel. Tapi di daerah mana?
“Makan dulu yuk! Kamu pasti lapar?” Dihyan.
Seolah tak mendengar ucapan lelaki itu, Rimapun tetap tak bergeming dari tempatnya saat ini. Pandangannyapun tak lepas dari kolam renang itu.
Dihyan melangkahkan kakinya mendekati Rima, merentangkan kedua tangannya hendak memeluk istrinya dari belakang. Dan pemandangan itu tertangkap melalui kaca jendela yang setia Rima pandangi. Namun belumpun tubuhnya meraih Rima, wanita cantik itu segera berlalu meninggalkan.
Rima berjalan mendekati meja yang kini telah tersedia beberapa menu sarapan pagi.
Nasi goreng seafood, dengan telur dadar dan acar sebagai pelengkapnya. Dengan sangat lahap, entah karena memang lapar atau hanya ingin menghindari percakapan dengan suaminya.
Dihyan mendekat dan duduk di dekatnya, “Pelan-pelan! Kunyah dengan benar bu dokter!”
Lagi-lagi Rima tak pedulikan, tetap makan dengan lahap hingga piringnya benar-benar tandas. Kembali meninggalkan suaminya tanpa sepatah katapun. Rima kembali ke tempatnya berdiri tadi, namun kali ini dengan menggeser sebuah kursi ke dekat jendela.
__ADS_1
Kembali dengan aktifitasnya melihat manusia-manusia yang sedang menikmati pagi mereka dengan berenang.
Mata mengitari tempat itu. Tak jauh dari kolam renang, ada sebuah resto yang juga sedang dihuni banyak pengunjung.
Lama, kegiatan itu berlangsung sangat lama.
Bahkan hingga orang-orang di bawah sana sudah semakin sangat berkurang di sebabkan matahari yang semakin meninggi, mungkin membuat suasana tak cocok untuk berenang.
Namun Rima belum juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, tentang di mana ini?
Mengalihkan pandangannya menelusuri seluruh ruangan. Dihyan telah sibuk dengan laptop di pangkuannya, mungkin sedari tadi tanpa ia sadari.
Menatap pintu keluar.
Ingin lari dari tempat ini. Namun dengan pakaian seperti itu? Pasti dirinya akan menjadi bahan tontonan, apalagi saat ini dia sama sekali tak memakai pakaian dalam.
Tak adakah keinginan Dihyan untuk memenuhi kebutuhannya?
Tidak, pasti lelaki itu memang sengaja tak memberinya pakaian karena tak ingin Rima kabur.
Beralih ke tempat tidur yang masih sedikit berantakan. Tak ada sedikitpun perasaannya untuk membereskan tempat itu.
Toh, sebentar lagi pelayan hotel yang akan merapikannya.
Mengambil remot tv dan mulai menekan-nekan tombolnya. Beberapa waktu ia betah dengan aktifitas itu, namun seiring menit yang berlalu iapun mulai bosan. Beberapa acara tontonan telah ia selesaikan seperti acara gosip para artis, berita, hingga acara hiburan lainnya.
Sangat ingin ia beranjak dari tempat itu, tapi bisa kemana dengan pakaian seperti itu? Ke toilet?
“Heh!” hembusan kasar mulai terdengar dari hidungnya, bahkan gerak-geriknya yang mulai ke sana-kemari sangat memperlihatnkan bahwa ia sangat bosan.
“Kenapa?” Dihyan menyapa, namun lagi-lagi Rima berusaha untuk tetap tidak memperdulikannya.
“Bosan?” Dihyan, namun tetap tak ada jawaban.
“Nih!” Dihyan mengulurkan ponselnya pada Rima, “ No sosmed!” peringatan.
“Kamu bisa pake buat main game, membaca artikel, komik atau novel mungkin?” Dihyan.
“Novel,” entah itu kata perintah atau kata tanya. Rima kembali mengulurkan ponsel itu pada Dihyan.
