Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Cinta Pandangan Pertama


__ADS_3

" Huufft, capek!" Keluhan Rima lagi-lagi mengalihkan perhatiannya.


"Kamu mau apa?" Tanya dengan membungkukkan badan, tangan bergerak mengusap kepala wanita itu.


Tanpa sadar ia telah beberapa kali bergerak maju mencium wajah sang istri.


Kening,  kedua kelopak mata, pipi, hidung, dan bibir Rima.


Tak lupa mengusap peluh yang masih tertinggal di seluruh wajah sang istri. Dalam hati ia kembali kagum dengan yang namanya wanita. Mampu menahan rasa sakit yang begitu hebat demi kelangsungan keluarga mereka.


"Maafkan aku!" Ucapnya lirih kembali menjatuhkan bibir pada kening RIma dengan menutup matanya.


Begitu dalam hingga mampu mengetuk bagian dalam dadanya. Satu organ dalam dirinya yang kembali berdetak kencang.


"Beratnya tiga kilo pas, dengan panjang badan 52 cm. Hebat!"


Suara itu kembali mengambil alih konsetrasi mereka.


"Bayinya bisa diazankan pak!"


Dihyan masih sempat menjatuhkan kecupan kembali di kening Rima sebelum beranjak mendekati perawat yang sedang menimang putranya.


Langkah kakinya kian melambat saat semakin dekat dengan sang perawat. Matanya menatap kagum ke arah bayi mungil yang telah rapi terbungkus kain selimut. Begitu kecil dan lucu. Mungkin hanya cukup satu lengannya saja, atau mungkin kurang juga.


Mata bayi itu tertutup rapat, padahal Dihyan ingin sekali putranya menatapnya saat ini.


Ah putra.


Hatinya menghangat kala kata itu tersemat dalam hatinya.


Ini putranya.


Rasanya ingin memamerkan bayi mungil berkulit merah ini pada seluruh dunia. Putra yang akan ia bangga-banggakan. Seorang anak lelaki yang menjadi cucu pertama dalam keluarga dan keluarga RIma juga.


Ia masih tinggal membeku bahkan saat perawat wanita itu telah mengulurkan bayi yang dibungkus seperti kepompong itu. Betapa hatinya begitu menghangat saat sadar jika TUhan masih memberikannya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang tiada tara seperti ini.


Ia bahkan sempat merasa tak berhak untuk bahagia, terlebih jika mengingat semua perlakuannya pada RIma.


Dan wanita itu justru memberikannya hadiah yang tak terkira ini.


Berharap ia tak terbangun dari mimpi indahnya ini.


"Silahkan pak!"


"AKu takut!" Ucapnya, meski tangannya telah terulur namun belum berani untuk lebih mendekat lagi mengambil alih bayi mungil itu.


Harusnya ia berlatih dahulu sebelum hari ini datang.


"Pelan-pelan saja pak!"


Hingga Dihyan harus memaksakan diri untuk dapat memajukan kedua tangannya menggapai tubuh mungil yang masih rapuh itu.


Rasa bangga, bahagia dan takut masih bercampur aduk dalam dirinya kini.


Ia takut tak bisa menggendong anaknya dengan benar. Ia bahkan sempat memikirkan bagaimana jika bayi lemah itu terjatuh saat berada dalam dekapannya.


"Pelan-pelan." Ucap perawat itu lagi.


Tangannya yang mulai meraih itu terlihat begitu kaku dan sulit sekali bergerak saat bayi itu telah berada di atas lengannya. Perawat bahkan membantu memegangi lengan Dihyan dan mendorong perlahan agar kembali mendekat pada tubuh sang pemilik itu.

__ADS_1


Sementara pria itu hanya terdiam dengan pandangan mata yang tak pernah lepas pada mahluk mungil nan lucu ini. Tanpa terasa, pipinya telah basah oleh cairan bening dan hangat, sehangat hatinya kini.


