
“Dan kau." Kali ini tatapan itu beralih ke Dianra yang berdiri di dekat mereka.
"Kau seorang wanita. Di perutmu juga ada rahim kan? Bagaimana bisa kau melakukan ini pada kami? Kau juga ingin membunuh keponakanmu hah?" Mama Cinta dengan telunjuknya di depan wajah Andra.
"Cucu mama!” Kali ini memukul dadanya sendiri.
“Aku tidak tau kalau Rima hamil mah.” Andra membela diri.
“Iya lalu kenapa kalau dia tidak hamil? Kau juga akan tetap menyiksanya hah? Kalian pikir mama tidak tau apa yang telah kalian lakukan?”
Lagi wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
Entah sakit mana yang harus ia nikmati saat ini.
Kehilangan cucu yang sejak lama dinantikan seluruh keluarga?
Atau sakit saat mengetahui perbuatan kedua anaknya itu.
Sakitnya hampir sama. Sama-sama menyerang jantung.
“Ma, sabar ma!” Suara papa dari telpon. Bahkan mama belum mematikan sambungan telponnya.
“Pasien masih membutuhkan darah! Kami kehabisan darah.” Salah satu tim medis yang menangani Rima.
“Ambil darahku saja!” Dihyan berdiri segera menghadap di depan sang perawat.
“Jangan!" Hentakan mama membuat pria itu terhuyung dan terduduk di lantai.
Sama-sama berdiri menghampiri sang perawat.
"Rima tidak mungkin menerima darah kotormu. Ambil darahku saja!” Mama Cinta sambil mendorong tubuh
Dihyan menjauh dari sana, tapi lelaki itu tidak bergeser sedikitpun.
“Ma, aku suaminya. Aku lebih berkah dari pada mama,” Dihyan.
“Berhak katamu? Setelah mencelakakannya kau ingin darahmu mengalir di tubuhnya hah?” Mama Cinta dengan tatapan sinis, masih sangat emosi.
“Tolong jangan bertengkar di sini, dan kami perlu darah secepatnya!”
“Aku suaminya, aku yang akan memberikan darahku padanya. Amankan ibu itu,” Sambil menunjuk mama Cinta dengan matanya.
Ia tahu mamanya sedikit keras. Kali ini saja, ingin ia menjadi bagian dari perjuangan kehamilan Rima, anak mereka.
Beberapa tim medispun mempersilahkan mama Cinta untuk segera meninggalkan tempat itu. Tak ingin terjadi keributan di sana.
“Kamu salah menantang orang." Dengan lirikan mata tajam, seolah ada yang membara di dalam tubuh.
"Kamu lihat saja apa yang bisa kulakukan, hah!” Mama Cinta.
Sejenak ia melupakan status dirinya dengan pria yang baru saja mengusirnya.
Heh, hembusan keras terdengar dari Dihyan. Ia tak pernah berharap akan berperang dengan mamanya sendiri, apalagi dalam kondisi genting seperti ini.
Rima membutuhkan darah secepatnya, jangan sampai terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi. Bukan waktunya untuk mereka berselisih.
Sementara Andra hanya terdiam melihat perdebatan kakak dan mamanya.
Mama Cinta pun meninggalkan tempat itu. Sementara Dihyan mengikuti perawat demi mengikuti prosedur untuk mendonorkan darahnya.
Melalui pemerikasaan dan mencocokkan darah mereka, sampai akhirnya pengambilan darah Dihyanpun di
lakukan.
Setelah beberapa lama berbaring di brangkar dengan selang sebagai jalur darah terpasang di tubuh Dihyanpun keluar.
Kepalanya masih sangat pusing, ia juga butuh istirahat. Mungkin tidur sedikit, atau segelas susu bisa meringankan kepalanya.
Namun rasa khawatir mengalahkan segalanya.
__ADS_1
Ia ingin cepat mengetahui keadaan Rima yang sebenarnya. Tentu janin mereka pula.
“Pak Dihyan Saguna Pratama?” Pria berseragam polisi terlihat mendatanginya.
“Iya betul, ada yang bisa saya bantu pak?” Dihyan.
“Kami mendapat laporan tindakan kejahatan bapak. Ini adalah surat pemanggilan bapak,” Sambil memberikan amplop putih pada Dihyan.
Glep.
Dihyan membuka amplop itu dengan tatapan amarahnya. Membaca lembaran itu hatinya semakin memanas tuduhan “Kekerasan Pada Rumah Tangga?”
Menggelengkan kepalanya keras sambil memejamkan matanya, seolah tidak percaya pada apa yang ada di tangannya.
Yang benar saja, Siapa yang telah berani melaporkannya?
Keluarga Rima? Mereka belum tahu tentang kabar Rima kan?
Mama? Papa? Mereka lebih bisa.
Dengan waktu yang sesingkat ini?
Tentu saja dengan kekuatan uang dan koneksi.
Tapi, mengapa mereka tega melakukan ini pada anak kandungnya sendiri?
“Bapak mungkin salah pak!” Ia meyakini diri.
“Silahkan ikut kami pak! Bapak bisa memberikan penjelasan nanti di kantor.”
“Tidak bisa sekarang pak, istri saya butuh saya. Dia masih di dalam sedang mendapatkan penangan.”
Ucapnya sedikit penekanan semoga bapak-bapak polisi ini mengerti keadaannya.
Sejak kapan Dihyan memperdulikan tentang keadaan Rima? Bahkan untuk meliriknyapun dulunya ia tak sudi.
“Silahkan ikut kami pak!” Kembali lelaki berseragam itu mengulurkan tangan, masih mencoba sopan meskipun lawan bicara telah menunjukkan penolakan.
