Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Merasa Lelah


__ADS_3

Pagi yang cerah di akhir pekan.


Setelah menjalani hari berat dan keras kini waktunyaenikmati hari libur dengan kegiatan yang disukai.


Begitupun dengan Rima yang mendapat bagian libur tepat di akhir pekan.


Memandangi kain putih yang biasa ia gunakan untuk melaksanakan kewajibannya setiap hari sebanyak lima


kali. Telah beberapa minggu ini ia tak lagi menyentuhnya, hanya sekedar memandang lalu meninggalkan dan menjauh.


Putus asa, mungkin saja?


Keluar dari kamarnya dengan menggunakan tank top tanpa tali yang hanya menutupi bagian dadanya. Sementara perutnya terlihat datar dengan memamerkan pusarnya.


Tak sampai disitu, bawahan celana short diatas lutut ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya menjadi pilihannya saat ini.


Menonjolkan beberapa tubuhnya yang sangat empuk.


Putih, mulus, lembut kulit Rima tak terelakkan.


Ini adalah rekor terseksi dari seorang Rima yang berani tampil di luar kamarnya. Meskipun berada di rumah


jangan bilang tak ada pria lain selain suaminya. Ada tukang kebun dan sang sopir, bukankah mereka tetap pria?


Rima berjalan tanpa rasa canggung dengan pakaiannya menuju ke ruang makan. Toh tak ada lagi yang harus ia


pertahankan setelah Dihyan merebut semuanya secara paksa. Itulah yang ada di benaknya saat ini.


Sendiri menikmati roti gandum dengan pilihan selai coklat. Jus wortel menjadi pilihannya hari ini. Itu hasil dari karya tangannya sendiri.


Setelah menghabiskan sarapannya, Rima berjalan keluar rumah lewat pintu samping tembus dengan sebuah kolam


renang dan taman.


Di sana telah berdiri seorang tukang kebun pak Dodo yang tengah merapikan tanamannya. Tak usah tanyakan lagi


bagaimana pandangannya tertuju pada tubuh indah nan seksi itu.


Bok0ng indah nan empuk tak bisa untuk tak dipandangi.


Rima memilih duduk ditepian kolam renang merendam kakinya, sambil memainkan kaki dan tangannya. Ia kemudian berdiri menghampiri pak Dodo, meminta gunting.


Pandangan pak Dodo terus melekat pada Rima. Siapa yang akan menghindari pemandangan indah seperti ini? Gratis lagi? Toh suaminya tak memperdulikan istrinya sendiri. Maka nikmatilah!


Tak bisa di ukur lagi seberapa cepat jantung pak Dodo berdetak.


Tubuh terasa gemetar, otong mulai bangkit.


Sementara yang dipandangi tak merasa terganggu sedikitpun.


Rima Berjalan mengitari taman, hingga kakinya berhenti di dekat tumbuhan mawar dengan bunga yang sangat indah.


Rima memilih bunga mawar merah yang tengah mekar dengan sempurna. Senyumnya mengembang sambil mencium bunga di tanggannya.


Setelah mengembalikan gunting, ia kembali berjalan mendekati kolam memandang dengan lekat.

__ADS_1


Berbalik membelakangi kolam, merentangkan kedua tangannya kesamping dengan tangan kanan tetap memegang bunga mawar merah. Kedua matanya tertutup.


“Aku lelah.”


Mungkin saja ini adalah kalimat terakhir dari seorang Rima sebelum,....


Byur.


Tubuhnya menghempas di air menciptakan ciprakan keluar kolam.


Mungkin ini adalah langkah terakhir untuk merealisasikan keputus-asaannya.


Lelah.


Semua terlihat oleh pria di balik ruang kaca dengan dada polos, menarik sebelah bibirnya keatas membentuk


senyuman sinis.


Setelah beberapa Rima tak menampakkan kepalanya hanya untuk mengambil napas, dia mulai belajar berhitung.


Satu


Dua


Tiga


Empat


Lima


Enam


Tujuh


Delapan


Sepuluh.


Tidak, Rima belum menunjukkan dirinya.


Dia kembali berhitung.


Satu


Dua


Tiga


Empat


Lima


Enam


Tujuh

__ADS_1


Delapan


Sampai air di kolam itu kembali tenang, Rimapun tak nampak.


“Sial!” Dihyan segera berlari sambil melempar handuk yang sedari tadi melilit dilehernya ke semberang arah.


Berlari dengan kecepatan semaksimal mungkin. Tak memperdulikan diri saat ia beberapa kali menabrak sesuatu.


Sudut meja yang meninggalkan bekas kemerahan di pinggangnyapun tak ia rasakan. Ia harus cepat, sebelum benar-benar terlambat.


Satu yang ia yakini bahwa Rima tak berniat untuk naik bahkan hanya untuk menampakkan kepalanya guna  menghirup oksigen. Dihyan terus berlari dengan dihantui dengan perasaan cemas.


Byur.


Dihyan menyusul Rima masuk ke dalam kolam berkedalaman 3 meter itu. Terus mencari sosok yang sedari tadi


berada di dalam. Dan benar saja menemukan apa yang ia cari telah berada di dasar kolam.


Di luar keadaan darurat manusia biasanya bisa menahan napas tanpa kesulitan sekitar 30-60 detik atau sedikit


lebih lama bila memang dibutuhkan.


Dihyan meraih tubuh Rima, dengan bantuan kakinya yang menghentakkan dasar kolam terus berenang naik.


Hingga tiba di atas, Dihyan mulai menaikkan tubuh Rima dibantu pak Dodo yang sedikit bingung.


“Kirain non Rima bisa berenang?” Kata itu berasil keluar setelah kedua orang itu dirasa cukup aman berada di


tepi kolam.


Tak lupa Dihyan menarik pakaian atas Rima yang telah melorot turun sedikit. Menampakkan tubuh yang harusnya memang untuk dirinya.


"Rima keterlaluan," umpatnya dalam hati.


“Apa yang kalian lihat? Cepat tutup mata kalian atau kucolok mata kalian!” Meskipun sedikit terengah-engah dia masih sempat untuk memarahi kedua pria yang masih memandangi tubuh istrinya.


“Cepat ambilkan handuk!” Masih membentak. Merasa tak bisa menutupi tubuh Rima yang menampakkan lebih banyak kulitnya.


Sungguh lucu, ketika dia tak pernah memperdulikan keadaan Rima dan sekarang dia terlihat marah saat tubuh


istrinya dipandangi oleh lelaki lain.


Pak Dodo segera berlari masuk mencari handuk kering. Setelah mendapatkan apa yang ia ingini kembali berlari


keluar menghampiri Dihyan yang tengah melakukan pertolongan pertama pada Rima.


Segan untuk maju lebih dekat, pak dodo memilih untuk membelakangi Dihyan sambil terus berjalan mundur dengan


tangannya terjulur ke belakang. Berharap jika telah dekat Dihyan akan mengambilnya, tanpa harus memandang ke arah wanita yang semakin terlihat seksi itu karena tubuhnya yang basah.


Begitu juga dengan pak Eko yang sedari tadi tetap stand by di tempatnya dengan membelakangi majikannya.


Rima tidak bernapas.


Dihyan segera mengambil handuk menutupi tubuh Rima dan kembali lakukan pertolongan pertama berupa cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru dengan menekan telapak tangan di bagian tengah dada.

__ADS_1


Rima belum bernapas.


Ham


__ADS_2