Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Belajar Meminta


__ADS_3

"Bantuin," Rima berbalik menghadap kepada Dihyan, mengabaikan sedikit rasa malu.


" Kenapa?"


" Kamar mandi, mau bersihin!" Ucapnya lagi setengah menimbang, masih sedikit terasa perih di bawah sana.


"Biasanya juga nggak!"


"Itu beda situasi." Rima mulai memberengnggut, Dihyan terlalu banyak tanya menurutnya.


" Beda apanya? Beda enaknya?" Dihyan memasang wajah tengil, senyum-senyum tak jelas juga lirikan mata yang sesekali terlihat.


"Udah cepet, ambilin handuk!" Rasanya enggan untuk hengkang dalam keadaan polos, ia tak mau dikatakan kembali menggoda pria itu. Bisa-bisa ia dimakan lagi.


"Gak usah, siapa tahu bentar aku atau KAMU mau nambah!" Dihyan sambil bermain alis tak henti menggoda istrinya.


"Ck, gak bisa kayak gitu, jorok tau. Kalo gak dibersihin bisa jadi bibit penyakit."


Wajah pria yang tadinya cerah itu, tiba-tiba berganti murung. Mulai bergerak meninggalkan tempat tidur, kembali dengan handuk di tangan.


"Kenapa ingat seseorang?" RIma. mendapati suaminya yang tak seceria tadi, justru bungkam dengan bibir rapat.


Beranjak secepat mungkin, rasa tak enak hati karena telah mengungkit luka lama.


RIma kembali dengan lilitan handuk di tubuh. Dihyan mengulurkan tangan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.


Membiarkan Dihyan mengalungkan pakaian yang tadi di lucuti meski wajah masih murung, pria itu membantunya mengenakan baju.


"Kenapa?" Tanya Rima saat telah duduk di tepi ranjang, dijawab hanya dengan gelengan kepala.


"Memang dulunya sering gitu?" Lanjutnya.


"Tidur!" Dihyan sambil berlalu menuju ke sisi sebelah, siap menaikkan tubuh di sana.


Pagi menjelang, menyisakan rasa canggung bagi sepasang manusia itu. Beraktifitas sendiri-sendiri tanpa saling menghiraukan satu sama lain.


"Maaf!"


Rima mulai berkata. Mengingat dulu ia dituduh telah mengabaikan Nindy hingga wanita itu tak tertolong.


Bagi Dihyan, dirinya adalah penyebab istri pertama suaminya itu pergi.


"Kenapa minta maaf?"


Mendapat pertanyaan itu, Rima seperti bingung sendiri.


"Karena aku, .... "


"Mbak Nindy, ....."

__ADS_1


Ucapannya terhenti saat Dihyan menariknya masuk ke dalam pelukan.


Jujur ia tak bisa mengartikan semua perubahan pria itu.


"Maakan aku!"


Ia kembali membulatkan mata di dalam pelukan sang suami saat mendengar kata itu. Dihyan meminta maaf padanya karena apa?


Ingin bertanya tapi segan, tak ingin keributan kembali tercipta hingga merugikan dirinya nanti.


"Maaf, pernah salah paham sama kamu."


Dalam hati berharap agar Dihyan terus melanjutkan kata-kata.


"Dulu aku pernah buta hingga menuduh kamu penyebab kematian Nindy. Padahal memang penyakitnya sulit untuk disembuhkan."


"Aku minta maaf. Waktu itu aku sangat kacau hingga melupakan kamu juga istriku."


Dan kalimat ini sepertinya enggan Rima terima. Wanita itu tak pernah berharap agar diterima Dihyan sebagai istri sesungguhnya.


Tapi sudahlah, itu dulu!


Dan sekarang ia adalah istri dari pria ini.


Heh, mengingat status itu, rasanya membuat semangat hidup berkurang saja.


"Kenapa kamu nggak mengurungku di rumahmu saja?" Rima mulai berani mengajukan permintaan. Terlebih setelah mendengar permintaan maaf itu.


Mungkin suaminya bisa sedikit luluh.


Selama seminggu menjadi tawanan suaminya sendiri, dia merasa tak pernah diperlakukan kasar oleh pria itu. Bahkan kadang mendapati sikap lembut yang serasa membuat menggidik.


Baginya Dihyan hanya memakai tubuhnya saja. Mengharapkan anak yang telah lama diinginkan.


Kali ini, ia akan coba merengek dan meminta pada Dihyan. berada dalam Apartemen ini, membuatnya sangat bosan bin jenuh karena tak bisa melakukan apa-apa.


Ia akan membujukDihyan seperti anak kucing manis yang bermanja-manja pada tuannya. Bibir dimajukan, mata sebentar-bentar lirik ke arah Dihyan, memasang wajah cemberut yang manis.


