
“Pa, maafin aku pa, aku janji gak bakalan sakitin Rima lagi. Tolong kembalikan istriku pa!" Dihyan telah berada di depan sang ayah, menggunakan lutut sebagai penopang tubuh.
"Jangan biarkan kami bercerai. Aku janji pa, gak akan mengulanginya lagi. Aku akan buat istriku bahagia, aku janji pa. Tolong kembalikan Rima padaku pa!” Pria itu memohon dengan sangat diiringi dengan derai air mata.
Papa menatap anak lelakinya dengan penuh keheranan. “Apakah kamu mencintainya?”
Dihyan terperangah mendapatkan pertanyaan dari papanya.
“Apakah dia mulai mencintai Rima?"
Benar kata Andra, jika yang dibutuhkan adalah anak, dia bisa menikah dengan wanita lain dan mendapatkan anak
dari istri barunya itu. Tapi tidak, yang dia inginkan kini hanya Rima.
Dia ingin Rima yang harus mengandung anak-anaknya bukan yang lain.Tapi sayang, sangat sulit untuk mengakui akan hal itu.
“Pa, dia istriku. Dia mengandung anakku,”
“Anakmu sudah tiada, lepaskan dia!"
Meski terasa getir saat mengucapkan kalimat itu. Biar bagaimanapun janin yang pernah berada di dalam kandungan Rima adalah cucunya. Cucu pertamanya.
"Meskipun tanpa persetujuanmu kalian akan tetap bercerai. Itu sudah jadi keputusan kami dan kau bisa menikah dengan siapapun yang kau inginkan!” Jawaban tegas dari sang papa.
“Pa, tolong kembalikan Rima, aku mencintainya pah."
Entah itu benar atau tidak, hanya untuk mempertahankan Rima.
"Jangan pisahkan kami pah!” Dihyan masih berlutut di depan papa, menggenggam celana panjang papanya. Air mata semakin deras saja mengalir membasahi pipi.
Hampir putus asa, namun masih terus memohon.
Papa Cakra memandangi lekat mata sang anak. Mencari kejujuran dari perkataan dari anaknya. Hanya banjir air mata keputus asaan.
Iapun tak tahu arti kata cinta yang baru saja di dengarnya. Namun melihat keadaan anaknyapun, ia tak tega.
“Hemmm, baiklah! Tapi papa hanya bisa menangguhkan perceraianmu. Tentang keberadaan Rima, papa tidak bisa
membantu banyak. Kamu harus mencarinya sendiri!” Papa cakra, “Bangunlah! Kamu tidak malu bersikap seperti itu?”
Dihyanpun bangkit dan genggaman tangannya berpindak ke lengan papanya setelah menghapus sisa-sisa lelehan air mata di pipi.
“Pah, tidak bisakah papa memberi tahu di mana Rima sekarang?” Kembali merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan papa.
Begitulah manusia, diberi hati minta jantung.
Niat hanya menunda perceraian, namun kini ia meminta info keberadaan RIma.
“Minum dulu, kamu tidak malu apa menangis terus?”
Dihyanpun menyeruput kopi papanya, “Itu punyaku, CK.” Papa Cakra jengkel karena minumannya diserobot anaknya.
“Haus pa,” Ringannya Dihyan saat mengatakan itu.
Melangkahkan kaki masuk ke dapur mengambil air putih dari dalam kulkas dan meminumnya.
Setelah mencuci muka Dihyan kembali menemui papanya.
“Pa, Rima di mana pa?” Pertanyaan itu kembali terlontar ketika dia telah duduk di samping papanya.
“Pulanglah!” Papa Cakra.
“Pa, mama dimana?”
Sebanyak apapun Dihyan bertanya, sebanyak itu pula papa Cakra menyuruhnya untuk pulang.
-----------------------
__ADS_1
"P, ... Pak."
Hanya satu kata, entah mengapa terasa sulit di ucapkan. Hanya sekedar menyapa.
Sore itu Dihyan tengah bersantai ria di depan tv. Tempat yang tadinya porak-poranda itu, kini terlihat kembali aman dan rapi.
Menekan-nekan tombol remot, mencari tontonan yang masuk di otaknya.
"Hemm,..." membalas seperlunya.
"P, .... Pak." Masih terdengar ragu meski sapa telah berbalas.
Dihyan mengalihkan pandangan dari layar televisi. Fokus langsung saja teralihkan, kening berkerut saat memandang barisan manusia yang ada di samping sofa yang ia tempati.
Bi Titi, Bi Sumi, Pak Dodo dan Pak Eko.
Semua pekerja di rumahnya nampak secara bersamaan, lengkap.
Ada apa? Hari ini bukan hari gajiankan?
"Ada apa?" Tanyanya.
Tak ada jawaban.
Hanya Bi Sumi dan Bi Titi yang saling dorong dengan sikut. Sementara para pria itu tunduk memandang lantai tempat berpijak.
"Kenapa?" Tanyanya lagi, saat tak mendapat jawaban.
