
Jauh sebelum malam hangat yang terjadi di kediaman Rima.
Di sana, di sebuah kamar yang telah terhias bunga-bunga dengan begitu Indah meski masih secara mendadak.
Diandra telah duduk di atas ranjang pengantin, memandang lurus ke arah pintu. Sedari tadi ia telah berada di kamar ini menanti kehadiran sang pangeran hati.
Pikirannya terlintas kembali saat Ijab Qabul.
Entah sengaja atau tidak, Reno justru menyebutkan nama Rima dan bukan namanya.
“Maksud kamu apa menyebut nama Rima tadi?”
Kalimat *tanya *itu ia dengar dari kakak lelakinya saat sedang memberikan ucapan selamat di atas pelaminan.
“Maaf tadi sempat melihat Rima jadi keingatnya dia,” Jawab suaminya bohong.
Benar-benar bohong, karena sedari tadi Rima mendampingi Diandra hingga mereka keluar saat prosesi akad nikah
telah selesai. Jadi ucapnya yang melihat Rima itu, tak benar. Kecuali ia memiliki ilmu tembus pandang melewati tirai atau bahkan tembok yang menyembunyikan sosok Rima.
Atau ia melihat Rima dalam khayalannya.
Diandra tahu, jawaban Reno hanya mencari aman, tak ingin membuat orang lain berprasangka buruk tentangnya mengingat kala itu kedua pasang orang tua mereka masih berada di dekat mereka.
Sudah hampir satu jam lamanya gadis itu seorang diri, hingga yang dinantikannya kini telah muncul dari balik pintu.
Tak ada interaksi lebih dari keduanya.
Diandra berharap, Reno terlebih dahulu mengajaknya bicara. Tapi sayang, bahkan untuk menatapnyapun tidak.
Reno terus menundukkan kepalanya. Masuk ke kamar mandi lalu berbaring dengan tenang membelakangi istrinya yang bahkan baju pengantinnya pun masih melekat di tubuhnya.
Hingga Andra mencoba memberanikan dirinya, “Kak, bisa bantu tarik resleting gaunku? Tanganku tak sampai,”
Berharap Reno terpesona dan tergoda saat melihat punggungnya.
“Hem,” Reno kembali bangkit dari pembaringannya berjalan mendekati Andra yang telah membelakanginya dan
mengikuti ucapannya, menarik resleting gaunnya hingga ke bawah lalu kembali ke tempat tidurnya.
Hanya itu?
Tak ada adegan memeluk dari belakang?
Tak ada adegan membelai punggungnya?
Jangan bilang tak ada malam pengantin!
Jangan bilang tak ada malam pertama!
Dan jangan bilang kamu tak mencintaiku!
Ah, entah mengapa apa lagi yang mampu menguatkan gadis itu.
__ADS_1
“Kak,” Andra hanya mampu memandangi punggungnya.
“Hem.”
Hanya itu?
Apakah ia kehabisan stok kata-kata?
Andra menguatkan langkahnya masuk ke kamar mandi guna membersihkan dirinya. Kegerahan lahir dan batin.
Terlalu banyak sesuatu yang ganjil di hari pernikahannya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, ia ikut berbaring dibelakang suaminya.
“Kak.”
Tak ada balasan, mungkin Reno sudah tidur. Diberanikannya mengangkat tangannya, meraih tubuh suaminya,
memegang pundaknya. Jika ia beruntung, ia akan memeluk tubuh itu dari belakang.
“Tidurlah! Kamu pasti lelahkan?” Kalimat itu terdengar saat tangannya mampu menggapai pundak suaminya.
Artinya ia kurang beruntung malam ini, karena tak mampu memeluk tubuh itu.
...****************...
Fajar menyising, sinar jingganya di ufuk timur menggeser pekatnya malam.
Mengucek mata demi membersihkan pandangan yang tadinya kabur, dilanjutkan dengan tangan yang direnggangkan demi mengusir rasa pegal.
Pandangan menyapu seluruh ruang. Dihyan yang tertidur di sisinya, kemudian menatap ke arah sana di mana box bayi berisikan baby Azka yang sama lelapnya.
Matanya berhenti memandang ke arah meja nakas samping ranjang. matanya membulat seketika tak percaya dengan apa yang ada di sana.