Dihyan terpaku, mengeluarkan tangan mengucapkan pipi putih mulus, matanya sebentar-bentar melirik di sekitar Rima berada. Ia mencari sesuatu yang dibeli Rima namun disembunyikan oleh wanita itu. " Apa yang kamu rencanakan?"


" Apa?" Kali ini Rima memasang wajah bego.


Dihyan tahu jika Rima sempat mengalami trauma dengan kejadian dulu, namun sayangnya tempat kejadian perkara adalah rumahnya. Dan sekarang Rima ingin kembali ke rumah itu. Sesuatu yang sangat aneh menurutnya.


"Aku bisa melakukan banyak hal di rumahmu. Berkebun, berenang. Punya banyak teman ngobrol juga di sana."


Dihyan semakin mengurutkan kening, Apakah Teman ngobrol yang Rima maksud juga termaksud Diandra?


Ngobrol bagaimana? Bahkan mungkin mereka akan saling menyerang saat bertemu nanti, minimal saling sindir lah!

__ADS_1


"Ck, aku bosan di sini terus." Menepuk paha dengan kedua tangannya sendiri setelah berdecak kesal. Benar kesal, bukan akting.


"Nggak ada yang bisa dikerjain. Bibi juga nggak mau ngomong banyak sama aku, takut sama kamu katanya!" Mengeluarkan semua unek-uneknya, masih memasang wajah ngambek manja.


Mendengar halaan nafas dariDihyan, " Ya udah, bentar kamu boleh ke kantor lagi bawa makan siang untukku."


Rima tersenyum sebentar, kalau kembali memajukan bibir. Sepertinya wanita itu ingin protes. Dalam benaknya, ia tak pernah mau menjadi istri yang baik untuk Dihyan, percuma pikirnya. Toh Mereka pun tak saling mencintai.


Jika saja esok hari Dihyan merasa Rima tak melakoni peran istri dan membuat pria itu kecewa, tak mengapa baginya ditinggalkan dan Dihyan mencari wanita lain.


Hingga mentari semakin beranjak ke atas, kesempatan melepas penat setelah seharian hanya mampu menatap dinding dan perabotan rumah saja. Kini ia keluar, cuci mata.


Untung-untung jika Ia bisa bertemu dengan pria tampan yang bernama Reno. Namun sayangnya, suaminya tak sebodoh itu untuk mempertemukan Rima dengan Reno. Bagi Dihyan adalah sesuatu yang harus benar-benar dihindari. Dihyan telah memberikan pekerjaan di luar kantor untuk Reno.


"Kamu bawa ini!" Mengeluarkan kotak bekal pada seseorang yang selalu berada di dekatnya saat keluar apartemen.


Jangan pikir, bekal itu hasil buatan tangan Rima, bukan. Dia hanya menyuruh bibi yang di apartemen agar dibuatkan menu makan siang untuk dibawa ke kantor.


"Kamu bawa ini!" Kembali mengulurkan tangan yang tengah menjinjing tas yang baru kemarin ia beli.


Kini Rima telah berjalan, berada pada barisan terdepan dengan beberapa orang yang ia anggap sebagai pengawal yang akan menjaga keselamatannya dari apapun. Padahal pengawal itu ada, agar ia tak memiliki waktu untuk melarikan diri.


Heels yang beradu dengan lantai marmer menimbulkan hentakan-hentakan yang sempurna.


Dengan tubuh semampai itu, menggiring pemikiran beberapa orang yang melihat menafsirkan jika wanita ini seorang model.


Berjalan dengan tegap dan Kepala terangkat penuh percaya diri. Baginya kini, ia adalah istri dari seorang direktur, harus cantik dan tetap berwibawa.


...****************...


Sambil nunggu upnya Rima, aku mau ajak kalian jalan-jalan ke sebelah.


Judulnya, "Nilai Sebuah Kesetiaan."


Kisahnya tentang Rindi dan Linggar. Sepasang kekasih yang masih duduk di bangku kuliah.


Jika di sini kalian jatuh iba dengan Reno, di sana mungkin kesal dengan sosok ini yang justru aku jadikan sebagai pemeran antagonis di sana.


Rindi ini, adik kandung Reno.


Cerita ini bukan tentang CEO, atau anak orang terkaya yang bisa melakukan semuanya demi menggapai sesuatu.


Ceritanya di buat senyata mungkin, biar kalian bisa ikut berhayal secara nyata juga. Tapi kisahnya benar bikin baper deh.


Udah ah.


Gak usah terlalu banyak bocoran biar kalian penasaran.


Kalau mau ke sana, jangan lupa bawa tissu. Soalnya banyak bawangnya di Sana.

__ADS_1


__ADS_2