"Tunggu sampai istri saya sembuh dulu! Setidaknya biarkan saya merawat istri saya dulu pak!”
“Bawa dia!” Perintah itu memberikan respon yang sangat cepat pada teman-teman polisi lainnya yang berada di sana.
Dua polisi telah maju ke samping kiri kanan, bersiap membawa tubuh itu. Dua polisi masih berada tepat di hadapannya.
Dihyan menghempaskan tangan saat kedua polisi itu telah meraup masing-masing tangannya.
"SAya bilang saya akan menyerahkan diri nanti!" Gertaknya.
Meskipun meronta, tapi tak bisa lagi melawan beberapa orang tegap itu.
Ditambah lagi setelah mendonorkan darahnya, tenaganya sedikit melemah untuk dapat melawan mereka.
“Pak, tolong kasihani saya, istri saya sakit pak!”
"Saya akan datang nanti, istri saya sendiri pak!" Suara mulai luluh, kini ia telah memohon.
Sambil meronta, namun tak mendapat tanggapan dari para polisi itu. Ia tetap digiring hingga memasuki sebuah mobil yang membawa tubuhnya menjauh dari RS tempat Rima dirawat.
"Paj tolong saya pak, istri saya hamil muda pak, dia sedang sakit pak!"
Pintanya memelas, tak peduli saat para polisi itu mengacuhkannya.
"Pak mohon jadikan saya tahanan kota saja. Saya masih harus merawat istri saya pak!"
Semakin lama, suaranya semakin lirih.
Hingga sampailah dia di sebuah bangunan berisikan para penegak hukum dan para pelanggar hukum. Dihyan
ditempatkan di sebuah ruangan dengan jeruji besi berisikan beberapa tahanan lainnya.
__ADS_1
Dihyan terlihat lemah, kepala semakin terasa berat saja, tubuh semakin tak bertenaga.
Tak peduli dengan keadaan sekitarnya ia langsung tertidur dalam sel itu meskipun sangat jauh dari kebiasaannya.
Tak ada kasur empuk, tak ada pendingin ruangan, dan suara nyaring dari binatang-binatang kecil yang sesekali menghisap darahnya.
Dihyan meringkuk di lantai, Ia telah terlelap dalam keindahan dunia mimpinya.
Terlalu letih untuk mencari kenyamanan lainnya.
“Bangun! Bangun!” Suara dari luar menggelegar diiringi suara ketukan besi yang semakin membuat kebisingan itu
semakin lengkap.
Membangunkan para penghuni tahanan, namun tak sedikit dari mereka yang tak peduli dengan riuhnya suara itu. Mereka tetap terlelap dibuaian mimpi.
Tapi tidak untuk Dihyan. Suara itu sangat-sangat mengganggunya.
Mencoba membuka matanya sayup-sayup. Diedarakannya pandangannya mengelilingi ruangan itu. Masih banyak penghuni lainnya yang justru mencari kenyamanan dengan menutup kepala mereka dengan tangan.
Sejenak ia tersadar bahwa dirinya kini benar-benar berada dalam tahanan. Kembali ingatannya tertuju pada sosok
yang selama ini menjadi istrinya, yang telah ia celakai.
Lalu bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungan Rima? Bertahankah?
Tak sadar doa dalam hati ia panjatkan, semoga masih bisa bertemu dengan malaikan kecilnya nanti.
Ia melihat sandal yang sangat mirip dengan kepunyaannya. Dengan rasa penasaran ia mengitari pandangannya di
sekitar tubuhnya demi mencari sandalnya, namun tak ditemukannya. Sudah jelas sandal yang di sana adalah kepemilikannya.
Berdiri dan berjalan mendekati sandalnya demi untuk bisa memakainya.
“Hei itu punyaku,” Seseorang yang masih setengah tidur.
Mata Dihyan menyipit seolah mencari kebenaran, jika ini sandal pria itu, lalu dimana sandalku? Namun Dihyan
tetap saja memakai di kakinya.
“Dibilangin ini punyaku juga?” Lelaki itu meninggikan suaranya dan langsung bangkit dari tidurnya.
“Kalau ini punyamu, lalu mana sandalku?”
Dihyanpun tak kalah meninggikan suaranya. Ia telah berhasil memakai sebelah sandalnya, dan sebelah lagi berada di kaki pria itu.
“Mana ku tau, ini punyaku. Itu lepas!” Lelaki itu sambil menunjuk pada kaki Dihyan.
“Gak, jelas-jelas ini punyaku. Liat ini?” Dihyan mencoba menunjukkan merek sandalnya yang lumayan wah.
Ini adalah pengalaman pertamanya bertengkar hanya karena sandal.
“Justru karena ini, jadi milikku. Pasti mahal nih?” Lelaki itu berhasil merebut sebelahnya dari tangan Dihyan.
“Kamu, orang kaya kan? Tuh baju juga buka!”
“Apaan ini? Sudah ambil sandalku minta bajuku juga?” Dihyan berdecak kesal. Ia meninggalkan pria itu. Namun
seketika tangannya telah diraih pria itu.
“Lepaskan bajumu!”
“Tidak mau,” Dihyan dengan sigap memutar tangannya hingga tangan pria itu terlepas dari tangannya.
Namun belum lagi ia berbalik, beberapa orang telah mengerumuninya, ada yang telah memegangi ke dua tangannya. Seseorang menendang lutut bagian belakangnya hingga ia tersungkur.
Sementara pria tadi dengan leluasa menendang perutnya,” Ugh.”
To Be Continued!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan!