Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Mendamba Cinta 2


__ADS_3

"A-akuuu,...." Rima gugup, apalagi saat memandang mata Reno yang terus saja menatapnya dalam.


"Kamu kenapa?" Reno seolah menuntut, " Kamu mau bilang kalau kamu juga mencintaiku kan?"


Benar kali ini dia benar-benar menuntut.


"Aku pernah keguguran." Jawab Rima dengan mata tertutup.


Kalimat sedikit di paksakan demi bisa terucap.


Seolah ingin mengucapkan jika dia telah menikah dan pernah hamil artinya ia pernah disentuh oleh pria lain.


Air mulai tergenang di pelupuk mata. Rasa Bahagia yang sempat membuncah saat mendengarkan pernyataan cinta dari pria yang dikagumi, ditahannya demi mengingat status diri.


Reno, pria tampan, mapan dan berprestasi.


Reno bisa mendapatkan gadis yang lebih baik darinya. Gadis ori, yang tak pernah tersentuh oleh pria lain.


"Iya aku tahu."


"Aku tahu semua tentangmu."


"Dan aku masih tetap mencintaimu, apapun statusmu."


"Kamu mau kan menerima aku."


"Rima terima aku!" Pintanya sedikit memelas. Genggaman di tangan kembali di goyangkan.


"Aku akan membantumu mengurus perceraian dengan suamimu."


Persetan dengan harga diri Ia masih ingin bersama dengan Rima sebelum kembali ke tempatnya.


Bugggh.


Belum pun Rima menjawab, seseorang telah menendang lututnya dari belakang, membuat tubuh tiba-tiba tersungkur tepat di hadapan Rima.


" Aduh Rima," Ucapnya mengadu. Kedua tangan Lansung melingkar di paha Rima demi menahan bobot tubuh.


Tak puas Leli kembali mengankat tangan, siap menerjang tubuh Reno dengan sikutnya.


"JANGAN!"


Bukan hanya teriakan, Rima juga membungkukkan badan, membungkus tubuh Reno dengan tubuhnya demi melindungi Reno yang hampir kembali mendapatkan terkaman.


"RIMA." Sama teriaknya. Lely tak percaya apa yang di lakukan oleh Rima.


Kenapa harus melindungi pria itu. "KAmu tau dia siapa?"


"Rima, SIni." Meraih tangan Rima yang masih turut melingkar di tubuh Reno.


Rima menggeleng, masih mempertahankan lilitan tangannya.

__ADS_1


Hanya sekali dorongan dari Lely, tubuh mereka mampu terlerai jatuh terduduk.


Segera meraih tangan Rima menjauhkannya dari Reno, "Kamu sebenarnya mau apa?" Ucapnya lantang tepat di hadapan Reno yang masih terduduk di lantai paving blok.


"Kamu mau ngadu sama bos kamu itu kan?" Tebak Lely.


"Aku gak ada maksud apa-apa?" Reno, tubuh masih terduduk. Rasa kaget belumlah hilang setelah mendapatkan serangan tiba-tiba itu.


Semakin terkejut saat melihat yang menyerangnya ternyata adalah seorang wanita, yang pasti memiliki kekuatan lebih, sesuai dengan postur tubuh.


Mau membalas? Tidak mungkin.


Selain wanita, Lely adalah teman terdekat RIma.


"Kalau aku mau ngaduh udah sejak pertama ketemu Rima. Buktinya sampai sekarang juga gak ada apa-apakan?"


Sudah hampir sebulan ia pulang balik setiap akhir pekan hanya untuk mendatangi Rima.


"Bos yang mana sih maksud kamu Ly?" Rima turut bertanya, juga menggunakan penekanan kata.


Namun di sini seolah tengah memberi dukungan pada Reno. Mungkin ia telah termakan bujuk rayu pria tadi.


"Dia itu anak buahnya Dihyan Rimaaaaa, Buka matamu, Bukaaaa!" Susah sekali memberi peringatan pada RIma.


