
Ting.
Suara lift mampu menyadarkan dari angan yang sempat tenggelam dalam rasa.
Tiga orang telah menunggu kehadiran mereka di depan pintu lift.
Sempat kaget, Reno segera melayangkan tendangan ke depan, menghantam angin karena ketiga orang itu sigap mundur sedikit menjauh.
"Aku cuma mau ngantar dia sama bos kalian." Ucapnya bengis.
Mungkin saat ini ia kalah, namun belum mau mundur.
Hanya karena permintaan Mamanya Dihyan yang ingin memberikan pria itu kesempatan.
Baiklah satu kesempatan saja.
“Ayo!” Tanpa rasa berdosa sekalipun ia hanya menarik tangan Rima agar keluar dari lift itu, meninggalkan
ketiga orang yang hanya memandang mereka seolah tak berdaya.
“Kamu tunggu sini!” Reno lalu meninggalkannya di depan sebuah pintu. Yakinlah bahwa itu pintu ruangan kerja
Dihyan.
“Dimana kamu menemukan Rima?” Reno mungkin lupa bahwa yang sedang berada di depannya adalah bosnya hingga melupakan kata bapak dan menggantinya dengan kamu.
“Kenapa?” Dihyan mengangkat kepalanya dan meliriknya dengan sinis dilengkapi dengan senyuman mengejek.
“Kamu sembunyikan Rima di manapun aku pasti menemukannya.”
“Dan ingat Rima itu istriku, aku berhak atasnya.”
“Jangan sakiti Rima, atau kau benar-benar tak kan bisa menemukannya kembali.” Mungkin kini Reno baru sadar
jika Rima adalah istri dari seseorang yang tengah duduk di hadapannya.
“Kamu mengancamku? Hahahaha.” Suara tawa dari seorang Dihyan memenuhi seluruh ruangan.
“Jangan lupa jika menyangkut Rima, aku memiliki koneksi yang lebih kuat.” Ya kalimat itu mampu membungkam
tawa Dihyan.
“Bahkan kamu menemukannya setelah hampir setengah tahun bukan?” Kalimat itu semakin memukulnya telak.
Keluar tanpa memperdulikan lagi ekspresi sang bos seperti apa. Reno berjalan keluar menghampiri Rima yang telah di dampingi oleh orang-orang yang ia temui dilantai bawah.
“Masuklah! Kalau ada apa-apa hubungi aku saja!” Ucapnya pada Rima yang langsung masuk dan hanya menundukkan kepalanya.
Bod0h.
Ponsel saja wanita itu tak ada.
Reno baru berbalik setelah Rima hilang dari balik pintu. Dan ia pun meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya
menyenggol bahu salah satu dari mereka dengan sangat keras.
__ADS_1
Di sinilah ia berada sekarang. Ruangan kerja yang tempatinya tiap hari, guna menjalankan tugasnya sebagai
karyawan.
Hanya menutup pintu kerjanya setelah itu, Heh!
Segala gerakan yang tak beraturan seperti memukul dan menendang ke segala arah, mengacak-acak rambutnya, menggengam erat rambunya sendiri dan menggeram dengan mengeratkan giginya.
Demi apa?
Demi menyalurkan kekesalannya.
Rasa kesal yang ada setelah melihat kedatangan Rima di kantor ini dengan pengawal yang sangat ketat.
Rasa kesal yang ada setelah ungkapan cintanya ternyata mendapat respon baik oleh Rima.
Rasa kesal karena kenapa baru sekarang ia harus mengungkapkan rasa itu?
Kenapa tidak sejak dulu. Mengapa harus membiarkan Dihyan menikah dengan Rima dengan segala peraturan bodoh yang pernah ada.
Kalau saja cinta itu lebih dulu di ungkapkan mungkin mereka telah bersama, tanpa ada cerita tentang Rima yang
hidup dalam keter-siksaan. Tanpa ada cerita tentang Rima yang kabur dan harus ia cari. Tanpa ada cerita dia sering mendatangi Rima saat-saat libur.
Bukan kesal, tapi lebih tepatnya sesal.
Entah apa namanya? Yang jelas ia sangat ingin memutar waktu. Waktu yang terlalu banyak ia buang hanya demi
sebuah kata saling mengenal terlebih dahulu.