Ini putranya, dalam hatinya bergumam bangga. Detak jantungnya berdegup sangat kencang seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Rasa rindu yang sekian lama ia rasakan pada sosok malaikat kecil ini akhirnya mampu berbayarkan. Hampir di setiap waktunya memimpikan hal ini.


Beberapa kali mengerjapkan mata demi mengurangi air yang keluar dari sana. Dikecupnya bayi yang hanya terlihat wajah dan sebagian kepalanya ini.


Hemm, wangi.


Wanginya seolah membuat pria ini enggan menjauh dan selalu mendekatkan wajahnya ke arah buah hatinya ini.


Mungkin ini yang orang tua bilang bayi itu wanginya seperti malaikat. Seolah ia tak pernah puas mendekatkan wajah demi menghirup wangi tubuh bayi mungilnya.


"Bisa diazankan pak!"


Perawat itu kembali mengingatkan sebab Dihyan seolah tenggelam dengan dunianya sendiri.


"Iya."


Di sana Rima tak mampu mengalihkan pandangan pada sepasang anak bapak.  Bibirnya merekah dengan mata yang beberapa kali pula mengerjap menahan haru. Tak bisa disanggah, jika hatinya turut menghangat kala menikmati pandangan itu.


Suara Dihyan mengalun lembut mengajak putra mereka beribadah. Iapun terharu, telah menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.


Bibirnya semakin terbuka lebar saat Dihyan yang menggendong melangkah mendekat padanya. Rasanya ingin tertawa saat melihat pria itu berjalan seperti robot, kaku sekali, hahaha. Langkah pria itu bahkan sangat-sangatlah pelan.


"Bisa di letakkan di atas tubuh ibunya pak!" Suara sang perawat yang sejak tadi menemani DIhyan.


"Bagaimana?" Pria itu menoleh ke arah sang perawat.


Semua tersenyum memandang bapak baru itu. Bahkan untuk meletakkan bayinya saja tidak bisa.


Baru saja mendarat, bayi itu langsung saja mengeluarkan suaranya yang begitu nyaring hingga memenuhi ruangan ini.


"Waah, nangis. Sepertinya masih mau digendong ayah ya dek?"


Dihyan tahu jika si dokter sedang bercanda, ia tersenyum. Mungkin hari-hari selanjutnya akan menjadi hari-hari yang sangat indah. Meski tadi sempat menampilkan wajah panik saat melihat anaknya menangis.


"Ngak pa-pa, nangis itu artinya bayinya kuat dan sehat ya pak, gak usah khawatir."


Dihyan kembali mengangguk, mengerti dengan penjelasan sang dokter, meski ada rasa tak tega jika melihat bayi itu menangis. Rasanya, ingin sekali pria itu kembali mendekap dan membujuk agar bayi itu menghentikan tangisnya.


Diotaknya telah terpikir, mainan apa yang akan ia beli nanti agar bayi itu tetap tenang dan tak menangis seperti sekarang ini. Padahal bayi itu hanya membutuhkan Asi dari sang ibu.


"Bisa dibantu untuk bayinya ketemu pvt!ngnya bu dokter!"


Dihyan keluar dari ruang persalinan.


Masih banyak yang harus ia urus. Administrasi RUmah sakit, mengabari keluarga mereka serta meminta di bawakan barang-barang keperluan Rima dan bayi mereka. Tak lupa keperluannya juga, mungkin ia akan tinggal beberapa hari di sini untuk mendampingi Rima.


Ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya sedikit lebih lama, papa pasti mengerti.


"Bagaimana?"


Senyum yang sedari tadi melekat di bibir Dihyan kini raib seketika, berganti dengan wajah datar dengan tatapan tajam. Entah mengapa ia tak suka pertanyaan sederhana yang keluar dari bibir Reno. Pria itu langsung bangkit dari duduknya saat melihat Dihyan keluar dari ruangan.


"Kenapa? Apa urusanmu?" Tanyanya dengan nada ketus, benar-benar tak suka.


