Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kebahagiaan Tiada Terbantahkan


__ADS_3

"Kak."


Sapa Diandra saat baru saja masuk ke dalam kamar, ia hanya mampu menarik ujung baju Reno. Memeluk dari belakang? Hah, mereka tak sedekat itu, sekalipun hubungan telah berubah menjadi suami istri.


"Ngak pa-pa, nanti ibu yang bicara sama Dira dan Reno."


Kalimat penenang dari ibu sedikit mampu mengurangi rasa bersalahnya.


Kini ia telah berdiri di belakang sang suami, hanya berdua di dalam kamar. Waktunya untuk minta maaf.


"Kak, maafin aku. Aku gak sengaja." Ucapanya yang diiringi dengan isak tangis.


"Aku gak tau kalo tadi itu Dira, beneran sumpah!" Lagi masih dengan nada yang memohon dengan sangat.


Hubungannya dengan Reno bahkan belum mengalami peningkatan, ditambah masalah sekarang.


Ah, ia memang mudah tersulut emosi. Tapi benar, saat melihat Reno bersama dengan seorang gadis, ia cemburu.


Ya cemburu, sangat! YAng berarti ia begitu mencintai pria ini.


Reno membalikkan badan dengan tangan yang satunya baru saja menyimpan ponsel dalam saku celananya.


Pria itu tersenyum miring, memandang wanita yang berada di hadapannya. Tangannya di bawah terulur meraih tangan sang istri.


"Tangan ini." Tangan yang memegang tangan Diandra diangkatnya hingga berada di antara mereka.


"Tangan yang beberapa kali kulihat menyakiti orang lain."


Tangan yang satu kembali terulur seiring menurunnya gengamannya. Jemarinya kini  mengusap bibir merah itu dengan sangat lembutnya, andaikan tak terjadi peristiwa barusan, mungkin Diandra akan terlena dengan sentuhan itu, tapi gadis itu tahu maksud Reno hanyalah hendak menyudutkannya.


"Bibir ini, bibir yang kadang aku dengar menghina dan berkata kasar pada orang lain."


"AKu pikir dulu kamu yang sangat membenci Rima hingga bisa melakukan kesalahan-kesalahan yang kadang tak bisa kuterima. Yang tak bisa dilakukan oleh wanita anggun dan baik hati."


"Ternyata bukan itu. Heh, ternyata semua memang sudak sifatmu!"


"Dan aku sekarang menikahi wanita sekasar dan seburuk kamu!"


"Apakah aku harus berbahagia sekarang?"


Benarkan?


Pria itu kini telah menjatuhkannya.


Menjatuhkan dengan segala yang pernah ia lakukan. Padahal dia dan Rima telah berbaikan, meski kini ia kembali memiliki rasa amarah pada wanita itu.


Apa salahnya membenci wanita yang dicintai suaminya, meski ia telah berusaha menata hatinya untuk tidak membenci, menyakini jika ini bukanlah salah Rima, namun rasa itu tetap saja muncul tanpa bisa ia tekan.


"Katakan padaku, dari segimana aku bisa menerimamu sebagai istriku?"


Pernyataan konyol yang mampu meluluh lantahkan hati Diandra. Tidakkah itu terlalu sadis diucapkan oleh sang suami untuk istrinya?

__ADS_1


"Bahkan aku pernah melihatmu meng!njak tangan Rima dengan kaki mulusmu."


"Lalu apa kamu pikir aku bisa menyentuh wanita seburuk kamu?"


Kalimat itu benar-benar menghantam dada Diandra. Gadis itu hanya mampu terpaku dengan deraian air mata yang tak berarti bagi Reno.


\========


"Kita nungguin tamu spesial."


Mama berkata dengan senyum sumringahnya, sambil memangku cucu pertamanya. Berkumpul bersama keluarga besar merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi wanita itu. Tanpa ia tahu bagaimana perasaan-perasaan anak-anak dan menantunya kini.


Diandra dan Reno masih berlaku baik-baik saja dihadapan seluruh keluarganya. Pernikahan mereka masih sangat baru, masih bisa diperbaiki. Ia akan mencoba apasaja untuk mendapatkan perasaan Reno seutuhnya.


Di sebelah sana, pasangan Dihyan dan Rima terlihat tenang dan baik-baik saja. Ia tak tahu pasti apakah keadaan itu benar ataupun sekedar ilusi buatan. Yang terlihat, pasangan itu beberapa kali saling menggoda satu sama lain, terlihat bahagia.