"Emmm, ... Pak, Emmm, anu."
Kening Dihyan semakin berkerut saja. Meletakkan remot tv di meja. Pasti sesuatu yang penting pikirnya.
"Kenapa Biiii?"
"Pak, kami,...." Bi Titi Masih ragu.
"Siapa?" Dihyan memandang satu persatu para manusia di hadapannya itu.
Tak mungkinkan kalimat itu tertuju pada ke empat orang ini?
"Ka- Kami pak."
Kata itu membuat sang bos tertawa sinis. Bibir tersinggung miring, hembusan dari tawanyapun ikut terdengar.
Prediksinya ternyata salah.
Dikiranya mereka hanya mengantar seorang rekan yang hendak mengundurkan diri. Ternyata semuanya.
"Kenapa?" Tanyanya masih dengan senyuman di wajah. Senyum getir.
"Kami, .... " Sang pembicara masih saja ragu.
Rekannya yang lain lebih memilih diam saja, mencari aman.
"Kami mau mengundurkan diri pak. Maap pak!"
"Iya tauuuuu. Tapi kenapa?" Nada mulai meninggi seketika.
"Kami,- Kami tak tega saat mengingat Non Rima pak."
"Rima tidak ada di sini." Ucap Dihyan cuek. Namun hati seperti teriris.
Bi Titi langsung membuang lutut seketika ke lantai.
Melihat kawannya berlutut, Bi Sumipun tutur berlutut, di ikuti pak Dodo dan Pak Eko.
Semuanya tampak kompak, satu komando.
__ADS_1
"Kami sakit waktu liat non Rima tersiksa pak. Maap."
Lagi-lagi kata maaf terucap. Benar ia merasa tak enak pada atasannya ini.
Suara terdengar tertahan. Bekerja di sini bukanlah waktu yang sebentar. Banyak yang bisa mereka peroleh dari gaji selama bekerja di sini.
Keperluan sehari-hari hingga menyekolahkan anak-anak kejenjang yang lebih tinggi, menuju masa depan yang lebih baik. Semua itu dari hasil bekerja di rumah ini.
"Kami bekerja dengan bapak, artinya kami juga ikut menyiksa non Rima, maap pak."
"Meski mau nolongin, tapi takut. Maap pak, sekali lagi maap!" Berbicara masih dengan menundukkan kepala.
Tangan Dihyan terkepal erat.
"Saya punya putri pak." Lagi suara tercekat, seperti menahan tangisan.
"Saya berharap putri saya mendapatkan jodoh yang baik dan hidup bahagia dengan keluarga barunya nanti. Harta masalah belakangan, tapi kebahagiaan dan keselamatan itu yang paling penting."
Air mata kini berhasil merembes.
Sudah, ia mungkin terlalu banyak bicara. Terlalu banyak menyinggung persaan. Tapi semua itu ada isi hati keempat orang itu.
Kalimat itu jelas tertuju pada Dihyan kan?
Mereka mau bilang jika tak ingin memiliki menantu seperti dirinya yang hanya taunya menyiksa istri sendiri.
Hanya saja bahasanya sedikit diperhalus saja. Iya kan?
Dihyan memandang lurus ke depan, hampir tak berkedip. Salivanya bahkan terasa bagaikan duri yang mengganjal di kerongkongan. Ada sesuatu yang terasa tertancap dalam dada.
Bahkan orang ia bayarpun rela meninggalkan dirinya, hanya karena kelakuan kejamnya.
"Pergilah! Gaji kalian akan menyusul."
Ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar tv.
Mereka mundur, hanya dengan hitungan detik saja kembali muncul dengan masing-masing koper di tangan.
Hahahaha, betapa persiapan itu sangatlah matang.
"Pak," Bi Titi yang mengulurkan tangan ke arah sang majikan, eh mantan majikan.
Hendak pamit sebelum benar-benar pergi dari rumah itu. NIatnya telah bulat, meninggalkan seorang ia anggap sebagai p3mbvnuh itu.
"Pergilah!" Perintah Dihyan tanpa mau menyambut uluran tangan sang Bibi.
"Sudah, ayo!"
Kata lirih dari belakang yang masih terlihat saling dorong.
Pintu di tutup dengan sangat pelannya, hampir tak menimbulkan bunyi.
Meninggalkan Dihyan yang masih duduk tepekur seorang diri.
Satu gerakan kaki yang menghentak keras meja kaca di hadapannya. Membuahkan pecahan kaca yang berhambur di lantai.
Air mata kembali membanjiri pipi. Dihapusnya dengan punggung tangan secara kasar.
Inginnya ia berhenti menangis, namun tak mampu. Air itu terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
To Be COntinued!
Jangan lupa bagi oleh-olehnya ya kak.
Saran dan kritik kami terima dengan tangan terbuka, sebagai bahan perbaikan tulisan.
Tapi tutur katanya jangan yang pedes-pedes yah!
__ADS_1
Soalnya hati Dinda selembut sutra, gampang tersungging eh tersinggun.