"Iya aku tahu bosnya. Terus kenapa?" Rima.


"Dia itu ngintitin kita. Kamu belum paham juga kenapa dia di sini?" Mungkin nada keras mampu menyadarikan Rima.


"Mama Cinta itu ibu kandung pria itu." Lanjutnya.


Tak ingin kembali mengenang dengan menyebut nama Dihyan. Meski yang berada di sekitarnya semuanya tentang Dihyan.


"Gak semua orang yang berhubungan dengan dia juga ikut mendukungnya." Dengan gelengan kepala dan mata yang terpejam.


Rumah yang mereka tempati, mobil yang setiap harinya mereka gunakan, semuanya pemberian Mama Cinta. Bahkan Leli pun merupakan teman yang Mama Cinta kirimkan untuknya.


Dan lagi dulu, Sewaktu masih bersama dengan DIhyan, Renolah yang menolongnya.


"Kamu suka dia?" Lely.


Tertawa sumbang sebelum melanjutkan kata. " Benar kamu suka dia kan? Makanya kamu dukung."


Turut menggelengkan kepala, tak percaya, masih dengan senyum mengejek. Saat Rima diam dan tak menjawab pertanyaannya, yakinlah jika jawabannya memang benar.


Rima mencinta.


"Kami memang saling mencintai." Reno membantu menjawab. Ia baru saja berdiri dan menepuk pelan celana yang sedikit kotor. "Sejak dulu sebelum Rima menikah. Lalu apa salahnya jika kami berniat kembali? Salah? Gak kan?"


"Terserah!" Lely memilih berlalu dengan membawa Rima. Membiarkan Reno di sana, toh bukan urusannya juga.


Masih dengan kesal membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Rima masuk ke dalam sesukanya.

__ADS_1


Berlari sedikit ke arah sebelah.


Ia tersentak saat baru saja duduk di balik kemudi, pintu di sebelahnya terbuka secara tiba-tiba.


Dengan gerakan cepat Reno segera menarik Rima keluar, membuka pintu belakang, masuk terlebih dahulu masih menarik tangan Rima yang ikut duduk di sampingnya.


"Jalan!" Ucapnya santai.


Tak peduli dengan kedua wanita yang melongok memandang perlakuaannya.


"Kamu kira aku sopir pribadimu?" Lely dengan geramnya.


Pria ini benar-benar menguji kesabaran.


"Bukan sih? Tapi aku ingin duduk dekat RIma."


"Kalau memang kamu keberatan, aku boleh kok jadi sopirnya. Tapi ya Rima duduk depan." Masih dengan santainya, tak memperdulikan tatapan tajam yang seolah siap menerkam.


"Aku bisa loh menendang kamu keluar dari mobil ini." Kini Lely berbicara dengan nada santai.


Ah tidak berusaha santai, meski amarah telah di ubun-ubun.


"Gak apa, asal Rima juga keluar dari mobil ini."


"Aduuuuuh, kapan jalannya kalau kayak gini. Mau magrib ini." Keluh Rima akhirnya.


Ck, yang satu nekat.


Yang satu mau saja di-nekati.


Dengan terpaksapun Lely mulai menyalakan mesin mobil siap berlalu meski hati masih dongkol.


"Ly, tolong antar ke hotel dong!" Reno.


Duduk berdampingang dengan Rima membuatnya leluasa menggenggam tangan itu.


"Seenaknya perintah, memang kamu siapa?"


"Aku bukan perintah, cuma minta tolong. Boleh ya?" Ucapnya dengan nada santainya. Mungkin segala hidup Reno hadapi dengan santainya.


"Gak mau."


"Ya udah, kalau begitu aku ikut pulang ke rumah kalian."


Menarik napas dan hembuskan dengan berat, Lely lagi-lagi terpaksa. Apalagi saat melihat Rima justru hanya diam saja dengan tangan saling mengenggam.


Benar mereka saling mencintai.


Entah ini baik atau tidak, Lelypun tak tahu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2