“Tunggu, kita cari aplikasi buat baca novel!” Dihyan kembali menatap laptopnya setelah mengambil ponsel dari
tangan Rima. Rima beranjak ke sisi tempat tidur yang berada di belakang Dihyan.
“Nih baca novel!” Dihyan membalikkan tubuhnya memandangi Rima seraya memberikan kembali ponselnya. Tak
lupa senyumn manis menghias wajahnya.
Rima meraih ponsel itu tanpa ekspresi apapun, “Apa yang kau inginkan?”
Namun seolah tak ingin membahasnya, Dihyan memilih berbalik kembali ke arah laptopnya kembali sibuk dengan aktifitasnya.
“Heh.”
Tak ingin terlalu larut dengan pertanyaan tentang Dihyan, Rima kembali menatap ponsel dan siap memilih cerita
novel.
Rima mengambil tempat di ruangan tamu kamar, sedikit jauh dari tempat Dihyan duduk.
Tenang, sangat tenang dengan kegiatannya membaca novel hingga saat ponsel yang di pegangnya bergetar.
Drttt.
Drttt.
Dihyan berlari kecil menghampirinya, “Rima, pinjam bentar dong! Sory! Sory!” Sambil mengulurkan tangan pada Rima.
__ADS_1
Dengan wajah ditekuk Rimapun memberikan ponsel tersebut.
Ck, pelit sekali pikirnya. Padahal jelas dan pasti ponsel miliknya raib karena ulah pria itu.
“Makasih!” Dihyan kembali menyambungkan telponnya dan duduk di samping Rima.
“Ya, halo!”
“Hemmmmm.”
“Lakukan seperti perintahku kemarin! Hemm.”
“Ok.”
Dihyan kembali menyerahkan ponselnya pada Rima, “Sory yah!”
Sementara Rima terlihat enggan menerima, tangan wanita itu tak bergerak meraih.
Melirik hanya sebentar kembali meluruskan pandangan.
Kesal saat kesenangannya tergangu membangkitkan amarah yang sempat terlupakan.
"Di mana hp dan barang-barangku yang lain?" Tanyanya dengan nada yang terdengar dingin.
Tangan Dihyan yang sedari tadi menggantung kini turun dengan lemas.
Diam menjadi jawaban, hingga membuat Rima kembali menoleh ke arahnya.
"Bagaimana keadaan temanku?" Tanyanya lagi.
"Dia baik-baik saja." Dihyan dengan tenang.
Tak ada yang lucu, namun dapat membuat Rima tersenyum. Senyum yang menyiratkan kegetiran.
Saat membayangkan sehabat karibnya berada dalam cengkraman orang-orang itu membuat hatinya teriris, sakit sekali rasanya.
Apa yang dirasa Leli saat pelurv menembus kakinya?
Sudah dipastikan rasanya sakit, panas dan berdar@h.
Goresan di pinggir bibir semakin memilukan hati.
Rima bahkan tak bisa membayangkan raut wajah gadis itu menahan sakit namun tetap menyuruhnya berlari demi menyelamatkan diri.
Wanita kuat itu ambruk juga.
wanita pelindungnya terkalahkan.
Dan Dihyan mengatakan baik-baik saja?
"Anak buahmu melukainya." Ucapnya dengan getir sedikit bergetar seiring pilu yang terasa.
Tangan terkepal menahan segala gejolak dalam dada.
"Maaf."
RIma mengangguk, tetesan air meluncur bebas dari pelupuk mata.
Memang begitu adanya, jika seseorang melakukan kesalahan. Biasanya akan ada maaf yang terucap untuk diterima.
Namun apakah mereka sadar, prilaku itu akan membawa luka yang membekas baik fisik maupun batin.
__ADS_1
Dihyan mungkin belum pernah merasakan panasnya peluru, namun dengan mudah mengucapkan kata maaf saat telah meninggalkan sebuah peluru pada seorang gadis.