
Rima berjalan mendekati Dihyan dengan menggendong seorang bayi lucu dalam dekapannya dengan bibir merekah, tersenyum. Semakin mendekat ke arah Dihyan dan Nindy yang tengah berbicara sambil berdiri.
Rima berjalan mendekati Dihyan dengan menggendong seorang bayi lucu dalam dekapannya. Senyum merekah itu semakin terlihat jelas, menanda ia tengah berbahagia.
Semakin mendekat ke arah Dihyan dan Nindy yang tengah berbicara saling berhadapan.
" Sayang, Lihatlah ini bayiku, bayimu juga." Dihyan Hendak mengambil bayi itu dari gendongan Rima. Ia pun turut tersenyum sambil memamerkan bayi mungil yang berada dalam dekapan RIma. Rasa gemas, bahagia dan bangga kini bersemayam dalam hati, terpancar melalui senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
" Ya ampun, lucu banget," Nindy mulai mengangkat tangan membelai lembut pipi sang bayi.
"Boleh aku menggendongnya?" Ucapnya kembali dengan mata berbinar. Kedua tangan telah bersiap menerima dan menimang bayi itu.
Tak bisa dipungkiri kebahagiaan kedua orang itu berpindah padanya. Terlebih saat Dihyan mengatakan ini adalah bayinya juga, hal yang selama ini mereka impikan.
Kini matanya mulai berkaca-kaca dengan bibir yang tergambar di wajah. Tak salah jika ia harus menahan perih hati saat melihat pria yang dicintainya bersama dengan wanita lain, jika balas yang ia dapatkan seimut dan semungil ini.
" Tentu saja boleh, bayi ini bayimu juga." Dihyan yang tersenyum menatap kebahagiaan di mata Nindy. Wajah cantik itu terlihat semakin cantik, perpaduan antara senyuman dan aurat kebahagiaan.
" Nggak boleh." Rima menjauhkan anaknya dari jangkauan keduanya.
"Hanya sebentar saja Rima. Nindy hanya ingin menggendong anak itu." Suara Dihyan sedikit membesar demi melihat perlakuan rima pada Nindy. Hanya untuk menggendong saja Rima tak memberi.
"Nggak boleh, Mbak Nindy ingin membawanya pergi. Aku nggak mau." Rima masih mempertahankan bayi mungil itu dalam dekapannya. Tubuhnya berbalik membelakangi Nindy danDihyan. ya tak takut hanya karena gertakan Dihyan.
"Ck, pelit sekali! Kasih cepat sebelum aku marah!" Kembali membentak hingga membuat bayi dalam gendongan Rima menangis. Dihyan tak peduli, Ia hanya ingin melihat Nindy menggendong seorang bayi Apalagi itu adalah anaknya pasti akan membuat istri pertamanya itu sangat bahagia.
"Ini Bayiku, aku lebih berhak daripada orang lain!"
"Kamu lupa kenapa Nindy memintamu untuk menikah denganku?" Mata pria itu kini melotot dengan tatapan tajam menusuk.
"Ngak mau! Mbak Nindy mau ambil bayiku!" Rima juga ikut teriak, membungkus bayi itu dengan kedua lengannya.
Tubuh sedikit menggigil, padahal pendingin udara tak dinyalakan. mungkin karena ia tertidur di lantai tanpa alas.
Mengerjapkan mata, menatap jam yang tertempel di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia tertidur setelah mengadu pada Nindy, cinta sejatinya yang telah pergi terlebih dahulu.
Meski bulir-bulir keringat terlihat nampak di kening hingga pelipisnya, setidaknya dengan Mimpi tadi Rindunya sedikit terobati.
Perlahan mulai bangkit menaruh bingkai kecil dan yang sudah dari tadi ia peluk kembali ke atas nakas.
Keluar dari kamar dan Kembali menuju kamar Rima tempati. Berniat membersihkan diri, mengganti pakaian dan melanjutkan tidur di sana. Bukan hanya sekedar untuk dirinya, namun ingin memastikan Rima dalam keadaan baik-baik saja.
"Sssstttttt," Rima meringis sambil mengelus perut buncitnya. Wanita itu terlihat meringkuk di atas tempat tidur tanpa menggunakan selimut.
__ADS_1
Itu adalah pandangan pertama saat ia baru saja membuka pintu kamar Rima.
" Kenapa?"