Kapas-kapas sisa membersihkan wajahnya semalam berhamburan di sana. Tapi itu terlalu banyak untuk membersihkan satu muka saja. Bukan hanya kapas bekas pakainya saja, bakhan lengkap dengan plastik pembungkus yang baru ia beli beberapa hari kemarin.
Rima bergerak mendekat ke sana demi memastikan, takut jika penglihatannya salah menangkap. Namun benar, tanda putih yang tergeletak di sana adalah kapas-kapas miliknya.
Entah mengapa kini ada rasa kesal sebab bantuan dari Dihyan semalam.
Plak.
"Kamu habisin kapasku?"
ucapnya dengan sedikit intonasi tinggi setelah telapak tangannya mendarat di bahu sang suami.
"Eh!" jelas saja Dihyan terkejut, tenaga Rima tak bisa dibuat main-main. Menoleh sedikit melihat raut wajah sang istri.
"Kamu habisin kapasku?"
Rima kembali bertanya hanya untuk memastikan.
"Kan kamu yang pakai." Jawaban itu hanya terdengar seperti gumaman saja, karena Dihyan kembali menyembunyikan wajah di balik bantalnya.
__ADS_1
Rima hanya mendengus, tubuhnya kembali mendekat ke arah nakas. Amarah kembali melonjak naik saat mendapatkan botol pembersih wajahnya yang telah kosong juga tergeletak di sana.
" Micellar water ku juga?"
Plak.
Ia kembali melayangkan tapak tangan, kali ini sasarannya adalah bokong pria itu.
Benar saja, Dihyan kembali tersentak lagi meringis merasakan panasnya di sebelah sana.
Pria itu kembali menoleh memandang wajah sang istri yang terlihat memerah karena marah, namun pria itu terlihat sedikit abai.
Masih ngantuk tapi terus diganggu, kesal juga lama-lama. Padahal ia merasa tak salah apapun juga, toh penggunaan itu untuk menghapus dempul yang ada di wajah Rima.
Dihyan masih berusaha memaksakan tidurnya saat mendengar suara omelan Rima yang dirangkaikan suara tapak kaki menjauh dari ranjang hingga masuk ke kamar mandi.
Tersenyum, setidaknya istrinya kembali seperti semula.
Suara ponsel yang memekakkan telinga mengalahkan gemerincing air dari dalam kamar mandi, membuat Dihyan terbangun dengan sangat terpaksa.
Masih malas beranjak, namun takut Jika suara itu membangunkan Azka, hingga ia harus terpaksa menyeret tubuhnya di atas ranjang meski dengan mata yang tertutup.
Dihyan terdiam saat mendengarkan suara papa.
Bukan si pemilik suara yang membuatnya ia tak berkutik, namun perintah dari sang ayah yang baginya terasa berat untuk ia tunaikan.
Rima yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran pada sang suami yang terdiam dengan ponsel di tangan. Pria itu telah bersandar di kepala ranjang, tangannya perlahan bergerak menjauhkan ponsel dari telingannya.
" Kenapa?" penasaran juga akhirnya Rima melayangkan tanya, siap menanti Jawaban sambil melangkah ke ruang ganti.
Dihyan memilih diam, males juga rasanya harus berbicara
"Papa nyuruh kita kembali ke rumah, ngumpul keluarga. Saudara jauh masih ada di sana."
"Katanya semalam kita di cariin semuanya."
Ucapnya lirih saat mendapatkan bayangan Rima yang telah keluar dari ruang ganti.
Dan alasan anak mereka yang ingin istirahat lebih dulu diterima dengan baik oleh para keluarga.
Tapi hari ini, mereka akan menggunakan alasan apa lagi untuk tak ke sana?
Berat jika harus ke rumah papa saat seperti ini?
Bukan tak ingin, tapi enggan untuk bertemu dengan satu orang itu. Orang yang baru kemarin masuk dalam keluarganya.
Sepasang suami istri itu sama terdiam.
Mereka baru saja berbaikan, tapi harus bertemu kembali dengan pria itu.
Jika boleh, Dihyan ingin berdiam diri saja bersama keluarga kecilnya untuk beberapa hari ke depan.
Tak ingin bertemu dengan siapapun yang akan kembali menjadi duri dalam rumah tangga mereka.
__ADS_1