
“Lepaskan bajumu!”
“Tidak mau,” Dihyan dengan sigap memutar tangannya hingga tangan pria itu terlepas dari tangannya.
Namun belum lagi ia berbalik, beberapa orang telah mengerumuninya, ada yang bahkan telah memegangi ke dua tangannya. Seseorang menendang lutut bagian belakangnya hingga ia tersungkur.
Sementara pria tadi dengan leluasa menendang perutnya,” Ugh.”
Bahkan wajahnyapun tak luput dari sentuhan kaki pria itu hingga nampak darah di sudut bibirnya.
Heh, belum juga genap sehari ia telah merasakan pahitnya kehidupan dalam bui.
“Kalau di bilangi, DENGAR! Dan laksanakan!” Lelaki itu dengan kerasnya, “Cepat buka bajunya!” perintahnya kepada dua pria yang memegang tangan Dihyan.
Mungkin pria itu merupakan ketua para napi yang berada di sel itu.
Lelaki itu mengenakan baju Dihyan sementara bajunya dilemparkan ke arah Dihyan.
Pcpcpc, beda memang. Ada harga ada kualitas. Pria itu beberapa kali menepuk-nepuk dadanya, merasa nyaman sekaligus bangga dengan baju barunya.
Sementara Dihyan.
Ck. Bau, dekil! Ya ampun berapa hari gak di cuci nih!
Kalah!
Ia sudah kalah sebelum berjuang.
Benar adanya hukum alam, dimana yang kuat akan menang dan yang lemah akan kalah.
Setelah mengenakan baju dekil itu, ia berjalan lunglai menuju ke suatu sudut ruangan, kepala menunduk dalam. Menempatkan bokongnya di lantai, merasakan dingin yang kian menembus kulitnya.
Seperti inikah yang namanya ditindas?
Apakah seperti ini juga yang dirasakan Rima saat ia memperlakukannya dengan seenaknya. Tak bisa berbuat apa-apa hanya untuk sekedar membela diri.
Benar-benar karma yang adil.
Lamunannya sebentar melayang.
APa kabar RIma?
Apa kabar bayinya?
Semoga semua baik-baik saja!
Menjadi sosok yang pendiam sangat cocok untuk keadaanya saat ini. Mengikuti segala instruksi dari teman satu
selnya, tanpa harus protes apapun itu. Setidaknya wajah dan tubuhnya akan aman.
Dihyan sarapan dengan tahanan lainnya.
Serasa aneh, ia belum pernah berhadapan dengan makanan sederhana seperti ini. Nasi putih dengan telur dan tempe sebagai lauknya. Namun apa mau dinanya, perutnya terlalu lapar untuk tidak menikmati makanan sederhana itu.
Tak apa, mungkin di sinilah dia harus belajar yang namanya kesederhanaan.
Di sana mereka juga diperintahkan untuk membersihkan seluruh kawasan itu, termasuk Dihyan.
Mendapatkan tugas merapikan taman, membersihkan tumbuhan liar yang ikut tumbuh menggangu taman.
Tangan kotor, inipun menjadi sebuah pengalaman pertama bagi Dihyan.
Namun nampaknya dia sangat tenang melakukan tugasnya. Apakah dia juga telah belajar yang namanya kesabaran?
Ini lebih baik dari pada harus kembali ke sel.
mungkin menghindari kawan-kawan satu selnya.
Tak sampai disitu, mereka juga digiring ke sebuah mushollah untuk melaksanakan shalat lima waktu bagi tahanan
yang beragama Islam.
Pernah menjadi insan yang tak lalai dari kewajibannya ini, tapi entah mengapa ia semakin menjauh.
Kembali menjalankan saat benar ditimpa musibah seperti saat ini.
Mungkin memang ini tujuan Tuhan memberikan ujian pada setiap insan, agar mereka kembali bersujud.
Kembali ke sel masing-masing. Bertemu dengan teman satu selnya yang lain.
__ADS_1
“Masalah apa?” Sang ketua tahanan mulai menyapanya.
“Dari tampangnya sih, dia orang kaya. Korup tuh, korup?” Seseorang menebak dengan semangat.
“Koruptu bukan di sini oon!”
Bayangan mama Cinta yang menyebutnya ingin membunuh anaknya sendiri seketika itu melintas di otaknya.
Apa yang telah ia lakukan sehingga harus berkumpul dengan orang-orang ini?
Harus mengatakan apa?
Menyakiti istri? Seorang wanita yang harusnya dilindunginya.
Laki-laki macam apa kamu ini? Beraninya dengan perempuan.
Pasti itu yang akan mereka ucapkan.
Bahkan dia akan ditertawakan.
Atau mencoba membunuh anak sendiri? Anak? Bagaimana kabarnya kini? Dihyan menggelengkan kepalanya.
Anakku! Anakku! Bertahanlah nak, papa akan segera datang!
Rintihnya dalam hati.
“Kenapa diam? Gak bisa ngomonglu?” Berbicara masih dengan membentak.
Tidak bisa apa ngomong dengan nada yang sewajarnya?
Dihyan hanya menggelengkan kepalanya.
“Lu orka kan?”
“Orka itu apa?” Dihyan.