Rima tak langsung menjawab pertanyaannya, terus meringis seolah tengah menahan sakit. Wanita itu lebih memilih menolehkan wajah enggan menatap sang suami. Dalam hati masih tersinggung dengan ucapan Dihyan tadi.
Terlihat pula keringat di sekujur tubuhnya, wanita itu tengah menahan sakit.
"Rima, kenapa Rima?" Dihyan yang semakin gusar. Kesakitan Rima berada di daerah perut.
"Mana yang sakit?" Keb0d0han seolah langsung menghampiri seiring dengan rasa panik.
Trauma kehilangan anak pertama yang tak ia ketahui tengah berada di rahim sang istri. Apakah sekarang harus terulang?
"RIma bicara Rima. Aku gak tau harus ngapain?" DIhyan mengulurkan tangan memberikan elusan pelan berharap bisa menyembuhkan sakit dan menenangkan ibu dan kandungannya.
"Stttt, sakit, keram." Rima masih meringis.
"Apa? Apa yang sakit?" Seolah tak terima jika perut sang istri yang sakit.
"Perutku."
"Rima, jangan Rima!" Dihyan berdiri dengan kedua tangan menyugar rambut lalu mencengkram kuat.
Sampai di sini Rima bisa menebak, jika suaminya itu tengah panik.
"Ah iya, tunggu! Tunggu!" Dihyan, Ucapan itu tak seperti dengan tindakannya. Mondar-mandir ke sana ke mari entah apa yang ia cari.
"Ck." Dalam kesakitan rima masih sempat merutuk kesal, suaminya seolah mengulur waktu dengan kepanikannya.
"Cepat!" Ucapnya memaksakan.
"Iya, iya." Segera mengangkat sang istri ke dalam gendongan.
"Rima pelan-pelan!" Ucapnya saat berada di tangga. Padahal kata itu harusnya tertuju padanya.
"Tunggu!" Dihyan saat baru saja meletakkan Rima di kursi yang terletak di teras rumah. Ini adalah perhentia mereka yang kesekian kalinya.
Segera berlari ke samping mobil yang pintunya tak bisa ia buka.
Ck, Kenapa lagi ini?
Mengguncang mobilnya, menyalurkan rasa kesal sebab tak mengukuti maunya.
__ADS_1
" Kuncinya mana b0d0h!" lagi Rima hanya mengumpat, saat memandang tindakan Dihyan yang seolah tak berguna itu. Betapa kesalnya wanita itu, ia harus menahan sakit di perutnya sambil memandang tingkah-tingkah b0d0h sang suami.
" Panggil Pak Eko!"Rima berbicara masih dengan nada geramnya.
"Ah, iya iya! tunggu! tunggu!" Dihyan segera berlalu, kembali masuk ke dalam rumah memanggil Pak Eko.
"Ck." dalam kesakitan rima masih sempat berduka kesal.
"Cepat!" Ucapnya memaksakan.
Penderitaan Rima nyatanya belum selesai meski bantuan lain telah datang.
Wanita itu masih harus menikmati perlakuan aneh suamnya.
"Rima, kumohon bertahan Rima!" Ucap DIhyan beberapa kali selama dalam perjalanan. Pria itu duduk di jok belakang sambil memangku kepala sang istri.
"Jangan lagi Tuhan! Tolong selamatkan bayi kami!" Pintanya lagi. Tangan satu di gunakan mengelus kepala Rima, sementara tangan yang lain mengelus perut buncit sang istri.
"Pak Eko tolong cepat pak Eko! Kasian istri saya kesakitan!"
Jalanan di malam mendekati dini hari itu sangatlah lenggang, membuat laju mobil sedikit lebih leluasa dari biasanya.
Pak Ekopun berupaya menambah kecepatan, pandangannya fokus ke depan.
Rima hanya mampu menggigit bibir, sesekali meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat pada rahimnya.
Sesekali menoleh ke kiri lalu ke kanan, hendak memungkiri sakit yang mendera.
"Tahan Rima, tahan!"
Beberapa kali pria itu menjatuhkan bibir pada kening sang istri.
Rima bahkan sempat merasakan tetesan air asin jatuh mengenai wajahnya.
\======
Jaringan oh Jaringan!
Maaf hanya bisa up satu bab saja.
Jaringan sempat menguji kesabaranku!
Ingin banting laptop, tapi mahal.
__ADS_1
Banting HP, semuanya ada di sana.
Jadi banting tubuh aja di atas kasur, mumpung malam plus hujan, pas buat selingkuh. Eh maksudnya sembunyi di bawah selimut.