Jika perlu tak usah ada kata itu, cukup langsung unkapkan saja dan menikah. Sudah cukup.
Akh, terlambat. Sangat terlambat.
Masih bisakah ia berharap?
Atau apa tak salah jika ia melanjutkan kisah mereka dibalik status pernikahan Rima dengan Dihyan, yang artinya ia akan menjadi bayangan? Atau lebih tepatnya orang ketiga.
Sementara di dalam ruangan sebelah, Rima hanya duduk di sofa dalam sangkar tatapan tajam Dihyan.
Iapun tak terlalu terpengaruh dengan tatapan itu. Jika tatapan itu menandakan bahwa Dihyan tau apa yang
dilakukannya bersama Reno, ia hanya berkata biarkan saja atau ceraikan aku!
Bahkan sejak lama ia memang mengharapkan kata cerai itu menjadi nyata. Apalagi setelah ungkapan cinta yang
didengarnya dari Reno, kini ia semakin berharap dan berharap akan kata cerai itu.
Janda? Tak masalah. Toh Reno juga mengetahui semua tentangnya. Bahkan tentang kehamilannya yang tak bisa ia pertahankan.
Mengapa kata itu semakin ingin ia dapatkan? Tapi bagaimana caranya?
“Bagaimana?” Kata pertama dari Dihyan, namun ia sama sekali tak mengerti arti dari pertanyaan itu.
Apanya yang bagaimana?
__ADS_1
Meski hanya dalam hati, setidaknya ia menanggapi bukan?
“Kenapa bisa bersama Reno?” Lanjut sang suami.
“Ketemu di bawah.”
Standing applause buat Rima telah menanggapi ucapan Dihyan karena saat ini ia masih berbunga-bunga
setelah mendapatkan ungkapan cinta dari seseorang.
Meskipun raut wajahnya tetap tenang, menyembunyikan segala rasa yang ada di dadanya.
Rasa bahagia saat mendengar nama seseorang, namun rasa kesal saat orang yang menyebut nama itu adalah orang yang ia benci.
Hem, bagus Rima. Tingkatkan!
Apanya? Actingnya perlu
ditingkatkan.
Kamu bisa berhubungan dengan Reno di belakang Dihyan, atau bahkan di depannya agar surat cerai cepat kau
dapatkan.
Namun entah mengapa, sampai di sini hatinya bimbang dan meragu. Antara percaya dengan Reno jika pria itu tak ada konspirasi dengan suaminya.
Ingin sekali ia percaya, namun rasa takut masih menggerogoti hatinya.
“Aku bosan!” Masih belum ada senyuman.
“Kalau kau mau mengekangku setidaknya tempatkan aku di rumahmu! Aku bisa berenang, bisa berkebun, bisa
masak, bisa jalan-jalan tidak seperti di apartemen sempit yang hanya bisa tidur, makan, tidur lagi, makan lagi, heh!”
Dan yang paling penting, bisa bertemu dengan Reno saat ia mengantarmu pulang. Pintarkan aku?
Ia lalu menghempaskan tubuhnya seolah menunjukkan kekesalannya.
Dihyan mulai berjalan mendekatinya dan duduk tepat disampingnya. Sambil mengulurkan tangan membelai lembut pipi mulusnya.
Heh, aku semakin jijik pada diriku sendiri saat mendapat perlakuan lembutmu.
Namun tetap ia harus mengendalikan dirinya.
“Maaf buat kamu bosan!” Kini Dihyan telah menatapnya lembut. “Adalagi yang kau inginkan?”
Surat cerai, cepat tandatangani!
Meskipun hanya dalam hati, karena sebenarnya ada sedikit rasa takut mengucapkan kata itu.
“Maaf, aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian itu. Dan ini yang terakhir kali kita bahas masalah perceraian, atau takkan ada lagi toleransi.”
Apa maksudnya? Apa itu bukan kata hatiku? Apa aku betul mengucapkannya dengan bibirku?
Dengan mata membulat sepenuhnya Rima memandangi Dihyan dengan bingung.
__ADS_1
“Kau mengerti maksudku?” Kini elusan tangannya berpindah dari pipi ke bibir merah delima itu.
Hemm, baiklah! Kali ini cobalah untuk mengalah Rima!