“Haaaaahaaaaahaaaaaa” Mereka serempak tertawa. Entah apa yang lucu.
“Orka apa hah?” Mereka saling bertanya.
“Lu kerja kantoran kan?”
“Kayak lu orang beres aja?”
Ia mungkin benar ia orang yang tidak beres.
Dihyanpun menjalani malamnya dengan meringkuk di atas lantai nan dingin itu.
Namun malam ini sepertinya lebih sulit dari pada malam sebelumnya. Karena malam ini ia tak bisa memejamkan
mata. Mungkin besok ia harus lebih aktif lagi sehingga tubuhnya kelelahan dengan begitu ia akan lebih cepat untuk terlelap dan tak harus tersiksa seperti ini.
Dan diluar sana.
“Tambah 24 jam lagi!” Seorang wanita.
“Apa tak apa bu? Dia anak Ibu?”
“Tak apa, biarkan dia belajar!”
Cerita hari ke tiga di sel tahanan.
“Lama-lama gerah gue liat lu. Diem mulu.”
“Punya mulut tuh dipake buat ngomong!”
“Eh tunggu-tunggu kita belum periksa celananya, siapa tau ada cindera mata!”
“Iya bener-bener. Chek!”
Merekapun bersama memeriksa saku celana Dihyan. Meski meronta tetap saja percuma.
Dihyan bisa apa dalam menghadapi orang-orang ini sendirian.
Dan benar saja mereka menemukan beberapa lembar pecahan yang mereka butuhkan.
“Balikin duit gue!” Dihyan berteriak sambil berusaha meraih uangnya yang berada di tangan teman satu selnya.
“Lu lawan gue?”
__ADS_1
BUG.
Mungkin kesabaran Dihyan telah habis, ia berhasil mendaratkan sebuah pukulan ke wajah sang pemimpin penghuni tahanan.
Dengan satu gelengan kepala sang ketua, kini Dihyan kembali dikendalikan dengan kedua tangannya direnggangkan dan kedua kakinya yang berlutut di lantai.
BUG.
BUG.
BUG.
Kini wajahnya benar-benar dipenuhi dengan hiasan yang telah dihadiahkan dari sang pemimpin tahanan.
“Egh,” ia hanya bisa mengeluh.
Kembali meringkuk di sudut sel.
Seolah kekuasaannya hilang dalam sekejap mata.
Tak ada yang menolongnya, bahkan hanya untuk menjenguknya pun tak ada.
Keluarga, teman, istri apalagi. Kemana mereka semua?
Ingin mengangis tapi malu. Ia pria tak boleh lemah, meski hidup tak sesuai dengan ekspektasi.
Karma benar-benar dibayar tunai.
Saat dia dan adiknya menyiksa Rima dan tak ada yang menolong bahkan para pelayanpun hanya menyaksikan kekejaman mereka tanpa bisa menolong.
Pagi menjelang.
“Kamu keluar!” Seorang petugas.
“Saya pak!” Dihyanpun berjalan keluar, masih dengan kepala yang menunduk semakin dalam.
Nyalinya belum terkumpul untuk hanya sekedar menengakkan kepala.
“Kamu boleh pulang!"
Kalimat yang serasa menyiram hatinya yang tandus dengan air hujan.
Dihyan dengan sangat semangat berlari keluar dari tempat keramat itu. Tak ada yang bisa ia gunakan untuk menyantaikan tubuh duduk di atas mobil meski hanya sebuah taksi.
Kaki yang berlapis sandal jepit tipis itu terus bergerak di atas trotoar dengan sangat cepat.
Menyampingkan sengatan matahari yang membakar kulit.
Sesekali berhenti hanya untuk mengatur napas, sejauh mana lagi ia harus berlari?
Kembali menengok kepala ke belakang, kantor polisi sudah tak terlihat dipelupuk matanya/
Kembali berlari saat merasakan napas telah sedikit stabil, RS tempat Rima di rawat semakin terlihat besar dan luasnya.
kembali berlari menuju ke ruangan tempat Rima dirawat. Tak sabar menemui istrinya dan meminta kabar tentang anaknya.
“Dimana istriku?” Pertanyaan tepat pada seorang perawat yang telah merewat istrinya.
Napas ngos-ngosan, dengan keringat yang membasahi pakaian buluknya.
“Maaf pak, pasien yang tiga hari yang lalu kan? Namanya?”
“Rima Damayanti,” Dihyan menjawab cepat. Seperti ada yang memburu dalam dada, tak sabar.
“AH iya benar, ibu Rima telah dibawa pulang pak!”
“Pulang? Berarti keadaan telah membaik. Lalu bagaimana dengan anakku sus?” Dihyan masih tak sabar mendengar.
“Emmm, maaf pak. Ibu Rima mengalami keguguran karena benturan yang terlalu keras,” Perawat.
“Apa? Keguguran?”
Serasa disambar petir, mengelegar di telinga.
Anak yang selama ini ia nantikan, harus pergi sebelum menghirup udara segar.
“ Beraninya wanita itu, merenggut anakku!” Dihyan berteriak. Dia melupakan rasa sakit diwajahnya dan kelelahan tubuhnya.
“Aku akan menghukumnya! Dia harus melahirkan banyak anakku!” Geramnya.
__ADS_1
To Be Continued!