"Siapa sih ma?" Rima.


"Ada. Mereka bawa kabar baik."


Baru selesai kata itu, diluar telah terdengar deru mobil yang berhenti di halaman.


"Ayo."


Semua berdiri menyambut. Hampir beriringan menuju ke teras.


"Kak Romi, Lely!" Suara teriakan dari Rima. Wanita itu sudah berlari saja, menubrukkan tubuh ke arah sang kakak lalu beralih memeluk Lely. Sang ayah yang berada di sisi sebelah tersenyum turut memperlihatkan kebahagiaannya.


Seluruh rombongan kembali masuk ke dalam rumah, dengan Rima yang memeluk lengan Lely berada di barisan paling berlakang. Dihyan dan Romi pun setelah bertos ria.


BUK.


"Awww." Dihyan seketika bersimpuh di lantai dengan kedua lututnya setelah mendapatkan serangan tiba-tiba dari belakang. Jelas saja ia merasa kaget, apa salahnya?


"Aku belum sempat membalaskan dendamku setelah kau menemb@k kakiku." Gadis yang baru saja menendang lututnya.


Astaga! Padahal itu sudah hampir dua tahun lalu, ternyata masih diingat juga.


"Hemmm, sukurin. Lagi Ly, lagi. Hajar!" Kalimat penyemangat itu nyatanya datang dari istrinya.


Oh Tuhan.


Dan lagi Lely masih sempat mendorong bahunya dengan lutut. Aww, sakit sekali! Hingga membuatnya benar-benar tersungkur di lantai. Dan pemandangan itu justru sangat indah di mata wanitanya.


"Rima."


"Apa?" Hentakan yang ia dapatkan dari sang istri.


"Bantuin!" Tangannya terulur mengharapkan sambutan, nadanya memelas.


Rima mendekat meski dengan wajah yang cemberut tanganya tetap terulur saja demi membatu sang suami untuk bangkit.

__ADS_1


Hup.


Dihyan mampu dengan segera membalikkan keadaan, saat baru saja ia menangkap tangan sang istri. Ditariknya dan dihempaskan perlahan ke lantai menggantikan tubuhnya.


Kena kamu!


Kini tubuh pria itu telah mengukung Rima dengan sempurna.


"Kamu tertawa saat suamimu disiksa oleh orang lain?" Tanyanya dengan menuding hidung sang istri.


"Apasih?" Rima.


Mereka seperti ini di ruang tamu loh. Meski semuanya telah berlalu hingga ke ruang keluarga, tapi tak menutup kemungkinan ada yang kembali untuk memanggil mereka. Apa jadinya ketika keadaan ini terlihat oleh orang lain.


"Turun ih! Pc, malu, nanti ada yang lihat!" Ucapnya dengan menepuk dada sang suami.


Tapi tidak, Dihyan justru menghujani wajahnya dengan ciuman tanpa memperdulikan penolakan sang istri.


"Siapa suruh gak bantuin suaminya saat di serang!"


Hingga beberapa saat mereka bergulat di lantai.


"Udah!" Napas Rima sudah ngo-ngosan menerima serangan dari Dihyan. Rambutnya bahkan telah berantakan.


Kesal sekali rasanya. Berdiri sambil merapikan penampilan sekedarnya.


"Sini!"


Dihyan berjongkok, menepuk pundaknya memanggil Rima untuk naik ke sana. Dan wanita itu menyambut dengan baik, naik ke atas pundak kekar itu dengan senang hati.


Hahahaha.


Semua penduduk rumah berbalik ke arah gawang pintu di mana Rima dan Dihyan baru saja masuk. Suara tawa  wanita itu memenuhi ruangan.


BUG.


Dihyan menghempaskan begitu saja tubuh semampai itu ke atas sofa.


"Aduh berat Rima. Kamu kebanyakan dosa apa dak! sih?"


PLAK.


"Enak aja, aku rajin luluran tau."


"Oh, berati banyak dosa?"


Semuanya hanya mampu tersenyum melihat sepasang suami istri itu, kecuali Reno.


Betapa hatinya sakit saat melihat Rima justru berbahagia di atas penderitaannya.


Sementara Diandra tersenyum miris. Bodoh sekali dirinya yang masih menyisakan cemburu pada wanita itu, padahal terlihat dengan sangat jelas kebahagiaan itu tiada terbantahkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2