"Oh come'n Dihyan!" Kedua tangannya terbuka seperti usahanya yang seolah ingin membuka mata hati pria di sepannya.

__ADS_1


"Kamu tau setelah ini apa?" Diiringi dengan senyun tampan namun sedikit sinis.


"Kamu tidak lupakan yang kukatakan waktu itu?" Tanyanya lagi.


Pria itu tersenyum namun jelas terlihat sangat menjengkelkan, sungguh.


"Se-te-lah dia me-la-hir-kan, maka,..." Ia seperti sedang bermain teka-teki.


Tatapan tajam dengan wajah penuh keseriusan, memberi jeda pada setiap kosa kata yang ia ucapkan.


Berharap semoga Dihyan dapat mengerti jika di jelaskan dengan perlahan namun penuh dengan penekanan.


Namun, hanya seperti itu saja namun mampu mematik amarah yang menyambar. Dihyan segera maju, mencengkram kerah baju Reno. Bawahannya ini benar-benar tak tahu dir! dan berani.


"Maksud kamu apa hah?"


"Kita tak pernah ada perjanjian sekalipun. Dan yang di dalam adalah keluargaku dan akan tetap menjadi keluargaku."


Bukannya takut, Reno masih menampilkan wajah datar, tangannya bergerak menepuk tangan Dihyan di lehernya.


"Sadarlah Pak Dihyan, janganlah terlalu egois. Tolong pikirkan perasaan kami!" Ucapnya dengan sangat tenangnya.


"Rima tak pernah mau bersamamu kalau kamu tidak merayunya."


Itu keyakinannya.


Mereka tak sadar pertikaian itu menimbulkan rasa penasaran pada mereka yang memandang. Beberapa dari mereka bahkan terdiam demi menyimak kedua pria ini.


"Mengertilah, aku sudah lama mengalah!" Reno, kini rautnya seperti orang yang memohon. "Begitupun dengan dia. Biarkan kami merasakan kebahagiaan untuk sisa hidup kami, tanpa adanya kamu."


"Kamu memang tidak tau dir!."


Dihyan tak lagi mampu menahan diri untuk tak mengayunkan tangannya demi memberi pelajaran pada Reno.


"IYYAN, RENO!"


Suara teriakan itu menghentikan aksinya. Tangannya yang terkepal sangat keras terhenti di udara saat melihat kedua orang tuanya yang berlari ke arah mereka.


"Apa-apaan kamu?"


Mama segera menepis tangan sang putra yang masih menempel di kerah baju Reno, menarik hingga kedua pria itu terpisah jarak.


Pun dengan papa, pria itu bertugas menarik Reno menjauhkan.


Mama menggelengkan kepalanya, tak habis pikir bagaimana mungkin Dihyan cemburu pada Reno. Baginya tak mungkin Reno mencintai Rima, wanita yang telah berkeluarga. Tak mungkin pula pria itu menikam putranya dari belakang. Semua yang pernah diutarakan Dihyan tentang hubunga Reno dan Rima tak berdasar sama sekali.


"Ayo," Menarik Dihyan lebih jauh lagi, menyerahkan Reno pada suaminya. "Rima di mana?"


" Masih di dalam, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan." Ia tak bertanya lagi tentang keberadaan orang tuanya, pasti Reno yang menghubungi.


Mama mengganggukan kepala, memilih duduk di kursi tunggu sambil menarik tangan Dihyan agar mengikutinya duduk.


"Cowok mah, anakku cowok." UCapnya dengan kepala menunduk, masih kesal.


"Oh ya?" Wajah wanita itu langsung bersinar cerah, "Pasti ganteng seperti papanya, iya kan?"


Dihyan tersenyum masih dengan kepala yang menunduk seperti gadis yang sedang malu-malu saat dipuji cantik.


Sejenak ia melupakan kekesalannya saat mengingat bayangan putranya yang memang tampan menurut pandangan matanya.

__ADS_1


__ADS_2